NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ENAMBELAS

Sebuah rumah besar bertema klasik modern menjadi tempat pilihan Bio. Hadiah ini merupakan hadiah terbesar yang pernah Bio dapatkan dari ayahnya.

Kadang Bio bingung, mengapa sang ayah rela mengeluarkan uang begitu banyak demi ini? Hanya karena Bio bersedia menikah dengan Arun.

Ah sudah lah.

Pagi ini Bio bangun lalu melangkah kan kakinya menuju meja makan. Maklum baru hari pertama mereka di rumah ini segala kebutuhan dan keperluan belum mereka penuhi. Dan meja makan pun kosong tidak ada makanan apapun.

Oh iya, jangan kalian pikir Arun dan Bio tinggal se kamar ya!

Kemarin malam setelah mereka sampai, Bio lebih tepat nya langsung membagi ruangan kamar untuk mereka. Kamar Bio terletak di lantai kedua rumah tersebut sedangkan kamar Arun berada di lantai satu lebih tepatnya itu kamar untuk tamu.

Arun hanya bisa mengikuti apa kata Bio, walaupun didalam hatinya Arun ingin sekali mengacak serta menggaruk muka Bio.

Suara langkah kaki menyadarkan Bio dari lamunannya.

"Lo masak?" tanya Bio saat melihat Arun dari arah dapur.

"Masak apaan? Dapur kosong begitu!" ucap Arun sambil menarik kursi untuk duduk.

Tak lama Arun kembali bangkit dari duduknya, "kemana lo?" tanya Bio.

"Beli sayur, mau ikut?" ajak Arun dengan malas.

"Ogah! Itukan urusan lo, gue terima beres" jawab Bio.

Arun menatap Bio, "jadi maksud lo, mulai sekarang gue ngurusin lo? Bukan nya lo gak suka sama gue, kenapa sekarang minta di urus in gue?".

Bio yang mendengar itupun langsung menatap tak terima.

"Heh! Siapa yang minta lo ngurusin gue?" tanya Bio pada Arun.

"Lahh lo tadi itu ..."

"Ngurusin yang gue maksud itu, lo ngurusin makanan gue setiap hari. MAKANAN aja titik gak yang lain" jelas Bio.

"Dikira gue babunya apa!" gumam Arun sambil melangkah pergi keluar.

Bio ikut bangkit dari duduknya, "Dia kira gue gak denger ocehannya kali ya? Bodo amat lah! Mending gue mandi".

Arun memang pandai dalam hal mengolah sayuran. Selama Arun tinggal dengan sang nenek hal seperti ini sudah menjadi bagian dari aktivitasnya.

"Makanan udah siap. Mandi dulu deh baru gue makan" ucap Arun setelah menata makanan di atas meja.

Lima belas menit berlalu, Arun sudah tampil rapi. Outfit kampus hari ini sangat menjadi inspirasi bagi yang lainnya.

"Nih orang udah berangkat apa belum sih? Tapi kok masakan gue masih utuh aja. Apa dia gak makan?" Gumam Arun.

Sepertinya Bio memang sudah pergi. Arun memutuskan untuk membawa saja makanan tersebut ke dalam kotak makan miliknya. Arun hanya sedikit mengambil makanannya lebih banyak ditinggalkan di rumah.

Arun melangkah pergi keluar rumah dan menaiki ojek pesanan onlinenya. Namun Bio baru saja keluar dari kamarnya dan melihat makanan yang masih rapi dan tidak seperti ada yang menyentuhnya.

"Ni orang gak makan apa?" gumam Bio.

Sedangkan Bio mengambil piring kosong dan menambahkan sayur langsung duduk di kursi untuk segera mencoba masakan Arun, "hemm, boleh juga nih bocah masaknya" ujar Bio sambil menikmati setiap sendok yang masuk ke dalam mulutnya.

Sedangkan di tempat lain saat ini Arun tengah membaca sebuah kertas yang terdapat beberapa catatan materi didalamnya. Namun baru saja Arun fokus membaca tiba-tiba seseorang datang dengan suara khasnya.

"ARUNNNN!!"

Tia berteriak sambil sengaja menabrakan tubuhnya pada Arun, "mati gue!" ucap Arun dengan nada lirih.

"Jangan dulu nanti Bio jadi duda satu hari setelah pernikahan, kan gak lucu" ujar Tia.

Tak!

"Gila lo!" Arun menyingkirkan tubuh Tia untuk duduk disampingnya.

"Gimana rasanya menikah?" tanya Tia dengan memandang kedepan.

Arun melihat ke arah Tia, "salah lo nanya gue, gue bukan nikah karena cinta jadi lo ga akan pernah dapet jawaban apapun dari gue" balas Arun kembali membaca kertas ditangannya.

Terkadang Tia merasa iba dengan Arun namun saat di lihat kembali nasib Arun jauh lebih baik dari dirinya. Menikah dengan orang kaya, ya meski belum ada cinta di dalamnya. Sedangkan Tia entah nanti akan menikah dengan siapa, dan bagaimana keluarganya Tia masih kosong.

"Ya udah gue ganti pertanyaannya. Gimana bisa satu atap sama cogan?" kali ini Tia bertanya sambil menatap Arun.

"Ga1k ada yang spesial Ti, udah lah. Bahas kampus aja jangan yang lain apa lagi pernikahan gue. Nanti banyak orang yang tahu, males gue" ucap Arun.

"Run? Gue lupa ada kelas anjirr!!" Tia langsung menepuk jidatnya pelan sambil berdiri dan meninggalkan Arun sendirian.

Arun hanya menggelengkan kepala saat melihat sikap sahabatnya itu.

Sore hari ...

Arun ragu saat menatap pintu rumah tersebut, pasalnya pintu rumah ini masih terkunci dan Arun tidak membawa kuncinya. Lalu bagaimana Arun bisa masuk?.

Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Benar saja Arun langsung berdiri mepet pada pintu saat hujan bersamaan dengan angin menerpa ke arahnya. Hari yang mulai gelap hanya bisa membuat Arun bertahan entah sampai kapan.

Arun berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya.

Sorotan lampu mobil mampu membuat Arum menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan, "lo gila?" tanya Bio dengan nada marahnya.

"Enggak".

"Ngapain lo di luar? Di usir? Udah tau hujan bukannya masuk!" Bio masih menatap Arun yang tetap berjongkok.

Arun langsung berdiri sambil menghentakan kakinya, "gue gak bisa masuk, pintunya di kunci!" ucap Arun dengan kesal.

"Lo gak bawa kunci rumah?" tanya Bio.

"Inikan rumah lo! Mana mungkin gue bawa kunci segala. Lagian gue gak tau kuncinya yang mana!" kesal Arun.

Bio langsung membuka pintu menggunakan kunci miliknya, "lain kali bawa kunci yang digantung di pintu, gue udah bawa yang cadangan" ujar Bio.

Haaaachimmm

Arun bersin lalu menggosok hidungnya hingga merah, "iya, gue duluan" pamit Arun langsung masuk ke dalam rumahnya.

Aru langsung masuk ke dalam kamarnya. Bio memandang Arun dengan sedikit khawatir karena tadi dia melihat Arun bersin dan tubuhnya sedikit basah. Bio menggelengkan kepala untuk menghilangkan pikiran anehnya.

Bio langsung masuk dan melihat ke arah kamar Arun pintunya tertutup. Bio langsung menuju kamarnya karena sepertinya Arun pun sedang membersihkan diri.

Tidak butuh waktu lama untuk Bio mandi hingga saat ini dia sudah berada di bawah kembali tepatnya berdiri disamping meja makan. Tidak ada makanan malam ini, Arun pun sepertinya belum keluar dari kamarnya.

Perlahan Bio mendekat ke arah pintu kamar Arun. Namun belum sempat Bio mengetuk pintunya terbuka lebih dulu.

Haaachimmm ...

"Eh! Lo ngapain?" tanya Arun setelah berhasil membuka pintu.

Bio yang di tanya hanya diam karena kaget melihat Arun yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.

"Oh iya, lo pesan makanan di luar aja ya. Gue kayaknya gak bisa masak buat makan malam" ujar Arun memberitahu tujuannya untuk keluar dari kamar.

"Lo sakit?" tanya Bio.

Arun langsung menggelengkan kepala, "cuma bersin-bersin aja, udah lah buruan sana lo pesan makanannya nanti kemaleman" ujar Arun mengingatkan sambil memundurkan langkahnya untuk kembali masuk ke kamar namun tangannya berhasil di tahan oleh Bio.

Arun yang melihat itu langsung menatap Bio sambil berekspresi seolah bertanya maksudnya, "lo udah makan?" tanya Bio.

"Gue lagi males makan, lo aja".

"Gak! Lo harus makan. Kalo lo sakit gimana?" tanya Bio.

Arun melepaskan tangannya dari genggaman Bio, "gue baik-baik aja, lo makan aja sendiri" tolak Arun.

"Yaudah temenin gue makan. Lo kan istri gue! Lo gak perlu makan, lo duduk aja disana sambil nemenin gue makan" ujar Bio lalu meninggalkan Arun yang sudah pasti merasa kesal saat ini.

Suka tak suka Arun melangkahkan kakinya menuju meja makan. Sedangkan Bio sudah duduk sambil memainkan ponselnya untuk memesan makanan. Arun langsung menarik kursi di samping sebelah kiri Bio.

Tidak ada percakapan antara mereka semuanya larut dengan ponselnya masing-masing hingga suara bel rumah berbunyi dan Bio lagsung beranjak dari duduknya untuk mengambil makanannya.

Saat sampai di meja makan, Bio langsung membuka kotak nasi berisi ayam bakar tersebut, "lo gak mau makan kan? Soalnya gue cuma pesan satu" ujar Bio sebelum menyentuh nasinya.

Arun membalas tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Bio langsung menyantap makannya, namun baru beberapa sendok saja Bio langsung berhenti saat melihat Arun meletakan ponselnya di atas meja lalu menenggelamkan kepalanya di atas meja.

Bio langsung menyentuh dahi Arun menggunakan tangannya. Karena Bio khawatir melihat Arun yang memejamkan matanya dengan posisi menghadap dirinya.

Panas, itu yang pertama kali Bio rasakan saat menyentuh dari Arun.

"Lo sakit Run!" ujar Bio dengan panik.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!