NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU PERTAMA

Pagi di Tsukimori selalu datang dengan tenang. Keiko sudah membuka semua jendela rumah, Udara pegunungan yang sejuk segera mengalir masuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Keiko menggulung lengan bajunya, mengangkat selimut dan berjalan menuju halaman samping.

Saat menata selimut pada jemuran batang bambu, pandangannya tertuju pada mangkuk tanah liat di dekat sumur. Mangkuk itu sudah kosong.

"Jadi kamu datang lagi semalam," bisiknya

Keiko mengambil gayung kayu dan mengisi kembali mangkuk itu hingga hampir penuh. Begitu selesai, ia menatap pekerjaannya sejenak. "Lho... aku ngapain, sih?" Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Tidak ada yang menjawab, hanya angin yang berembus pelan melewati rumpun bambu.

Menjelang makan siang, Setelah mandi dan bersiap, Keiko mengambil tas kain belanja milik neneknya dan berjalan menuju toko kelontong di ujung desa untuk membeli persediaan makanan. Langkahnya santai, dan ia membalas sapaan warga dengan senyum sopan. Kini, keramahan penduduk Tsukimori membuatnya tidak lagi merasa sebagai orang asing.

Saat pintu toko didorong, bel berbunyi nyaring. Pria paruh baya pemilik toko—orang yang sama yang melayaninya kemarin—sedang menyusun minuman di rak pendingin.

"Oh, Keiko-chan. Selamat siang."

"Selamat siang, Paman."

Pria itu melirik tas belanja di tangan Keiko. "Mau masak apa hari ini?"

"Masih belajar memanfaatkan isi kulkas rumah nenek," jawab Keiko. "Jadi beli seperlunya saja."

"Itu bagus. Jangan sampai kebanyakan, sayang kalau terbuang."

Keiko mulai memilih tahu, daun bawang, dan miso. Namun, langkahnya terhenti di depan kotak pendingin berisi ikan segar. Pria itu tersenyum geli. "Sepertinya ada yang mulai ketagihan ikan desa."

Keiko ikut tersenyum. "Bukan saya. Saya cuma merasa... ada yang bakal protes kalau pulang tanpa beli ikan."

Pria itu tertawa. "Oh? Siapa?"

Keiko terdiam sesaat, baru sadar dengan apa yang ia ucapkan. Ia tertawa kikuk sambil menggaruk pipi. "Ah... bukan siapa-siapa. Mungkin saya sendiri yang lapar."

Pria itu tidak mendesak. Ia membungkus dua ekor ikan segar untuk Keiko. Saat ia sedang mengikat bungkusan, suara warga yang mengobrol di luar toko terdengar jelas.

"Jangan lupa nanti malam."

"Iya, setelah lonceng pertama. Lentera juga sudah dipasang."

Keiko menoleh ke arah pintu, lalu menatap pemilik toko. "Paman, malam ini ada acara?"

Pria itu mengangguk. "Malam purnama. Di kuil ada ritual kecil seperti biasa. Tidak sebesar festival kemarin, hanya warga desa yang datang."

Keiko mengangguk pelan, teringat papan pengumuman yang pernah ia lihat. "Kalau orang luar datang... boleh?"

"Tentu saja boleh. Kalau penasaran, datang saja. Tidak ada aturan khusus."

"Baik, terima kasih," ucap Keiko sambil pamit.

Begitu keluar, beberapa warga menggantung lentera kecil dan anak-anak berlarian membawa pita warna-warni. Keiko berjalan santai menikmati pemandangan itu, hingga langkahnya tiba-tiba membeku.

Di ujung jalan menuju tangga kuil, seseorang berdiri membelakanginya. Kimono hitam, rambut panjang yang diikat rendah, dan postur tubuh tinggi yang familiar.

Napas Keiko tercekat. "Itu..."

Pria itu. Pria yang sama yang ia temui di tangga kuil.

Ia berdiri diam di bawah naungan pohon sakura, memandang pegunungan tanpa bergerak sedikit pun. Keiko menatapnya lekat, takut itu hanyalah ilusi dari pikirannya sendiri. Namun sosok itu nyata. Ia menggenggam erat tali tas belanjanya.

"Permisi..." ucapnya pelan. Tidak ada reaksi.

Keiko mempercepat langkah, suaranya sedikit lebih keras. "Maaf... tunggu..."

Tepat saat jarak mereka tersisa beberapa meter, sebuah truk pengangkut hasil panen melintas perlahan, menutupi pandangan Keiko. Ia berhenti sejenak memberi jalan. Begitu truk itu lewat, Keiko segera mengangkat kepala.

Kosong.

Sosok itu lenyap. Padahal di depan sana hanya ada tangga batu yang mengarah ke kuil. Tidak ada gang, tidak ada rumah, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Keiko berdiri mematung, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Ke mana perginya?"

Keiko terpaku di tempatnya mencoba mencari celah atau kemungkinan yang luput dari pandangan. Namun, semakin ia mengamati, semakin jelas bahwa jalan itu memang buntu.

"...Aneh."

Keiko mengembuskan napas panjang. Ia mencoba mencari penjelasan paling logis, meski jauh di lubuk hatinya, ada firasat ganjil yang menolak tenang. "Sudahlah."

 

Selang beberapa menit, ia sudah tiba di rumah, Keiko meletakkan kantong belanjaannya di meja dapur, lalu mulai menata isinya ke dalam lemari pendingin satu per satu.

Ikan, tahu, daun bawang, dan miso. Semuanya tersusun rapi.

Kemudian ia menyeduh teh dingin lalu membawanya ke beranda. Angin sore berembus pelan sangat cocok untuk bersantai sebentar, ia duduk bersila di lantai kayu, matanya menatap halaman samping yang sudah sedikit rapi.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan di pintu depan memecah lamunannya. Keiko beranjak dengan sigap. "Iya, Sebentar!"

Begitu pintu digeser, seorang pria berdiri di sana sambil menenteng kantong kertas cokelat. Usianya mungkin tak jauh beda dengannya. Rambut hitamnya yang pendek tampak sedikit berantakan tertiup angin. Wajahnya ramah, senyumnya tipis, dan ia mengenakan kaus lengan panjang dengan celana jins yang sedikit berdebu—seolah baru saja selesai bekerja.

"Halo .. Maaf mengganggu," pria itu menyodorkan kantong kertas di tangannya. "Ada yang tertinggal."

Keiko mengerjap, bingung. "Ketinggalan?"

"Iya," pria itu mengintip ke dalam kantong. "Botol kecap dan sekotak teh."

Keiko langsung menepuk dahinya. Astaga, aku benar-benar lupa mengambilnya saat membayar. Wajahnya terasa panas karena malu. "Ya ampun, sumimasen (maafkan saya)."

Pria itu terkekeh. "Ayah sudah menduga. Katanya, 'Keiko-san pasti lupa sesuatu '."

Keiko tertawa kecil, rasa canggung mulai luruh. "Jangan-jangan seluruh penduduk desa sudah menganggapku pelupa."

"Belum kok," pria itu menggeleng jenaka. "Baru ayah saja."

Keiko ikut tertawa. Suasana yang semula kaku perlahan mencair. Ia menerima kantong belanja itu dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, merepotkan sekali."

"Nggak, kok," pria itu menunjuk ke arah jalan di samping rumah. "Rumahku cuma dua gang dari sini."

"Oh, begitu..." Pantas saja. Keiko menyadari bahwa sejak pindah ke Tsukimori, ia bahkan belum mengenal tetangganya sendiri.

Pria itu mengulurkan tangan dengan senyum tulus. "Aku Kyo."

Keiko menyambut uluran itu dengan sopan. "Keiko. Senang bertemu denganmu."

"Aku juga."

Hening sejenak. Namun, keheningan itu kini terasa nyaman. Kyo melirik halaman rumah yang tampak jauh lebih terawat dibanding hari-hari sebelumnya. "Kamu membersihkan ini semua sendirian?"

"Iya, meskipun masih banyak yang harus dibereskan," jawab Keiko sungkan.

"Kalau butuh bantuan untuk atap atau halaman belakang, bilang saja ya."

Keiko menggeleng sambil tersenyum tipis. "Nanti malah merepotkanmu."

"Di desa ini, saling membantu itu sudah biasa," sahut Kyo ringan, seolah ia baru saja membicarakan rutinitas paling lumrah di dunia.

Sebelum Keiko sempat menanggapi, embusan angin sore kembali menyapa. Kyo tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke atas pagar bambu. "Hm?"

Keiko ikut menoleh. Di sana, seekor kucing abu-abu sedang duduk tenang, menatap mereka tajam dengan sepasang mata keemasan yang dingin. Tak jelas sejak kapan ia berada di sana.

Kyo tersenyum kecil. "Sepertinya kamu sudah punya tamu tetap."

Keiko mendesah pelan. "Jangan dibahas. Dia baru saja mencakar saya kemarin."

Kyo terkekeh pelan. "Kalau yang itu... memang agak galak."

Keiko melirik ke arah pagar, memperhatikan kucing itu lekat-lekat. "Dia sering datang ke sini?"

"Cukup sering," sahut Kyo sambil ikut memandang kucing abu-abu itu. "Entah punya siapa. Dari dulu, dia memang punya kebiasaan berkeliaran di sekitar Rumah-rumah tua."

Keiko mengangkat alisnya. "Pantas, gayanya santai sekali."

"Ada yang aneh, sih," Kyo tersenyum tipis. "Selama aku hidup di desa ini, seingatku belum pernah sekali pun aku mendengar dia mengeong."

"Masa?" Keiko tampak tak percaya.

"Iya. Makanya, anak-anak di sini menjulukinya 'kucing bisu'."

Keiko terkekeh kembali menatap si kucing. Hewan itu masih duduk tenang di atas pagar, menatap lurus ke arah mereka tanpa reaksi sedikit pun, seolah obrolan mereka sama sekali tak ada artinya bagi dirinya.

"Padahal," gumam Keiko pelan, "setahuku kucing yang galak justru biasanya lebih berisik."

Kyo tertawa kecil. "Mungkin dia cuma sedang malas bicara."

Beberapa saat kemudian, kucing itu melompat turun dari pagar. Tanpa menoleh lagi, ia melenggang santai menuju rumpun bambu di samping rumah, lalu sosoknya lenyap begitu saja ditelan bayang-bayang dedaunan.

"Benar-benar aneh..." gumamnya pelan.

Kyo tersenyum tipis. "Dia sudah lama seperti itu."

Keiko menoleh dengan rasa penasaran. "Berarti semua warga di sini mengenalnya?"

"Hampir semua. Anak-anak sering mencoba mengajaknya bermain, tapi dia selalu menghindar. Orang dewasa pun sudah terbiasa melihatnya berkeliaran." Kyo mengangkat bahu ringan. "kucing introvert plus plus"

Keduanya tertawa kecil. Baru kali ini Keiko merasa benar-benar bisa mengobrol santai sejak tiba di Tsukimori. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.

"Oh iya, tadi ayahmu bilang malam ini ada ritual bulan purnama di kuil, ya?"

Kyo mengangguk. "Iya, memang rutin diadakan setiap bulan purnama."

"Apakah seramai festival kemarin?"

Kyo menggeleng. "Jauh berbeda. Festival kemarin itu acara tahunan, sedangkan ritual bulan purnama jauh lebih sederhana. Biasanya warga hanya berkumpul, berdoa, lalu menyalakan lentera sebelum masing-masing pulang ke rumah."

Keiko mengangguk, membayangkan suasananya dalam kepala.

Ia menatap Keiko sejenak "Kalau kamu benar-benar ingin merasakan suasana Tsukimori yang sebenarnya, aku lebih menyarankan untuk datang malam ini."

"Kalau kamu mau... bagaimana kalau kita berangkat bersama?"

Keiko sedikit ragu. "Eh... tidak merepotkan?"

"Justru lebih enak. Aku memang selalu datang ke sana, dan rumahmu juga searah."

Keiko terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lega. "Kalau begitu... baiklah. Arigatou (twrima kasih) kyo-san"

Kyo mengibaskan tangan sambil terkekeh. "Iie (tidak masalah) Kalau begitu, nanti sekitar setengah jam sebelum lonceng pertama berbunyi, aku akan mampir ke sini. Jangan sampai lupa lagi, ya."

Keiko tertawa malu. "Aku tidak separah itu."

"Oh, ya?" Kyo mengangkat sebelah alisnya, lalu menunjuk kantong belanja yang baru saja ia antar. "Kalau begitu, tadi itu siapa yang lupa?"

Keiko spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa geli sendiri. "Jangan diingat-ingat terus!"

"Baru sekali, kok," goda Kyo yang kemudian tertawa lepas. "Baiklah, aku pamit dulu. Kalau ada apa-apa, rumahku ada di ujung jalan itu."

Kyo melambaikan tangan sebelum melangkah turun dari beranda. "Konnichiwa (selamat siang)."

"Konnichiwa," balas Keiko sambil terus memperhatikan punggung pria itu hingga menghilang di tikungan jalan.

Keiko merasa rumah tua peninggalan neneknya tidak lagi terasa sesepi dulu. Setidaknya, sekarang ia mengenal seseorang yang bisa diajak berbincang tanpa rasa canggung yang menyiksa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!