Sekelompok preman datang setelah acara pernikahan sederhana digelar oleh Aditya dan Syahnaz. Mereka mengancam akan menyita rumah itu jika Aditya tidak mampu melunasi hutang dalam waktu tiga hari.
Mendengar masalah yang menimpa menantunya, ibu Syahnaz jatuh pingsan. Ternyata dia terkena serangan jantung. Dokter menyarankan agar segera melakukan tindakan operasi agar penyakit ibu Syahnaz tidak semakin parah.
Aditya teringat perbincangan atasannya di kantor yang sedang mencari seorang wanita untuk dijadikan simpanan dan melahirkan seorang anak. Aditya dengan gilanya memaksa Syahnaz menjadi PSK demi melunasi hutangnya dan biaya perawatan ibu di rumah sakit.
Akibat tidak punya jalan keluar lain, Syahnaz terpaksa menyetujui. Ia dijual kepada Jendra, pengusaha kaya yang menginginkan seorang wanita untuk menjadi penghangat ranjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Syahnaz keluar dari dalam kamar mandi trlah mengenakan seragam pelayan. Langkahnya terlihat aneh, menahan rasa tidak nyaman di area antara kedua kakinya. Setiap kali Jendra melakumannya dengan bersemangat, ada Syahnaz yang harus berjalan tertatih menahan perih.
Sebenarnya Jendra sudah mengijinkannya untuk tetap beristirahat di kamar itu. Namun, ia tidak enak hati terhadap pelayan yang lain. Sejak pagi ia belum melakukan apapun dan kini hari sudah hampir beranjak siang.
Di luar dugaannya, Jendra masih memintanya menjadi pelayan. Ia kira setelah semalam, mereka akan berbaikan. Mau tidak mau ia harus melakukan kemauan Jendra. Di sana ia memang bekerja karena mendapat bayaran setiap bulan.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Mamita saat melihat Syahnaz turun dari anak tangga dengan wajahnya yang meringis.
"Ah, iya, Mamita. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pegal," tepis Syahnaz. Tentu saja ia merasa malu jika memberi tahu yang sebenarnya kepada wanita itu.
"Kalau kamu merasa kurang enak badan, jangan sungkan katakan padaku. Sekarang kira sedang menyiapkan makan malam," kata Mamita.
"Kalau begitu, aku akan membantu," ucap Syahnaz. Ia mengikuti langkah kaki Mamita menuju ke lantai dapur.
Seperti biasa, di sana ada pelayan lain yang tengah memasak. Syahnaz langsung mengerjakan bagian yang belum ditangani oleh yang lain.
Masakan yang Syahnaz buat selalu terasa enak. Para pelayan yang sudah pernah mencicipi juga pasti mengatakan hal yang sama. Bahkan Jendra mengaku masakanan wanita itu memang enak.
"Ini irisan sayurannya mau ditaruh dimana?" tanya Syahnaz mendekat ke arah salah satu pelayan yang tengah memasak.
"Taruh saja di situ, nanti aku yang akan memasaknya," jawab Lana.
"Oh, baiklah."
Syahnaz merasa para pelayan yang bekerja di sana masih menjaga jarak terhadapnya. Padahal ia sangat ingin berinteraksi dan akrab dengan mereka. Ia seperti dianggap berbeda di sana.
***
"Kelihatannya kamu sudah kembali bersemangat ya, Pak Jendra," seloroh Regi.
Ia berdiri di depan pintu masuk memandangi sahabatnya yang terlihat tengah serius bekerja. Wajah Jendra tak lagi murah, bahkan terlihat ceria dengan tumpukan berkas yang harus ditelitinya. Sangat berbeda dengan Jendra beberapa waktu lalu.
"Oh, kamu sudah datang. Masuklah!"
Jendra mempersilakan Regi masuk. Ia bangkit dari kursinya meninggalkan tumpukan berkas di meja dan mengajak Regi untuk duduk di sofa tamu ruangannya.
"Bagaimana? Sudah ada perkembangan proyek kita di luar kota?" tanya Jendra.
Selama beberapa minggu ini, mereka memang masih sibuk dengan kerjasama proyek yang dilakukan di luar kota. Mereka bahkan sempat melakukan peninjauan lokasi untuk memastikan proyek berjalan dengan baik. Akan tetapi, Regi yang paling punya tanggung jawab besar terhadap proyek tersebut sesuai pembagian kerja.
"Aku baru datang sudah kamu todong dengan pertanyaan seperti itu. Basa-basi sedikit lah," protes Regi. Ia mengambil sebuah permen yang tersedia di atas meja lalu memakannya.
"Memangnya kita mau bahas apa kalau bukan pekerjaan? Kamu datang untuk mengajakku bergosip?" tanya Jendra sembari memicingkan sebelah alisnya. Ia sedang tidak mau diajak bercanda karena tahu Regi pasti ingin menggodanya.
Regi tertawa kecil mendengar perkataan Jendra. "Siapa tahu kamu mau membagikan resep obat semangatmu itu," ujarnya.
"Obat semangat apa? Aku biasa saja," tepis Jendra.
"Sepertinya Syahnaz mengurusmu dengan baik. Berarti tepat keputusanku malam itu untuk membawamu pulang. Makanya nggak usah sok gengsi," sindir Regi.
Ia sangat tahu jika Jendra kembali bersemangat setelah pulang ke rumah, tidak seperti waktu lelaki itu masih bertahan di apartemen. Ia yakin hubungan mereka telah membaik.
Pintu ruangan tiba-tiba diketuk saat mereka tengah berbicara. Seorang petugas keamanan muncul dari balik pintu.
"Maaf, Pak. Di bawah ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan Anda. Katanya ada hal penting yang ingin langsung dia sampaikan kepada Anda," katanya.
Jendra dan Regi saling berpandangan. Mereka penasaran untuk mengetahui siapa yang sangat ingin bertemu sampai harus memaksa.
"Memangnya siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Jendra.
"Namanya Aditya, Pak. Dia bilang Anda pasti mengenalnya."
Jendra dan Regi kembali bertatapan. Mereka heran kenapa lelaki itu sampai datang ke perusahaan milik Jendra.
"Biarkan dia masuk dan bawa ke sini!" perintah Jendra.
"Baik, Pak."
Petugas keamanan itu segera mengangkat alat komunikasinya lalu menggunakannya untuk menyampaikan pesan yang Jendra katakan.
"Kenapa tidak kamu usir saja?" tanya Regi. Ia yakin Jendra masih kesal akibat kejadian waktu itu. Ia khawatir Jendra akan kembali melampiaskan kekesalannya saat mereka bertemu.
"Aku ingin tahu apa yang lelaki bodoh itu mau dariku. Biarkan saja dia masuk," ucap Jendra.
Perasaannya yang tenang kembali bergejolak. Setiap mengingat lelaki itu, ia kesal karena Syahnaz masih juga belum membuka mata dengan kelakuan buruk suaminya sendiri. Ia heran ada wanita sebodoh itu di dunia ini.
Tak berselang lama, Aditya tiba di sana ditemani oleh dua orang petugas keamanan.
"Bisa kita bicara berdua saja?" pinta Aditya.
Jendra sangat ingin tertawa dengan sikap Aditya yang seakan mau mengatur. "Turuti saja maunya. Kalian keluar dulu!" perintahnya.
"Jendra ...," panggil Regi. Ia khawatir meninggalkan mereka berdua.
"Tidak apa-apa, aku tidak akan membunuhnya," bisik Jendra.
Akhirnya Regi dan kedua petugas keamanan itu keluar dari ruangan dan membiarkan mereka berdua saja.
"Apa kamu tidak ingin mempersilakanku duduk?" tanya Aditya.
Jendra mulai hilang kesabaran dengan lelaki yang bertingkah seenaknya itu. Ia seakan merasa bisa mengatur dirinya.
Aditya memandangi ruang kerja Jendra yang tampak mewah dan megah. Bahkan kursi sofa di sana sangat nyaman. Ia membayangkan ingin memiliki ruang kerja dan perusahaan sebesar itu.
"Katakan saja secara langsung, sebenarnya maumu apa menemuiku?" tanya Jendra dengan ekspresi wajah muramnya.
Aditya mengulaskan senyumannya. "Aku datang untuk menawarkan kerjasama yang menguntungkan," katanya dengan penuh percaya diri.
Jendra mengernyitkan dahi. "Kerjasama apa?"
"Perusahaanku masih tergolong baru. Kami berhasil memasarkan produk yang belum pernah ada sebelumnya. Respon pasar juga cukup bagus. Aku menawarkan kesempatan ini kepadamu untuk berinvestasi. Aku jamin dalam beberapa tahun, akan ada hasil yang signifikan."
Jendra merasakan perbedaan sikap Aditya tunjukkan. Lelaki itu seperti merasa mereka berdua setara. Jauh berbeda saat pertemuan pertama mereka. Jendra masih mengingat bagaimana saat lelaki itu mengemis kepadanya untuk mendapatkan uang dengan mengorbankan istrinya sendiri.
"Aku tidak sembarangan menawarkan hal ini kepada orang lain. Aku rasa kamu calon investor yang tepat untuk perusahaanku," imbuh Aditya.
"Aku tidak tertarik dengan ide produk hasil curian!" sindir Jendra.
Aditya langsung terdiam mendengar ucapan Jendra.
"Kamu kira aku tidak tahu kalau sebenarnya produk itu merupakan rintisan perusahaanmu sebelumnya? Apa kamu tidak punya malu datang ke sini menawarkan sesuatu yang sudah kamu curi?" nada bicara Jendra terdengar tegas dan penuh kekesalan.
"Aku juga punya andil untuk produk baru itu di perusahaan sebelumnya. Apa aku salah kalau membawa ide itu ke perusahaan baruku?" Aditya berusaha membela diri.
Ia sudah kebingungan untuk mendapatkan suntikan sana tambahan demi mempertahankan perusahaan. Ia kira datang ke sana akan mudah untuk mendapatkan bantuan dari Jendra.
"Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang!" usir Jendra.
Aditya terdiam sejenak. "Kalau begitu, aku punya kesepakatan lain," ucapnya.
"Aku tidak tertarik!" tepis Jendra.
"Bagaimana kalau aku mau menceraikan Syahnaz? Maukah kamu memberiku sejumlah uang?"
Ucapan Aditya membuat Jendra tertegun. Lagi-lagi lelaki itu membawa-bawa nama Syahnaz di hadapannya.
ribet aja 🥺 bener mm Rania 😲
😡