Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Butuh Bantuan
Malam itu, di dalam kamar tidurnya yang sempit dengan dinding yang catnya mulai mengelupas, Anjani duduk termenung di tepi tempat tidur kayu tua. Di tangannya, kartu nama perak berlogo Jones Group itu memantulkan cahaya lampu bohlam yang redup. Keputusan itu menggantung berat di pundaknya. Selama ini, Anjani adalah wanita yang mandiri—terlalu mandiri, bahkan hingga ia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi mendukung karier Malik. Namun, kini ia menyadari bahwa menghadapi Malik dan Bu Anne bukanlah sekadar pertandingan adu argumen, melainkan sebuah peperangan yang membutuhkan sumber daya yang tidak ia miliki.
Anjani menarik napas panjang. Ia teringat kembali tatapan mata biru Oliver—tatapan yang dingin namun penuh kalkulasi, seolah pria itu mampu melihat menembus keputusasaan yang menyelimuti dirinya. Ada aura kekuasaan yang terpancar dari diri Oliver, sebuah otoritas yang tidak didasarkan pada kesombongan kosong seperti yang dimiliki keluarga Wiratama, melainkan pada ketenangan seorang pemimpin yang tahu persis apa yang ia inginkan.
"Takdir tidak mempertemukan kita secara kebetulan, Tuan Oliver," bisik Anjani pada kesunyian kamarnya. Ia merasa ini adalah jalan yang harus ia tempuh. Jika dunia ingin menghancurkannya, maka ia akan menggunakan segala alat yang tersedia—bahkan jika itu berarti ia harus beraliansi dengan pria asing yang baru ia kenal.
Dengan jemari yang sedikit gemetar namun mantap, Anjani mengetik nomor yang tertera di kartu nama itu.
Tut... tut...
Panggilan itu tersambung dengan cepat. "Oliver Jones berbicara," suara bariton yang berat dan tenang itu terdengar di ujung telepon, seolah pria itu memang sudah menunggu panggilan darinya.
"Ini Anjani," jawab Anjani, mencoba mengatur nada bicaranya agar terdengar tegas. "Wanita yang hampir kau tabrak siang tadi."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum tawa rendah yang memikat terdengar. "Ah, si wanita malang yang menyimpan api di matanya. Aku tahu kau akan menelepon. Apa yang membuatmu berubah pikiran, Anjani?"
Anjani menggigit bibir bawahnya. "Aku butuh bantuan. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk mendapatkan keadilan yang memang menjadi hakku. Suamiku—atau mantan suamiku—telah memanipulasi hukum agar aku pergi dengan tangan kosong. Aku tahu kau baru saja membangun perusahaan di Indonesia, dan aku yakin kau membutuhkan informasi mendalam tentang struktur bisnis di sini, termasuk perusahaan keluarga Wiratama."
****
"Cerdas," sahut Oliver. "Aku suka wanita yang tahu harga dirinya. Datanglah ke kantorku besok jam sepuluh. Kita akan berbicara tentang bisnis dan... keadilan."
Keesokan harinya, Anjani berdiri di depan gedung pencakar langit yang menjadi markas Jones Group di Jakarta Pusat. Gedung itu berdiri megah, mencakar langit dengan kaca-kaca yang memantulkan kemewahan dunia yang selama ini hanya ia lihat dari jauh. Saat ia melangkah masuk ke lobi yang bernuansa modern minimalis, tatapan para resepsionis dan orang-orang berpakaian jas rapi seolah bertanya-tanya, apa yang dilakukan seorang wanita dengan penampilan sederhana sepertinya di sini?
Namun, begitu ia menyebutkan nama Oliver Jones, sikap mereka berubah seketika. Seorang asisten pribadi berpakaian profesional mengantarnya langsung ke lantai paling atas, ke kantor pribadi Oliver yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota Jakarta yang sesak.
Oliver berdiri di dekat jendela besar, membelakangi pintu. Saat ia berbalik, pesonanya tampak berlipat ganda. Mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah dan kulit lengan yang putih bersih, ia menatap Anjani dengan intens.
****
"Kau datang tepat waktu. Aku suka kedisiplinan," ucap Oliver sembari mempersilakan Anjani duduk di sofa kulit hitam.
"Aku tidak punya banyak waktu, Tuan Oliver. Malik akan segera mendaftarkan gugatan cerainya secara sepihak besok," ujar Anjani to-the-point.
Oliver duduk di hadapan Anjani, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dengar, Anjani. Di dunia ini, hukum sering kali hanyalah alat bagi mereka yang punya uang untuk memutarbalikkan fakta. Malik mungkin punya pengacara hebat, tapi aku punya sesuatu yang tidak dimiliki Malik: akses dan pengaruh internasional. Berikan padaku semua bukti transaksi fiktif dan dokumen perusahaan yang kau miliki. Aku akan mengubah dokumen-dokumen itu menjadi bom waktu yang siap meledak di bawah kaki mereka."
Anjani mengeluarkan flashdisk dari tasnya dan meletakkannya di meja. "Ini adalah salinan dari semua catatan keuangan perusahaan Wiratama selama lima tahun terakhir. Malik selalu ceroboh, dia tidak sadar bahwa selama ini aku mencatat setiap aliran dana yang masuk dan keluar, bahkan dana yang dia gunakan untuk menyuap beberapa oknum pejabat."
Oliver mengambil flashdisk tersebut dengan tatapan kagum. "Luar biasa. Istri yang setia, tapi juga seorang pengawas yang teliti. Malik benar-benar telah membuang permata demi kerikil tajam."
"Lalu, apa langkah selanjutnya?" tanya Anjani.
"Langkah selanjutnya adalah membuat mereka panik," ujar Oliver dengan seringai tipis. "Aku akan menggunakan firma hukum ternama untuk mendampingimu. Bukan untuk menceraikan mereka secara damai, tapi untuk menuntut audit menyeluruh terhadap perusahaan Wiratama. Saat audit itu berjalan, mereka akan menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi membuangmu dengan mudah. Sebaliknya, justru mereka yang akan memohon padamu untuk berdamai."
****
Anjani merasa beban yang selama ini menghimpit dadanya perlahan terangkat. Namun, ia tidak lupa pada kenyataan pahit bahwa ini hanyalah awal. "Kenapa kau mau melakukan ini untukku, Tuan Oliver? Apa untungnya bagimu?"
Oliver berdiri, berjalan perlahan mengitari ruangan sebelum berhenti di belakang Anjani. Suaranya terdengar sangat dekat, membuat bulu kuduk Anjani meremang. "Aku butuh mitra lokal yang tahu seluk-beluk perusahaan Wiratama. Aku punya ambisi besar untuk menguasai pangsa pasar mereka di Indonesia. Membantu mantan istri pemilik perusahaan tersebut untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya adalah cara terbaik untuk melumpuhkan mereka dari dalam. Jadi, anggap saja ini hubungan simbiosis mutualisme."
Anjani terdiam. Ia mengerti bahwa pria ini bukan pahlawan tanpa pamrih. Oliver Jones adalah seorang pebisnis yang dingin, namun bagi Anjani, selama tujuannya sejalan, itu tidak menjadi masalah.
****
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Wiratama, suasana sedang tidak kondusif. Malik Wiratama sedang mondar-mandir di ruang kerjanya yang luas, sementara Bu Anne duduk di sofa dengan wajah yang masih dipenuhi amarah.
"Sudah kutangani surat cerainya, Malik! Kenapa kau masih terlihat gelisah?" bentak Bu Anne. "Anjani itu wanita miskin yang tidak punya backing apa-apa. Sekali dia mendapatkan surat itu, dia tidak akan punya pilihan selain pergi dari hidup kita!"
"Aku hanya merasa tidak tenang, Ma," jawab Malik dengan suara serak. "Anjani terlalu diam saat aku memergokinya. Dia bukan tipe wanita yang akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Aku merasa ada yang salah."
"Salah? Apa yang salah? Dia tidak punya uang, tidak punya koneksi, dan orang tuanya hanyalah pensiunan yang tidak tahu apa-apa tentang hukum!" Bu Anne tertawa sumbang. "Tenanglah, besok pengacara kita akan memastikan dia menandatangani semua dokumen, dan kita akan terbebas dari parasit itu selamanya."