NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penyusup

Maara Pov

Hampir dua minggu kami menikah, tapi mas Revan tidak pernah menganggap kehadiran ku.

Setiap hari, dia selalu sibuk dan jarang berada dirumah.

Jika dirumah pun, dia lebih senang menghabiskan waktu dikamarnya.

Ya, kalian tak salah baca.

Kamarnya, kamar mas Revan.

Dua hari setelah pernikahan, mas Revan memboyongku kerumah pribadinya.

Dia beralasan ingin kami saling mengenal dan juga mandiri.

Sejak kakiku memasuki rumah minimalis dua lantai ini, hatiku semakin tak tenang.

Entah ini hanya firasat atau apa, aku tak tahu.

Hanya ada kami berdua dirumah ini karena mas Revan tidak menyewa asisten rumah tangga. Hanya ada jasa bersih-bersih yang dibayar dan datang ketika dipanggil saja.

Rumah ini memang tak seluas rumah kedua orangtuanya, namun sangat terasa begitu sepi karena hanya ada aku dan mas Revan didalamnya.

Mas Revan memilih kamar dilantai dua sebagai kamarnya sementara aku, diminta menempati kamar dilantai bawah dan bersebelahan dengan kolam renang yang tepat berada di luar jendela kamarku.

Kamar itu cukup besar dengan nuansa putih sebagai cat dindingnya.

Pagi ini, aku sudah bersiap-siap hendak bekerja.

Aku kembali bekerja setelah lama cuti.

Aroma nasi goreng yang aku masak cukup menggugah selera.

Aku membungkusnya satu untuk aku makan nanti di tempat kerja.

Sedang asik menyiapkan bekal, telingaku menangkap suara langkah kaki mendekati area dapur.

Disana ada mas Revan berdiri menjulang menatap dingin kearahku.

"Maaf, aku pakai dapurmu... Nanti aku bereskan" cicitku tak berani menatap padanya.

Tak ada sahutan hanya dengusan yang terdengar.

Mas Revan membuka pintu kulkas dan meneguk air dingin langsung dari botolnya.

Aku melirik dengan ujung mataku.

"Ini kartu ATM, pakai sesukamu dan beli juga kebutuhanmu..." ucap mas Revan meletakkan sebuah kartu dari salah satu bank swasta.

"Pin nya ada dibalik kartu..." ucapnya lagi.

"Baik... Terima kasih" sahutku pelan.

Mas Revan melirik sisa nasi goreng yang aku letakkan di piring kaca.

"Aku buat nasi goreng, makanlah sebagai pengganjal perut" ucapku berinisiatif baik.

Bukannya menjawab lembut, mas Revan justru berdecih.

"Aku tidak ingin makan masakan dari orang lain...!" ujarnya sambil berlalu dari dapur.

Aku menggigit bibirku.

"Orang lain?"

Aku tertawa hambar.

Mas Revan menganggap ku orang lain walau dia telah mengucap ijab terhadapku dua minggu lalu.

Aku memilin ujung jilbabku.

Sesakit ini rasanya ketika kita hanya dianggap orang lain oleh suami sendiri.

Tak terasa, airmataku jatuh membasahi pipi.

Aku menghapusnya kasar.

Apa yang aku harapkan dari pernikahan ini?

Padahal sejak awal mas Revan telah dengan lantang mengatakan jika dia terpaksa menikahi ku dan dia mencintai kekasihnya yang sedang belajar diluar negeri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Maara....??"

Suara Lisa menyambut kehadiran ku yang baru saja melewati pintu utama.

Gadis manis itu berlari dan langsung menubrukkan diri padaku.

Aku merindukannya karena selama beberapa hari ini kami tak bertemu karena Lisa mengambil cuti.

Dia tak bicara sepatah katapun, hanya mengusap punggung ku.

Tapi rasanya begitu hangat dan tulus.

"Mau sampai kapan kamu peluk aku?" ucapku yang mulai gerah karena Lisa belum melepaskan pelukannya.

Lisa nyengir hingga memperlihatkan gigi gingsulnya yang manis.

"Nanti siang kita makan di warung pak Omad ya... Aku lagi mau makan pedes-pedes" ajaknya.

"Tumben... Biasanya kamu nggak suka pedas? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" heranku.

Lisa menggeleng "Bukan aku.. Tapi kamu. Kamu kalau mau nangis tapi malu dilihat orang, solusinya kita makan pedas biar air mata yang jatuh bisa disamarkan" kilahnya.

Aku terkekeh dan menepuk dahinya pelan.

Lisa memang selalu diluar nalar cara berfikirnya tapi aku menyukainya. Dia selalu peka terhadap apapun yang aku rasakan.

"Ada-ada saja... " ujarku sambil melangkah masuk ke ruanganku dan meletakkan barang-barang ku diatas meja.

"Mau ya..? Aku traktir deh...." mata Lisa berkedip lucu ala puppy eyes yang mengartikan dia sedang membujukku.

"Baiklah.. Sekarang siap-siap, sebentar lagi anak-anak mulai datang " ujarku akhirnya.

"Yeayy...." serunya bahagia.

Lisa dengan senyum manisnya bersiap menyambut para murid lucu yang akan menimba ilmu di sekolah tempatku mengajar.

Aku bekerja di sebuah lembaga pendidikan dibawah naungan yayasan Cinta Kasih yang memiliki jenjang sekolah dari TK hingga perguruan tinggi. Dan aku mengajar di tingkat SD sebagai guru bahasa inggris.

Gelar sarjana yang aku peroleh adalah hasil dari menempuh pelajaran dengan jalur beasiswa penuh.

Aku bangga dengan profesi ku.

Walau masih diliputi kesedihan, tapi aku tidak boleh memperlihatkannya dihadapan orang banyak terutama murid-murid ku yang lucu-lucu.

Tawa canda dan ke absurd an tingkah mereka jadi penghibur bagiku setiap harinya.

Bel jam istirahat berbunyi setelah jam pelajaran kedua.

Aku masih sibuk dengan pekerjaan ku memeriksa tugas-tugas muridku.

Lisa dengan muka cemberut berjalan menghampiri ku.

Aku meliriknya sekilas dan kembali lagi pada pekerjaan awalku.

"Kita makannya pas udah pulang aja ya... Pak Geri nggak masuk karena istrinya lahiran... Aku diminta menggantikan beliau..." ujar Lisa diiringi nafas kasar.

Aku mengangguk saja dan Lisa berjalan lesu kembali ke luar ruangan.

Kepala ku menggeleng melihat tingkah lucu Lisa. Dia jauh-jauh dari lantai 2 ke ruang guru hanya untuk memberitahuku jika rencana makan siang kami diundur padahal kan bisa chat saja.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Aduh...." aku mengaduh ketika bahuku tak sengaja tersenggol bahu seorang pria yang asik dengan ponsel yang menempel di telinganya.

"Sorry mbak.." ujarnya dan berlalu begitu saja.

"Ckkk... yang sopan dong jadi orang... " maki Lisa tak terima akan sikap pria tersebut.

"Udah... nggak usah dipermasalahkan. Kan dia udah bilang maaf.. Yuk cari meja, aku lapar" ajakku menarik lengan Lisa.

Meski masih mendumel, Lisa tetap menurut.

Kami makan disebuah kedai ayam geprek tak jauh dari tempatku mengajar.

Didaerah ini juga ada beberapa kantor pemerintahan diantaranya kantor kejakasaan tinggi.

Deg...

Jantung ku berdetak kencang saat mataku tak sengaja beradu pandang dengan seseorang yang menjadi teman serumahku alias suamiku.

Aku menelan ludah kasar.

Tak lama, Lisa datang dengan nampan yang berisi pesanan kami.

"Ayo makan... Kita harus pulang sebelum magrib... Aku ada janji dengan mas Rio, mau cari cincin kawin" ujar Lisa tentang rencana dirinya bersama calon suaminya.

Aku mengangguk kecil.

Dengan gerakan pelan, aku memakan makananku sambil sesekali melirik kearah meja mas Revan bersama teman-temannya.

"Huffttt...."

Aku bisa bernafas lega ketika tahu mas Revan telah lebih dulu pergi.

"Ra... Nanti kalau aku nikah, kamu jadi bridesmaid aku ya.. Aku nggak punya saudara perempuan apalagi sahabat selain kamu.. Mau kan Ra?" tanya Lisa disela makan kami.

"Ra...??"

Lisa menepuk punggung tanganku karena aku hanya diam saja ketika dia berbicara.

Aku terkesiap dan tersadar dari lamunanku. " Oh... ya...??"

"Kamu lihat apa sih? Ada orang yang kamu kenal lewat? Atau pacar kamu yang kepergok selingkuh?" ucap Lisa mengarah keluar.

"Haaahhh....?"

"Kayaknya yang terakhir nggak deh..." Lisa bergumam sendiri menolak isi pikirannya.

"Bukan siapa-siapa, cuma orang lewat" ucapku pelan.

"Ra.. Aku nggak bisa bilang kamu harus kuat karena saat aku berada diposisi kamu juga aku nggak bisa setegar itu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jika kamu lagi dalam masa sulit, kamu bisa cari aku kapanpun kamu mau... Aku siap ngedengarin semua keluh kesah kamu..." ujar Lisa yang membuat mataku berkaca-kaca.

Aku tersenyum haru.

Meski Lisa lebih muda usianya dariku, tapi dalam sikap dan cara berfikir, dia jauh lebih dewasa dibanding aku yang usianya lebih tua 3 tahun darinya.

Usai makan, aku mengendarai motor maticku menuju komplek perumahan tempat tinggalku.

Sudah ada mobil mas Revan yang terparkir rapi diteras samping rumah.

Aku menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan.

Begitu aku membuka pintu, sayup-sayup aku mendengar suara mas Revan tertawa dan nada bicara yang begitu lembut.

Hatiku mencelos ketika kata 'sayang' yang terucap dari bibir mas Revan yang nyatanya tidak ditujukan untukku.

Ada nama perempuan lain yang bertahta di hati suamiku.

Perlahan aku melangkah masuk kedalam kamarku.

Aku bersandar di balik pintu kamar.

Dadaku begitu sesak dan nafasku memburu begitu cepat.

Walaupun mas Revan telah dengan lantang mengatakan dirinya punya kekasih tapi ketika aku mendengarnya memanggil perempuan lain dengan sayang tetap saja hatiku sakit.

Aku menyentuh dadaku yang terasa nyeri.

"Sadar Maara... Kamu itu hanya penyusup diantara hubungan mereka... Kamu nggak berhak cemburu meskipun dia adalah suamimu..."

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!