Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Baru
Jantung Kanaya Leticia Clarissa—yang akrab dipanggil Aleta—terasa mau copot saat melihat gerbang tinggi SMA Garuda sudah tertutup rapat.
Dari balik jeruji besi gerbang, ia bisa melihat lautan murid baru yang sudah berbaris rapi di tengah lapangan. Upacara pembukaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) ternyata sudah dimulai sepuluh menit yang lalu.
Aleta menggigit bibir bawahnya, merutuki alarm kamarnya yang mendadak mati total pagi ini. Dengan perasaan takut yang luar biasa, ia melangkah mendekati gerbang. Setiap langkahnya terasa sangat berat, bukan hanya karena rasa malu, tetapi juga karena atribut MPLS di tubuhnya yang luar biasa ribet.
Sebuah papan kardus besar berbentuk bulat tergantung di dadanya, bertuliskan nama lengkapnya dengan huruf warna-warni hasil potongan majalah bekas. Belum lagi rambut hitam panjangnya yang harus dikuncir dua menggunakan pita rafia berwarna merah menyala, serta tas belanja dari karung goni yang bertengger di pundaknya. Aleta merasa seperti badut berjalan.
Dengan sifatnya yang pendiam dan benci menjadi pusat perhatian, situasi ini adalah mimpi buruk terbesar dalam hidupnya.
"Permisi... Kak," cicit Aleta pelan, mencoba memanggil salah satu panitia OSIS yang berjaga di dekat gerbang. Suaranya hampir tenggelam oleh suara riuh dari pengeras suara di lapangan.
Aleta menunduk dalam-dalam, meremas tali tas karungnya erat-erat. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata senior yang berjaga mulai menoleh ke arahnya. Di sela-sela rasa takutnya, Aleta belum menyadari bahwa keterlambatannya pagi ini akan mengubah seluruh kehidupan remajanya. Bahwa di balik barisan disiplin itu, ada sepasang mata tajam milik sang Ketua OSIS yang sejak tadi sudah mengunci pandangan ke arahnya.
💽💽💽
Felicia, salah satu senior pengurus OSIS yang kebetulan sedang berjaga di dekat gerbang, langsung menoleh dengan pandangan ketus saat melihat Aleta yang berdiri ketakutan. Dengan gaya senioritasnya yang kental, Felicia berjalan mendekat, melipat kedua tangan di dada sambil menatap Aleta dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Jam berapa ini?! Hari pertama aja udah berani telat!" bentak Felicia keras, membuat beberapa murid baru di barisan belakang lapangan sempat menoleh ke arah mereka. "Kamu nggak baca tata tertib, ya? Sengaja mau cari perhatian?!"
Aleta semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ma-maaf, Kak... tadi alarm saya—"
"Nggak usah banyak alasan! Di sini kita nggak butuh alasan!" potong Felicia ketat, wajahnya terlihat makin kesal—terutama saat ia menyadari wajah Aleta yang tetap terlihat sangat cantik dan menonjol, bahkan dengan rambut dikuncir pita rafia yang berantakan dan papan kardus di dadanya. Rasa iri langsung tebersit di hati Felicia.
Sementara Felicia terus mengomel dan memarahi Aleta di dekat gerbang, mereka tidak menyadari bahwa dari tengah lapangan, ada sepasang mata yang sejak tadi tidak beralih.
Alden Arsenio Malik. Cowok dengan postur tubuh yang tinggi tegap itu berdiri dengan wibawa penuh di dekat barisan depan. Dari posisinya yang berjarak beberapa meter, mata tajam Alden terus terkunci pada sosok gadis kecil yang sedang dimarahi oleh anggotanya tersebut. Ada kilatan aneh yang mendadak muncul di matanya yang biasanya sedingin es. Alih-alih mengabaikan murid yang terlambat seperti biasanya, Alden justru mulai melangkahkan kakinya yang panjang, berjalan lurus membelah lapangan menuju ke arah gerbang tempat Aleta berada.
Langkah kaki Alden yang lebar akhirnya berhenti tepat di sebelah Felicia. Kehadiran cowok bertubuh tinggi tegap itu langsung memberikan atmosfer yang mencekam. Felicia yang tadinya mengomel berapi-rapi, seketika bungkam dan mundur satu langkah, memberikan penghormatan pada sang Ketua OSIS.
Alden tidak melirik Felicia sama sekali. Tatapan dinginnya jatuh lurus pada Aleta yang masih menunduk ketakutan.
"Keliling lapangan sepuluh kali. Sekarang," ucap Alden. Suaranya berat, datar, dan tidak menerima bantahan sedikit pun.
Mendengar ucapan itu, Aleta tersentak. Ia mendongak dengan mata membelalak lebar, benar-benar syok bukan main. Sepuluh kali? Lapangan SMA Garuda ini luasnya bukan main, hampir setara dengan lapangan bola standar nasional. Ditambah lagi, seluruh murid baru dan panitia sedang berkumpul di sana. Menjalankan hukuman itu sama saja dengan menyerahkan dirinya untuk menjadi sorotan mendadak satu sekolah dengan atributnya yang konyol ini.
Aleta merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingin sekali protes. 'Kak, ini terlalu berlebihan buat orang yang baru telat sepuluh menit,' jeritnya dalam hati.
Namun, begitu netra indahnya berani beradu pandang dengan mata tajam Alden, nyali Aleta langsung ciut seketika. Tatapan Ketua OSIS di hadapannya ini begitu mengintimidasi, gelap, dan seolah bisa membaca seluruh ketakutannya. Aleta menelan ludah, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Dengan sisa keberanian yang ada, Aleta membetulkan posisi tas karung goninya yang terasa berat. Ia membalikkan badan dan mulai berjalan pelan dengan langkah ragu menuju tepi lapangan, bersiap memulai putaran pertamanya di bawah tatapan ratusan pasang mata—dan satu tatapan posesif yang tak melepaskannya sejak awal.
💽💽💽
Napas Aleta sudah tersengal-sengal. Peluh membanjiri pelipisnya, membuat anak rambutnya menempel basah di wajah. Putaran kelima baru saja ia selesaikan, namun kakinya terasa seperti batang kayu yang berat. Pandangannya mulai mengabur; dunia di sekelilingnya tampak berputar dan berbayang.
Lebih buruk lagi, sesi istirahat MPLS baru saja diumumkan. Lapangan yang tadinya hanya diisi barisan peserta, kini dipenuhi oleh ratusan siswa yang bersantai di pinggir lapangan—tepat di jalur lari Aleta.
Bisikan-bisikan itu mulai terdengar jelas.
"Itu anak baru ya? Cantik banget, tapi kenapa dihukum?"
"Kasihan, atributnya sampai kebawa-bawa lari begitu."
Mendengar bisikan itu, wajah Aleta memerah padam antara malu dan kelelahan. Ia merasa seperti pertunjukan sirkus yang sedang ditonton banyak orang. Namun, di antara kerumunan itu, Aleta bisa merasakan tatapan tajam yang masih setia mengikutinya. Alden. Ketua OSIS itu masih berdiri di posisi yang sama, dengan tangan terlipat di depan dada, menyaksikan Aleta yang nyaris ambruk dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Saat Aleta hendak memulai putaran keenam, pandangannya benar-benar menggelap. Tubuhnya limbung ke depan. Sebelum lututnya menyentuh aspal panas lapangan, Aleta merasa ada tangan kokoh yang dengan sigap menahan bahunya, mencegahnya jatuh.
Aroma parfum maskulin yang dingin dan tajam menusuk indra penciuman Aleta. Itu Alden.
"Kurang empat lagi, dan kamu sudah mau pingsan?" suara Alden terdengar dingin di dekat telinga Aleta, namun tangannya yang memegang bahu gadis itu terasa sangat posesif, seolah takut Aleta akan menghilang jika ia melepaskannya.
Bisik-bisik di pinggir lapangan yang tadinya pelan, seketika berubah menjadi riuh heboh. Lapangan SMA Garuda mendadak gempar. Beberapa murid perempuan bahkan menutup mulut mereka tidak percaya, sementara beberapa siswa lain dengan cepat merogoh saku celana mereka, mengeluarkan ponsel secara sembunyi-sembunyi untuk memotret momen langka tersebut.
Bagaimana tidak? Alden Arsenio Malik—Ketua OSIS legendaris yang terkenal dingin, kaku, dan paling anti berdekatan dengan perempuan—kini sedang mendekap seorang siswi baru di tengah lapangan. Ini adalah pemandangan yang mustahil terjadi selama dua tahun Alden memimpin di sekolah ini.
Klik! Klik!
Suara rana kamera ponsel terdengar dari beberapa sudut. Samar-samar, Aleta yang masih setengah sadar bisa mendengar kepanikan di sekitarnya. Namun, kehangatan dari dada bidang Alden dan cengkeraman kuat di bahunya membuat Aleta tidak punya kekuatan untuk menjauh.
Mendengar suara bisikan yang makin liar dan kilatan kamera dari kejauhan, rahang Alden mengeras. Aura di sekitar cowok itu mendadak turun drastis, menjadi sangat mencekam. Tatapan matanya yang setajam elang langsung menyapu seisi lapangan, menatap satu per satu murid yang sedang memegang ponsel dengan pandangan membunuh.
"Turunkan ponsel kalian. Sekarang," desis Alden. Suaranya tidak keras, namun bergema penuh ancaman lewat mikrofon kecil yang masih terpasang di kerah seragam OSIS-nya. "Siapa pun yang berani menyebarkan foto ini, saya pastikan kalian keluar dari sekolah ini sebelum MPLS selesai."
Seketika itu juga, lapangan menjadi senyap seperti kuburan. Semua ponsel langsung dimasukkan kembali ke dalam saku dengan tangan gemetar. Tidak ada yang berani menantang ancaman seorang Alden.
Tanpa memedulikan Felicia yang menonton dengan wajah pucat dan penuh rasa iri dari kejauhan, Alden langsung menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Aleta dan tangan lainnya menopang punggung gadis itu. Dengan satu gerakan mudah, Alden mengangkat tubuh Aleta ala bridal style ke dalam dekapannya.
Aleta yang terkejut hanya bisa mencengkeram kemeja OSIS Alden dengan lemah, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada cowok itu saat Alden membawanya pergi meninggalkan lapangan menuju ruang UKS.
💽💽💽
Author's Note:
Gimana Bab 1-nya? Seru ga? Jangan lupa buat klik Favorit dan masukkan cerita ini ke rak buku kalian ya, biar nggak ketinggalan kelanjutan obsesi Alden ke Aleta di bab berikutnya! Dukungan kalian berupa like dan komen berharga banget buat aku. Thank you! ✨