No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Olivia tidak berhenti
Dugaan Valerie ternyata benar. Tidur seranjang dengan Damian sama sekali bukan perkara mudah. Masalah pertama muncul datang bahkan sebelum mereka benar-benar terlelap.
“Turunkan suhunya aku kedinginan,” keluh Damian sambil mengambil remot pendingin ruangan.
“Jangan!”
“Nanti aku kepanasan?!” balas Valerie, lalu menaikkan kembali suhu AC.
Damian kembali menurunkannya, lalu Valerie kembali menaikkannya. Begitu terus selama beberapa menit hingga keduanya saling menatap kesal.
“Kalau begini terus, yang ada kita tidak akan tidur-tidur.”
Damian menggerutu dengan kesal, tangannya menarik selimut.
“Siapa sih yang bisa tidur di ruangan sepanas sauna?” Valerie meledek Damian. “Kalau seperti sekarang kan jadi sejuk.”
“Ini bukan lagi sejuk, tapi beku seperti didalam freezer.” Damian sibuk menggulung tubuhnya seperti telur gulung. “Memangnya kamu mau membuat ku menjadi frozen food?”
Saat Valerie lengah Damian merebut kembali remotnya, namun Valerie yang tidak mau kalah menjambak rambut Damian. Setelah berdebat cukup lama, mereka sepakat memilih suhu di tengah. Meski begitu, Valerie tetap menggerutu pelan sambil menarik selimut hingga sebatas pinggang.
Malam pun semakin larut.
Damian yang sudah terlelap tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat memeluk lengannya, perlahan ia membuka mata. Ia menoleh ke samping, Valerie yang semula tidur rapi di sisi kanan kini entah sejak kapan sudah berguling ke tengah ranjang. Kedua tangannya memeluk lengan Damian, sementara wajahnya bersandar di bahu pria itu. Ia masih tertidur pulas tanpa menyadari apa yang dilakukannya.
Damian menghela napas pelan, ia tahu Valerie pasti tidak sengaja.
“Aku takut, aku masih trauma, aku tidak mau...” ucap Damian menurunkan suara Valerie. “Sekarang malah dia yang membuatku takut.”
Tak ingin membangunkannya atau membuatnya terkejut, Damian dengan sangat hati-hati melepaskan pelukan Valerie dari lengannya. Setelah memastikannya tetap tertidur dengan nyaman, ia mengambil bantal dan selimutnya sendiri.
“Sofa, tolong berkerja sama jangan meremukkan tulang-tulangku.”
Ia berjalan ke sofa di sudut kamar dan merebahkan tubuhnya di sana hingga pagi.
✿
Keesokan harinya. Valerie terbangun, ia mengucek pelan matanya.
“Hm...?”
Tatapannya menyapu seluruh kamar, kasur di sisi kiri sudah kosong. Valerie mengira Damian sudah turun ke bawah, ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka pintu.
“AAA!”
Valerie spontan memekik lalu menutup kedua matanya rapat-rapat.
Damian yang baru selesai mandi dan sedang meraih handuk langsung menoleh kaget.
Valerie buru-buru menutup kembali pintu kamar mandi.
“M-maaf!... aku tidak sengaja.”
Wajahnya memerah hingga ke telinga. Beberapa menit kemudian, Damian keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
“Valerie?!”
Valerie langsung menatapnya kesal.
“Harusnya kamu memastikan dulu ada orang atau tidak di dalam, sebelum membuka pintu.”
Valerie langsung melipat kedua tangannya di depan dada.
“Itu salahmu!”
“Apa?”
“Kamu sangat ceroboh! Siapa suruh mandi tapi pintunya tidak dikunci?”
Damian terdiam sesaat, ia tidak pernah mengunci kamar mandi sebelumnya.
“Heran?... selalu merasa menjadi korban.”
Damian hanya menggeleng pelan melihat Valerie yang masih mengomel sendiri.
Setelah bersiap, keduanya turun ke lantai bawah. Di ruang makan, Damian sudah lebih dulu duduk sambil menikmati secangkir kopi. Valerie menarik kursi di seberangnya. Ia mengambil sepotong roti panggang dan mulai mengolesinya dengan selai. Baru saja hendak menyantap sarapannya, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu depan.
“Damian!”
Olivia masuk ke dalam mansion tanpa meminta izin. Dengan senyum lebar, ia langsung menghampiri meja makan dan duduk di samping Damian seolah ulahnya terhadap Damian bukanlah apa-apa baginya.
“Aku tidak bisa menahannya lagi, aku sangat merindukanmu.”
Ia meletakkan sebuah gelas kopi di hadapan Damian.
“Lihatlah, aku membawakan kopi favoritmu.”
Damian belum sempat mengatakan apa pun ketika terdengar suara tongkat mengetuk lantai marmer.
Tok... tok... tok...
“Pagi-pagi sudah ada tamu rupanya?”
Suara dingin itu terdengar dari belakang kursi Olivia, Ia sontak menoleh. Senyum yang semula menghiasi wajahnya langsung berubah canggung ketika melihat Nyonya Margaretha berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan datar yang sulit ditebak.
“N-Nenek...?”
Olivia segera berdiri sambil tersenyum manis.
“Aku tidak tahu kalau Nenek sedang di sini. Kalau tahu, pasti aku sudah membawakan teh herbal kesukaan Nenek.”
Namun, Nyonya Margaretha sama sekali tidak menanggapi ucapannya. Dengan tenang, ia menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping Valerie.
“Valerie, jangan hanya minum air putih saja. Kamu harus imbangi dengan susu juga.”
Tangannya menuangkan segelas susu hangat ke dalam gelas Valerie, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan gadis itu.
Valerie tersenyum kecil.
“Baiklah Nenek, terima kasih.”
Nyonya Margaretha kemudian menoleh kepada salah seorang pelayan.
“Tolong minta dapur membuatkan semangkuk sup sumsum yang hangat. Valerie masih dalam masa pemulihan, dia membutuhkan makanan yang bergizi.”
“Baik, Nyonya Besar,” jawab pelayan itu sebelum segera berlalu.
Olivia yang sedari tadi berdiri hanya bisa menggigit bibir. Ia merasa sengaja diabaikan. lalu berusaha mencairkan suasana, ia kembali membuka percakapan.
“Nenek, melihatmu disini aku jadi ingin mengajak Nenek jalan-jalan. Sudah lama kita tidak mengobrol sejak aku kembali dari luar negeri. Aku benar-benar merindukan waktu bersama Nenek.”
Kali ini, Nyonya Margaretha akhirnya menoleh. Tatapannya tetap tenang, tetapi suaranya terdengar tegas.
“Iya, sudah lama kita tidak mengobrol.”
Wajah Olivia langsung berbinar.
“Kalau begitu, nanti kita keluar mencari tempat yang sesuai.”
Belum sempat Olivia bersorak dalam hati, Nyonya Margaretha kembali melanjutkan ucapannya.
“Bagaimana kalau aku yang menentukan tempatnya?”
Senyum di wajah Olivia perlahan memudar.
“Tentu... kalau itu keinginan Nenek.”
Nyonya Margaretha hanya mengangguk singkat, lalu kembali memusatkan perhatiannya kepada Valerie.
“Habiskan susunya dulu, setelah itu baru makan supnya. Jangan hanya makan roti saja, kamu harus mengubah pola makanmu.”
Valerie mengangguk patuh, sementara Olivia hanya bisa duduk kembali dengan senyum yang mulai terasa kaku. Ia menyadari bahwa perhatian Nyonya Margaretha sepenuhnya tertuju kepada Valerie, bukan kepadanya.