Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pintu rumah orang tua Mahesa tertutup perlahan di belakang Mahesa. Tidak ada yang mengejar Mahesa. Tidak ada yang memanggil namanya.
Tidak ada lagi kalimat, "Hati-hati di jalan." Kalimat yang sejak kecil selalu Mahesa dengar setiap kali keluar rumah.
Mahesa berdiri beberapa saat di teras. Pandangannya kosong. Malam terasa begitu dingin. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki tempat untuk pulang.
Dengan langkah lunglai, Mahesa berjalan menuju mobil. Mesin dinyalakan. Namun selama beberapa menit, mobil itu tetap diam di tempat.
Tangan Mahesa menggenggam kemudi erat. Semua yang terjadi dalam dua puluh empat jam terakhir terasa seperti mimpi buruk. Aurel mengetahui perselingkuhannya. Orang tuanya berpihak kepada Aurel. Ayahnya mengusirnya dari rumah. Dan kini Ia bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.
Mahesa memejamkan mata. Satu-satunya tempat yang terlintas di pikirannya hanyalah rumahnya. Rumah yang selama ini dibangun bersama Aurel. Rumah yang selalu menyambutnya setiap kali pulang bekerja. Rumah yang semoga masih menyisakan sedikit harapan.
Hampir tiga puluh menit kemudian, mobil Mahesa memasuki halaman rumah. Lampu teras mati. Tidak seperti biasanya. Mahesa turun dan membuka pagar perlahan. Suasana begitu sunyi. Ia memasukkan kunci ke lubang pintu. Pintu terbuka.
"Rel..." Suara Mahesa menggema pelan.
Tidak ada jawaban. Mahesa menyalakan lampu ruang tamu. Ruangan itu tampak rapi. Persis seperti biasanya. Namun entah mengapa, suasananya terasa begitu asing.
"Raka?" Mahesa kembali memanggil.
Tetap sunyi. Mahesa berjalan menuju kamar utama. Kosong. Ia membuka pintu kamar Raka. Kasur kecil itu juga kosong. Boneka dinosaurus kesayangan putranya masih berada di atas tempat tidur. Selimutnya terlipat rapi.
Mahesa mengembuskan napas panjang. Dadanya semakin sesak. Ia berlari kecil menuju dapur. Kosong. Teras belakang. Kosong. Tidak ada siapa pun.
Mahesa kembali ke ruang tamu. Pandangannya menangkap sebuah bingkai foto keluarga di atas meja. Foto itu masih berdiri di tempatnya.
Aurel tersenyum. Raka tertawa lepas di gendongan ayahnya. Mahesa mengambil bingkai itu perlahan. Jemarinya mengusap wajah Aurel.
"Lalu aku harus pulang ke mana sekarang...?" Bisik Mahesa lirih.
Baru kali ini Mahesa benar-benar memahami arti sebuah rumah. Selama ini ia mengira rumah adalah bangunan yang ia cicil setiap bulan. Padahal Rumah adalah Aurel yang selalu menunggu kepulangannya. Rumah adalah aroma masakan yang selalu menyambutnya. Rumah adalah suara langkah kecil Raka yang berlari memeluknya setiap sore. Dan malam ini. Semuanya telah menghilang.
Mahesa terduduk di lantai ruang tamu. Keheningan memenuhi setiap sudut rumah. Tak ada suara televisi. Tak ada tawa Raka. Tak ada suara Aurel yang biasanya bertanya, "Sudah makan?" Yang terdengar hanyalah detak jam dinding. Setiap detiknya terasa seperti pengingat bahwa ia telah kehilangan keluarga yang selama ini selalu ada untuknya.
Mahesa meraih ponselnya. Jari-jarinya sempat berhenti di nama Aurel. Ia ingin menelepon. Ingin meminta agar Aurel pulang. Ingin bertemu dengan Raka. Namun setelah beberapa saat, ia kembali mematikan layar ponselnya. Ia sadar. Mungkin malam ini, Aurel memang sengaja memilih untuk tidak pulang. Bukan karena membenci rumah itu. Melainkan karena rumah itu sudah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi hatinya.
Berbeda dengan Mahesa yang duduk sendirian di rumah yang kini terasa kosong. Aurel justru sedang berada di sebuah kafe yang masih buka hingga larut malam. Di sudut ruangan, seorang perempuan berambut sebahu berdiri sambil melambaikan tangan.
"Aurel."
Aurel tersenyum tipis. "Maaf, Naj. Jadi ganggu malam-malam."
Perempuan itu menggeleng. "Kalau soal kamu, aku selalu ada."
Najwa. Sahabat Aurel semasa kuliah. Kini, Najwa berprofesi sebagai pengacara dan sudah bertahun-tahun menangani perkara perdata, termasuk sengketa rumah tangga.
Keduanya duduk berhadapan. Pelayan baru saja meletakkan dua cangkir kopi hangat di atas meja.
Najwa menatap wajah Aurel cukup lama. "Seberapa parah?"
Aurel menarik napas panjang. "Lebih parah dari yang pernah kubayangkan."
Lalu..Untuk kedua kalinya hari itu, Aurel menceritakan semuanya. Tentang pengakuan Kayla. Tentang perselingkuhan selama tujuh tahun. Tentang malam ketika ia melahirkan Raka. Tentang pertemuannya dengan kedua orang tua Mahesa. Hingga persoalan utang yang kini membuat kepalanya semakin berat.
Najwa tidak memotong sedikit pun. Ia hanya mendengarkan. Sesekali mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya.
Setelah Aurel selesai bercerita, Najwa mengembuskan napas pelan. "Aku ikut sedih."
"Tapi jujur...kasus seperti ini bukan yang pertama kali kutangani." kata Najwa.
Aurel menatap sahabatnya. "Sering?"
Najwa mengangguk. "Lebih sering daripada yang kamu bayangkan."
"Bedanya, setiap keluarga punya persoalan yang berbeda."
"Ada yang bertengkar soal anak."
"Ada yang bertengkar soal harta."
"Ada juga yang akhirnya selesai secara baik-baik."
Najwa lalu membuka buku catatannya.
"Sekarang kita jangan bicara soal emosi dulu."
"Kita bicara fakta."
Aurel mengangguk.
"Pertama. Rumah."
Aurel langsung menjelaskan. "Tanahnya milik orang tuaku."
"Mereka memberikannya setelah aku menikah."
"Bangunan rumah dibangun dengan bantuan kedua keluarga."
"Lalu setelah beberapa tahun, aku dan Mahesa merenovasi dapur menggunakan uang kami berdua."
Najwa mencatat satu per satu. "Lalu sertifikat?"
"Atas namaku." jawab Aurel.
"Tapi sekarang dijaminkan ke bank untuk pinjaman usaha Mahesa."
Najwa mengangguk pelan. "Kemudian mobil?"
"BPKB mobilku dipakai untuk pinjaman leasing."
"Mobil Mahesa juga."
"Berarti ada dua kendaraan yang menjadi jaminan."
"Iya." Najwa kembali mencatat.
"Lalu pinjaman bank itu dipakai untuk kebutuhan pribadi atau usaha?"
"Untuk usaha."
"Setidaknya itu yang dijelaskan Mahesa kepadaku."
Najwa mengangguk. "Baik." Ia menutup buku catatannya.
"Rel. Kalau memang kamu memutuskan bercerai, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan kemarahan."
"Aku tahu. Makanya aku datang ke kamu."
Najwa tersenyum tipis. "Bagus."
"Yang harus kamu lakukan sekarang bukan berdebat."
"Tapi mengumpulkan data."
"Semua dokumen yang berkaitan dengan aset."
"Data pinjaman."
"Sisa cicilan."
"Rekening kalau memang diperlukan."
"Dan dokumen lain yang berkaitan dengan keuangan keluarga."
Aurel mengangguk. "Aku akan kumpulkan."
Najwa kembali melanjutkan. "Yang kedua..."
"Raka."
Senyum tipis muncul di wajah Aurel ketika nama putranya disebut. "Aku ingin hak asuh Raka."
Najwa mengangguk pelan. "Itu nanti bisa menjadi bagian dari proses yang dibahas jika memang kalian bercerai. Pengadilan biasanya akan mempertimbangkan berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan kepentingan terbaik bagi anak."
"Aku mengerti. Aku bukan mau menjauhkan Raka dari ayahnya." Aurel menatap cangkir kopinya.
"Aku cuma ingin dia tumbuh di lingkungan yang sehat."
Najwa tersenyum. "Itu kalimat yang harus tetap kamu pegang."
"Bukan balas dendam."
"Bukan karena marah."
"Tapi karena kamu memikirkan masa depan anak."
Aurel mengangguk mantap. "Lalu soal utang?"
Najwa menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Itu juga harus dipetakan dengan jelas. Kita perlu tahu siapa yang menjadi pihak dalam perjanjian, apa saja yang dijaminkan, dan bagaimana posisi hukumnya. Jangan berasumsi dulu sebelum melihat dokumen-dokumennya."
Aurel menghela napas panjang. "Berarti masih banyak yang harus kulakukan."
"Iya." Najwa tersenyum menenangkan.
"Tapi kamu nggak sendirian."
Aurel menatap sahabatnya. "Najwa.."
"Hm?"
"Kalau kamu jadi aku..."
Najwa terdiam beberapa detik. Sebagai pengacara, ia terbiasa memberi pendapat berdasarkan hukum. Namun malam ini, ia berbicara sebagai seorang sahabat.
"Apa pun keputusanmu nanti...pastikan itu keputusan yang bisa membuatmu tenang lima atau sepuluh tahun dari sekarang."
"Bukan keputusan yang lahir hanya karena marah malam ini."
Aurel mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar. Ia merasa memiliki arah. Jalan di depannya memang masih panjang. Namun setidaknya, malam itu ia sudah mengambil langkah pertama.