"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5 -Rasio dan Rasa
Saat jam makan siang tiba, Adrian mengerutkan keningnya. Biasanya, sudah ada kiriman makan siang yang datang untuknya di atas meja. Namun kali ini, meja kerjanya tampak kosong.
“Gema, apa tidak ada kiriman dari Alyssa?” tanya Adrian begitu ia melangkah keluar dari ruangannya.
Gema menoleh, agak heran mendengar nada suara bosnya. Bukankah seharusnya pria itu merasa lega kalau tidak ada kabar dari istrinya?
“Tidak ada, Tuan,” jawab Gema singkat, berusaha menahan nada malas di dalam hatinya.
Adrian hanya mengangguk pelan. “Kalau begitu, tolong pesan makan siang untukku.”
Ia kembali masuk ke dalam ruangannya, seolah-olah pertanyaan barusan hanyalah sebuah refleks belaka. Gema mendengus pelan menatap kepergian bosnya.
“Dasar bos aneh,” gumam Gema lirih.
Sementara itu, Alyssa justru sedang terlelap di rumah Tania. Untuk sekali saja dalam hidupnya, ia ingin berhenti sejenak dari rutinitasnya sebagai seorang istri yang tak pernah dihargai.
Di sisi lain, Tania melangkah masuk ke dalam kamar sang anak—kamar yang selalu ia rawat dan bersihkan dengan penuh kasih, meski penghuninya sudah lama pergi. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan sebelum akhirnya berhenti di ranjang kecil itu.
“Maafkan Ibu… Sa,” bisik Tania dengan suara bergetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah.
Tania menarik napas panjang, menatap kosong ke arah gelas di depannya. Kenangan lama mendadak menyeruak, membawa dirinya kembali ke masa lalu—saat dirinya masih terikat dengan ayah Alyssa, Rendra Atmaja.
Semua berawal dari sebuah perjodohan. Tania yang hanya seorang anak pembantu di rumah keluarga Atmaja, dipaksa menikah dengan Rendra oleh sang nenek.
“Nenek nggak mau tahu. Kamu harus menikah dengan Tania!” tegas Nenek Atmaja waktu itu, suara kerasnya sama sekali tidak memberi ruang untuk penolakan.
Rendra menghela napas berat. Dengan segala bujukan dari orang tuanya serta tekanan besar dari sang nenek, akhirnya ia menyerah. Pernikahan itu tetap berlangsung. Namun, hari pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan, justru menjadi awal mula luka yang dalam bagi Tania. Tania tersenyum kikuk menahan gugup di pelaminan, sementara wajah Rendra dan kedua orang tuanya hanya dipenuhi rasa masam dan kebencian.
“Ingat baik-baik, Tania. Aku menikahimu cuma karena Nenek. Kalau bukan karena dia, aku nggak sudi menikah sama anak pembantu sepertimu!” cibir Rendra waktu itu dengan tatapan merendahkan.
Ucapan itu seperti pisau yang menusuk dalam ke hati Tania. Belum lagi, mertuanya pun tak pernah benar-benar menerimanya sebagai menantu. Hanya ibunya sendirilah yang bisa ia jadikan tempat bersandar selama masa-masa sulit itu.
Satu tahun berlalu. Dalam sekali hubungan, Tania dinyatakan hamil. Itu adalah kabar yang membuat sang nenek sangat bahagia, meski bagi Rendra hal itu tidak membawa pengaruh apa pun. Pria itu masih saja sering menjalin hubungan di belakangnya dengan sang kekasih, Ratna Larasati.
Beberapa bulan kemudian, tepat saat Tania hendak melahirkan, sang nenek wafat. Hati Tania hancur lebur. Nenek adalah satu-satunya orang yang membelanya di rumah itu, satu-satunya orang yang benar-benar bahagia atas kehadirannya. Padahal, sebelum pergi, sang nenek sudah diam-diam menyiapkan tabungan untuk Alyssa—cicit yang sangat dinantikannya—dan sedikit harta untuk Tania. Sang nenek sengaja berjaga-jaga jika suatu saat nanti Rendra benar-benar menceraikannya.
Dan benar saja. Tepat satu minggu setelah Tania melahirkan bayi perempuan mungilnya, Rendra menceraikannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia bahkan tega mengusir Tania dari rumah itu, hanya meninggalkan uang kompensasi sebesar tiga miliar rupiah—seolah-olah harga sebuah pernikahan bisa diganti begitu saja dengan angka.
Dengan hati yang remuk, Tania memilih pergi. Ia memulai hidup baru bersama ibunya dan Alyssa, membesarkan putrinya dengan segala keterbatasan yang ada. Bertahun-tahun berlalu, perlahan ia mulai bangkit. Dari air mata, luka, dan perjuangan panjang, Tania akhirnya berhasil membangun toko kuenya sendiri yang diberi nama Lyssa Sweet n’ Bakery. Tempat yang ia namai dari potongan nama putrinya—sebuah simbol bahwa semua kerja kerasnya selama ini hanya didedikasikan untuk Alyssa.
"Dan setelah sekian lama, kamu hanya membuat anakku menderita," gumam Tania penuh dengan nada kebencian.
Sejak kecil hingga beranjak remaja, Alyssa memang tidak pernah sekali pun bertemu dengan Rendra. Baru pada saat kelulusan SMA, pria itu tiba-tiba muncul di hadapan Alyssa dan mengaku bahwa dirinya adalah sang ayah kandung.
Alyssa yang saat itu begitu senang karena akhirnya bisa bertemu dengan sosok ayahnya, menerima kehadiran Rendra dengan tangan terbuka. Tania sendiri tidak bisa memaksa ego pribadinya. Meski hatinya dipenuhi luka masa lalu, ia hanya bisa mengizinkan Alyssa untuk dekat dengan Rendra.
"Ibu," panggil Alyssa lirih mendatangi ibunya.
"Sudah bangun? Bagaimana, sudah baikan sekarang?" tanya Tania, berusaha cepat menutupi rasa kalutnya dengan sebuah senyuman hangat.
"Iya, aku udah merasa lebih baik," balas Alyssa, lalu mendudukkan diri di hadapan ibunya.
Tania menarik napasnya, lalu mencoba mencairkan suasana di antara mereka. "Bagaimana kalau kita makan siang di luar? Rasanya sudah lama sekali kita nggak quality time berdua."
"Boleh, aku juga kangen sama Ibu," jawab Alyssa tulus.
Mereka pun berpamitan kepada Bi Wati, sambil berpesan agar wanita paruh baya itu tidak perlu memasak menu siang. "Bi, istirahat saja ya, langsung pulang. Biar hari ini kami makan di luar," ujar Tania ramah.
Bi Wati hanya tersenyum, merasa lega karena akhirnya bisa melihat sang nyonya tertawa lepas lagi bersama anaknya.
Sementara itu, setelah merasa cukup beristirahat, Arden memutuskan untuk keluar rumah. Ada sesuatu yang ingin ia cari—sebuah langkah kecil untuk memulai impian besarnya dalam membangun sebuah studio musik.
“Kamu mau ke mana, Nak?” tanya Maya, menghentikan langkah kaki putranya di ruang tengah.
“Ma, aku mau keluar sebentar,” jawab Arden singkat.
“Ya sudah, tapi jangan pulang terlalu malam, ya. Mama kangen makan malam sama kamu,” ucap Maya lembut.
“Iya, Ma,” balas Arden. Ia lalu mencium punggung tangan ibunya sebelum memeluk tubuh wanita itu sebentar. Ada rasa hangat yang menenangkan menjalar di dada Maya.
Arden melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke salah satu mal besar di pusat kota. Mal itu kebetulan juga menjadi tempat di mana Alyssa dan Tania sedang berada, meski tentu saja Arden sama sekali tidak mengetahuinya. Tujuan Arden ke sana sebenarnya sederhana—hanya ingin mencari alat musik untuk melengkapi studio impiannya.
Namun setibanya di sana, langkah kakinya justru terhenti bukan di depan toko musik, melainkan di depan sebuah butik pakaian wanita. Pandangan matanya langsung jatuh pada sebuah gaun berwarna pink lembut dengan renda halus yang melingkari setiap sisinya. Gaun itu tampak begitu anggun, seolah-olah sedang menunggu sosok seseorang yang tepat untuk mengenakannya.
“Kakak ipar pasti cantik kalau pakai ini...” gumam Arden lirih, jemari tangannya terulur menyentuh kain halus gaun tersebut.
Seorang pelayan butik segera mendekat dengan senyuman ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Mas?”
Arden menoleh sebentar. “Tolong bungkus yang ini. Yang rapi, ya.”
“Baik. Ada pesan khusus untuk pacarnya, Mas?” tanya pelayan itu, sedikit bercanda.
Arden terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. “Tidak ada.”
Hanya ada senyuman tipis yang tersisa di wajahnya, menyimpan sebuah arti mendalam yang tak akan bisa ia ucapkan kepada siapa pun.
Sementara itu, di lantai yang berbeda di dalam mal yang sama, Alyssa dan Tania sedang menikmati makan siang mereka di sebuah restoran ramen Jepang.
“Makan yang banyak, ya. Ibu lihat kamu makin kurusan loh, Sayang,” ucap Tania sambil mengaduk ramen di dalam mangkuk miliknya.
Alyssa terkekeh geli, ia menunduk menikmati suapan kuah pedas yang terasa gurih. “Enggak, Bu. Dari dulu juga aku memang begini.”
Tania hanya bisa tersenyum, menatap penuh perasaan kasih pada putri semata juga kesayangannya itu.
Namun tanpa pernah mereka sadari, Tante Indah rupanya juga sedang berada di dalam restoran yang sama. Ia datang bersama dengan Hanum, setelah sebelumnya tidak sengaja bertemu di sebuah kafe. Pandangan mata Tante Indah segera menangkap sosok Alyssa dan Tania yang tampak akrab dan penuh dengan tawa di sudut ruangan.
Sebuah senyuman miring langsung muncul di wajah Indah. Ada kilatan ide jahat yang seketika terlintas di dalam benaknya. "Kesempatan bagus..." pikirnya licik.
“Ayo duduk di sini saja, Hanum. Sudah lama ya kita nggak ketemu dan ngobrol,” kata Tante Indah sengaja sambil menarik kursi restoran yang posisinya tidak jauh dari meja Alyssa.
“Iya, Tante. Aku sebenarnya mau main ke rumah, tapi agak sungkan... soalnya Adrian kan udah nikah,” sahut Hanum sambil menyunggingkan senyuman tipisnya.
Tante Indah mengangguk pelan, matanya kembali melirik tajam ke arah Alyssa. Senyuman dingin kembali tersungging di bibirnya. "Kali ini, aku pastikan dia yang akan merasa sakit hati."
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣