"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Mendengar ancaman dari Yisla. Membuat Jenny menarik kembali tangannya dengan anggun, meski sorot matanya tidak gentar sama sekali akan ancaman itu.
Sementara Julian? Cowok itu langsung pura-pura sibuk memandangi noda di meja kayu.
Gila, tensi cewek kalau lagi rebutan serem bet dah! batinnya menjerit ngeri.
Kring!
Penyelamat situasi akhirnya datang. Windah mendekat sembari membawa nampan berisi tiga mangkuk sup daging yang masih mengepul panas.
"I-ini pesanannya, Tuan, Nona... Sup daging khas dari kedai kami," ucap Windah lirih, sembari menata mangkuk dengan tangan gemetar.
Selesai menaruh mangkuk terakhir, Windah tidak langsung pergi. Ia justru berdiri sambil meremas celemeknya dan menatap mereka dengan tatapan polos.
"M-maaf sebelumnya, Tuan... Kalau boleh tahu, di antara dua Nona yang cantik ini, yang mana yang merupakan istri Anda?"
Uhuk!
Julian yang baru mau menyendok kuah langsung tersedak. "Hah?! Istri?!"
"BUKAN!"
Jawaban itu terlontar serentak, kompak, dan sangat lantang dari arah Yisla dan Jenny. Keduanya saling melirik satu sama lain sebelum memalingkan wajah dengan angkuh.
"Aku bukan istrinya! Dan aku sama sekali tidak tertarik dengan cowok menyebalkan dan tukang bohong kayak dia!" semprot Yisla dengan pipi merona merah.
"Benar sekali," timpal Jenny dengan senyum yang dipaksakan. "Saya seorang bangsawan, tidak mungkin saya menyukai pria aneh berpakaian gombrang-gambreng kayak begini."
Julian melongo dengan sendok menggantung di udara. Hatinya mendadak retak karena ditolak mentah-mentah secara real-time oleh dua karakternya sendiri.
Windah mengerjap dengan polos, gadis itu menatap Julian dengan penuh simpati.
"A-ah, jadi Tuan belum punya istri? Dan kedua Nona ini tidak mau dengan Tuan?"
"Begitulah nasibku..." ratap Julian nelangsa.
Windah mendadak tersenyum malu-malu. "K-kalau begitu... apakah Tuan Julian mau bersama saya saja? Kebetulan saya juga belum punya—"
UHUK! UHUK! HUEK!
Julian langsung batuk-batuk sampai-sampai wajahnya membiru, bahkan ia hampir memuntahkan sup yang belum sempat ia telan.
"TIDAK BOLEH!"
Untuk kedua kalinya, Yisla dan Jenny berteriak kompak, memotong ucapan Windah dengan nada yang sangat galak.
Yisla langsung menarik kerah pakaian Julian dengan posesif, sementara Jenny reflek menggebrak meja.
Windah yang melihat reaksi super galak itu langsung dibuat ketakutan.
"A-ah! M-mohon maaf atas kelancangan saya! S-selamat menikmati!"
Sang pelayan magang itu langsung ngacir lari ke balik konter dengan kecepatan penuh, meninggalkan Julian yang kini hanya bisa tersenyum kecut sembari diapit dua singa betina yang napasnya masih naik-turun.
Yisla menurunkan tangannya dari kerah pakaian Julian. Sadar tindakannya terlampau posesif, ia buru-buru memalingkan wajahnya, lalu mendadak menjadi super sibuk mengaduk supnya sendiri.
Di seberang meja, Jenny merapikan jubah bulunya dengan anggun seolah ledakan emosinya tadi tidak pernah terjadi. Ia mendehem pelan dan mulai makan supnya dengan anggun.
Suasana langsung berubah menjadi sunyi. Julian hanya bisa meneguk ludah, seraya menyantap supnya dengan kepala tertunduk.
Begitu mangkuknya sudah kosong, Julian langsung berdiri menuju konter untuk membayar, lalu buru-buru berbalik ke arah pintu keluar.
"Ehem... ayo, kita pulang."
Perjalanan yang tersendat oleh rasa canggung di antara mereka membuat waktu seolah berputar jauh lebih cepat. Tahu-tahu, malam sudah melarut. Hamparan salju putih di bawah mereka, kini hanya diterangi oleh samar-samar cahaya bulan saat mereka akhirnya tiba di depan rumah kayu milik Vito.
Jarum jam rasanya sudah hampir menyentuh tengah malam. Kondisi rumah pun sudah gelap gulita, menandakan sang pemilik rumah sudah terlelap.
Tok! Tok! Tok!
Julian menggedor pintu depan dengan brutal. Tubuhnya kini sudah menggigil setengah mati.
"Kak Vito! Buka pintunya, Kak! Ini Julian! Dingin banget buset, Kak, asli mau mati nich!" seru Julian panik sambil terus menggedor.
Cklek.
Pintu terbuka dengan slowmo. Vito berdiri di ambang pintu dengan rambut berantakan dan mata yang masih merem-melek karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Pria itu menguap lebar-lebar, sembari mengucek matanya yang buram karena baru bangun.
"Berisik, Julian... jam berapa ini—" ucapan Vito terputus saat matanya yang setengah tertutup menangkap siluet gaun dan jubah bulu di samping Julian.
Vito yang masih mengantuk berat langsung mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk kepala perempuan di sebelah Julian itu dengan kasar tanpa melihat wajahnya.
"Ya sudah, langsung masuk, Yisla." gumam Vito serak dengan mata yang masih terpejam, lalu berbalik dengan berjalan sempoyongan kembali ke kamarnya.
Julian langsung membatu di tempatnya. Sementara itu, Yisla asli yang berdiri di barisan paling belakang seketika melotot dengan rahang yang nyaris jatuh ke tanah.
"Eh...?" Jenny bingung karena kepalanya baru saja dielus acak-acakan oleh pria asing yang bahkan tak ia kenal.