NovelToon NovelToon
My Sweet Best Friend

My Sweet Best Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: salbiah pulungan

tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11/ berkunjung ke rumah masa depan

Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya.

Rigecherta masuk sambil melepas sepatu.

" Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya.

"Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dapur sambil membawa toples berisi makanan. Mungkin habis memasak.

" Loh ada Tivane juga? Apa kabar Vane?" Tanya ibu Rigecherta - Risa - dengan nada ramah dan lembut.

" Baik Tante" jawab Tivane pelan, antara canggung karena sudah lama tak berjumpa dan sedikit canggung.

" Nggak usah malu-malu gitu." Ucap Risa terkekeh membuat Tivane meringis kecil sementara Rigecherta tersenyum memandang keduanya.

" Udah Deket aja nih sekarang" goda Risa mengangkat alis penuh arti pada Rigecherta.

"Kan emang udah Deket dari dulu tante" balas Tivane membuat Risa terkejut. Yang ia tau Tivane sedang amnesia.

"Udah ingat?" Tanya Risa kaget menatap Tivane. Tivane hanya menggagguk pelan dan meringis kecil.

Berbeda dengan Risa dan Tivane. Rigecherta malah dengan santai memakan makanan yang di bawa ibunya tadi.

"Baru ingat sih tante, baru kemarin pas aku liat liontin kalung Rige" jawab Tivane tersenyum tipis.

"Owalah.. udah jadi tunangannya?" Tanya Risa lagi.

"Uhuk uhuk" Rigecherta tersedak makanan yang di makannya dan memegangi leher heboh.

Tivane langsung menyodorkan minum dan langsung di teguk cepat oleh Rigecherta.

" Mama tau kalo dia bakal di tunangin?" Tanya Rigecherta dengan mata melebar kaget.

" Tau. Mama sengaja nggak ngasih tau kamu. Nanti kamu tantrum terus nekat lagi" jawab Risa enteng namun langsung merubah ekspresi wajah Rigecherta.

"Mama mah gitu" ucap Rigecherta sambil merebahkan diri di paha Tivane membuat Tivane terkejut.

" Ih, Rige ada Tante" ucap Tivane pelan merasa tak enak pada Risa yang memandang mereka berdua sambil geleng-geleng geli.

" Biarin. Lagian mama gitu, nanti kalo lo beneran tunangan sama orang lain gue juga yang di tinggal" ucapnya setengah mendumel setengah merengek.

"Ya maaf sih. Lagian mama tau kamu nggak bakal tinggal diam kalo tau" ucap Risa sambil meminum tehnya.

"Iya Tante, dia nekat." Kata Tivane mengadu membuat Rigecherta langsung duduk dengan tegak.

"Nekat gimana Vane?" Tanya Risa namun matanya memicing ke arah Rigecherta yang sudah gelagapan.

" Dia kebut-kebutan pas mau hmmpp" ucapan Tivane spontan terputus saat tangan besar milik Tivane membekap mulutnya.

" Hah kapan? kemarin malam itu ya?" Tanya Risa membuat Rigecherta meruntuk.

" Jadi itu bukan terpeleset tapi karna kebut-kebutan, iya?" Tanya Risa lagi dengan nada galak seolah siap mengomeli Rigecherta.

" Iya Tante" ucap Tivane satelah tangan Rigecherta ia singkirkan dari mulutnya.

" Diem deh lo bocil" ucap Rigecherta pada Tivane namun bukannya takut Tivane malah balas melotot.

" Apa lo?" Tanya Tivane dengan nada mengancam pula.

" Lo tuh yaa" gemas Rigecherta memiting leher Tivane membuat Tivane langsung meronta rusuh.

Risa yang melihat keduanya berantem seperti anak kecil pun hanya tersenyum lalu berdiri. Sepertinya beliau sudah biasa melihat tingkah keduanya, tidak mau mengalah. Dari kecil sampe sekarang nggak berubah sama sekali.

" Yaudah mama mau ke dapur dulu" ucap Risa sambil melenggang ke arah dapur.

Tivane yang melihat Risa pergi pun langsung menjambak rambut Rigecherta yang masih memiting lehernya. Jadilah kini mereka bergulat di sofa, tidak ada yang mau mengalah.

"RIGE UDAH DONG. NGALAH KENAPA !" teriak Risa dari dapur. Lelah juga ia melihatnya.

"VANE DULUAN MA" balas Rigecherta berteriak.

" RIGE DULUAN TANTE" pekik Tivane juga.

" Aaaa.. ampun-ampun" Rigecherta akhirnya menyerah saat rambutnya ditarik lebih kuat oleh Tivane.

"Nah kan, gitu kek ngalah kan lo" ucap Tivane menyeringai seolah sedang menang pertandingan.

" Iya iya. Gue kalah, puas lo?" Sinis Rigecherta mengelus kepalanya yang di tarik Tivane kuat tadi.

" Banget." Ucap Tivane lalu kembali mendekat dan mengelus pelan kepala Rigecherta.

"Sorry. Gue kayaknya kekencangan jambaknya tadi." Ucap Tivane membuat Rigecherta tersenyum senang.

" Tante. Vane pamit pulang yaa" pamit Tivane pada Risa.

" Loh, udah mau pulang?" Tanya Risa sambil mencuci tangannya karna sedang memasak makan malam tadi.

" Iya Tante, udah sore juga" ucap Tivane menyalimi tangan Risa.

" Ayo gue antar" ucap Rigecherta membuat Tivane mendelik ke arah nya.

" Kan yang bawa mobil gue" ucap Tivane membuat Rigecherta mengangguk pasrah.

"Yaudah hati-hati yaa." Ucap Risa membuat Tivane mengangguk.

" Oke deh. Kalo udah sampe kabarin gue" ucap Rigecherta menyodorkan tangan pada Tivane membuat Tivane memandangnya bingung.

"Kenapa? Minta duit?" Tanya Tivane polos.

"CK, salam" Rigecherta langsung meraih tangan Tivane supaya menyalimnya.

" Dih?!" Risa mendelik melihat kelakuan absurd anaknya.

" Alay " ledek Tivane namun Rigecherta hanya mengangkat bahu dengan tenang.

" Yaudah duluan yaa" ucap Tivane pada Rigecherta membuat Rigecherta mengangguk dan mengantar Tivane ke mobil cewek itu.

"Kapan-kapan mampir lagi ya" ucap Risa yang ikut mengantar Tivane ke mobilnya.

" Iya tante" jawab Tivane sopan.

" Besok gue jemput, berangkat bareng" ucap Rigecherta saat mereka sampai di mobil Tivane membuat Tivane mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya.

"Byee" ucap Rigecherta melambaikan tangan membuat Tivane balas melambai dan melajukan mobil ke arah rumahnya.

Selama perjalan Tivane masih tersenyum-senyum sendiri. Entahlah, mungkin itu yang di bilang lagi bucin, bersama Rigecherta, Tivane merasa detak jantungnya seolah berdegup kencang sampai darahnya terasa mengalir dari ujung kaki ke ujung kepala. Bahkan terkadang juga membuat pipinya memerah.

Sampai di halaman rumahnya Tivane langsung memarkir mobilnya dan keluar dari mobil berniat masuk ke dalam rumah.

Saat ia hendak menutup gerbang, motor berhenti tepat di depannya.

"Jadi cowok itu yang bikin lo nolak perjodohan kita?" Tanya si pengendara sambil tersenyum sinis seolah meremehkan.

1
jaybi
buat visual dan foto kenangannya ada di Instagram aku ya guys.. namanya: Salbiah
jaybi
jangan lupa tinggalin komentar kalian yaa😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!