"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Sentuhan di Balik Meja Kerja
Gemerlap lampu kristal dan riuh rendaBe suara para taipan di aula amal Menteng perlahan surut, digantikan oleh sunyinya aspal jalanan Jakarta yang membelah keheningan malam. Pukul sebelas malam lewat, dan SUV hitam yang membawa Arka dan Naya akhirnya berhenti di pelataran kediaman Dewangga. Rumah megah itu sudah gelap, hanya menyisakan pendar lampu taman yang menyinari pilar-pilar marmer teras depan.
Naya melangkah masuk ke dalam kamar utama, tangannya bergerak anggun melepas jepit-jepit lidi yang menahan sanggul Jawa klasiknya. Rambut hitam lebatnya seketika terurai jatuh, membingkai wajahnya yang tampak lelah namun tetap memancarkan ketenangan sekeras baja. Kebaya beludru hitamnya masih melekat pas di tubuhnya, menyisakan keharuman esensial lavender bercampur melati yang kini memenuhi udara kamar tidur mereka.
"Naya."
Arka memanggil pelan dari ambang pintu penghubung ruang kerja pribadinya. Pria itu sudah menanggalkan jas tuksedonya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku.
"Bisa kita evaluasi berkas dari Pak Stanley sebentar? Ada beberapa poin dari kubu Clarissa yang baru saja masuk ke surelku," ucap Arka, suaranya bariton merendah, terdengar serak di keheningan malam.
"Baik, Mas. Berikan saya waktu lima menit," jawab Naya tenang.
Lima menit kemudian, Naya melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadi Arka yang bernuansa kayu mahoni gelap. Ruangan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu meja berwarna kuning temaram, menciptakan siluet bayangan yang intim di sudut-sudut dinding. Arka duduk di balik meja kerja besarnya, dikelilingi oleh lembaran draf dokumen persidangan hari Selasa depan.
Naya mengambil posisi berdiri di samping kursi Arka, berniat membaca dokumen di layar laptop yang menyala. Namun, jarak yang tercipta di antara mereka mendadak terasa begitu tipis. Kehadiran Naya dengan rambut terurai dan aroma wangi tubuhnya seketika memecah konsentrasi Arka.
"Poin mana yang berubah, Mas?" tanya Naya, matanya menyapu barisan teks hukum di layar.
Arka tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya justru bergerak ke samping, menatap profil wajah Naya dari jarak yang sangat dekat. Kulit wajah wanita itu tampak begitu halus di bawah temaram lampu meja. Mengingat bagaimana beraninya Naya membungkam Saskia di depan ratusan pasang mata beberapa jam lalu, dada Arka kembali didera debaran yang luar biasa kencang.
"Naya ...." Arka membuka suara, memotong atmosfer profesional yang kaku di antara mereka. Pria itu memutar kursinya, menghadap sepenuhnya ke arah Naya. "Tentang kejadian di aula amal tadi ... terima kasih. Kamu tidak seharusnya mendengar kata-kata sekotor itu dari Saskia."
"Saya tidak memasukkan kata-katanya ke dalam hati, Tuan Arka. Bagi saya, Saskia hanya sedang menunjukkan ketakutannya sendiri."
"Aku serius, Naya," sela Arka cepat. Secara refleks, tangan kanan Arka yang besar dan hangat bergerak maju, meraih pergelangan tangan Naya yang halus di atas meja kerja.
*Sentuhan itu terjadi lagi.*
Naya menahan napasnya selama satu detik. Kulit tangan Arka yang kokoh menyalurkan getaran hangat yang seketika mengacaukan ritme jantungnya. Ruang kerja yang sunyi itu mendadak terasa begitu pekat oleh ketegangan manis yang hidup.
"Saat di karpet merah tadi ... saat aku memegang pinggangmu dan menatapmu di depan kamera..." Arka merendah, melangkah setapak lebih dalam ke wilayah emosi yang selama ini ia sangkal. "Semua itu bukan lagi sekadar sandiwara kontrak untukku, Naya. Sorot mataku, caraku memelukmu ... itu murni mengalir dari hatiku karena aku benar-benar takut kehilangan wanita luar biasa seperti kamu di hidupku."
Mata elang Arka memancarkan riak pemujaan dan rasa butuh yang teramat besar, menelanjangi seluruh rahasia hatinya di bawah temaram lampu meja.
Dada Naya berdesir hebat dengan ritme yang kian liar. Pengakuan jujur dari pria sedingin es di hadapannya ini merayap masuk menembus celah-celah pertahanan batinnya yang paling dalam. Ada dorongan asing yang kuat di dalam hati Naya untuk membiarkan dirinya bersandar pada kehangatan itu. Rasanya begitu nyata, begitu hidup, dan menakutkan bagi logikanya yang selalu teratur.
Namun, dengan sisa kekuatan mentalnya yang sekeras baja, Naya menarik napas panjang secara teratur. Ia mengunci pandangan mata bulatnya yang jernih ke dalam manik mata Arka, menolak untuk memalingkan wajah atau terlihat lemah.
"Mas Arka," ucap Naya lembut, namun memiliki ketegasan menghanyutkan yang seketika menghentikan gerakan jemari Arka. Panggilan 'Mas' itu ia gunakan sebagai rem taktis untuk mengendalikan situasi. "Jangan biarkan emosi malam ini mengaburkan fokus strategis kita. Kita melangkah lebih jauh dan berbagi kamar ini demi memenangkan hak asuh Kenzie, bukan untuk merusak batasan yang sudah kita sepakati di atas kertas."
Naya perlahan menarik tangannya dari genggaman Arka dengan satu gerakan yang sangat halus dan anggun, memutus kontak fisik di antara mereka sebelum logikanya benar-benar lumpuh.
"Kubu Clarissa sedang menunggu kita melakukan kesalahan emosional di luar maupun di dalam rumah ini," lanjut Naya, suaranya kembali stabil dan dingin bagai air es yang menenangkan badai di dada Arka. "Jika perasaan ini melintasi batas sebelum palu hakim diketuk hari Selasa depan, kita akan menjadi rapuh saat pengacara Saskia menyerang kehidupan pribadi kita di ruang sidang. Saya butuh Anda tetap menjadi pemimpin Dewangga yang rasional, bukan pria yang digerakkan oleh debaran sesaat."
Arka menatap telapak tangannya yang kini terasa kosong di udara, lalu mengembuskan napas panjang dengan rasa frustrasi yang bercampur dengan rasa kagum yang makin menggila. Ketegasan Naya yang tenang lagi-lagi menyelamatkan kewarasannya dari tindakan impulsif. Wanita ini benar-benar tameng yang terlalu kokoh; ia tahu kapan harus memberikan kehangatan dan tahu kapan harus menegakkan dinding pembatas demi keselamatan mereka bersama.
"Kamu ... kamu selalu benar, Naya," ucap Arka lirih, menyunggingkan senyuman kaku yang sarat akan kekalahan telak egonya. "Maafkan aku karena sempat goyah."
"Tidak perlu meminta maaf, Mas. Wajar jika Anda merasa tertekan pasca pertemuan dengan Saskia," balas Naya, matanya melembut sesaat, memberikan sedikit ruang bagi kelegaan batin Arka. Naya menunjuk kembali ke arah layar laptop. "Sekarang, mari kita selesaikan membaca draf ini. Kita harus memastikan tidak ada satu pun celah hukum yang bisa digunakan pengacara Maheswari untuk menyudutkan status keuangan keluarga saya."
Arka pengangguk pelan, kembali membetulkan posisi duduknya dan memfokuskan pikirannya pada barisan teks dokumen hukum di depannya. Di bawah pendaran lampu kuning yang temaram, mereka kembali bekerja berdampingan dalam jarak yang sangat dekat, bahu mereka sesekali bersentuhan secara alami saat mendiskusikan taktik persidangan.
Malam kian larut di balik dinding ruang kerja mahoni yang terkunci rapat. Ketegangan manis yang sempat mengacaukan logika mereka perlahan berubah menjadi kekuatan kerja sama yang solid dan tak terkalahkan.
Naya berdiri tegap memandu argumen, sementara Arka mengeksekusi setiap poin hukum dengan ketangkasan seorang pemimpin dinasti Dewangga. Di dalam keheningan malam Minggu itu, meskipun Naya telah berhasil menarik kembali garis pembatas kontraknya, Arkananta tahu satu kenyataan murni yang tidak akan pernah bisa diubah oleh lembar kertas mana pun: hatinya telah sepenuhnya takluk oleh pesona kekuatan sunyi seorang Nayara.
Bersambung...
arkaaaa....masih blm ke buka juga pikiranmu...
sorry mom....esmosi jd nya ...belain mantan sampe segitunya...guwwedek sy mom....
lanjut mom...makin seru....
tau seberapa dalam dan sakitnya Naya,,,,Ku pikir akan bahagia ketika main layangan di luar dan ketawa bersama itu
ternyata kesempatan Arka yang di berikan Naya tetapi di sia siakan ,,, ketika kesekolahan bersama bergandengan tangan,,,kini tinggal kenangan tak mungkin terulang kembali,,,arka lupa jalan pulang atau memang ceroboh ahirnya lewat jalur yang salah,,,karena harusnya jalan kerumah Naya dan Kenzie,,,ini ketempat gisele Yo uwis piye maneh,,,biar pelajaran buat arka yang mengabaikan perasaan Naya seolah tidak penting,,,dan sekarang barulah menyesali sudah tertutup rapat hati Naya,,, ahirnya Kenzie lah yang jadi korban nya lagi,trim mommy sudah update,,,besok kalau mommy sibuk balap karung update nya malam ga apa apa 🤩🤭hua hua