NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: "Kamu Lihat, ya?"

Pintu terbuka selebar satu telapak tangan.

Arkan berdiri di ambang kamar mandi, masih mengenakan seragam lengkap. Tatapannya jatuh pada siluet di balik kaca buram, lalu seketika beralih ke dinding.

"Maaf."

Pintu langsung tertutup lagi.

Laras mematikan shower dengan tangan gemetar. Uap panas memenuhi wajahnya, tetapi rasa panas yang menjalar sampai leher sama sekali bukan karena air. Ia membungkus tubuh dengan handuk dan berdiri tanpa bergerak selama beberapa detik.

Di luar, tidak ada suara langkah menjauh.

"Arkan?"

"Iya."

"Kamu masih di depan pintu?"

Hening sesaat. "Aku memastikan kamu nggak jatuh karena kaget."

Alasan itu terdengar dibuat-buat. Laras menggigit bibir untuk menahan senyum yang muncul di tengah rasa malu.

"Tunggu di ruang tamu."

"Baik."

Kali ini langkah Arkan benar-benar menjauh.

Laras menyelesaikan mandi secepat mungkin, mengenakan blus lengan panjang dan celana kain, lalu mengeringkan rambut seadanya. Ketika keluar, Arkan berdiri di dekat sofa sambil melepas wing badge dari seragamnya. Wajahnya tampak tenang seperti biasa.

Hanya telinganya yang sedikit merah.

Laras berhenti di lorong. Keberanian aneh muncul karena melihat satu-satunya tanda bahwa Arkan tidak setenang penampilannya.

"Kamu lihat, ya?"

Jari Arkan berhenti di atas lencana.

"Kacanya buram."

"Tapi lihat?"

Arkan mengangkat tatapan. "Cuma bayangan. Aku langsung menutup pintu."

"Oh."

"Aku lupa shower utama rusak." Suaranya rendah dan serius. "Harusnya aku ketuk dulu. Maaf."

Permintaan maaf itu begitu lurus sehingga Laras justru merasa bersalah sudah menggodanya.

"Aku juga lupa mengunci pintu," katanya. "Jadi bukan cuma salahmu."

Arkan mengangguk, tetapi pikirannya tidak ikut tenang. Kaca itu memang buram. Ia tidak melihat lebih dari garis bahu, rambut basah, dan gerakan Laras meraih handuk. Namun, bayangan singkat tersebut menolak pergi dari kepalanya.

"Besok aku panggil teknisi," katanya.

"Untuk shower?"

"Shower dan kunci pintu ini."

Laras mencoba memutar pengunci dari luar. Bagian logamnya memang longgar dan tidak selalu masuk sempurna. "Pantas tadi terasa sudah kukunci."

Arkan berjongkok untuk memeriksa gagang, menjaga tatapannya tetap pada sekrup. "Sebelum diperbaiki, kasih tanda kalau kamu pakai kamar mandi ini."

"Tanda apa?"

"Handuk di gagang. Apa saja."

"Atau kamu bisa mengetuk."

Arkan mendongak. Telinganya masih merah. "Aku akan mengetuk."

Jawaban patuh itu membuat Laras ingin tertawa, tetapi ia menahannya. Ia sudah cukup berani malam ini. Kalau terus menggoda, mungkin wajahnya sendiri akan lebih merah daripada Arkan.

Ia meletakkan wing badge di meja lebih keras daripada yang diperlukan.

"Katanya baru pulang malam," kata Laras, berusaha mengganti topik.

"Sektor terakhir dibatalkan karena rotasi pesawat berubah. Aku ikut penerbangan lebih awal sebagai penumpang."

"Kamu sudah makan?"

"Belum."

"Aku juga mau makan bersama tim. Kalau mau, ada makanan di kulkas."

Arkan memandang rambut Laras yang masih menetes ke kerah. "Aku antar."

"Nggak perlu."

"Kenapa?"

"Mas Bagas sama Rosa sebentar lagi lewat untuk menjemput."

"Batalkan."

Laras mengira ia salah dengar. "Apa?"

"Aku sudah di rumah. Aku bisa antar."

"Kalau kamu mengantar sampai restoran, semua orang akan tanya." Laras mengambil pengering rambut dari lemari. "Aku belum mau mengumumkan di kantor."

Rahang Arkan mengeras tipis. Ia teringat ucapan Kirana yang diceritakan Laras, tentang dunia penerbangan yang kecil dan kabar yang bergerak cepat. Ia memahami alasan untuk menjaga pekerjaan tetap terpisah.

Ia tetap tidak menyukai kenyataan bahwa akibat keputusan itu, Bagas bisa menjemput istrinya sementara ia harus tinggal di rumah.

"Rosa tahu," katanya.

"Rosa teman dekatku. Yang lain belum."

"Pak Bagas juga belum?"

"Belum."

Ponsel Laras bergetar.

Rosa:

Kami sudah dekat. Turun lima menit lagi.

Laras menunjukkan layar. "Mereka sudah sampai. Aku pergi dulu."

Arkan tidak menjawab. Ia hanya mengambil handuk kecil dari sandaran kursi dan meletakkannya di kepala Laras.

"Keringkan dulu. Jangan masuk mobil dengan rambut basah."

Gerakannya agak kasar, tetapi tangan yang mengusap handuk di atas kepala Laras justru berhati-hati. Laras berdiri diam, menatap kancing seragam di depan matanya.

"Aku bisa sendiri."

"Kalau bisa, dari tadi sudah kering."

Lima menit kemudian, Laras turun ke depan kompleks. Mobil Bagas berhenti dengan Rosa di kursi belakang dan dua rekan lain sudah menunggu. Laras duduk di depan karena tempat itu masih kosong.

Saat mobil bergerak, ia menoleh sekilas ke arah rumah. Arkan tidak terlihat di jendela, tetapi Laras merasa seolah tatapannya tetap mengikuti.

Restoran shabu-shabu ramai oleh suara percakapan dan uap kuah panas. Dua meja panjang sudah disatukan. Bagas duduk di ujung untuk memastikan pesanan semua orang tercatat, sementara Laras berada di tengah bersama Rosa dan rekan satu tim.

Pembicaraan berputar pada jadwal, trainee baru, dan rencana cuti salah satu rekan. Bagas beberapa kali meminta pelayan menambah kuah di sisi Laras karena posisi pancinya paling cepat surut. Ketika daging di dekat Laras habis, ia menggeser piring dari ujung meja tanpa banyak bicara.

Rosa memperhatikan semuanya.

"Pak Bagas hari ini perhatian banget sama kamu," bisiknya.

"Dia perhatian ke semua orang."

"Kuahku tinggal setengah dari tadi. Nggak ditambah."

"Panggil pelayan."

"Dagingku juga habis."

Laras mengambil satu piring dan meletakkannya di depan Rosa. "Sekarang cukup?"

Rosa tertawa kecil. "Kamu boleh pura-pura nggak sadar. Tapi suamimu jelas sadar."

"Jangan mulai lagi."

"Tadi di telepon suaranya berubah begitu dengar Pak Bagas."

Laras memasukkan jamur ke kuah. Ia tidak mau mengakui bahwa dirinya juga mendengar perubahan itu, atau bahwa rasa senang kecil telah tumbuh sejak Arkan menawarkan mengantar.

"Arkan cuma capek," katanya.

"Tentu. Capek dan cemburu."

Di rumah, Arkan sudah mandi dan berganti pakaian. Ia membuka kulkas, menutupnya lagi, lalu menerima pesan dari Reno yang mengajak makan di kawasan yang kebetulan hanya beberapa menit dari restoran tim Laras.

Reno:

Gue di dekat bandara. Mau makan atau mau jadi suami yang nunggu di rumah?

Arkan:

Lokasi.

Reno mengirim titik sebuah kedai kopi. Arkan mengambil kunci mobil.

Ia mengatakan pada dirinya bahwa ia memang hendak bertemu Reno. Restoran Laras hanya berada di jalur yang sama. Tidak ada alasan untuk memikirkan siapa yang akan mengantar Laras pulang setelah makan.

Empat puluh menit kemudian, Arkan duduk di kedai bersama Reno tetapi sudah tiga kali melihat jam.

"Kalau mau jemput istri, jemput saja," kata Reno. "Jangan bikin gue merasa sedang makan sama petugas parkir yang menghitung durasi."

"Aku nggak menjemput siapa-siapa."

"Bagus. Berarti pesan makan lagi."

Reno melambaikan menu, tetapi Arkan tidak melihatnya. Ponsel di atas meja menampilkan waktu dan tidak ada notifikasi baru.

"Istrimu makan sama siapa?" tanya Reno.

"Tim kantor."

"Terus masalahnya?"

"Nggak ada masalah."

"Ada satu orang yang lo nggak suka di tim itu?"

Arkan menatapnya dingin. Reno justru tersenyum semakin lebar.

"Gue kenal wajah itu. Dulu waktu Bimo dekat sama orang yang lo curigai nggak beres, muka lo sama persis. Bedanya sekarang bukan curiga soal keselamatan teman. Ini cemburu."

"Kamu terlalu banyak bicara."

"Dan lo terlalu banyak lihat jam."

Arkan mengambil gelas kopi. Ia tidak menjelaskan siapa Bagas atau mengapa perhatian senior itu membuatnya kesal. Mengucapkan nama laki-laki tersebut kepada Reno hanya akan membuat dugaan itu terdengar semakin nyata.

"Kami kebetulan lewat restoran yang sama," katanya.

Reno melihat titik lokasi di ponselnya, lalu melihat Arkan. "Kedai ini tiga kilometer memutar dari jalan pulang lo. Kebetulan yang luar biasa."

Arkan menghabiskan kopi tanpa menjawab.

Arkan tidak memesan. Ia membayar kopi mereka, mengabaikan tawa Reno, lalu memindahkan mobil ke tepi jalan dekat restoran shabu-shabu.

Ia menelepon Laras.

"Halo?" Suara Laras bercampur percakapan ramai.

"Sudah selesai?"

"Hampir. Kenapa?"

"Aku di depan."

Laras berdiri begitu cepat hingga Rosa hampir terkena sandaran kursinya.

"Di depan restoran?"

"Iya. Keluar kalau sudah selesai."

"Aku pamit dulu," kata Laras kepada meja. "Ada yang menjemput."

"Siapa?" tanya seorang rekan.

Laras sempat terdiam. Rosa menatapnya dengan senyum yang sulit disembunyikan.

"Keluarga," jawab Laras akhirnya.

Bagas yang sedang memegang tagihan mengangkat kepala. "Saya bisa antar setelah ini."

"Nggak perlu, Pak. Sudah dekat. Terima kasih."

Ia mengambil tas, berpamitan, lalu berjalan cepat keluar. Begitu melihat mobil Arkan di seberang jalan, wajahnya langsung terang. Langkah cepatnya berubah hampir menjadi lari kecil ketika menyeberang di jalur aman.

Arkan membukakan kunci pintu dari dalam. "Pelan."

"Kupikir kamu makan di rumah."

"Reno mengajak keluar."

"Reno mana?"

"Sudah pulang."

Laras menahan senyum dan masuk ke mobil. Ia tahu Arkan tidak mungkin kebetulan berhenti tepat di depan restorannya setelah Reno pulang. Namun, ia tidak membongkar alasan itu. Diperlakukan seolah seseorang ingin merebutnya dari sebuah meja makan terasa terlalu manis untuk diperdebatkan.

Di seberang jalan, Bagas keluar beberapa menit kemudian. Ia berdiri di samping mobilnya sambil melihat Land Rover Arkan menyalakan lampu sein.

Tatapan Arkan bertemu dengannya melalui kaca spion.

Bagas tidak bergerak. Wajahnya tenang, tetapi kedua tangannya masuk ke saku celana dengan bahu yang sedikit kaku.

Arkan mengangkat satu sudut bibir, mengeluarkan dengusan pelan, lalu membawa mobil menjauh.

"Ada apa?" tanya Laras.

"Nggak ada."

Ia mengetuk kemudi dengan telunjuk. Beberapa lampu merah terlewati sebelum Arkan berbicara lagi.

"Teman-teman kantormu... belum tahu kamu sudah menikah?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!