Zalina yang baru saja kehilangan sang ayah harus menerima kenyataan pilu saat dirinya dijual oleh sang ibu tiri kepada pria kaya raya bernama Edvin Zeuch. Bukan tanpa alasan Edvin membeli gadis berusia 23 tahun itu, Edvin membeli Zalina karena ia tahu jika Zalina adalah kekasih dari musuh bubuyutannya. Dengan membeli Zalina, Edvin yakin sudah menghancurkan setengah hati dari musuhnya yang bernama Harry. Melihat Zalina pun Edvin seakan melihat Harry, Edvin tak segan-segan untuk menyakiti Zalina.
Karena tidak ingin rugi setelah membeli Zalina, Edvin memaksa agar gadis itu berpura-pura menikah dengannya untuk mengelabui kedua orang tuanya. Akan tetapi, ini bukanlah pernikahan yang Zalina impikan, apalagi pernikahan itu penuh dengan kepura-puraan. Mampukah Zalina mewujudkan impian pernikahannya bersama pria yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zinnia Azalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Brenda
Arthur kini sedang berada di rumah sakit terbesar di kota London, setelah sebelumnya orang suruhannya dan beberapa orang polisi menggali jasad Alison, Ayah dari Zalina. Edvin selama ini mengerahkan beberapa detektif yang bekerja di kepolisian untuk mengungkap kasus kejanggalan kematian Alison dan inilah hasilnya. Jasad Alison sudah dipindahkan ke rumah sakit dan akan segera dilakukan otopsi. Di depan kamar jenazah pun dijaga ketat oleh beberapa orang polisi yang bertugas.
"Apa hari ini mendiang Tuan Alison akan di autopsi, Dok?" Tanya Arthur pada dokter spesialis forensik itu. Merasa tak sabar, karena ia pun ingin segera memasukan Brenda dan Aneta ke dalam penjara. Tentunya Arthur pun merasa geram dengan kejahatan kedua orang itu.
"Ya, autopsi akan di lakukan hari ini, Tuan!" Jawab dokter paruh baya itu.
"Tidak akan ada yang di autopsi! Saya selaku istrinya tidak akan setuju!" Brenda tiba-tiba saja datang dan menyela percakapan Arthur dan sang dokter.
"Mengapa Nyonya? Nona Zalina selaku putrinya sudah memberikan izin. Apa anda merasa takut?" Arthur tersenyum mengejek, mempermainkan amarah Brenda yang sudah meluap. Edvin memang pernah meminta Zalina untuk menanda tangani sesuatu dan itu adalah mengenai izin autopsi pada ayahnya.
Brenda merasa kecolongan karena ada orang yang menyelidiki kematian Alison. Selama ini ia mengira kejahatannya tidak akan terendus oleh orang lain karena ia melakukannya begitu rapi. Bahkan Zalina pun tak menyadari apa yang telah Brenda lakukan pada ayahnya itu.
Tapi hari ini Brenda begitu kalut dan panik. Apalagi tak ada satu orang pun yang memberitahunya tentang penyelidikan dan rencana autopsi mendiang suaminya. Brenda baru tahu tadi pagi saat menonton berita bahwa makam Alison sudah digali dan akan dilakukan autopsi. Seluruh tim forensik pun tak ada satu pun yang menghubunginya. Rupanya mereka hanya cukup membutuhkan izin dari Zalina, selaku anak biologis dari Alison.
"Takut? Memang apa salahku? Sebagai istrinya, aku tidak rela jika suamiku di autopsi. Biarkan dia pergi dengan tenang! Siapa kau? Beraninya kau mengusik jasad mendiang suamiku. Apa kau akan menyiksaku? Baru saja aku merelakannya, tapi kau membuka kembali luka itu. Tidak kasihkah kau padaku?" Cerocos Brenda. Air mata perlahan menitik membasahi pipinya yang dipenuhi dengan frekless.
Brenda seolah tak mempedulikan beberapa orang polisi yang berjaga. Ia menangis histeris, namun tak membuat Arthur bergeming. Arthur masih saja berdiri dan diam ditempatnya.
"Aku mohon, Tuan! Kasihani suamiku! Jangan kau bedah tubuhnya! Kasihan dia sudah sakit dengan penyakitnya. Biarkan dia pergi dengan tenang!" Raung Brenda, beberapa detik kemudian Aneta berlari dan memeluk ibunya.
"Mommy, tenangkan dirimu! Lihatlah, hei asisten g*la! Apa yang sudah kau lakukan pada ibuku? Aku tahu ibuku belum melunasi hutangnya pada tuanmu, tapi bukan berarti kau bisa berlaku seenaknya pada kami. Apalagi pada Daddyku yang sudah tiada!" Bentak Aneta berapi-api.
"Tolong jaga sikap anda, Nyonya! Anda sedang di rumah sakit!" Salah satu polisi menegur Brenda dan Aneta yang menurut mereka mengganggu kenyamanan rumah sakit.
"Tolong bawa mereka keluar dari sini! Mereka mengganggu ketertiban rumah sakit ini," Arthur mulai terpancing dengan drama ibu dan anak itu.
Kedua polisi itu segera memegang lengan Brenda dan Aneta dan membawanya keluar dari lorong tanpa mempedulikan rengekan Brenda dan Aneta yang meminta untuk dilepaskan.
*****
Malam menjelang, udara di Kanada semakin dingin. Salju tak berhenti berjatuhan, bahkan semakin deras membuat setiap orang merapatkan selimut dan mantel mereka. Begitu pun dengan Edvin dan Zalina, mereka sedang duduk dekat perapian untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Kapan kita akan pulang, Tuan? Di sini begitu dingin! Dua kali lipat lebih dingin dari negara kita," keluh Zalina seraya mengusap kedua tangannya.
"Dua hari lagi kita akan pulang. Bersabarlah!" Edvin terlihat melunak. Perasaan bersalah masih saja tersemat di hatinya kepada Zalina atas kejadian tadi siang.
"Baguslah! Aku tak sabar untuk pulang," Zalina tersenyum samar, ia kemudian menatap api dalam perapian.
Edvin menatap wajah Zalina. Namun beberapa detik kemudian ia membuang tatapannya. Edvin kemudian mengambil botol wine di atas nakas, menuangkannya di cawan yang sudah disediakan olehnya.
"Kau mau wine?" Tawar Edvin, kemudian ia menyeruput wine itu hingga tandas.
"Aku mau, dingin sekali!" Zalina mengangguk, lekas ia mengambil gelas kecil untuk dirinya dan menuangkan wine itu kedalam gelas miliknya.
"Hangatnya!" Zalina berseru senang saat wine itu masuk ke dalam lambungnya. Tentunya tubuhnya terasa sedikit hangat.
"Aku kira gadis sepertimu tak suka minum!" Edvin tersenyum mengejek, tangannya masih sibuk menuangkan wine entah ke berapa kali ke dalam gelasnya.
"Aku tidak terlalu suka minum. Tapi jika sangat kedinginan, aku akan minum untuk menghangatkan tubuh. Bukankah semua orang di negara kita begitu?" Jawab Zalina, ia pun menuangkan wine itu untuk kedua kalinya.
"Hm," Edvin bergumam. Ia kembali meneguk wine miliknya.
Edvin sibuk dengan pikirannya, Perasaannya begitu kalut saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bahkan ayahnya tak segan untuk memukul wajahnya untuk pertama kali. Walaupun Edvin pria kasar, namun hatinya merasa sakit saat kedua orang tuanya memperlakukannya seperti itu. Edvin tumbuh di dalam keluarga yang berlimpah dengan kasih sayang dari kedua orang tuanya, walaupun tak jarang Cleon dan Chelsea mengekang hidupnya.
Namun kedatangan Cleon dan Chelsea tadi membuatnya begitu kecewa. Edvin kira kedua orang tuanya akan bersikap bijak. Namun Edvin salah, kedua orang tuanya begitu egois dan tak memikirkan perasaannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Zalina adalah istri sungguhannya. Betapa teganya Cleon dan Chelsea menghancurkan kebahagiaannya . Apalagi jika Edvin mengingat penyebabnya berpisah dengan Gwen. Ada sudut hatinya yang sangat terluka, dan itu sangat sakit! Disakiti oleh Gwen dan kedua orang tuanya menjadikan Edvin merasa tak berguna dan tak dicintai. Ia merasa begitu hampa!
"Tuan, apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau mulai mabuk. Sebaiknya kau berhenti minum!" Zalina memperingatkan saat melihat Edvin mengambil botol wine yang baru dan hendak menuangkannya.
"Tidak, aku tidak mabuk. Aku hanya ingin memperlihatkan pada kedua orang tuaku bahwa aku baik-baik saja. Bahkan malam ini aku sedang meminum wine dan bersenang-senang denganmu Haha!!" Edvin mulai tertawa yang membuat Zalina merasa sedikit takut.
"Tuan, apapun yang orang tuamu katakan, sebenarnya mereka sangat mencintaimu. Bersyukurlah kau masih memiliki orang tua yang utuh! Kelak jika mereka pergi, kau akan sangat merindukannya. Merindukan orang yang sudah pergi itu adalah rindu yang sangat menyakitkan!" Zalina tersenyum getir, mengingat dirinya kini berstatus sebagai gadis yatim piatu.
Edvin termenung. Perkataan Zalina membuatnya tertegun. Namun beberapa detik kemudian, pria itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, orang tuaku tipe orang tua yang egois. Mereka mengekangku. Mereka menghancurkanku, dan merekalah yang membuat aku kehilangan Gwen!" Suara Edvin terdengar tercekat. Seperti ada emosi yang sangat besar di sana.
"Mereka tidak egois. Mereka hanya mau yang terbaik untuk tuan. Bahkan semua larangannya adalah yang terbaik versi mereka," petuah Zalina membuat Edvin muak, karena Zalina begitu kentara membela Chelsea dan Cleon di telinga Edvin.
"Kau tahu apa tentang mereka? Apa kau mengenalnya?" Sindir Edvin yang mulai emosi dengan jawaban Zalina.
"Mendengar ceritamu aku sangat mengenal mereka. Mereka sangat mencintaimu. Bahkan mereka tak rela kau harus bersama dengan Gwen! Dia adalah wanita yang tidak baik, wanita baik tidak akan berselingkuh!" Zalina blak-blakan membeberkan pendapatnya yang membuat rahang Edvin mengeras.
"Kau tahu apa tentang Gwen? Aku berpisah dengan Gwen karena larangan kedua orang tuaku, bukan karena Gwen tidak setia. Jadi, jangan seolah-olah kau mengetahui semua tentang hidupku!" Nada Edvin naik beberapa Oktaf karena sudah terpancing dengan perkataan gadis berambut blonde itu. Ia merasa tak suka Zalina menjelekkan Gwen.
"Larangan?" Alis Zalina bertaut. Merasa penasaran larangan apa itu, hingga membuat Edvin dan Gwen berpisah.
"Kau ingin tahu apa larangan mereka kepadaku?" Desis Edvin, membuat wanita yang ada di hadapannya mati kutu.
"Tidak," Zalina menggeleng takut.
"Mereka melarangku untuk tidur bersama wanita sebelum aku menikah. Mereka begitu konservatif, kaku dan phobia pada penyakit menular. Atau sebaiknya aku mencoba denganmu saja? Sepertinya mereka akan menangis histeris dengan apa yang dilakukan anaknya!" Edvin menyeringai, membuat semua tubuh Zalina bergetar karena ketakutan.
"Tuan, jangan!"
wkkkkk🤪