Apa jadinya jika adik ipar ternyata ada mantan kekasih?
Hal itulah yang dialami Natalie Mckent. Ia dihadapkan pada kenyataan kalau sang adik ipar adalah mantan kekasihnya dulu yang ia putuskan secara sepihak 6 tahun silam.
Dan belakangan Natalie baru mengetahui kalau sang adik ipar menikahi adiknya hanya untuk pembalasan dendam.
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vigiani Nurike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan
Patsy's Italian Restoran, New York.
"Apa yang ingin kau katakan? Jujur aku sangat terkejut saat kau tiba- tiba mengatakan ingin bertemu denganku, Natalie," tanya Mr. Jones dengan senyum cerahnya.
Malam itu sepulang jam kantor, kami sengaja bertemu di sebuah restoran Itali di New York City. Aku sendiri yang berinisiatif untuk mengajaknya karena aku ingin mengutarakan apa yang akan menjadi niatku.
"Sebelumnya mohon maaf jika anda akan sangat terkejut jika sudah mendengar apa yang ingin saya katakan pada Anda, Pak. Tapi saat ini, saya hanya merasa hanya kepada Anda lah saya bisa meminta tolong," tuturku lirih dengan hati-hati, susah payah aku mengatur nafas ini agar bisa bernafas dengan normal kembali.
"Katakan saja, Natalie. Kau tak perlu sungkan. Bukankah aku sebelumnya sudah pernah mengatakan padamu waktu itu saat kau berada di rumah sakit? Aku akan membantumu selagi aku bisa melakukannya untukmu," Mr. Jones menjawab seraya tersenyum hangat.
"Ehmmm, begini Pak...
Apakah bapak mau menikah dengan saya?" ucapku terbata dengan nafas tertahan, aku sedikit bernafas lega karena akhirnya aku bisa mengucapkan kalimat itu yang sejak tadi menyesakkan dadaku hingga sulit bernafas.
"Mak-sud saya, apakah Bapak bersedia menolong saya dengan menikah dengan saya? Atau... paling tidak kita bertunangan dulu... seperti itu," tambahku cepat-cepat sebelum Mr. Jones salah paham dengan maksud ucapanku tadi.
Mr. Jones diam sejenak, seakan ia berpikir dan mencerna apa yang baru saja aku katakan padanya, namun beberapa detik kemudian senyum terbit di wajahnya yang tampan dan berwibawa.
"Jadi kau ingin aku menikahimu begitu, Natalie? Aku yakin kau pasti punya alasan kuat sampai memintaku untuk melakukannya?" tanyanya seakan menggoda.
"Betul pak, maksud saya bukan menikah atau bertunangan dalam arti yang sebenarnya. Tapi menikah hanya sebatas status saja," sahutku lirih.
"Itu jika Mr. Jones mau? Saya tidak akan memaksakan jika Bapak tidak berkenan," tambahku lagi cepat-cepat.
"Hey, aku belum menjawabnya, Natalie. Kenapa kau langsung berasumsi kalau akau akan menolakmu?" tanyanya dengan tersenyum penuh arti.
"Ah, apa maksudnya Mr. Jones bersedia?" balikku bertanya tak percaya.
"Tentu saja, hanya menikah atau bertunangan bukan? Bukan masalah yang sulit," ujarnya enteng.
Seperti tak percaya dengan jawaban pria di depanku, aku berulang kali mengerjapkan kedua mata ini seakan memperjelas penglihatanku kalau ini adalah benar.
Astaga, aku tak menyangka kalau presdir tampan dan terpandang seperti dia mau menikah denganku yang hanya karyawan biasa ini, yah walaupun semua itu hanya sandiwara saja.
"Sungguh saya berterima kasih karena Anda mau membantu saya. Sebagai gantinya saya akan bersedia mengabdikan hidup saya kepada Anda, Pak," tuturku tulus.
"Apa kau begitu mencintai pria itu Natalie? Sehingga kau mau mengorbankan hidupmu sendiri seperti ini?"
"Ah, apa maksud Anda?" tanyaku gagap dan bingung.
"Kau mau melakukan ini karena kau mencintai dia kan? Maaf, kalau aku lancang, tapi aku tak bisa untuk tak mengatakannya. Kalau dia adalah pria beruntung yang mendapatkan cinta dan pengorbanan darimu hingga kau mau merelakan hidupmu untuk orang lain demi dirinya," ucap Mr. Jones dengan ekspresi wajah serius.
Aku terdiam sejenak, mengalihkan tatapanku menghindar dari tatapan pria yang ada di depanku dengan perasaan campur aduk.
Kuhirup nafas ini dalam-dalam dan berkata.
"Saya melakukannya untuk adik saya bukan dia yang Anda maksud, Pak," ucapku lirih.
Tanpa aku duga, Mr. Jones menggapai jemari tanganku di atas meja dan kemudian menggenggamnya lembut.
"Apapun itu alasanmu Natalie, aku tak peduli. Yang kuinginkan sekarang, aku hanya ingin bisa membantumu agar kau bisa lepas darinya. Dan aku berharap aku bisa mendapatkan cintamu sebesar kau mencintainya," tuturnya dengan tatapan tulus. Entah kenapa aku tak bisa berkata-kata, rasanya aku sedikit hanyut akan ucapannya itu. Benarkah Ethan Jones memiliki perasaan khusus padaku? rasanya sampai saat ini aku masih tak percaya.
"Terima kasih, Pak. Saya sangat terhormat untuk itu," sahutku tulus.
"Jangan panggil aku Pak, Natalie. Panggil aku dengan namaku saja mulai sekarang, Ethan. Karena sebentar lagi kita akan menikah bukan?" pinta Ethan Jones dengan senyum lebarnya hingga aku pun menjadi tertawa canggung.
"Baiklah, Ethan..," jawabku lirih dengan bibir yang masih terasa kaku dan Ethan Jones pun tersenyum senang mendengarnya.
"Lalu kapan kita akan memulainya?" Ethan bertanya, tentu saja seketika pertanyaan itu pun membuatku bingung.
"Secepatnya, namun saya menyerahkan segala keputusan pada Anda, Pak. Ehmm, maksudku Ethan," aku menjawab gugup dan hal itu pun membuat Ethan terkekeh. Bukannya malu entah kenapa aku justru semakin nyaman saat bersama dengannya.
"Kau akan terbiasa memanggilku dengan dengan nama, Natalie," ucapnya lembut dengan senyum menghangatkan. Hati wanita mana yang tidak luluh di buatnya?
..
..
Malam itu juga, Ethan Jones mengantarkanku pulang seperti biasa, namun kali ini, ia memintaku untuk mengantarkannya hingga sampai ke depan flat tempat ku tinggal. Dengan alasan ia ingin mengenalku dan putraku Aaron lebih dekat. Aku pun tak bisa menolak keinginan serta niat baiknya itu padaku.
Namun, belum sempat aku melangkahkan kakiku ke gedung bertingkat yang ada di depanku, kedatangan seseorang menghalangi niatku.
"Chris?!"
"Astaga, kenapa pria itu seperti hantu karena ia selalu datang dan pergi sesuka hatinya?!"
Aku dan Ethan pun menghentikan langkahku saat itu juga. Kulihat Chris menatapku tajam dan mulai berjalan mendekatiku dengan gayanya yang cuek.
Dapat kulihat kini tatapannya beralih pada Ethan yang berada tepat di sampingku.
"Wah, sebuah kejutan bisa bertemu dengan Mr. Jones di sini?" sapanya seolah menyindir.
"Sejak kapan seorang presdir menyibukkan dirinya dengan mengantarkan sekretarisnya sendiri pulang hingga malam-malam begini?" Sindirnya dengan wajah sinis.
"Chris?!" tegurku tak terima namun Ethan menyentuh lembut tanganku seakan mengisyaratkan agar aku tetap tenang dan Chris pun sempat melihatnya, ekspresi wajahnya kini tampak tak begitu senang saat melihat Ethan menyentuhku.
"Anda sendiri kenapa malam-malam datang kesini, Mr. Raven? Dan maaf, seorang diri tanpa istri Anda..," sahut Ethan tajam dan menusuk.
Mendengarnya mata biru tajam Chris pun menjadi membulat sempurna.
"Aku tak menyangka Mr. Jones memiliki mulut yang tajam, hebat sekali. Sejak kapan Anda peduli dengan kehidupan pribadi saya?" sahut Chris tak mau kalah.
Melihat suasana sudah menjadi tegang, aku pun cepat-cepat bertindak untuk bisa memisahkan mereka.
"Hentikan, Chris. Mr. Jones hanya berniat baik untuk mengantarku. Tolong kau pulanglah jika tak ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku," ucapku tegas seraya berbalik pergi hendak meninggalkannya, namun dengan gerakan cepat Chris menarik tanganku untuk menghalanginya.
"Kau berani mengusirku, Natalie??" tanyanya cukup lantang.
"Maaf, Mr. Raven bisakah Anda tak bersikap kasar pada tunangan saya?"
"A-pa katamu, tunangan!!??"
...***...
kenapa harus mati,kenapa😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
lin dan nath hanya korban keegoisannya