Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Gerbang
Kehidupan di kediaman Arseto tidak melulu tentang ketegangan di lantai tiga. Sebagai pelayan, Kirana juga harus berinteraksi dengan ekosistem domestik yang ada di lantai dasar. Di sinilah ia mulai menyadari bahwa rumah mewah ini adalah sebuah organisasi yang sangat terstruktur, lengkap dengan intrik-intrik kecil di antara para pekerjanya.
Siang itu, setelah menyelesaikan tugas merapikan ruang kerja Adrian, Kirana turun ke area dapur utama untuk membantu menyiapkan makan siang para staf. Di sana, ia disambut oleh Mbok Nah, juru masak senior bertubuh tambun yang ramah, dan Sinta, rekan sesama pelayan baru yang masih sering terlihat gugup.
"Kirana, kamu kok betah sekali ya di lantai tiga?" bisik Sinta sambil mengupas kentang dengan tangan agak gemetar. "Aku baru lewat tangga menuju ke sana saja sudah merinding. Kemarin malam aku tidak sengaja melihat Tuan Muda Adrian pulang dengan kemeja yang ada noda darahnya. Mukanya... Ya Tuhan, seram sekali seperti malaikat pencabut nyawa."
Kirana yang sedang memotong sayuran tersenyum riang, tidak terpengaruh sama sekali. "Darah itu mungkin hanya saus tomat, Sinta. Tuan Muda kita itu hanya kurang senyum saja. Kalau dia tersenyum, mungkin seluruh gadis di kota ini akan pingsan berjamaah."
"Kamu ini ya, masih bisa bercanda," potong Mawar yang tiba-tiba muncul dari arah ruang cuci dengan wajah masam. Mawar sejak awal merasa cemburu karena Kirana langsung ditempatkan di lantai tiga, wilayah yang paling dekat dengan sang pusat kekuasaan.
"Jangan terlalu tinggi bermimpi, Kirana. Kamu itu hanya anak yatim piatu dari panti asuhan pelosok. Bisa bekerja di sini saja sudah keajaiban. Jangan sampai kelakuan genitmu itu malah membuat Ibu Maya mendepakmu dari sini. Tuan Muda Adrian itu tidak suka dengan pelayan yang tidak tahu diri."
Kirana menghentikan gerakan pisaunya. Ia menatap Mawar dengan pandangan matanya yang cerdas dan tajam, membuat Mawar agak tersentak mundur. Sifat berani Kirana tidak akan membiarkan dirinya diintimidasi oleh sesama pelayan.
"Terima kasih atas pengingatnya yang sangat 'perhatian' itu, Mawar," ujar Kirana dengan nada santai namun menusuk. "Tapi setahu saya, Ibu Maya menempatkan saya di sana karena nilai ujian saya yang sempurna, bukan karena garis keturunan saya. Jadi, daripada mengurusi seberapa tinggi saya bermimpi, lebih baik kamu pastikan lantai selasar barat bersih mengkilap, karena kudengar Tuan Muda sangat benci jika sepatunya menginjak debu sekecil apa pun."
Mawar mendengus kesal, wajahnya memerah karena tidak mampu membalas kata-kata Kirana yang terstruktur rapi. Ia segera berbalik pergi sambil menghentakkan kakinya kesal.
Mbok Nah yang melihat kejadian itu hanya terkekeh pelan sambil mengaduk sup di panci besar. "Kamu ini pintar bicara ya, Kirana. Tapi hati-hati dengan Mawar, dia tipe orang yang suka mengadu demi keuntungan sendiri. Dan yang paling penting... apa yang dikatakan Sinta tadi ada benarnya. Rumah ini bukan rumah biasa."
Mbok Nah mendekatkan wajahnya ke arah Kirana, suaranya merendah menjadi bisikan. "Tuan Muda Adrian itu memikul beban yang sangat berat sejak Tuan Besar Arseto jatuh sakit enam bulan lalu. Seluruh musuh dari jaringan bisnis hitam di luar sana sedang mengincar posisinya. Mereka menganggap Tuan Muda masih terlalu muda untuk memimpin. Konflik bisa terjadi kapan saja, bahkan di dalam rumah ini jika kita tidak waspada."
Kirana mendengarkan dengan saksama. Kecerdasannya langsung menangkap gambaran besar yang sedang terjadi. Adrian tidak hanya sedang memimpin sebuah dinasti bisnis; pria itu sedang berperang mempertahankan takhtanya dari serigala-serigala kelaparan yang mengintai dari segala penjuru.
Informasi ini bukannya membuat Kirana takut, melainkan menumbuhkan rasa empati dan protektif yang mendalam di dalam hatinya terhadap sang majikan.
Sore harinya, saat Kirana sedang berjalan di dekat taman samping untuk mengambil jemuran kain lap, ia melihat rombongan mobil SUV hitam yang biasa mengawal Adrian baru saja memasuki halaman. Namun, suasana sore itu terasa berbeda.
Pintu mobil terbuka dengan cepat. Beberapa anak buah berbaju jas hitam turun dengan tergesa-gesa. Di antara mereka, dua orang tampak membopong seorang pria paruh baya yang terluka parah dengan pakaian yang robek-robek. Dari jarak lima puluh meter, Kirana bisa mencium bau anyir darah yang samar terbawa angin sore.
Adrian turun dari mobil paling belakang. Wajahnya terlihat begitu tegang, matanya memancarkan kemarahan yang tertahan, begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitarnya.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah sayap timur," perintah Adrian pada anak buahnya, suaranya terdengar datar namun sarat akan kekejaman yang mutlak. "Jangan biarkan dia mati sebelum dia menyebutkan siapa yang membayarnya untuk menyabotase pengiriman di pelabuhan."
"Baik, Tuan Muda!"
Rombongan itu bergerak cepat menghilang ke balik pintu besi yang menuju ke area bawah tanah. Kirana berdiri terpaku di balik pilar marmer taman, menyaksikan seluruh adegan itu dengan mata kepalanya sendiri. Ini adalah sisi gelap dari pria yang ia sukai—sisi kejam, sadis, dan tidak kenal ampun dari seorang penguasa dunia bawah.
Kirana menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ada rasa tegang yang menjalar, namun di atas semua itu, obsesinya tidak goyah sedikit pun. Ia tahu, untuk bisa berdiri di samping pria seperti Adrian Arseto, ia tidak boleh menjadi gadis lemah yang mudah pingsan melihat darah. Ia harus menjadi wanita yang kuat, pintar, dan mampu menjadi tempat bersandar di saat dunia luar mencoba menghancurkan pria itu.