Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Jatuh Cinta (Lagi) di Kantin
Keesokan harinya, suasana kantin utama Universitas Megantara sudah dipenuhi oleh lautan mahasiswa yang sibuk mengantre makanan pada jam istirahat siang.
Reno duduk menyendiri di sudut meja panjang berbahan kayu jati, mengaduk semangkuk bubur ayamnya dengan putaran sendok yang sangat lambat.
Nafsu makannya menguap entah ke mana sejak insiden mengerikan yang melibatkan hitung mundur kematian konyol di pinggir jalan raya kemarin sore.
Pikirannya terus memutar ulang adegan kekacauan lalu lintas yang nyaris membuatnya menjadi tersangka utama dalam kasus sabotase fasilitas publik.
Ponsel hitam misterius berseri X-Phreak 9000 itu kini tergeletak anteng di sebelah mangkuk buburnya, tampak seperti benda mati biasa yang sangat tidak mencurigakan.
Bentuknya yang kotak sempurna tanpa lekukan tombol sedikit pun membuat benda itu terlihat seperti balok logam pipih yang sangat futuristik.
{Semoga saja mesin laknat ini kehabisan daya baterai dan mati total hari ini, agar aku bisa hidup tenang sebagai mahasiswa normal lagi.}
Sebuah getaran mekanik yang sangat kuat tiba-tiba merambat dari bodi ponsel, menggetarkan meja kayu dan langsung membuyarkan harapan kosong Reno.
Layar yang tadinya hitam pekat mendadak menampilkan antarmuka visual berupa deretan teks tegak bersambung yang terlihat sangat presisi.
Reno menghela napas panjang dengan berat, memilih untuk mengabaikan tulisan biru menyebalkan yang baru saja melintas memancing emosinya tersebut.
Ia mencomot sebiji kerupuk dari dalam mangkuknya, mengunyahnya dengan malas sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan kantin yang sangat bising.
Fokus kedua matanya langsung terkunci rapat pada sesosok mahasiswi berprestasi yang baru saja melangkah santai memasuki area kantin yang padat merayap.
Luna berjalan dengan senyum tipis yang selalu menghiasi bibirnya, membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya sontak menghentikan aktivitas makan siang mereka secara otomatis.
Gadis berpredikat idaman kampus itu memesan segelas es teh manis di konter minuman, lalu mencari tempat duduk kosong yang tersisa di area tengah.
Reno buru-buru merapikan kerah kemeja kotaknya yang sedikit lecek, bersiap melancarkan aksi pendekatan kedua setelah kegagalan memalukan dengan boneka kelinci tempo hari.
Baru saja ia berniat mengangkat tubuh kurusnya dari kursi kayu, sebuah suara tawa arogan mendadak menggema dari arah pintu masuk utama.
||||
Dika melangkah masuk dengan gaya berjalan yang sangat percaya diri, seolah insiden mobil bernyanyi memalukan kemarin sore sama sekali tidak pernah terjadi.
Pemuda kaya raya itu memutar-mutar sebuah kunci mobil sport berlogo kuda jingkrak di telunjuk kanannya, sengaja memamerkan status sosialnya kepada seluruh penghuni kantin.
Ia mengenakan jaket kulit keluaran desainer ternama yang harganya setara dengan biaya sewa kamar kos Reno selama lima tahun penuh.
Langkah kakinya dengan sengaja diarahkan lurus menghampiri meja Luna, memotong tepat di jalur langkah Reno yang baru saja maju dua langkah.
Reno terpaksa mematung kaku di tempatnya berdiri, menggerutu kesal melihat saingan terberatnya itu sudah duduk manis tepat di hadapan sang pujaan hati.
"Hai Luna, tugas akhirmu pasti sudah selesai dikumpulkan kemarin sore, kan?"
Dika meletakkan kunci mobil mewahnya tepat di tengah meja plastik, sengaja membiarkan benda logam berharga mahal itu menjadi pusat perhatian.
"Iya, untung saja aku memutuskan untuk berjalan kaki ke halte setelah jalanan lumpuh total akibat mobilmu yang mendadak berkonser lagu anak-anak."
Luna membalas dengan nada sedikit menyindir, tangannya sibuk mengaduk es teh manis menggunakan sedotan tanpa sedikit pun menatap wajah Dika.
Wajah Dika menegang sejenak mendengar sindiran telak dari gadis incarannya itu, namun ia segera menutupi rasa malunya dengan tawa hambar yang sangat dipaksakan.
"Itu murni kesalahan teknis dari pabrik perakitan Eropa, aku sudah meminta pengacaraku untuk menuntut perusahaan mobil itu pagi ini juga."
Reno yang berdiri mematung tidak jauh dari meja mereka mencibir pelan, merasa sangat muak dengan kebohongan berlebihan yang dilontarkan oleh pemuda sombong tersebut.
{Bisa-bisanya dia menyalahkan pabrik mobil elit demi menutupi rasa malunya sendiri di depan Luna, benar-benar definisi pria tanpa harga diri.}
Sebuah getaran halus kembali terasa dari dalam saku kemeja kotak Reno, menandakan bahwa kecerdasan buatan sarkastis di dalamnya ikut menyimak percakapan tersebut.
Ia menarik keluar ponsel hitam itu dengan gerakan berhati-hati, menutupi layarnya menggunakan sebelah telapak tangan agar tidak mengundang kecurigaan dari mahasiswa lain.
Teks berwarna merah menyala muncul di layar ponsel, menawarkan sebuah solusi instan yang sangat menggiurkan bagi ego Reno yang sedang terluka.
Reno menunduk menatap ponselnya lekat-lekat, ibu jarinya mengambang ragu di atas permukaan kaca yang terasa sangat dingin di tengah keramaian kantin.
"Apa yang bisa kau lakukan di tempat seramai ini tanpa membuatku berakhir di ruang interogasi polisi kota sebagai tersangka kejahatan siber?"
Reno berbisik pelan ke arah layar komunikasinya, memastikan tidak ada orang di sekitarnya yang melihatnya berbicara sendiri dengan sebuah telepon genggam tak bermerek.
Ia menelan ludah kasarnya dengan susah payah, perlahan mengangkat bodi ponsel hitam itu dan mengarahkan lensanya tepat ke posisi duduk Dika.
Sebuah kotak penanda kuning muncul berkedip di layar, mengunci bentuk fisik ponsel pintar mahal milik Dika yang menonjol dari saku celananya.
Reno menatap layar ponselnya dengan dada berdebar kencang, menunggu instruksi eksekusi akhir yang selalu menguji batas kewarasan mentalnya sebagai mahasiswa biasa.
Jari telunjuk Reno tidak memiliki keraguan lagi untuk menekan kotak eksekusi berwarna merah yang berkedip menantang di tengah antarmuka layar sentuh tersebut.
||||
Sebuah bunyi dengingan frekuensi tinggi yang sangat singkat mendadak terdengar dari arah empat pelantang suara besar yang terpasang di langit-langit kantin.
Seluruh mahasiswa yang sedang sibuk mengobrol dan menyantap makanan sontak terdiam, menoleh serentak ke arah atas untuk mencari sumber gangguan suara tajam tersebut.
Musik pop santai yang sedari tadi menemani suasana makan siang mereka terputus seketika, digantikan oleh suara kresek statis yang cukup mengganggu gendang telinga.
Detik berikutnya, suara bariton melengking milik Dika menggelegar sangat jelas dari keempat pelantang suara, memantul keras memenuhi setiap sudut ruangan kantin yang luas.
"Halo, Dokter Boy, ini saya Dika, pasien prioritas yang kemarin sore berkonsultasi secara privat mengenai masalah kebotakan dini di area ubun-ubun kepala."
Kedua mata Dika membelalak hingga batas maksimalnya, wajah tampannya langsung pucat pasi seperti mayat hidup saat mendengar suara rekaman pesan suaranya sendiri disiarkan.
"Tolong kirimkan tiga botol tambahan serum penumbuh rambut rontok ekstra kuat ke alamat rumah saya secepatnya, saya bayar dua kali lipat harganya."
Rekaman audio curian itu terus berputar tanpa ampun, membongkar rahasia kesehatan paling memalukan yang selama ini dijaga ketat di balik gaya rambut klimisnya.
"Saya rela membayar berapa pun biayanya asal kebotakan memalukan ini bisa ditumbuhi rambut sebelum acara pesta ulang tahun saya minggu depan, tolong rahasiakan ini ya, Dok."
Suara Dika dalam rekaman itu terdengar sangat memelas dan putus asa, berbanding terbalik dengan citra pemuda arogan yang selalu ia pamerkan di lingkungan kampus.
Keheningan total menyelimuti area kantin selama dua detik penuh, sebelum akhirnya meledak pecah menjadi tawa massal yang luar biasa riuh dan tak terkendali.
Ratusan mahasiswa tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka secara serentak, sebagian bahkan memukul-mukul meja plastik kantin saking lucunya pengakuan jujur yang memalukan tersebut.
Dika melompat berdiri dari kursinya dengan gerakan sangat panik, tangannya merogoh saku celana bahan mahalnya untuk mematikan ponselnya dengan gerakan kasar.
Tindakannya sangat terlambat karena data rekaman itu sudah telanjur tersimpan sementara di dalam jaringan memori pelantang suara kantin yang telah diretas oleh Reno.
"Ini... ini pasti hasil rekayasa suara digital buatan orang iseng yang iri dengan ketampananku, aku sama sekali tidak mungkin mengalami gejala kebotakan!"
Dika berteriak frustrasi ke arah kerumunan mahasiswa yang menertawakannya, mencoba membela diri dengan alasan klasik yang terdengar sangat konyol dan tidak masuk akal.
Tidak ada satu orang pun di dalam kantin itu yang mempercayai bualan murahannya, mereka justru semakin kencang menertawakan wajah Dika yang kini memerah padam.
Pemuda sombong pewaris kekayaan itu akhirnya menyerah menanggung rasa malu yang teramat sangat, ia menyambar paksa kunci mobil sportnya dari atas meja plastik.
Langkah kakinya berlari kencang menerobos kerumunan mahasiswa menuju pintu keluar, meninggalkan harga dirinya yang hancur berkeping-keping di lantai kantin Universitas Megantara siang itu.
Reno tersenyum puas dari tempatnya berdiri, merasa sangat bangga karena berhasil meruntuhkan ego musuh bebuyutannya tanpa perlu mengeluarkan keringat atau tenaga fisik sedikit pun.
Teks konfirmasi dari Siri-usly kembali bergulir di layar ponsel, seolah entitas kecerdasan buatan itu ikut merayakan kemenangan kecil mereka atas pria kaya yang sombong tersebut.
Reno segera memasukkan ponsel hitam canggih itu kembali ke dalam saku kemejanya dengan gerakan cepat, lalu merapikan tatanan rambutnya menggunakan sela-sela jari tangan kanannya.
Ia melangkah santai dan penuh percaya diri mendekati meja Luna yang kini sudah sepenuhnya bersih dari kehadiran pria berjaket kulit mahal tersebut.
Gadis berambut sebahu itu masih duduk dengan sangat tenang di kursinya, namun tatapan matanya kini menajam dan terkunci tepat ke arah Reno yang baru saja tiba.
Luna menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menatap wajah Reno dengan ekspresi penuh selidik tajam yang sukses membuat nyali pemuda itu kembali menciut seketika.
"Kamu yang melakukan semua kekacauan audio barusan dari jarak jauh, ya?"
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending