Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Abu yang Belum Dingin
Penerbangan kembali ke Jakarta dengan helikopter pribadi malam itu dilingkupi oleh keheningan yang panjang. Di kursi belakang kabin yang kedap suara, Elena akhirnya tertidur karena pengaruh obat penenang ringan yang diberikan oleh tim medis Vasillo Group. Wajahnya yang dihiasi bekas luka tampak begitu lelah, menyimpan sisa-sisa badai yang nyaris menghancurkan hidupnya kembali.
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, menatap lurus ke arah luar jendela kecil kabin di mana lampu-lampu kota Jakarta mulai terlihat berkelap-kelip di kejauhan seperti taburan berlian.
"Adrian," panggil Alya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh deru baling-baling helikopter yang halus.
"Ya, Sayang?" sahut Adrian. Ia melingkarkan lengannya ke bahu Alya, merapatkan tubuh istrinya ke dalam kehangatan dadanya.
"Apakah menurutmu... Rendra benar?" tanya Alya, nadanya menyiratkan keraguan yang tiba-tiba merayap kembali. "Tentang ingatan masa laluku? Apakah kamu pernah merasa terganggu karena aku tidak bisa mengingat masa-masa sebelum kecelakaan itu?"
Adrian terdiam sejenak. Ia menghadapkan tubuh Alya kepadanya, menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat dan menatap langsung ke dalam mata bulat yang selalu berhasil meluluhkan dinding esnya.
"Alya, dengarkan aku," ucap Adrian dengan nada yang teramat sungguh-sungguh. "Aku tidak peduli dengan siapa dirimu sebelum kecelakaan itu. Aku tidak peduli pada kenangan apa pun yang pernah kamu bagikan dengan orang lain di masa lalu. Wanita yang kucintai, wanita yang kunikahi secara resmi di Bali, dan wanita yang kini menjadi ibu dari anak-anakku adalah Alya yang ada di hadapanku sekarang. Masa lalumu yang hilang bukanlah hantu bagi kita, melainkan ruang kosong yang memberi kita kesempatan untuk menulis cerita baru bersama."
Air mata haru mengalir di pipi Alya. Ia tersenyum, menyandarkan keningnya pada kening Adrian. "Terima kasih, Adrian. Aku tidak butuh ingatan masa lalu itu lagi jika masa depanku bersamamu sudah seindah ini."
Keesokan harinya, kepulangan mereka disambut dengan pelukan erat dari Leon dan Lulu di pintu masuk griya tawang. Kedua anak itu tampaknya tidak menyadari badai besar yang baru saja dilewati oleh orang tua mereka di lereng Merapi.
"Mama! Lulu rindu sekali!" seru Lulu sambil memeluk erat kaki Alya.
"Leon juga, Ma! Papa pergi lama sekali hanya untuk menjemput Tante Elena?" tanya Leon sambil mendongak, menatap Elena yang berdiri agak canggung di belakang Adrian dengan kacamata hitam besar dan syal yang menutupi sebagian wajahnya.
Alya berlutut, menyejajarkan tingginya dengan kedua anaknya. Ia tersenyum hangat. "Iya, Tante Elena agak kurang sehat, jadi Papa dan Mama menjemputnya agar bisa beristirahat di sini sebelum kembali ke Swiss. Leon dan Lulu harus sopan ya?"
"Siap, Ma!" jawab Leon patuh.
Elena mengigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendadak mendesak keluar saat melihat kedua buah hatinya tumbuh begitu sehat dan bahagia. Ia memberikan lambaian tangan kecil yang ragu pada mereka. "Hai... Leon, Lulu."
"Hai, Tante!" sahut Lulu dengan tawa cemprengnya yang khas.
Setelah mengantar Elena ke kamar tamu khusus untuk memulihkan kondisinya di bawah pengawasan dokter pribadi, Adrian dan Alya kembali ke ruang tengah.
Ting.
Pintu lift pribadi berdenting, menandakan kedatangan tamu. Malik melangkah keluar dengan raut wajah yang tidak biasa. Ada kerutan kecemasan di dahinya yang jarang sekali terlihat.
"Tuan Adrian," panggil Malik dengan suara rendah yang tertahan.
"Ada apa lagi, Malik? Rendra sudah resmi ditahan?" tanya Adrian, langsung menghentikan langkahnya di dekat sofa.
"Rendra Adiputra sudah berada di sel tahanan Polda Yogyakarta, Tuan. Kasusnya ditangani dengan sangat ketat," jawab Malik. "Namun... masalahnya bukan di sana. Kami baru saja mendeteksi adanya pergerakan mencurigakan dari aset pribadi milik mendiang Elena Vasillo."
Adrian mengernyitkan dahi. "Aset pribadi? Seluruh rekening dan dana perwalian Elena sudah dibekukan sejak empat tahun lalu, dan sebagian dialihkan ke perwalian anak-anak."
"Memang benar, Tuan," Malik membuka tabletnya, menunjukkan sebuah bagan transaksi bank Swiss yang baru saja aktif beberapa jam yang lalu. "Namun, ada sebuah brankas penyimpanan deposit rahasia di Zurich yang terdaftar atas nama gadis Elena Anggoro. Brankas itu baru saja diakses secara fisik... di Swiss."
"Siapa yang mengaksesnya?" tanya Alya ikut mendekat dengan cemas. "Elena sejak kemarin bersama kita di Yogyakarta, tidak mungkin dia yang ke Zurich."
Malik menatap Adrian dengan pandangan yang sangat serius. "Dokumen identifikasi sidik jari dan sandi biometrik yang digunakan untuk membuka brankas tersebut... adalah milik Elena Vasillo yang asli."
Suasana di dalam griya tawang seketika membeku.
Alya memandang Adrian dengan tatapan tidak percaya, sementara rahang Adrian mengetat keras. Mereka perlahan-lahan menoleh ke arah koridor kamar tamu tempat "Elena" yang baru saja mereka selamatkan dari lereng Merapi sedang beristirahat.
Jika Elena yang asli berada di Swiss dan baru saja membuka brankas rahasianya... lalu siapakah wanita berwajah parut yang saat ini sedang tidur di dalam kamar tamu mereka?