NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

Di akhir pekan yang cerah, pusat perbelanjaan terbesar di kota dipenuhi pengunjung. Tawa anak-anak, alunan musik dari setiap sudut toko, dan aroma kopi yang menggoda menciptakan suasana hangat. Di tengah keramaian itu, tampak Anna dan sahabatnya, Widya, berjalan sambil membawa beberapa kantong belanja.

"Anna, kamu yakin masih kuat?" tanya Widya sambil terkekeh melihat kedua tangan Anna sudah penuh dengan tas belanja.

Anna mengembuskan napas panjang. Ia mencoba mengangkat kantong-kantong itu lebih tinggi, tetapi salah satunya hampir terjatuh.

"Aduh... ternyata diskon itu lebih berbahaya daripada jaga shift semalaman di rumah sakit," keluh Anna sambil tertawa kecil.

Widya tak kuasa menahan tawa.

"Aku sudah bilang, jangan beli semuanya sekaligus."

"Bukan salahku. Semua yang dijual lucu-lucu."

Mereka kembali berjalan menyusuri koridor mal. Wajah Anna tampak begitu ceria, jauh berbeda dengan dirinya saat mengenakan pakaian perawat. Hari itu ia benar-benar menikmati waktu bersama sahabat yang selalu menemaninya.

Sesekali mereka berhenti di depan etalase toko untuk melihat barang-barang yang menarik perhatian.

"Anna, coba lihat sepatu ini! Cocok banget buat kamu," seru Widya.

Anna menoleh sekilas.

"Bagus sih... tapi sepertinya aku sudah cukup belanja."

Widya mengangkat sebelah alis.

"Itu yang kamu bilang satu jam lalu."

Mereka kembali tertawa bersama.

Namun, ketika Anna melangkah, salah satu kantong belanja yang dibawanya tiba-tiba robek. Beberapa kotak kecil berisi peralatan medis pribadi dan kosmetik jatuh berserakan di lantai.

"Ya ampun!" Anna spontan berjongkok.

Widya ikut membantu memunguti barang-barang yang berhamburan.

Belum sempat mereka mengumpulkan semuanya, sepasang tangan ikut mengambil sebuah kotak yang menggelinding cukup jauh.

"Ini milik Anda."

Suara pria itu terdengar tenang.

Anna mendongak.

Untuk sesaat, ia terpaku.

"Ka-kamu... ?"

Anna dan pria itu terdiam terpaku saling menatap. Jantung keduanya berdetak hebat. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda, pria tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada jas, tidak ada stetoskop di lehernya. Penampilannya sederhana, tetapi tetap memancarkan wibawa.

"Sepertinya kita memang sering dipertemukan dalam situasi yang tidak terduga," ucap pria  sambil menyerahkan kotak itu.

Anna menerima barang tersebut dengan sedikit gugup.

"Terima kasih."

Widya memperhatikan mereka bergantian. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda saat Anna bertemu dengan pria asing itu.

"Kalau tidak keberatan, biar saya bantu membawa belanjaannya," tawar pria itu sambil menatap banyaknya kantong di tangan Anna.

"Oh... tidak usah. Kami masih sanggup," jawab Anna dengan sopan.

Pria itu tersenyum tipis.

Anna menarik paksa kantong-kantong belanjaannya dari tangan pria itu. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras, seolah menahan amarah yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.

"Tidak perlu. Aku bisa membawanya sendiri," ucap Anna dingin tanpa menatap pria itu sedikit pun.

Sebelum pria tersebut sempat berkata apa-apa, Anna berbalik dan melangkah cepat meninggalkan area pusat perbelanjaan.

Sepatu hak rendahnya berdetak nyaring di lantai marmer, menciptakan irama yang terdengar terburu-buru.

Widya yang sejak tadi hanya menjadi penonton, mengerjap bingung.

"Anna... tunggu!"

Namun Anna tak menggubris. Ia terus berjalan, bahkan semakin cepat ketika pintu otomatis mal terbuka di hadapannya.

Widya hampir setengah berlari mengejarnya.

"Tungguin dong, Anna! Aku lelah berlari!" teriaknya sambil mengatur napas.

Tetapi Anna seolah menutup telinga. Tatapannya lurus ke depan. Wajah cantiknya kini tampak pucat, sementara kedua tangannya menggenggam erat kantong belanja hingga jemarinya memutih.

Widya akhirnya berhasil menyusul saat Anna berhenti di dekat taman kecil di depan mal.

"Huft... kamu kenapa, sih?" tanya Widya dengan napas tersengal.

"Baru kali ini aku melihatmu seperti dikejar sesuatu."

Anna tidak langsung menjawab. Dadanya naik turun. Ia memejamkan mata beberapa detik, berusaha menenangkan gejolak di dalam hatinya.

Widya menatap sahabatnya penuh tanda tanya.

"Ada apa sih dengan Anna?" gumamnya pelan.

Beberapa saat kemudian, Anna membuka matanya. Tatapannya kosong.

"Pria tadi..." suaranya bergetar.

"Memangnya kenapa? Bukannya dia cuma membantu membawakan belanjaan kita? Bahkan kelihatannya dia orang baik."

Anna tersenyum pahit.

"Itulah masalahnya."

Widya semakin tidak mengerti.

"Maksudmu?"

Anna menghela napas panjang. Pandangannya menerawang jauh ke arah jalan raya yang dipenuhi kendaraan.

"Lima tahun lalu... aku pernah mengenalnya."

Widya membelalakkan mata.

"Hah? Serius? Siapa dia?"

Anna menggigit bibir bawahnya. Kenangan yang selama ini berusaha ia kubur kembali bermunculan satu per satu. Senyum pria itu, tatapan hangatnya, hingga janji yang pernah mereka ucapkan bersama.

"Dia adalah orang yang pernah berjanji tidak akan meninggalkanku..." lirihnya dalam hati. Ia  belum berani berkata jujur pada sahabatnya itu.

" Katakan dengan jelas, Anna?"

" Dulu, kami berteman baik, namun tiba-tiba aku dan dia kehilangan kontak." Ucapnya.

Widya memicingkan mata seakan tidak puas dengan jawaban Anna.

Angin sore berembus pelan, membawa keheningan di antara mereka.

Widya menatap Anna dengan penuh iba. Kini ia masih bertanya-tanya mengapa sahabatnya begitu panik saat bertemu pria itu.

"Tapi... kenapa sekarang dia muncul lagi?"

Pikiran Anna masih tertuju pada sosok pria yang ditemui tadi.

" Sejujurnya... aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku sudah mengikhlaskan semuanya.

Anna nyaris menyeret Widya masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti di tepi jalan. Napasnya memburu, sementara jemarinya gemetar saat membanting pintu kendaraan itu. Wajahnya pucat, seolah ada sesuatu yang sangat ingin ia hindari.

"Pak, cepat jalan!" pintanya dengan suara bergetar.

Tanpa banyak bertanya, sopir taksi segera menginjak pedal gas. Ban kendaraan berdecit pelan sebelum melesat meninggalkan halaman mal yang mulai dipenuhi kendaraan lain.

Widya yang masih kebingungan hanya mampu menatap sahabatnya bergantian dengan kaca belakang.

 "Anna... sebenarnya ada apa? Kenapa kita harus kabur seperti ini?" desak Widya.

Namun Anna memilih diam. Tatapannya terpaku pada kaca spion, memastikan sosok pria yang sejak tadi mengejarnya semakin jauh tertinggal. Ia mengembuskan napas panjang, tetapi rasa cemas di dadanya tak kunjung mereda.

Di sisi lain, pria itu berlari sekuat tenaga, berusaha mengejar taksi yang membawa Anna pergi. Tangannya terulur, berharap kendaraan itu berhenti. Sayangnya, jarak mereka semakin melebar hingga lampu belakang taksi hanya tampak sebagai titik merah di tengah ramainya jalan raya.

"Siaaaal!" teriaknya penuh amarah.

Dengan rahang mengeras dan napas tersengal, ia menendang sebuah pot bunga besar yang berada di pinggir trotoar. Pot itu bergeser beberapa sentimeter, sementara suara benturannya memecah keheningan sore. Orang-orang di sekitar sontak menoleh, tetapi pria itu tak memedulikan tatapan mereka. Kedua tangannya mengepal erat, matanya memancarkan kekecewaan sekaligus tekad yang semakin kuat.

"Aku akan terus mencarimu, Anna," gumamnya lirih dengan sorot mata tajam.

 "Cepat atau lambat... aku pasti akan menemukanmu."

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!