Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 01. Aku Tinggalkan Istana.
Tidak pernah membayangkan hari itu akan menjadi hari terakhir aku memakai gaun sutra. Hari terakhir duduk di meja makan Lazy Susan bersama Ayah dan Ibu.
Di ruang makan sepanjang dua belas meter itu, kristal chandelier menggantung seperti bintang yang terlalu dekat. Meja makan dari kaca dikombinasi kayu mahoni, selalu penuh berisi hidangan dan kini makanan itu belum sempat disentuh.
Ayah duduk di ujung, dengan wibawa sakral seorang pria yang membangun Wijaya Group dari nol. Ibu di sebelahnya, kalung berliannya berkilau setiap kali ia menghela nafas.
Dan di hadapanku, duduk Arka Mahendra. Anak konglomerat. Dia calon yang mereka pilih. Ganteng, tinggi, garis wajahnya tegas dengan sorot mata tajam. Jasnya rapi dan terlihar mahal. Senyumnya terlatih, dan raut wajahnya terlihat kecewa.
“Keputusan sudah final, Miracle,” kata Ayah dengan suara datar.
"Tidak perlu ada penolakan. Pernikahanmu dengan Arka akan dilangsungkan tiga bulan lagi. Ini merger terbaik untuk keluarga kita.” lanjut Ayah lagi.
"Kamu anak yang pintar dan bisa memilih masa depan. Kalian memang belum saling kenal, setelah menikah harus menyesuaikan satu sama lain." ibu ikut nimbrung.
"Apa ucapku kurang jelas atau Ayah sengaja membuat ku marah?" suara ku terdengar dingin.
Aku menatap piringku, Steak wagyu A5 yang langsung di import dari Jepang membuatku mual. Anggur dan segala hal yang bisa dibeli dengan uang yang tersedia di meja makan semakin memuakan.
Wajah Ayah, Ibu dan Arka memerah, aku yakin Ayah menahan marah mendengar ucapan ku.
Menurut ku yang tidak bisa dibeli adalah cara Morgan menatapku lima jam yang lalu, di dapur kecil kontrakan 3x4 meter di Bogor.
Tangannya penuh tepung. Kemejanya lusuh. Di belakangnya ada kompor satu tungku dan mimpi setinggi langit. Aku terpesona dengan senyumnya dan mendukung mimpinya.
Aku berbisik dalam hati Inilah cinta sejati ku, cinta pertama seluas samudra. Aku tidak perlu ragu melangkah untuk melanjutkan mimpi kami berdua.
“Sayank...kalau kamu capek sama semua ini, bilang. Aku nggak akan memaksa mu untuk tetap mendukung ku. Aku tahu diri tidak level denganmu. Kamu dari keluarga konglomerat sedangkan aku orang tidak berada.” ucapnya lirih seraya menatap ku. Aku tertawa ngakak dan berusaha bersikap tenang.
“Aku nggak capek. Aku baru mulai hidup, asal bersama mu aku punya semangat untuk maju. Walaupun langit runtuh aku akan tetap memilih mu." sahut ku membuat Morgan senang, ia lalu memeluk ku dengan mesra.
Morgan bukan siapa-siapa lima tahun lalu. Anak tukang sayur. Kuliah sambil kerja dan jadi koki Restoran kecil. Kami bertemu di saat orang tuaku menyumbang perabotan pastry untuk tata boga di tempat Morgan kuliah.
Aku jurusan Management Bisnis dan tidak tertarik dengan tata boga atau masak memasak, karena aku dipersiapkan untuk memimpin perusahan.
Aku terpaksa suka memasak saat Morgan mengajariku membedakan thyme dan rosemary. Walaupun terasa berat dan capek tapi aku jalani tanpa mengeluh.
Aku juga mengajari Morgan bahwa hidup tidak selalu dihitung dengan keuntungan. Di keluarga ku semua dinilai dengan uang dan status sosial. Mereka memandang Morgan sebelah mata, juga menganggap hubungan ku dan Morgan hanya lelucon.
“Anak itu tidak punya masa depan, Miracle, kau akan sengsara bersamanya." ucap Ibu berusaha berubah cara pandang ku.
Mungkin benar. Saat itu dia tidak punya apa-apa. Tapi dia punya satu hal yang Arka Mahendra tidak punya, dia melihatku. Bukan sebagai putri Wijaya yang kaya raya. Bukan sebagai aset. Tapi sebagai Miracle Wijaya, gadis yang tangannya kapalan karena sibuk belajar menguleni adonan sampai jam dua pagi.
“Aku tidak akan menikah dengan Arka,” ucapku pelan dengan tatapan penuh benci kepada Arka. Ruangan hening. Sendok di tangan Ibu berhenti di udara.
“Apa katamu?” tanya Ayah menatapku tajam.
“Aku tidak akan menikah dengan Arka. Atau siapapun yang kalian pilih.”
Aku menegakkan punggung. Gaun sutra ini tiba-tiba terasa menyesakkan.
“Aku akan menikah dengan Morgan.” sambung ku.
Ibu menjatuhkan gelasnya. Suaranya pecah di lantai marmer. Sama seperti ekspresi wajah mereka saat ini.
“Dasar anak durhaka!” bentak Ayah berdiri. Ibu ikut berdiri seraya memegang tangan Ayah.
"Paa..sabar, kamu tidak boleh marah dan emosi. Bicarakan baik-baik, beri pengertian yang bijak." Ibu menenangkan Ayah.
“Kau buang nama baik keluarga hanya untuk laki-laki miskin itu? apa kau sudah gila.."
“Miskin hari ini bukan berarti miskin untuk selamanya, Yah,” jawabku tenang. Karena untuk pertama kali dalam 25 tahun hidupku, aku tidak takut.
“Dan aku lebih memilih miskin bersamanya, daripada kaya sendirian.” lanjut ku.
Aku berdiri meninggalkan steak yang masih panas mengepul. Meninggalkan warisan yang sudah disiapkan untukku. Meninggal kan nama Wijaya yang selama ini menjadi tamengku.
Di pintu, aku menoleh sekali.
“Terima kasih sudah membesarkanku. Tapi mulai malam ini, aku ingin membesarkan diriku sendiri.” ucapku tegas
Langkahku mantap keluar dari istana itu. Aku sangat percaya diri, uang di rekening ku cukup untuk membuka sebuah Restoran. Ibu berlari menghadang Langkahku.
"Miracle, kau sudah gila...berhenti!" teriak Ibu menarik tangan ku.
"Aku sudah memilih!" sahut ku tegas seraya melepaskan pegangan tangan Ibu.
Di luar, hujan turun. Mobil jemputan Morgan sudah menunggu. Bukan Mercy. Bukan juga Alphard. Hanya motor butut dengan dua helm tergantung di stang yang di tutupi jas hujan.
Dia tersenyum canggung saat melihatku dengan gaun sutra basah kuyup.
“Sayank, jadi ini... serius?”
Aku mengangguk mantap lalu melepaskan anting berlian terakhirku dan menaruhnya di jok motor.
“Serius. Aku tinggalkan semuanya.”
Morgan mengulurkan tangannya, aku menyambutnya dengan senang. Dia kaget dan meringis, ternyata ada luka kecil di jarinya karena pisau dapur.
Ayah, Ibu dan Arka memandang kepergianku dengan tatapan penuh arti. Mungkin mereka tidak menyangka akan tindakan ku.
Nge-kost di Bogor.
Aku buru-buru masuk kamar mengambil kotak obat.
"Sayang, aku sudah ambilkan obat, sini aku obatin."
"Tidak usah khawatir hanya luka kecil." sahut Morgan santai.
Aku genggam tangannya penuh haru. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kaya.
Karena istana bisa dibangun dengan uang. Tapi rumah ... hanya bisa dibangun dengan orang yang tepat. Dan pada malam itu, aku memilih membangun rumah.
Morgan mengulurkan tangannya penuh haru, ia memeluk ku erat seolah takut kalau aku lepas.
"Sayank...besok kita akan menikah dan pergi ke catatan sipil. Kau istirahat di kasur dan aku di lantai.
"Kita akan sama-sama di kasur malam ini, aku yakin kamu tidak macam-macam."
"Makasih sayank, kau telah membawaku ke titik tertinggi dalam angan ku, semoga keputusan yang kau perbuat menjadi dasar yang kokoh sebagai tonggak rumah tangga yang kita bangun."
"Kita pasti bisa!" jawab ku percaya diri.
*****
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....