bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lampu kamar mandi mati, menyisakan hanya cahaya redup dari lampu tidur di samping
tempat tidur.
Nadira baru saja menyelesaikan rutinitas malamnya. Ia berjalan menuju pintu
kamar untuk memastikan pengunci terpasang rapat. Saat itulah ia melihat sebuah
bayangan tipis di lantai marmer. Sebuah amplop cokelat tanpa nama terselip di celah
bawah pintu kayu yang berat. Ujungnya tampak sedikit terlipat, seolah sengaja
dimasukkan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Nadira menunduk, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia meraih amplop itu
dengan ujung jari, merasakan tekstur kertas yang kasar dan dingin. Tidak ada tulisan di
bagian luar. Hanya stempel lilin merah yang sudah pecah di bagian belakang penutupnya.
Ia membawanya ke meja rias, menjauh dari jangkauan cahaya langsung agar privasinya
tetap terjaga. Tangan Nadira gemetar saat membuka penutup amplop tersebut, berharap isinya hanyalah surat bisnis biasa atau kesalahan kirim dari staf rumah tangga.
Isi amplop itu bukan surat. Ada belasan foto cetak berkualitas tinggi yang tersebar di atas
meja riasnya. Nadira menatap satu per satu dengan napas yang mulai memburu.
Foto-foto itu menampilkan dirinya, atau tepatnya tubuh wanita jahat yang ia tempati
sekarang sedang berbicara dengan seorang pria asing di sebuah kafe tersembunyi.
Posisi pengambilan gambar sangat profesional, seolah-olah fotografer tersebut berada di meja sebelah tanpa sepengetahuan mereka. Transaksi rahasia itu terlihat sangat mencurigakan dalam bingkai gambar.
"Siapa yang melakukan ini?" bisiknya dalam kegelapan, suaranya parau dan hampir tak
terdengar.
Ia merapatkan foto-foto itu kembali ke dalam amplop, seolah kertas tersebut bisa menjerit dan membangunkan seluruh penghuni rumah. Keringat dingin mulai mengalir
di sepanjang punggungnya. Seseorang sedang mengawasinya secara intensif.
Seseorang tahu tentang pertemuannya dua hari yang lalu, pertemuan yang ia pikir aman dari pantauan keluarga besarnya. Ini bukan sekadar ancaman biasa. Tapi ini adalah peringatan yang nyata.
Ia menoleh ke arah tempat tidur king size di tengah ruangan. Arga, suami dari tubuh yang
ia tempati, terlelap dengan napas yang teratur. Wajah pria itu tampak tenang dalam
tidurnya, berbeda dengan ketegangan yang selalu ia tunjukkan saat terjaga. Nadira
merasa sangat sendirian di tengah ancaman yang semakin nyata. Ia tidak bisa
membangunkan Arga dan menceritakan kebenaran ini. Jika ia melakukannya, maka
semua rencananya untuk mendapatkan warisan dua ratus triliun akan hancur sebelum iasempat merebutnya dari saudara tiri yang licik itu.
Matanya kembali tertuju pada foto-foto tersebut. Ia mengamati detail latar belakang pada foto itu. Tampak sebuah plang neon yang rusak di belakang mereka. Itu adalah kafe di pinggiran kota, tempat ia bertemu dengan notaris pribadi untuk memverifikasi dokumen warisan yang dicurinya dari brankas pribadi. Hanya dia dan notaris itu yang tahu tentang pertemuan tersebut. Atau setidaknya, begitulah yang ia pikirkan.
Nadira mulai memilah-milah orang dalam pikirannya. Apakah ini ulah Dinda yang selalu membenci langkahnya?
Atau mungkin ada musuh lain yang lebih berbahaya di luar sana? Seseorang yang sengaja membiarkannya bergerak bebas sebelum menjatuhkannya dengan bukti yang telak.
Nadira merasa posisinya semakin terdesak. Ia duduk di tepi tempat tidur, memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Jika foto-foto ini jatuh ke tangan kakek atau dewan direksi, ia akan dituduh melakukan pengkhianatan dan penggelapan aset.
Ia harus segera mengungkap siapa pengirim amplop ini. Nadira tidak punya pilihan lain selain bertindak cepat. Ia tidak bisa membiarkan rahasianya terbongkar sekarang. Warisan impiannya, dua ratus triliun rupiah yang akan mengubah seluruh hidupnya, terancam punah oleh selembar
kertas foto.
Nadira berdiri kembali, menatap cermin besar di depannya. Wajah yang ia lihat
bukanlah wajah aslinya, tapi wajah sang wanita jahat yang penuh dendam. Ia harus
menggunakan kekejaman wanita itu untuk melindungi dirinya sendiri kali ini.
Malam itu, Nadira tidak memejamkan mata sedikit pun. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di kursi kerjanya yang gelap.
Ia menunggu fajar menyingsing dengan mata terusan terjaga.
Saat cahaya pertama mulai menyelinap dari balik tirai sutra, Nadira bergerak. Ia menyimpan foto-foto itu ke dalam
brankas kecil di dalam laci meja riasnya, mengunci mekanisme pengamannya dengan
kode yang rumit. Ia tidak akan membuang bukti itu, sebaliknya, ia akan menggunakannya sebagai umpan balik.
Diam-diam, di bawah napas pagi yang dingin, ia bersumpah akan membalas orang yang mengirim amplop ini. Ia akan merebut warisan impiannya, apa pun yang terjadi.
Jemari Nadira masih sedikit gemetar saat meletakkan amplop cokelat itu ke dasar laci
meja rias. Isinya terlalu berbahaya untuk dibagikan kepada siapa pun saat ini, terutama kepada Arga. Pria itu memiliki terlalu banyak kepentingan, dan Nadira tidak bisa
mengambil risiko ditikam dari arah yang salah.
Ia menarik napas panjang, mencoba
meredakan detak jantung yang berpacu sejak amplop itu muncul entah dari mana di dalam
kamarnya malam tadi.
Ia harus menangani masalah ini sendiri. Mengandalkan orang lain hanya akan
memperumit jejak dan memperbesar celah kebocoran informasi.
Keesokan harinya, dengan langkah yang sengaja dibuat santai, ia mulai menyelidiki siapa saja yang memiliki akses ke kamarnya. Ia mengamati jam kerja para staf, siapa yang membawa master key, dan siapa yang sering terliihat mondar-mandir di lantai ini tanpa alasan jelas. Ia harus lebih cerdik dari musuh-musuhnya yang bersembunyi di balik wajah-wajah tak dikenal itu.
Menyusuri koridor panjang menuju ruang tengah, Nadira menyadari bahwa ia tidak bisa
lagi menjadi Clarissa yang lemah, wanita yang selalu menjadi bulan-bulanan keluarganya sendiri.
Ia harus menjadi sosok yang kuat dan berani jika ingin bertahan hidup di rumah besar yang penuh dengan racun ini. Bayangan kekayaan sebesar dua ratus triliun rupiah tidak akan jatuh ke pelukannya hanya dengan duduk diam dan berharap keajaiban terjadi.
Dengan tekad yang semakin mengental di dada, ia bersiap menghadapi tantangan
berikutnya. Matanya menangkap sebuah lemari pakaian tua yang tersembunyi di sudut kamar, sebuah detail yang sepertinya sering diabaikan namun kini menarik perhatiannya.
Warisan itu akan menjadi miliknya, apa pun risikonya, dan ia akan membongkar setiap
rahasia di kamar ini jika itu berarti satu langkah lebih dekat pada kemenangan.
Ia melangkah mendekat, menarik napas panjang untuk menenangkan saraf yang mulai tegang.
Ia menarik tuas pintu lemari itu dengan hati-hati, suara engsel berderit pelan membelah kesunyian kamar. Udara di dalamnya terasa lebih dingin dan berdebu, menyimpan rahasia yang mungkin bisa menjelaskan banyak hal.
Nadira membiarkan cahaya dari jendela
menyinari isi lemari itu, bersiap menemukan apa pun yang tersembunyi di sana, siang itu.