Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas yang Tidak Boleh Dilewati
Langkah kaki Adrian yang menuruni anak tangga terdengar lambat, namun setiap ketukan sepatunya di atas marmer bagaikan dentang lonceng kematian yang menggema di seluruh penjuru lobi.
Jubah hitam yang ia kenakan tampak berkibar tipis, mempertegas siluet tubuhnya yang kokoh dan penuh intimidasi. Di belakangnya, Hendra berjalan dengan wajah datar, namun tangannya secara naluriah sudah bersiaga di dekat pinggang—posisi siap taktis.
Julian refleks menarik kembali tangannya dari dekat apron Kirana. Senyum nakal di wajah sepupu Adrian itu sedikit luntur, digantikan oleh tawa hambar yang dipaksakan untuk mencairkan ketegangan.
"Ah, Adrian! Panjang umurmu. Baru saja aku membicarakan betapa beruntungnya dirimu memiliki pelayan secantik ini," ujar Julian, mencoba bersikap santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya.
Adrian menghentikan langkahnya tepat di samping Kirana. Aura membunuh yang pekat dan dingin menguar dari tubuhnya. Pria itu bahkan tidak menatap Julian; sepasang mata hitam kelamnya justru terfokus pada Kirana, memeriksa dari atas hingga bawah apakah ada satu jengkal pun dari pelayannya yang telah disentuh oleh tangan lancang sepupunya.
Kirana tetap berdiri tegak dengan nampan perak yang dipeluknya di dada. Binar mata bulatnya tidak menunjukkan kepanikan, melainkan kilatan cerdas yang seolah berkata pada Adrian: Saya bisa menanganinya, Tuan Muda, tapi saya menghargai perlindungan Anda.
"Julian," suara Adrian terdengar sangat rendah, merayap di lantai marmer seperti ular berbisa. "Distrik barat tampaknya terlalu tenang hingga kau memiliki waktu luang untuk datang ke rumahku dan menggoda pelayan pribadiku."
"Ayolah, Adrian, jangan terlalu sensitif. Aku hanya bercanda sedikit," Julian melambaikan tangannya, mencoba meremehkan situasi. "Aku ke sini hanya untuk mengantarkan laporan bulanan dari klub-klub malam kita. Keamanan di sana aman terkendali."
"Serahkan laporannya pada Hendra, lalu angkat kakimu dari Bukit Permai dalam waktu tiga menit," potong Adrian mutlak, tanpa memberikan ruang negosiasi sedikit pun. "Dan satu hal lagi, Julian... jika aku melihat tanganmu berada dalam jarak satu jengkal dari apron Kirana lagi, aku akan memastikan tangan itu tidak akan bisa memegang setir mobil sportmu lagi seumur hidup."
Mendengar ancaman yang begitu spesifik dan mematikan, jakun Julian naik turun. Ia tahu betul bahwa Adrian tidak pernah menggertak. Otoritas sepupunya di dunia bawah adalah hukum yang absolut.
"Baik, baik. Aku pergi," gumam Julian kesal. Ia melempar sebuah flashdisk ke arah Hendra yang menangkapnya dengan sigap, lalu berbalik dan melangkah lebar-lebar keluar menuju mobil sport birunya. Deru mesin mobil yang menjauh sesaat kemudian menandai berakhirnya konfrontasi singkat tersebut.
Setelah mobil Julian menghilang dari halaman, keheningan di lobi utama terasa semakin pekat. Para pelayan lantai dasar yang sempat mengintip dari balik pilar segera membubarkan diri dengan cepat, takut menjadi sasaran sisa-sisa amarah Adrian.
Adrian membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Kirana. Sorot matanya masih setajam silet. "Mengapa kau tidak langsung memanggil pengawal saat dia mencoba menyentuhmu, Kirana? Apakah otak cerdasmu itu mendadak lumpuh di depan pria ugal-ugalan seperti dia?"
Kirana tidak menciut. Sifat berani dan suka menggodanya justru kembali meletup melihat kecemburuan teritorial yang diperlihatkan oleh sang majikan. Ia mengambil satu langkah maju, mendekatkan wajah cantiknya ke arah dada Adrian, membiarkan aroma wangi rambutnya menenangkan saraf pria itu.
"Tuan Muda Adrian yang penuh otoritas," bisik Kirana dengan nada manja yang sangat renyah. "Saya tidak memanggil pengawal karena saya tahu betul Anda sedang berjalan turun dari lantai tiga. Mengapa saya harus merepotkan orang lain jika singa pemilik kastel ini sudah siap mencabik siapa saja yang mendekati pelayannya? Lagipula... melihat Anda marah seperti tadi, membuat Anda terlihat sepuluh kali lebih tampan di mata saya."
Adrian menahan napasnya sejenak, menatap bibir Kirana yang melengkung penuh kemenangan. Gengsinya yang setinggi langit kembali diuji oleh kelancangan pelayan pribadinya ini.
"Tutup mulutmu, Pelayan," ketus Adrian, berbalik dengan cepat menuju lift untuk menyembunyikan detak jantungnya yang kembali berpacu tidak beraturan. "Bawa kopi jahe hangat ke ruang kerjaku sekarang. Jangan terlambat satu detik pun."
Kirana terkekeh riang, tawa ringannya menggema di lobi yang sepi. "Baik, Tuan Muda yang menggemaskan!" sahutnya setengah berteriak sebelum berjalan cepat menuju dapur lantai tiga.
---
Malam harinya, di dalam ruang kerja yang temaram, strategi yang dirancang Kirana mulai menampakkan hasil pertamanya. Hendra berdiri di depan meja kerja dengan memegang sebuah folder dokumen baru yang berisi laporan dari distrik selatan.
Kirana berdiri dengan tenang di sudut ruangan setelah meletakkan cangkir kopi jahe di meja Adrian. Posisinya sebagai pelayan pribadi khusus kini telah diakui sepenuhnya oleh Hendra sebagai bagian dari ruang pemikir taktis.
"Leo dan kelompok The Iron Wolves telah menerima kiriman dana dan persenjataan gelombang pertama kita, Tuan Muda," lapor Hendra, suaranya mantap. "Sesuai dengan prediksi Kirana, mereka bergerak dengan sangat agresif. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, dua wilayah operasi narkotika sisa-sisa Siberia Hitam di distrik selatan telah dibersihkan oleh mereka."
Adrian mengangguk, menyesap kopi jahenya yang malam ini terasa pas di lidahnya—tidak terlalu manis, persis seperti yang ia sukai. "Bagaimana tanggapan dari otoritas kota?"
"Polisi setempat mengira ini hanya perang antar-geng biasa karena perebutan wilayah," Hendra tersenyum tipis, sesuatu yang jarang terjadi di wajah kakunya. "Nama keluarga Arseto sama sekali tidak muncul dalam radar penyelidikan. Strategi ini benar-benar bersih."
Adrian mengalihkan pandangan matanya yang kelam ke arah Kirana yang sedang tersenyum manis di sudut ruangan. "Kau telah memberikan kemenangan lagi untukku, Kirana. Boneka kita di selatan berjalan sesuai dengan tarikan benangmu."
Kirana melangkah mendekati meja kerja, membungkuk anggun dengan tangan diletakan di depan apronnya. "Itu semua karena ketegasan Anda dalam mengeksekusinya, Tuan Muda. Bidak catur pertama telah bergerak di selatan, namun kita harus tetap waspada. Hancurnya kendali finansial keluarga Nona Tasya di Capital Union Bank pasti akan memicu reaksi dari sekutu-sekutu tersembunyi mereka yang lain."
"Biarkan mereka bergerak," jawab Adrian, sorot matanya berkilat dengan kekejaman yang dingin namun sarat akan rasa percaya diri yang mutlak. "Dengan adanya kau yang membaca papan catur di sampingku, aku tidak sabar untuk melihat siapa lagi yang akan mengantarkan kepalanya ke Bukit Permai ini."