Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Hijau Dibalik Seragam
Naira tersentak kecil mendengar suara bariton yang tiba-tiba menginterupsi kesibukannya. Ia buru-buru memutar tubuh, mendapati Satria sudah berdiri di dekat sekat pembatas ruang tengah dengan pakaian koko dan sarung yang masih melekat rapi.
"Eh, Mas Satria... sudah pulang?" tanya Naira, berusaha menetralkan degup jantungnya yang mendadak melompat. Ia refleks merapikan letak celemeknya yang sedikit miring.
Satria mengangguk pelan, melangkah mendekat ke arah meja makan sembari melepas peci hitamnya.
"Iya. Tadi setelah salat sempat mengobrol sebentar dengan Pak RT di depan mushola. Kamu... sudah masak sebanyak ini?" Pandangan Satria beralih pada beberapa piring yang sudah tertata, lalu terpaku pada sebuah kotak plastik bertingkat warna hijau yang berada di tengah-tengah meja.
Melihat arah pandang suaminya, Naira mendadak salah tingkah. Jemarinya saling bertautan di depan perut.
“Aduh, dia melihat kotak bekalnya,” batin Naira panik. Ia menggigit bibir dalam, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika Satria merasa keberatan.
"Itu... anu, Mas. Aku tadi sekalian menyiapkan bekal untuk Mas Satria bawa ke kantor kecamatan," cicit Naira dengan suara yang sengaja dipelankan, matanya bergerak gelisah tidak berani menatap langsung wajah Satria.
"Isinya cuma nasi, tumis sayur yang semalam, sama telur mata sapi. Tapi... kalau Mas Satria malu membawanya ke kantor, ditinggal di rumah juga tidak apa-apa, kok. Aku tidak memaksa."
Satria tertegun mendengarnya. Kerutan samar muncul di dahi pria itu saat mencerna kalimat defensif istrinya.
“Dia sangu menggemaskan” batin Satria.
Satria mengulurkan tangan, meraih kotak bekal berwarna hijau tersebut. Ia mengangkatnya sedikit, menimang wadah plastik yang terasa hangat di telapak tangan kasarnya. Detik itu juga, ada rasa hangat yang menjalar dari telapak tangannya langsung menuju ke lubuk hati.
Selama bertahun-tahun hidup sendiri dan bekerja sebagai PNS, jam makan siang Satria selalu dihabiskan di warung makan pinggir jalan atau kantin belakang kantor. Tidak pernah sekali pun ada seseorang yang bangun lebih pagi hanya untuk memikirkan apa yang akan ia makan siang nanti. Tidak pernah ada yang repot-repot menyusun nasi dan lauk ke dalam wadah seperti ini untuknya.
Satria menoleh menatap Naira, tatapannya melembut. "Kenapa aku harus malu, Naira?"
Naira mendongak sedikit, terkejut dengan respons suaminya. "Y-ya... karena Mas kan seorang Kasubag. Di kantor pasti banyak staf dan rekan kerja yang melihat. Aku takut Mas Satria merasa gengsi atau diejek seperti anak sekolahan oleh teman-teman Mas."
Satria tersenyum tipis, jenis senyuman yang sangat tenang namun sanggup meruntuhkan seluruh keraguan di hati Naira.
"Justru sebaliknya," ujar Satria dengan nada suara yang mantap. "Membawa bekal buatan istri ke kantor itu bukan hal yang memalukan. Itu tanda kalau suaminya diurus dengan baik di rumah. Teman-teman di kantor kecamatan justru pasti akan iri melihat ini."
Mendengar jawaban yang sama sekali di luar dugaannya, Naira terpaku. Rasa hangat menjalar ke seluruh wajahnya, membuat kedua pipinya kembali merona merah sempurna.
“Ya Allah... kenapa ucapan Mas Satria selalu bisa membuatku sekaku ini?” batin Naira bersorak malu, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah wajan kosong di atas kompor untuk menyembunyikan senyumnya yang terbit tanpa permisi. rasanya Naira ingin meleyot seketika mendengar pujian suaminya.
"S-syukurlah kalau Mas tidak keberatan," sahut Naira gugup, buru-buru mengambil teko. "Kalau begitu, Mas mandi dan bersiap dulu. Aku juga mau bersiap-siap ganti baju untuk ke toko kue."
"Baik. Terima kasih, Naira," balas Satria. Sebelum berbalik menuju kamar mandi, ia menyempatkan diri menatap kotak hijau itu sekali lagi dengan senyuman yang belum luntur.
Satu jam kemudian, suasana rumah mungil itu kembali sibuk oleh rutinitas pagi yang hangat namun canggung. Satria sudah tampil gagah dengan seragam PNS cokelatnya yang berbau wangi sisa setrikaan Naira. Papan nama magnet bertuliskan *Satria Baskara* telah terpasang dengan lurus di dada kanannya.
Sementara itu, Naira juga sudah bersiap dengan pakaian kerjanya yang rapi untuk menjaga toko kue. Ia melangkah ke ruang tengah sambil menjinjing tas kain kecil berisi kotak bekal hijau milik Satria.
"Sudah siap semua, Naira? Tidak ada barang toko yang tertinggal?" tanya Satria sambil merapikan jam tangannya.
"Sudah semua, Mas," jawab Naira lembut, menyodorkan tas kain itu kepada Satria. "Ini bekalnya jangan sampai ketinggalan."
Satria menerimanya dengan anggukan kecil. "Terima kasih."
Sebelum melangkah keluar, Satria kembali mengulurkan telapak tangan kanannya yang kokoh ke hadapan Naira. Gerakan refleks yang kini mulai disadari Naira sebagai tanda pamit seorang suami.
Rasa canggung di dada Naira masih berdegup halus, namun rasa takzim sebagai istri menuntun jemarinya untuk meraih tangan Satria. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, menempelkan kening dan hidungnya pada punggung tangan suaminya dengan takzim.
Satria tertegun sesaat merasakan sentuhan lembut itu. Ia menatap pucuk kepala Naira yang terbalut jilbab, menahan sebuah desakan hangat di dadanya.
“Terima kasih sudah mengurusku pagi ini, Naira,” bisik Satria pada Naira pelan
Mendengar perkataan Satria lembut membuat desiran dada Naira seakan bergejolak ingin keluar dari tempatnya. Dadanya tidak berhenti untuk terus berdetak kencang.
wajah Naira sedikit memerah namun ia berusaha memalingkan wajahnya agar Satria tidak melihat rasa gugup dan mendengar detak jantung nya yang berpacu sangat cepat.
"sama-sama mas," sahut Naira pelan.
Setelah Naira menegakkan tubuhnya, Satria berbalik membuka pintu. "Ayo berangkat, nanti kamu terlambat sampai toko."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju halaman depan. Satria dengan sigap mengeluarkan sepeda motornya dari garasi kecil, lalu menghidupkan mesinnya. Setelah memastikan Naira naik ke boncengan dengan posisi menyamping yang aman, Satria perlahan menarik gas, membawa motornya membelah jalanan kompleks yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.
Di sepanjang jalan menuju toko kue, embusan angin pagi yang sejuk menerpa wajah mereka. Naira duduk dengan jarak yang agak aman di jok belakang, hanya mencengkeram ujung jaket seragam Satria untuk berpegangan karena masih dirundung rasa malu akibat kejadian semalam. Dari kaca spion, Satria sesekali melirik istrinya, memastikan posisi duduk Naira tetap nyaman dan aman di belakangnya.
Motor akhirnya melambat dan berhenti tepat di pelataran toko kue tempat Naira bekerja. Naira segera turun, merapikan sedikit pakaiannya, lalu menyerahkan helm cadangan kepada Satria.
"Terima kasih tumpangannya, Mas. Hati-hati di jalan ke kantornya," ucap Naira tulus.
Satria menerima helm itu, lalu menyangkutkannya di setang motor. Matanya melirik tas kain berisi kotak bekal hijau yang menggantung di dekat dasbor motornya, lalu beralih menatap Naira dengan binar mata yang hangat.
"apa boleh sebentar siang Mas ke toko untuk sarapan bersama mu?," tanya Satria tenang namun sukses membuat mata Naira membelalak kaget.
"Naira tidak keberatan asal Mas tidak sibuk? kapanpun Mas mau ke tokoh boleh saja." jawab Naira tegas namun dengan suara lembutnya.
"terimakasih Naira, sebentar jam istrahat aku akan ke Tokoh"ucap Satria kini hatinya rasa berbunga-bunga.
"Mas-" Baru saja Naira ingin mengatakan sesuatu akan tetapi satria langsung bergegas pergi dengan kuda besinya begitu saja meninggalkan Naira di depan tokoh Kue.
" yah padahal aku ingin bilang biar bekalnya aku aja yang bawa," gumam Naira yang hanya bisa menatap punggung suaminya yang terlah berlalu pergi.
Bersambung...