"Aku nggak akan jatuh cinta atau menikah lagi! Jadi aku akan selalu mengingatmu putriku, Khiana!" janji Kayla.
Kayla yang terpuruk karena kepergian putri kecilnya, Khiana Anindita, mengucapkan janji itu pada dirinya sendiri.
Akankah dia menjanda selama sisa hidupnya karena janji yang ia buat? Ataukah akan ada seseorang yang menggetarkan hatinya dan menggoyahkan keyakinannya hingga melanggar janjinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon black_smile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat
Selamat datang pagi, tapi tidak untuk Sang Mentari. Pagi yang mendung di ibukota. Barisan awan hitam berarak menutupi sinar mentari yang menghangatkan. Satu per satu barisan air langit mulai jatuh membasahi bumi.
"Pagi-pagi udah gerimis aja!" Keluh Dea tatkala ia hendak keluar rumah membeli sayuran.
"Alhamdulillah dong De! Kan di kasih rezeki sama Allah." Sahut Kayla dari dalam kamarnya. Ia sedang sibuk membersihkan kamarnya.
"Iya, iya Bu Ustadzah! Hhihi,," Celetuk Dea sembari berjalan menuju pintu kamar Dea.
"Kamu ini ada-ada aja De." Kayla merendah.
"Beneran. Kamu kayak Bu Ustadzah yang suka ceramah-ceramah gitu Kay."
"Aku mah belum ada apa-apanya dibanding mereka De,,"
"Tapi udah agak mirip,,"
"Mirip apanya?"
"Bajunya,, hhahaha,,"
"Sialan kamu,,"
Kayla segera mengejar Dea yang tertawa riang karena sedikit mengejek Kayla dengan sapu yang masih ia pegang. Dea berlari keluar rumah dan sedikit menjulurkan lidahnya untuk mengejek Kayla karena tak berhasil mengejarnya.
"Awas aja! Aku tunggu di rumah. Nih, sapunya juga nungguin." Ketus Kayla sembari mengangkat sapu yang ia pegang.
Dea yang senang karena berhasil mengerjai Kayla, hanya melenggang tak mempedulikan ucapan Kayla dan hujan gerimis yang mulai membasahi bajunya.
"Mau ngapain ya hari ini? Dea pasti kencan sama Mas Doni nanti. Ibu sama Ayah baru ke tempat pakdhe bantuin acara lamaran Mbak Nia, nggak bisa video call. Pengen jalan-jalan, tapi kemana ya?"
Kayla bergumam sendiri memikirkan apa yang akan dia lakukan akhir pekan ini. Pengajian di panti sedang libur, jadi Kayla dan Dea tak ada kegiatan hari ini. Nasibmu Kay, jadi jomblo, week end nggak ada yang ngajak jalan-jalan.
Kayla akhirnya kembali ke kamarnya untuk meneruskan bersih-bersihnya. Lima belas menit kemudian, Dea sudah pulang dengan dua plastik berisi macam-macam.
"Banyak banget De?" Tanya Kayla ketika melihat belanjaan Dea.
"Ini cemilan Kay. Buat Mamas Doni tersayang." Seru Dea sembari mengangkat satu plastik kecil berisi beberapa macam camilan.
"Yang ini, buat kamu! Sana giliran masak kan?" Dea menyodorkan satu plastik lain berisi bahan sayuran mentah.
"Siap komandan! Laksanakan!" Kayla menerima plastik pemberian Dea dengan ceria.
"Ini buat aku De!" Kayla menyambar dua potong kue serabi secepat kilat lalu berlari menuju dapur.
"Eh Kay, itu kesukaan Mas Doni!" Teriak Dea sembari mengejar Kayla ke dapur.
"Nih sana kasih Mas Doni!" Ucap Kayla sembari menunjukkan kue serabinya yang sudah ia gigit kecil.
"Hhiiissshh!" Gerutu Dea kesal. Ia pun kembali ke depan dan membiarkan Kayla memasak.
Hampir satu jam Kayla sibuk di dapur. Doni pun sudah datang lima belas menit yang lalu. Doni dan Dea sedang asik mengobrol di depan tv dengan beragam cemilan yang tadi dibeli Dea.
"Kay, telfon!" Teriak Dea tatkala mendengar bunyi ponsel Kayla di dalam kamar.
"Oke!" Kayla segera berlari menghampiri ponselnya.
"Iya Nes,,"
"... ..."
"Kamu di Jakarta? Oke. Lima belas menit lagi ya! Aku ganti baju dulu."
"... ..."
"Aku nanti keluar aja, kamu nanti bingung cari rumahku. Bye." Tut.
"Mau kemana Kay?" Tanya Dea penasaran.
"Kepo kamu! Nguping pembicaraan orang." Sungut Kayla.
"Kami telfonnya volum maksimal gitu, mana mungkin aku nggak denger Mbokdhe Kayla." Ketus Dea. "Telingaku masih normal Mbokdhe."
"Hhehe, keras banget ya? Maaf! Aku terlalu seneng siihh,," Sahut Kayla canggung sembari berjalan menuju kamar mandi.
"Emang kenapa?"
"Sahabatku dari Jogja dateng ke Jakarta. Aku mau ketemu sama dia. Kangen banget." Sahut Kayla jujur.
"Oohhh,,"
Kayla pun segera bersiap untuk menemui Nessa yang tadi sudah menelfon. Ia segera keluar rumah setelah berganti pakaian dan sedikit memoleskan make up di wajahnya.
Kayla dan Nessa janjian di luar gang masuk rumah Kayla. Kayla tak mau, Dea akan banyak tanya tentang Nessa jika melihat sang sahabat itu datang ke rumahnya.
"Dimana jagoanku? Kenapa dia tidak ikut?" Tanya Kayla ketika mereka telah sampai di sebuah restoran dan sedang menunggu makanan pesanan mereka tiba.
"Dengan ayahnya. Aku tu kangen berdua sama kamu, pengen nostalgia kayak dulu. Hhuuu,," Ketus Nessa.
"Hhaha, iya, iya. Lama juga ya kita nggak kayak gini." Imbuh Kayla.
"He'em,,"
Dua sahabat lama itupun saling berbagi cerita. Saling bercanda dan meluapkan kerinduan masa-masa kebersamaan mereka dahulu.
"Kay,,"
"Hem,,"
"Kamu nggak pengen nikah?"
"Kamu ngomong apa sih Nes?" Sahut Kayla dengan wajah yang tertunduk menatap makanan yang ada di atas priringnya.
"Lihat aku Kay!" Ucap Nessa seraya memegang tangan Kayla.
Kayla menghentikan aktivitasnya. Meletakkan sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya. Perlahan menggariskan senyum indah di bibirnya demi menutupi kegundahan hatinya dihadapan Nessa.
"Kenapa?" Tanya Kayla sesantai mungkin.
"Jujur sama aku! Apa kamu nggak pengen nikah? Bahagia dengan orang yang kamu sayangi? Menghabiskan hidupmu dengannya?"
"Aku menyayangi Khiana Nes, kamu tahu itu."
"Dan kamu juga menyayangi laki-laki itu kan? Dia yang mampu menggetarkan hatimu yang selama ini masih tertidur. Apa salahnya Kay jika kamu menyambutnya? Membiarkannya hidup dan tumbuh di hatimu?"
"Aku tak bisa Nes!"
"Kenapa?"
"Akan ada hati lain yang sangat terluka jika aku membuka hatiku dan membiarkannya masuk lebih dalam."
"Khiana akan mengerti Kay."
"Iya, Khiana mungkin akan mengerti. Tapi bagaimana dengan Mas Malik Nes? Dia selalu baik padaku selama ini meski aku berusaha menolaknya seperti apapun caranya. Dia selalu meluangkan waktunya untukku meski dia berada jauh di Surabaya. Akan sangat menyakitkan baginya jika aku menerima cinta Mas Ridwan. Mereka saudara kandung Nes."
"Itu konsekuensinya Kay. Konsekuensi jika mencintai orang lain. Dia tak bisa memaksakan kehendaknya pada hati orang lain."
"Aku tidak setega itu Nes!" Air mata Kayla mulai menari indah di pipi putihnya.
"Lebih baik aku yang mengalah, daripada harus menyakiti orang lain."
"Lalu bagaimana dengan Ayah dan Ibu Kay? Apa kau tak kasihan pada mereka?"
"Cukup Nes! Aku pun lelah dengan semua ini."
"Kay,,"
"Aku manusia biasa Nes. Aku juga ingin bahagia sepertimu. Aku ingin membangun istana kecilku dengan keluarga kecilku. Saling mencintai bersama suamiku. Memiliki buah hati dan melihatnya tumbuh hari demi hari. Aku juga ingin membahagiakan orang tuaku yang sudah merawatku selama ini. Aku ingin itu semua Nes. AKU INGIN!" Kayla mengeluarkan semua keluh kesahnya dengan airmata yang juga keluar tanpa henti.
"Tapi bukankah kau tahu sendiri bagaimana sulitnya posisiku?"
"Semua butuh pengorbanan Kay."
"Biarlah aku yang berkorban Nes! Mungkin,,, suatu saat nanti, akan ada orang lain yang bisa kembali menggetarkan hatiku, selain Mas Ridwan."
"Lagi pula, aku juga tak ingin melanggar janjiku sendiri Nes!" Ucap Kayla sedikit tenang setelah airmata yang jatuh bersamaan dengan rintik hujan yang mulai sedikit deras di luar restoran.
"Kay! Aku ingin melihatmu bahagia!"
"Aku sudah cukup bahagia Nes. Aku bisa merasakan apa itu jatuh cinta."
"Bodoh kamu Kay!" Cibir Nessa. "Apa kau benar-benar ingin melepaskannya begitu saja?"
"Entahlah Nes! Otakku berkata iya, tapi hatiku tidak." Jujur Kayla.
"Bagaimana jika aku berkata, ikuti hatimu!"
Kayla menatap getir pada Nessa. Sungguh ia ingin mengikuti kata hatinya, tapi hatinya juga tak akan tega menyakiti orang lain. Orang yang bahkan adalah saudara kandung dari orang yang ada dihatinya.
Nessa berusaha membuat Kayla yakin dengan pilihannya, hingga tak akan menyesal nantinya. Ia sungguh ingin melihat sahabat lamanya itu bahagia. Setelah pahitnya kehidupan yang pernah Kayla alami.
Hiruk pikuk akhir pekan di ibukota mulai ditemani guyuran hujan. Memberikan kesejukan di antara gersangnya suasana hati dan fikiran. Seolah memberikan harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.
...****************...
Malam mulai menyapa. Jutaan bintangpun bersembuyi dibalik pekatnya awan hitam yang menaungi langit ibukota. Menjadi pertanda bahwa sang langit akan segera menumpahkan setiap bulir kebaikannya pada sang bumi.
Malam mulai larut, kala seorang gadis kecil telah terlelap bersama boneka beruang kesayangannya. Dengan ditemani sang ayah tercinta sebagai pengantar tidurnya. Sang ayah lalu keluar kamar untuk menikmati malam.
"Belum tidur Kak?" Sapa Malik kala ia sampai di balkon rumah dan mendapati Ridwan sedang memandangi hujan yang turun.
"Oh kamu Lik. Belum. Kamu juga belum tidur?" Jawab Ridwan seraya memutar tubunya.
"Pengen lihat hujan Kak." Celetuk Malik. Mereka pun berdiri bersampingan di tepi balkon.
Diam. Hening. Hanya suara tetesan hujan yang setia menemani dan bernyanyi riang tatkala jatuh ke atas apapun yang ditemuinya.
"Maaf untuk waktu itu!" Ucap Ridwan seraya menoleh pada sang adik.
"Untuk apa Kak?" Tanya Malik bingung.
"Maaf aku tak menepati ucapanku! Maaf, aku juga jatuh hati pada Kayla." Jujur Ridwan. Hal itu sungguh mengusik hati dan fikiran Ridwan. Tatapannya kosong menatap bulir-bulir hujan
"Hhaha, kamu ada-ada saja Kak. Apa salahnya jatuh cinta Kak? Aku bahagia karena kamu akhirnya bisa membuka hati untuk orang lain selain Mbak Dewi."
Hati Malik bergetar miris. Ia sudah tahu bahwa ini akan terjadi suatu saat. Tapi ia tak menyangka jika secepat ini.
Hening kembali menyapa.
"Perjuangkan Kayla,,"
Kalimat itu terlontar bersamaan dari mulut dua laki-laki yang sama-sama sedang menikmati hawa dingin karena hujan sedang turun. Mereka saling bertukar pandang.
"Apa-apaan kalian ini? Hah?" Suara seseorang membuyarkan pandangan dua laki-laki yang terpaut usia empat tahun itu.
"Mama?"
Ridwan dan Malik sama-sama terkejut. Mereka tak menyadari kehadiran Diana yang sejak tadi mengamati dari belakang.
"Apa-apaan kalian? Apa maksud ucapan kalian tadi?" Diana mulai kesal karena mendengar ucapan dua putranya itu.
"Jawab Mama!" Bentak Diana.
Ridwan dan Malik masih diam. Mereka tak tahu harus bagaimana mengungkapkan isi hati mereka pada sang ibu yang sudah dalam mode galak.
"Mama sudah bahagia akhirnya kalian bisa kembali jatuh cinta, meski pada orang yang sama. Mama pun tak masalah siapapun nanti yang akhirnya menikah dengan Kayla. Tapi, apa sekarang? Kalian bahkan mundur sebelum berperang."
"Bukan begitu Ma maksud Ridwan."
"Lalu?" Diana masih bersungut kesal pada tingkah dua putranya itu.
"Kemarin, bisa-bisanya ngelamar Kayla bersamaan. Dan sekarang, mau nglepasin juga sama-sama?"
"Malik nggak tega Ma lihat Kinara. Dia butuh ibu. Selama ini, dia nggak pernah bisa dekat dengan wanita manapun, kecuali Kayla."
Ada yang berdarah, tapi tak nampak oleh mata. Itu ungkapan kecil untuk menggambarkan hati Malik saat ini.
"Ridwan nggak bisa Ma mengingkari ucapan Ridwan sendiri. Lagi pula, Kayla pastinya lebih cocok bersanding dengan Malik."
"Kalian sudah tanya pendapat Kayla?"
Jleb. Ridwan dan Malik terpaku. Mereka bahkan tak mengetahui bagaimana isi hati Kayla. Karena, selama ini Kayla terlihat biasa-biasa saja dan memperlakukan mereka dengan sama dan adil. Tak pernah berpihak pada salah satu.
Cinta memang terkadang membuat kita menjadi bodoh dan tak bisa berfikir jernih dan rasional. Hanya mengedepankan perasaan kita sendiri. Memenangkan ego kita sendiri, demi suatu hal yang kita inginkan. Entah untuk kebaikam kita sendiri atau hanya agar nampak baik dimata orang lain.
sebel lm2 sm keyla
uda diperjuangin pn gak mau
pakek2 sujud segala
sujud itu cm utk allah
gak jmpa hari ini kn msi ada hri esok