menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Wasiat Terakhir Ki Suro.
Malam itu, dinginnya udara Gunung Lawu terasa berkali-kali lipat lebih menusuk tulang. Di dalam pondok terpencil, suasana begitu mencekam. Suara embusan angin yang menerpa dinding-dinding bambu berpadu dengan suara napas yang terengah-engah dan tersendat dari atas amben.
Erlang duduk bersimpuh di samping tempat tidur paman gurunya. Wajah pemuda berusia lima belas tahun itu tampak sangat panik. Tangannya gemetar saat memeras kain basah untuk diletakkan di dahi Ki Suro. Di dekat mereka, sebuah mangkuk berisi ramuan jamu masih penuh, sudah mendingin karena tidak kunjung disentuh.
"Paman... Paman harus minum jamunya dulu. Sedikit saja, Paman," bujuk Erlang dengan suara yang mulai serak menahan tangis.
Ki Suro perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Pandangannya sudah mulai kabur, kekuningan, dan tidak lagi fokus. Ia menggerakkan tangannya yang kurus kering, menolak mangkuk jamu itu dengan lemah. "Sudah... sudah tidak perlu, Erlang. Percuma... Jamu itu tidak akan bisa menambal paru-paruku yang sudah hancur ini."
"Jangan bicara begitu, Paman! Paman pasti sembuh. Besok pagi aku akan turun ke desa bawah, mencari tabib yang lebih hebat. Paman harus bertahan," kata Erlang, air matanya kini benar-benar runtuh membasahi pipinya.
"Uhuk! Uhuk! Uhok!"
Ki Suro terbatuk hebat, membuat tubuh ringkihnya terguncang ke atas amben. Kali ini, gumpalan darah hitam kental keluar dari mulutnya, membasahi kain penutup dadanya. Erlang semakin panik dan langsung menyeka darah itu dengan tergesa-gesa.
"Paman! Paman Suro!" jerit Erlang ketakutan.
"Dengarkan... dengarkan Paman, Erlang," bisik Ki Suro, suaranya kini terdengar sangat lirih, hampir menyerupai desiran angin malam. "Waktuku... waktuku sudah tidak lama lagi. Tolong jangan potong ucapan Paman."
Erlang menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan isakannya agar bisa mendengar suara sang paman. Ia mengangguk cepat sambil menggenggam tangan Ki Suro yang terasa sedingin es. "Iya, Paman. Aku dengar. Aku dengar."
"Selama delapan tahun ini... kau pasti sering bertanya-tanya dalam hati, kenapa ilmu silat yang kuajarkan kepadamu sangat biasa dan hambar, bukan?" tanya Ki Suro dengan senyum getir yang dipaksakan.
Erlang menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Paman. Aku tidak pernah berpikiran buruk seperti itu. Ilmu dari Paman sudah sangat cukup bagiku."
"Jangan berbohong, Nak. Paman tahu kau pemuda yang cerdas," kata Ki Suro, napasnya semakin pendek-pendek. "Kenyataannya... ilmu pamanmu ini memang dangkal. Dulu, pamanmu ini hanyalah murid biasa di perguruan, tidak seperti ayahmu, Sadewa, yang merupakan murid emas. Paman tidak punya ilmu tingkat tinggi untuk diwariskan kepadamu."
"Aku tidak peduli tentang ilmu tinggi atau rendah, Paman! Yang penting Paman tetap hidup!" jawab Erlang dengan emosional.
"Kau harus peduli, Erlang! Karena kau... kau punya beban besar di pundakmu," potong Ki Suro, tiba-tiba mendapatkan sedikit kekuatan batiniah untuk berbicara lebih tegas. Matanya menatap lurus ke dalam netra Erlang. "Kau harus membalaskan dendam kematian orang tuamu. Kau tidak bisa membiarkan para pembunuh itu berkeliaran dengan tenang setelah merenggut nyawa Sadewa dan isrinya."
Erlang terpaku. Ingatan tentang malam berdarah delapan tahun lalu kembali berputar di kepalanya bagai mimpi buruk yang nyata. "Tapi... tapi sampai sekarang aku bahkan tidak tahu siapa mereka, Paman. Siapa orang-orang bertopeng hitam itu?"
Ki Suro menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. "Paman juga tidak tahu nama asli mereka. Tapi... ada satu orang yang tahu. Ada satu orang yang memegang kunci rahasia tentang siapa dalang di balik pembunuhan malam itu."
"Siapa, Paman? Katakan padaku! Di mana aku bisa menemukannya?" tanya Erlang, mencondongkan badannya lebih dekat.
"Pergilah... pergilah ke arah selatan, ke pesisir Pantai Parangtritis," bisik Ki Suro. "Di sana, carilah seorang lelaki tua bernama Mbah Wiro. Dia dulu adalah sahabat karib ayahmu dan juga seorang penyelidik rahasia dunia persilatan yang sangat ulung. Mbah Wiro tahu persis siapa orang-orang yang mengincar kitab pusaka milik keluargamu dulu."
"Mbah Wiro di Parangtritis..." Erlang mengulangi nama itu dalam hati agar tidak pernah lupa. "Baik, Paman. Aku akan mencarinya setelah Paman sembuh."
"Tidak, Erlang. Kau harus mencarinya sekarang, setelah aku tiada," ujar Ki Suro, mencengkeram tangan Erlang dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. "Tapi ingat pesan Paman ini baik-baik. Jangan sekali-kali kau menantang musuhmu sebelum kau memiliki ilmu silat tingkat tinggi. Ilmu yang kuberi selama ini tidak akan cukup untuk menghadapi mereka. Mereka adalah orang-orang kuat."
"Lalu... lalu bagaimana aku bisa mendapatkan ilmu tingkat tinggi itu, Paman?" tanya Erlang bingung.
"Dalam perjalananmu menuju selatan nanti... bukalah matamu lebar-lebar. Carilah guru sakti, carilah perguruan besar. Mintalah untuk diangkat menjadi murid. Dengan bakat dan ketulusan hatimu, Paman yakin akan ada pendekar hebat yang mau menurunkan ilmunya kepadamu. Jangan pernah menyerah sampai kau menemukan guru yang tepat, mengerti?"
"Iya, Paman. Aku mengerti. Aku berjanji akan mencari guru sakti dan menuntut ilmu sampai tinggi," jawab Erlang sambil meremas kembali tangan paman gurunya.
Ki Suro tampak sedikit lega mendengarnya. Ketegangan di wajahnya perlahan mengendur. "Bagus... Anak pintar. Tugas Paman di dunia ini... rasanya sudah selesai. Aku sudah mengantarmu sampai usia lima belas tahun..."
"Paman... jangan pergi dulu, Paman. Tolong temani aku lebih lama lagi," pinta Erlang, air matanya mengalir semakin deras, membasahi punggung tangan Ki Suro.
"Jangan menangis, Erlang. Pendekar... pendekar tidak boleh cengeng. Jadilah... jadilah orang baik yang selalu menolong sesama, seperti yang selalu diajarkan ayahmu dulu..." Suara Ki Suro semakin mengecil, berubah menjadi bisikan yang putus-putus.
"Paman? Paman Suro!" Erlang memanggil dengan nada yang semakin panik.
"Mbah Wiro... Parangtritis... Carilah... guru... sakti..."
Itu adalah kalimat terakhir yang keluar dari bibir Ki Suro. Perlahan, cengkeraman tangannya pada jemari Erlang terlepas. Matanya menutup dengan sangat perlahan, dan dadanya tidak lagi bergerak naik turun. Napasnya telah berhenti sepenuhnya. Suasana di dalam kamar mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara angin malam yang terus menderu di luar pondok.
Erlang terdiam selama beberapa detik, terpaku menatap wajah paman gurunya yang kini tampak begitu tenang, bebas dari rasa sakit yang menyiksanya selama bertahun-tahun. Keheningan itu pecah saat Erlang merebahkan kepalanya di atas dada Ki Suro yang sudah dingin, lalu menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa kehilangan yang teramat sangat.
"Paman... Terima kasih untuk semuanya... Aku berjanji akan melaksanakan semua wasiatmu," bisik Erlang di sela-sela tangisnya.
Malam itu, di dalam gubuk yang sepi di lereng Gunung Lawu, Erlang kehilangan orang tua kedua dalam hidupnya. Namun di balik kesedihan yang mendalam itu, sebuah petunjuk baru telah terbentang di depannya. Nama Mbah Wiro dan tempat bernama Parangtritis kini telah terpatri kuat di dalam benaknya, menjadi arah kompas pertama bagi langkah kaki Erlang untuk memulai petualangan besarnya di dunia luar.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/