Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DESEMBER - Part 1
Desember selalu datang membawa dua hal ke koridor kampus: aroma tanah basah pasca
hujan dan kepanikan menjelang Ujian Akhir Semester.
Bagi Gea dan teman-teman organisasinya, bulan ini terasa lebih mencekik. Acara besar semester memang sudah selesai, namun buntutnya baru saja di mulai. Mereka masih ada evaluasi keseluruhan acara dan pembuatan Laporan Pertanggung Jawaban. Belum lagi, deretan tugas besar yang menjadi nilai hidup dan mati akademis mereka, sudah menanti untuk dipresentasikan saat pekan ujian nanti.
Ditengah minggu tenang yang tidak terasa tenang itu, Gea punya cara sendiri untuk
merawat kewarasannya. Di sela-sela mengetik laporan, matanya kerap beralih ke layar ponsel,
menonton konten NCT 127. Kadang dia menghentikan kegiatannya dan menggenggam ponselnya, sekedar scrolling, melihat postingan member NCT yang dia follow di Instagram.
Gea pun berencana untuk datang di konser mereka yang akan di selenggarakan di Jakarta
Arena pada Januari 2024. For your information, Gea sudah berhasil mengamankan tiket konser
dia bersama kedua sahabatnya sejak jauh-jauh hari. Kini, mendengarkan lagu mereka sembari
mengerjakan tugas-tugas membantunya lebih rilex dan membantu menguraikan kusutnya pikiran.
Ketika hari berganti, atmosfer sekre terasa semakin melankolis. Gea, Karin, Risa dan Nindy
sudah sudah duduk di sekre dengan laptop di depan mereka. Menyelesaikan tugas untuk ujian
besok, sembari menunggu hujan yang turun dengan lebat di luar sana. Suasana syahdu sore itu ditemani lagu Desember milik Efek Rumah Kaca yang sedari tadi berputar berulang kali di speaker himpunan.
Untungnya, ketua himpunan mereka masih lebih waras di tengah gempuran UAS. Rapat koordinasi dadakan sore itu tidak berlangsung lama. Agendanya singkat, hanya membahas beberapa program kerja bidang lain yang akan berjalan dalam aktu dekat serta acara yang akan digarap oleh para mahasiswa baru.
Tepat saat rapat selesai, ponsel Risa berdering. Sebuah panggilan dari kakaknya yang ternyata sudah sampai di area parkiran kampus.
“Udah di jemput, Ris?” tanya Gea.
“Iya, nih,” jawab Risa sambil merapikan barang-barangnya.
“Bawa payung gak lo? Masih deres banget itu di luar,” tanya Karin khawatir.
“Mas Arsa jalan ke sini kok katanya bawa payung,” sahut Risa menenangkan.
Ketiga perempuan itu akhirnya ikut bangkit, menemani Risa yang dijemput oleh kakaknya di sore yang sudah mulai berganti malam itu. Di ujung teras sekre, sesosok pria tinggi tegap dengan payung besar tampak berjalan membelah hujan.
“Ini bener gak ada yang mau bareng sekalian?” tanya Akarsana -kakak Risa yang biasa
dipanggil oleh Risa Mas Arsa- sembari melirik ketiga sahabat adiknya.
“Gak usah, Mas, makasih banyak,” jawab Gea ramah dengan senyuman tipis.
“Gue bawa mobil kok, Mas,” kata Nindy meyakinkan.
Mas Arsa mengangguk paham. “Ya udah. Ati-ati ya kalian bertiga. Jangan balik kemaleman,
jangan ujan-ujanan juga, entar pada sakit,” pesannya hangat kepada ketiga perempuan yang dia kenal baik sebagai sahabat adiknya.
“Duluan ya, gaes.”
“Iyaa. Ati-ati, Ris, Mas Arsa,” seru mereka bertiga hampir bersamaan, menatap punggung kakak beradik itu yang perlahan mengabur di antara hujan.
Begitu mereka hilang dari belokan selasar, sebuah desahan napas panjang terdengar dari
arah belakang mereka.
“Anjir… kakaknya Risa serem banget,” celetuk suara itu.
Gea menoleh dan mendapati suara senior mereka, Karis, sedang berdiri menyandar di daun pintu. Di kalangan internal, sudah bukan rahasia lagi kalau Karis ini memendam rasa untuk Risa.
Nindy langsung tertawa renyah, “cupu lo, Mas Karis!” ledek Nindy. “Masa sama abangnya
takut, tapi berani naksir adeknya.”
“Anjir,” Karis tertawa ringan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Lo liat tadi tampang abangnya. Kayak preman woy. Galak banget matanya, kayak orang siap buat gebukin siapa aja yang macem-macem sama adeknya.”
Gea, Nindy, dan Karin tertawa mendengar pembelaan diri sang senior.
“Gua aduin Risa,” ancam Gea jahil.
“Lah, jangan dong! Eh tapi, Risa masih sama cowoknya?” tanya Karis penasaran.
“Masih lah, Mas. Emang lo gak liat cowoknya kemarenan pas pekan olahraga?” jawab
Karin cepat. “Dateng mulu kok tiap ada Risa tanding. Udah deh, Mas, mending nyerah aja, gak usah memaksakan diri. Susah nerobos cowoknya Risa,” kata Karin diikuti gelak tawa ringan.
“Tau nih, Mas Karis,” sambung Gea.
“Susah kenapa sih? Hebat banget apa cowoknya?” gurau Karis lagi.
Nindy melipat kedua tangannya di dada, lalu menjawab dengan nada santai, “singkatnya nih ya, dia itu cowok hutan hijau. Udah lo cari aja cewek laen, Mas.”
“Yee, dikira nyari cewek segampang membalikkan telapak tangan,” gerutu Karis asal.
Matanya kemudian bergulir mengitari sekre, lalu mendarat pada sosok Jay yang sejak tadi duduk agak jauh di sudut ruangan, terdiam menatap layar ponselnya. Karis kemudian menyenggol lengan Nindy sambil melirik ke arah Jay, sengaja
membelokkan topik dengan nada bergurau, “ya lagian… kalo mau pindah target ke Gea juga gak
bisa, kan dia udah ada yang punya. Tuh, pawangnya si Jay udah siap siaga.”
Celetukan asal Karis itu membuat mereka tertawa ringan. Namun bagi Jay, tawa itu terasa
seperti sindirian yang menguliti harga dirinya. Cowok hutan hijau? Hebat? Kata-kata itu
mendadak bersinggungan dengan ejekan di akun base kampus yang dibacanya semalam. Sial, mental Jay langsung jatuh ke titik terendah.
Jay bangkit dari duduknya, menyampirkan tas ransel di satu bahu, lalu berjalan mendekat tanpa ekspresi. Pandangannya lurus mengunci Gea.
“Balik yuk, Ay,” ajaknya pendek, nadanya datar dan dingin.
Karis langsung mengangkat kedua tangannya ke udara. “Wets, panjang umur! Udah nongol aja nih anak kayak tuyul, tiba-tiba di belakang gue. Ya udah sana pada balik. Ati-ati di jalan, udah malem.”
Setelah berpamitan dengan yang lain, Gea dan Jay akhirnya melangkah meninggalkan area
gedung kampus. Di luar, hujan deras telah mereda, menyisakan rintik gerimis yang rapat dan hawa dingin yang menusuk tulang.
Begitu sampai di parkiran motor, Jay membuka bagasinya dan mengeluarkan satu-satunya
senjata yang dia punya, jas hujan model ponco. Model jas hujan lebar itu langsung membuat Gea tidak betah berada di bawah mantel tersebut. Begitu motor mulai melaju membelah jalanan malam, kain ponco itu terus berkibar liar ditiup angin, membuat air hujan tetap merembes dari sela-sela samping. Gea merasa gerah sekaligus risih berada di bawah kungkungan mantel tebal tersebut.
Di pertengahan jalan, karena merasa tidak nyaman, dia menurunkan jas hujan tersebut dari
tubuhnya. Alih-alih melindungi badannya sendiri, Gea justru hanya menutupi tas berisikan laptop
yang dia taruh di tengah antara dia dan Jay. Alhasil, hujan gerimis yang cukup banyak itu berhasil membuat bahu Gea basah. Bagi Gea, laptop yang berisi seluruh kerja keras tugas besarnya jauh lebih berharga malam ini daripada pakaian yang ia kenakan.
Alhasil, keputusan itu harus dibayar mahal. Di sepanjang sisa perjalanan pulang, rintik gerimis yang cukup rapat bertubi-tubi menghantam tubuh bagian atas Gea, sukses membuat kedua bahu dan sebagian bajunya basah kuyup oleh dinginnya air Desember.
...****************...