tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
ig author: Salbiah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berubah?
Buss yang berisi mahasiswa/i itu kini sudah sampai di penginapan yang posisinya lumayan jauh dari pemukiman dan dekat dengan hutan juga wisata alam.
Yah.. selama tiga hari mereka akan menginap di sana.
Rigecherta, Tivane beserta teman mereka yang lain juga para mahasiswa sudah kaluar dari buss dan membawa tas juga perlengkapan masing-masing. Matahari sudah mulai redup saat mereka tiba di penginapan itu sehingga suasana terasa sejuk apalagi terdapat hutan yang di sekitar penginapan.
" AYO SEMUANYA! DI JAGA BARANG MASING-MASING " seru panitia mengarahkan.
" MASUK DULU SEMUANYA. ISTIRAHAT. NANTI MALAM JAM DELAPAN KITA NGUMPUL" ucap salah satu dosen yang membimbing mereka ke dalam penginapan.
Kamar laki-laki akan terpisah dengan kamar perempuan. Dan mungkin dalam satu kamar bisa empat sampai lima orang.
" Capek banget ya Rige." Keluh Tivane berjalan di samping Rigecherta.
" Iya" jawab Rigecherta menoleh sebentar ke arahnya lalu melirik ke arah Zea yang berjalan tak jauh dari mereka.
"Kamu istirahat ya" ucap Rigecherta pada Tivane sambil mengelus pelan kepala Tivane.
" Iya. Kamu juga" ucap Tivane mengangguk. Sementara Milenia mengambil kunci kamar mereka.
" Nih Kunci kamar" Veros datang bersama Milenia karena sama-sama mengambil kunci kamar.
" Dah.." Rigecherta dan ketiga temannya juga Zein melangkah ke arah kamar cowo.
Suasana penginapan sudah lumayan sepi karena semua orang sedang beristirahat di kamar masing-masing.
Rigecherta keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah belakang penginapan dan berhenti di belakang seorang cewe.
" Hai Rige.." sapa Zea berbalik badan. Ya cewe itu adalah Zea.
" Ada apa?" Tanya Rigecherta datar.
" Nggak ada sih. Pengen ngobrol aja sama kamu" jawab Zea dengan wajah centil membuat Rigecherta menatapnya dingin.
" Nggak usah basa-basi" tekan Rigecherta pelan namun tajam. Zea terkekeh pelan dan berbisik di telinga Rigecherta.
" Lo jadi pacar gue, Atau gue sebarin sisi gelap lo" ucap Zea tersenyum sinis.
" Sisi gelap?" Tanya Rigecherta terkekeh dan menatapnya dingin.
" Yah. Sisi gelap. Gue tau lo punya bokap yang perusahaannya hampir bangkrut dan punya bisnis gelap" ucap Zea membuka handphone nya.
" Dan lo pernah andil dalam bisnis gelap itu" sambung Zea menunjukkan video Rigecherta yang terlihat mengenakan Hoodie hitam dan membawa kresek hitam di tangannya di salah satu dermaga tua, jalur perdagangan ilegal.
" Berani lo sebar. Hidup lo taruhannya" ucap Rigecherta tak main-main. Rigecherta bahkan tak tau dari mana cewe ini mendapatkan video itu. Salah satu alasan Rigecherta sangat membenci ayahnya. Karena saat itu Rigecherta sedang di jebak, di jebak ayahnya sendiri. Awalnya ia hanya di suruh mengantarkan itu yang katanya adalah bekal ke dermaga tua itu, namun ternyata isinya adalah narkoba yang pada saat itu juga polisi datang ke sana. Maka karena itu ia sangat membenci ayahnya karena di bohongi oleh ayahnya sendiri dan bahkan hendak memenjarakan anaknya sendiri. Namun karena ia masih di bawah umur dan ia tak pernah memakai benda terlarang itu. Ia bebas juga di bantu oleh Risa.
" So, Lo harus jadi pacar gue" ucap Zea tersenyum menang. Karena merasa Rigecherta akan takut oleh ancamannya.
" In your dream" desis Rigecherta muak.
" Lo?! Lo masih berani nolak gue? " Pekik Zea tak menyangka bahwa Rigecherta tetap menolaknya.
Namun saat melirik k arah belakang Rigecherta yang ternyata ada Tivane, ia tersenyum tipis dan memajukan wajah seolah sedang mencium Rigecherta namun ia hanya berhenti dan berbisik tepat di depan wajah Rigecherta.
" Kita liat. Apakah hubungan yang kalian bangga-banggain itu bakal tetap bertahan lama" ucap Zea pelan dan tersenyum penuh arti.
Namun karena Tivane melihat dari arah yang salah ia terdiam dan membeku dengan mata berkaca-kaca.
" Apaan sih lo?!" Sentak Rigecherta mendorong Zea menjauh. Namun Zea hanya tersenyum dan terkekeh.
" Jadi gini kelakuan kamu?!" Sentak Tivane berjalan mendekat dengan mata berkaca-kaca dan mulai menangis pelan. Rigecherta menoleh kaget dan tersentak saat melihat Tivane.
" Bukan gitu. Kamu salah faham. Aku-" ucapan terhenti saat tamparan keras mendarat di pipinya. Rigecherta tak marah, ia tau Tivane sedang salah paham sekarang.
Rigecherta mencoba meraih tangan Tivane namun Tivane menepis kasar tangannya.
" Sayang dengerin aku dulu. Sumpah ini nggak kayak yang kamu liat." Ucap Rigecherta menjelaskan namun Tivane menggeleng membuat Rigecherta langsung frustasi.
" I hate you" ucapan itu membuat Rigecherta langsung tersentak dan langsung menggeleng panik.
Tivane berbalik badan hendak pergi namun Rigecherta langsung menahan dan memeluknya dari belakang.
" Yang dengerin aku-"
" Iya, IYA! Kamu suka kan sama dia. Makanya kami kayak gini" ucap Tivane menyela dengan suara bergetar.
" Kamu berubah Rige. Kamu udah nggak perhatian lagi. Kamu udah suka sama dia, yaudah sama dia aja san!" Tivane langsung menghempaskan tangan Rigecherta yang leingkar di pinggangnya dan berlari memasuki penginapan.
" PUAS LO?! PUAS LO BIKIN DIA NANGIS HAH!" Bentak Rigecherta meledak membuat Zea yang tadi tersenyum angkih langsung menciut dan gemetar ketakutan.
" Pergi! Pergi sebelum gue kalap dan nggak ingat lo cewe" ucap Rigecherta keras membuat Zea langsung terlonjak dan pergi.
" AGHRR.. brengsek!" Geram Rigecherta meninju pohon di sampingnya.
" Lo kenapa Vane?" Tanya Milenia heran saat melihat Tivane datang sambil menangis sesenggukan. Milenia, Luci dan Ella mendekat dan duduk di samping Tivane.
" Kenapa Vane?" Tanya Ella pelan membuat Tivane menatapnya dengan mata basah dan terlihat hancur.
" Rige..." Adunya sesenggukan.
" Kenapa sama Rige?" Tanya Luci pelan.
" Dia selingkuh.." ucap Tivane pelan dan patah membuat ketiganya menegak dan lempar pandang dengan kerutan di dahi. Milenia langsung memeluk Tivane menenangkan dan tak ingin bertanya lebih.
Namun Ella langsung keluar kamar.
" Mau kemana La?" Tanya Luci namun tak di jawab oleh Ella.
Sementara di sisi Rigecherta ia masih melampiaskan amarahnya dan meninju pohon sampai jari-jari nya berdarah.
Ella datang dan langsung memandangnya dingin.
" Lo apain Vane?" Tanya Ella menahan emosi.
" Dia salah paham" jawab Rigecherta pelan.
" Lo apain dia gue tanya!" Ucap Ella akhirnya meledak.
" Ini semua gara-gara Zea, Vane salah paham karna gue ngobrol sama Zea"ucap Rigecherta meruntuki kebodohannya.
" Lo pikir gue bego? Nggak mungkin cuma karena ngobrol Vane sampe nangis" ucap Ella menunjuk Rigecherta sengit.
" Dia liat dari sudut yang salah. Dan itu emang tujuan Zea biar hubungan kami renggang" ucap Rigecherta menghela nafas berat.
" Jadi lo nggak beneran selingkuh?" Tanya Ella membuat Rigecherta menatapnya datar.
" Lo pikir gue sebego apa? Gue udah nungguin dia selama bertahun-tahun. Ya kali gue selingkuhin dia" decak Rigecherta.
" Dia dimana? Masih nangis nggak?" Tanya Rigecherta khawatir.
" Mending jangan lo temuin dulu. Dia kecewa banget sama Lo kayaknya " ucap Ella membuat Rigecherta mendecak geram.
" Justru itu, gue takut dia makin benci gue" ucap Rigecherta putus asa.
Ella yang melihat itu juga sebenarnya kasihan namun ia tahu juga Tivane bertemu Rigecherta pasti bakal ribut lagi.
" Lo temuin. Tapi jangan di paksa" ucap Ella pada akhirnya membuat Rigecherta langsung mengangguk.