NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sylvia Rosyta

Karya ini telah terpilih sebagai pemenang YAAW 2026 periode 1 kategori 2 juara 3🥳 🎉 🎉

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

“Sedikit, Tapi aku nggak apa-apa.”

Arsy menggeleng pelan, rasa tidak enak mulai menguasai perasaannya. Ia tidak pernah meminta Syakil melakukan semua ini. Tidak pernah membayangkan laki-laki itu akan datang sejauh ini hanya untuk berada di sisinya di saat seperti ini.

“Kamu seharusnya pulang dan istirahat,” ucap Arsy pelan. “Perjalanan sejauh itu pasti melelahkan. Aku nggak mau kalau_”

Syakil menatap Arsy dengan tatapan matanya yang tak percaya sementara dahinya terlihat mengernyit.

“Kenapa kamu selalu mikirin orang lain dulu, Arsy?” tanya Syakil dengan lembut tapi serius. “Kenapa kamu nggak pernah mikirin dirimu sendiri?”

Arsy tersenyum kecil, senyum yang terlihat

dipaksakan.

“Aku baik-baik saja,” katanya cepat. “Sekarang aku sudah lebih tenang. Kamu nggak perlu khawatir.”

Itu bohong. Tapi Arsy sudah terlalu lelah untuk jujur. Ia terlalu takut jika ia membuka sedikit saja celah, semuanya akan runtuh lagi. Dan ia tidak ingin Syakil melihatnya hancur untuk kedua kalinya.

“Pulang dan istirahatlah, Syakil.” lanjut Arsy dengan suara yang dibuat setegas mungkin. “Kamu baru datang. Dan aku bisa mengurus semuanya sendiri.”

Syakil hendak menolak permintaan Arsy dan Arsy tahu itu. Ia tahu laki-laki itu tidak akan setuju. Tidak akan dengan mudah meninggalkannya begitu saja. Maka sebelum Syakil sempat berkata apa pun, Arsy melangkah mundur satu langkah.

“Aku harus kembali ke ruang IGD,” katanya cepat. “Ayah sendirian di sana.”

Ia mengangkat wajahnya, menatap Syakil dengan senyum tipis yang rapuh.

“Terima kasih sudah datang,” ucapnya pelan.

Lalu, sebelum Syakil bisa menahannya, sebelum ia bisa mengatakan apa pun, Arsy pun akhirnya melangkah meninggalkan Syakil. Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Bahunya tampak tegang. Punggungnya lurus, seolah ia sedang memaksa dirinya untuk tetap berdiri meski dunia di dalam dirinya hampir runtuh.

Syakil berdiri diam di tempatnya. Menatap punggung Arsy yang semakin menjauh. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Begitu banyak kata yang tertahan di tenggorokannya. Tapi ia tidak bisa mengatakannya karena Arsy selalu membuat jarak yang begitu tegas diantara mereka berdua.

Dadanya terasa sesak. Ada perasaan kalah yang mengendap di sana. Bukan karena Arsy memintanya pergi. Tapi karena jarak yang diciptakan perempuan itu, jarak yang begitu tegas dan dingin, padahal hatinya sendiri sedang remuk berkeping-keping. Syakil menghembuskan napas panjang, mencoba untuk mengendalikan emosinya.

“Tuanku.”

Syakil menoleh sedikit. Omar berdiri tidak jauh darinya, Laki-laki itu sejak tadi mengamati semuanya dalam diam—setiap kata, setiap gestur, setiap perubahan ekspresi di wajah tuannya.

“Apakah kita akan kembali ke hotel sekarang?” tanya Omar akhirnya. Nada suaranya sopan, tapi jelas ia sedang menimbang suasana hati Syakil yang tidak stabil.

Syakil tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku ke arah lorong IGD, tempat Arsy menghilang. Seolah-olah dengan menatap ke sana lebih lama, ia bisa menarik kembali perempuan itu. Menariknya keluar dari dinding tebal yang ia bangun sendiri.

“Apa menurutmu aku bisa pergi begitu saja?” ucap Syakil pelan nyaris berbisik dan membuat Omar terdiam. Ia tahu jawabannya.

“Kau mendengarnya sendiri,” lanjut Syakil, suaranya mulai mengeras. “Dia bilang dia baik-baik saja. Dia bilang dia bisa mengurus semuanya sendiri.” Syakil tertawa kecil. Tawa yang sama sekali tidak mengandung humor.

“Padahal jelas-jelas dia sedang sedih di dalam.”

Tangan Syakil perlahan mengepal. Otot rahangnya menegang. Ada sesuatu yang mendidih di dadanya, sebuah amarah, frustasi dan ketidakberdayaan yang semuanya bercampur jadi satu, menuntut jalan keluar. Tanpa peringatan, Syakil mengayunkan tangannya.

Buk!

Tinju itu menghantam tembok rumah sakit dengan keras. Suara benturan itu terdengar cukup nyaring dan membuat beberapa orang di sekitar menoleh kaget. Melihat apa yang saat ini tengah dilakukan oleh tuannya membuat Omar melangkah mendekat.

“Tuanku!” serunya cemas. “Tangan Anda—”

Syakil tidak menarik tangannya. Ia membiarkan buku-buku jarinya menempel di dinding dingin itu, seolah rasa sakit yang ia rasakan sekarang adalah satu-satunya hal yang bisa mengalihkan kekacauan di dalam kepalanya.

“Aku tidak tahan, Omar,” ucap Syakil akhirnya. Suaranya rendah dan bergetar. “Aku benar-benar tidak tahan.”

Omar terdiam. Ia jarang atau hampir tidak pernah melihat tuannya berada dalam kondisi seperti ini. Selama bertahun-tahun mendampingi Syakil, ia mengenal laki-laki itu sebagai sosok yang tenang, terkendali, dan hampir tak pernah memperlihatkan emosinya di depan siapa pun.Tapi sekarang ia justru melihat sisi lain dari tuannya itu.

“Melihatnya menderita seperti itu,” lanjut Syakil. “Melihat dia menahan tangis, berpura-pura kuat, memikul semuanya sendirian dan aku hanya berdiri di sini tanpa bisa melakukan apa pun.” Syakil menarik tangannya dari tembok. Kulit di buku-buku jarinya mulai memerah dan sedikit lecet.

“Aku datang jauh-jauh dari Kairo bukan hanya untuk melihatnya berkata ‘aku baik-baik saja’ lalu menyuruhku pulang.”

Omar menelan ludahnya dengan pelan.

“Arsy tidak sendirian,” lanjut Syakil dengan suara yang semakin emosional. “Dia seharusnya tidak pernah sendirian.” Syakil berbalik menghadap Omar sepenuhnya. Tatapannya terlihat tajam dan penuh tekad yang menggetarkan. “Aku ingin menjadi satu-satunya laki-laki yang bisa dia andalkan sekarang,” katanya tegas. “Di saat seperti ini. Di saat dunianya runtuh. Aku ingin dia tahu kalau aku akan selalu ada untuknya. Selalu.”

Kata-kata itu membuat Omar terdiam cukup lama. Ia melihat sesuatu yang berbeda di mata tuannya. Bukan sekadar ketertarikan. Bukan sekadar rasa peduli. Tapi cinta yang dalam, matang, dan siap menanggung apa pun bahkan jika itu berarti harus menerima penolakan demi penolakan.

“Tuanku,” ujar Omar akhirnya dengan suaranya yang lembut. “Perempuan seperti Nona Arsy bukan tidak ingin ditemani. Tapi dia sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri.” ucap Omar yang membuat Syakil mengerutkan keningnya. “Dia menciptakan jarak bukan karena tidak membutuhkan Anda,” lanjut Omar. “Melainkan karena dia takut jika ia bergantung, anda akan tiba tiba menghilang seperti seseorang yang melakukannya kepada nona Arsy.”

Kata-kata itu menghantam Syakil dengan pelan, tapi tepat sasaran.

“Dalam kondisi seperti ini,” kata Omar lagi, “yang ia butuhkan bukan paksaan melainkan waktu dan kesabaran.”

Syakil menghela napas berat. Bahunya sedikit merosot, seolah beban yang ia pikul tiba-tiba terasa berlipat ganda.

“Aku tahu,” ucapnya lirih. “Tapi menunggu saat dia hancur sendirian, itu menyiksaku.”

Omar mengangguk pelan.

“Karena itulah,” kata Omar, mencoba menenangkan, “tuanku juga perlu menjaga diri sendiri. Kembali ke hotel, beristirahat sebentar. Anda baru saja menempuh perjalanan panjang. Kondisi Anda—”

“Aku tidak akan pergi.”

Jawaban itu datang dengan cepat, tegas dan tanpa ragu, membuat Omar terdiam lagi.

“Aku tidak akan membiarkan Arsy melewati ini sendirian,” lanjut Syakil. “Meskipun dia tidak ingin aku berada di sisinya, aku akan tetap di sini. Selama aku masih bisa melihatnya, memastikan dia baik-baik saja dari jauh pun aku rela.”

1
Khairul Azam
aneh arsy
Farida Dalle
Sdh tamat aja, apa khabar RS yg dibeli oleh Syakil, tdk prnh dibahas😕
Farida Dalle
Tahu gak thor, aq sdh punya 5 ank tp belum prnh sama sekali dikasi sesuatu oleh mertua, seriusan suer, makanya aq iri sm si Arsy baru hamil ank pertama sdh dikasih 50persen, apa khabar klu sdh 5,haha, menyala Arsy🔥
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: yang sabar kak, siapa tahu bentar lagi dikasih hadiah sama mertua kl udah punya anak yang ke 6🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Farida Dalle
Enak betul yah jd Arsy, suami sayang dan sangat cinta, tampan, kaya, perhatian, punya mertua penyayang, duh Arsy, "maka nikmat Tuhanmu yg mana yg kau dustakan" tp sayang hanya ada di dinia halu, 🤭😂
Farida Dalle
Thor, tolong sisakan satu calon suami yg sprti Syakil, pokoknya Syakil is the best😂🔥
Farida Dalle
Duhhh Syakil.... kamu baik banged, semoga ttp semangat dn tdk putus asah,semoga Arsy nntinya cpt menetima cinta kamu yah🤲😇kita doakan, hehe
Farida Dalle
untung ketahuan sebelum pernikahan, udahlh Arsy, cowok modelan Radit gak usah ditangisi, lelaki kurang ajar dan tak berperasaan, sabar nnti dipertemukan dg jodoh yg baik,yg cinta mati sm kamu
Diiah Iryaa
lemahh amat sih heran, tinggal diseret aja atau panggil suster kok lebay
Nurma Sadiah
syakil keren👍
Bunda Fiya
/Good//Good//Good/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak 🙏😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
dari bab awal knp mengandung bawang si thor, pls aku jd ikutan nangis 😭😭😭
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
lo bukan nya kebalik ya, kan kamu duluan yg menghancurkan hidup arsy kok skrg kamu merasa jd korban
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
sultan arab mah beda ya, mau beli rumah sakit uda kek mau beli cilok
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ikutan mewek 😭😭 yakinlah suatu saat mereka berdua yg mengkhianatimu akan dpt karmanya
Dewi Yuli
bisa pake kata brangkar kak, ranjang dorong kepanjanngan🙏🙏
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak 🙏😍
total 1 replies
Sinta Dewi
ceritanya bagus Thor 😀, tetap semangat 💪💪 berkarya ya Thor 🥰🌹🔥🔥🔥
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak pasti, terima kasih bintang limanya kak 🙏🥰
total 1 replies
martiana. tya
masih di IGD? lama amat ICU kali?
Ima Kristina
Mending Arsy mulai belajar menjadi istri yang tangguh pantas mendampingi Syakil
Nurma Sadiah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!