NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Dua Karina di Matanya

Malam berikutnya, lampu-lampu SCBD menyala di bawah jendela kantor Sebastian.

Ia berdiri di depan kaca dengan satu tangan di saku. Lantai kantor sudah sepi. Reyhan pulang setelah menyerahkan laporan awal tentang Vincent, sementara beberapa dokumen restrukturisasi masih terbuka di meja.

Namun yang memenuhi pikiran Sebastian bukan perusahaan.

Karina lama menyukai makanan pedas, membenci desa, dan menilai setiap orang dari manfaat yang bisa diberikan. Dalam kehidupan sebelumnya, perempuan itu menggunakan kemarahan seperti pisau. Nathan dan Lucas menjadi sasaran termudah karena mereka kecil, takut, dan tidak memiliki tempat lain untuk pergi.

Sebastian masih mengingat laporan yang terlambat, rumah sunyi, dan akibat yang tidak bisa diubah.

Karina sekarang menghindari sambal sebelum mencicipinya. Ia menolak dua ratus juta kepada Kevin meski bisa saja menggunakan nama Wijaya untuk terlihat berkuasa. Ia berdiri membela Meilani bukan karena ingin mendapat keuntungan, tetapi karena tidak tahan melihat seorang ibu dipermalukan anak-anaknya sendiri.

Ia membawa koper menuju pintu belakang, tetapi di dalamnya ada pakaian Nathan dan Lucas.

Bahkan ketika hendak pergi, perempuan itu tidak merencanakan hidup tanpa kedua anak.

Dua sosok Karina berada di wajah yang sama, tetapi semakin hari semakin mustahil ditumpuk menjadi satu.

Sebastian mengeluarkan amplop kecil dari laci. Sampel rambut yang diambil malam itu telah disimpan sesuai prosedur, tetapi belum ada hasil yang dapat menjelaskan perubahan watak, kebiasaan, pengetahuan, atau cara seseorang memandang anak-anak.

Tes apa pun mungkin hanya membuktikan tubuh yang sama.

Ia membutuhkan jawaban tentang orang di dalamnya.

Sebastian menatap pantulan dirinya pada kaca. "Kalau kamu memang berubah... kenapa baru sekarang aku sadar?"

Pertanyaan itu tenggelam di antara suara pendingin ruangan dan lalu lintas jauh di bawah.

Ada penyesalan di dalamnya. Bukan hanya karena kehidupan pertama. Ia juga menyesali setiap kali dalam kehidupan ini memilih curiga sebelum melihat, menguji sebelum mendengar, dan hampir mengulang keterlambatan dengan bentuk berbeda.

Namun percaya sepenuhnya masih terasa seperti berdiri di tepi jurang.

Sebastian meninggalkan kantor tidak lama kemudian.

Pukul delapan malam, ia sudah berada di ruang kerja Kediaman Wijaya. Hujan tidak turun, tetapi kaki kirinya masih terasa berat setelah terlalu lama duduk di mobil. Ia menaruh dokumen di meja dan baru membuka laptop ketika terdengar ketukan.

"Masuk."

Karina muncul dengan HP di tangan. Anak-anak sudah tidur setelah hari sekolah, dan lorong di belakangnya sunyi.

"Ada waktu?" tanyanya.

"Ada."

Karina duduk di kursi depan meja. Jemarinya meremas ujung bajunya sebelum ia sadar dan melepaskan.

"Saya mau pinjam uang."

Sebastian menutup laptop. "Untuk apa?"

"Bantu Tante Mei membuka usaha kecil. Kedai makanan atau kue." Karina menunjukkan pesan Tuti dan satu iklan singkat yang diteruskan oleh pegawai dapur. "Ada tempat dekat sini yang katanya mau dialihkan murah karena pemiliknya pindah. Saya belum lihat dan belum tahu datanya benar atau tidak."

"Berapa yang kamu butuhkan?"

"Belum tahu. Saya ingin periksa tempatnya dulu." Karina menarik napas. "Kalau cocok, saya pinjam dari Anda. Saya yang menjamin dan membayar kembali pelan-pelan setelah punya penghasilan. Bukan uang Tante Mei, dan bukan hadiah untuk Kevin atau Jessica."

"Tante Mei sudah setuju membuka kedai?"

"Belum. Saya nggak mau memberi harapan sebelum tahu tempatnya nyata." Karina menggeleng. "Kalau hasil pemeriksaan baik, saya ajak beliau melihat dan memutuskan sendiri. Kalau beliau tidak mau, kita berhenti. Saya ingin memberi pilihan, bukan mengganti tekanan anak-anaknya dengan keputusan saya."

Sebastian mengangguk kecil. "Bagus. Mulai dari pemeriksaan terlebih dahulu, bukan janji."

Sebastian hampir langsung menjawab, tetapi ia mengambil HP Karina dan membaca iklan tersebut lebih dulu.

Alamatnya di BSD. Foto depan ruko tidak memperlihatkan nomor unit dengan jelas. Harga yang disebutkan tampaknya hanya biaya pengalihan usaha, bukan harga bangunan.

"Saya pinjamkan," katanya.

Karina menatapnya. "Begitu saja?"

"Bukan begitu saja. Reyhan akan memeriksa siapa pemilik bangunan, apakah ini sewa atau hak milik, sisa masa kontrak, tunggakan, izin usaha, dan kondisi tempat. Kamu tetap lihat sendiri sebelum memutuskan."

"Anda nggak keberatan saya memakai uang untuk keluarga saya?"

"Kamu meminta pinjaman untuk rencana yang bisa diperiksa, bukan dua ratus juta untuk usaha 'macam-macam'."

Karina hampir tersenyum mendengar sindiran itu.

Sebastian mengembalikan HP. "Kalau jadi, kontrak atau badan usahanya atas nama Tante Mei sesuai kondisi hukum yang tepat. Rekening operasional juga terpisah. Jangan beri akses kepada Kevin atau Jessica hanya karena mereka anaknya."

Karina terdiam.

Ia sudah memikirkan risiko kedua sepupunya meminta uang lagi, tetapi Sebastian bergerak satu langkah lebih jauh. Ia melindungi kepemilikan Meilani sebelum satu rupiah pun keluar.

"Jangan bilang kepada mereka sampai semuanya jelas," lanjut Sebastian. "Biarkan Tante Mei punya usaha sendiri, bukan sesuatu yang bisa mereka ambil lagi."

"Kenapa Anda memikirkan sampai sejauh itu?"

"Karena kalau tidak, kita hanya memindahkan uang dari satu masalah ke masalah berikutnya."

Jawaban itu praktis. Namun Karina tahu tidak semua orang akan meluangkan waktu memikirkan cara melindungi tante dari anak-anaknya sendiri.

"Terima kasih," katanya pelan.

"Belum ada yang dibeli. Tunggu hasil pemeriksaan."

"Tetap saja, terima kasih karena mau percaya saya akan membayar."

Sebastian memandangnya. Ia bisa mengatakan uang itu tidak penting. Bisa pula mengatakan pengembalian tidak perlu. Namun Karina meminta pinjaman karena ingin tetap memiliki tanggung jawab dan kendali. Mengubahnya menjadi pemberian hanya akan merampas bagian tersebut.

"Kita buat catatan pinjaman yang jelas," katanya. "Jumlah dan cicilan ditentukan setelah kamu punya pemasukan."

Bahu Karina turun sedikit. "Itu lebih baik."

Ia berdiri hendak pergi. Sebastian mengambil teko di sisi meja dan menuang air hangat ke dalam cangkir tebal.

"Bawa ini."

Karina menerimanya dengan bingung. "Saya bisa ambil air di kamar."

"Kamu kelihatan belum minum sejak makan malam."

Ia memang terlalu sibuk membaca pesan Tuti sampai lupa.

Sebastian membuka laptop kembali, tetapi sebelum Karina mencapai pintu ia berbicara lagi.

"Jangan terlalu memaksa diri menanggung semuanya."

Karina menoleh. Wajah Sebastian sudah kembali menghadap layar, seolah kalimat tersebut tidak penting.

Namun saat berjalan keluar, kata-kata itu terus berulang di kepala Karina.

Jangan terlalu memaksa diri.

Untuk seseorang yang pernah memilih pergi diam-diam karena yakin hanya dirinya yang dapat menyelamatkan semua orang, kalimat itu terasa lebih dekat daripada seharusnya.

Karina menuruni dua anak tangga menuju koridor utama sambil memegang cangkir. Ia masih memikirkan Sebastian, Tante Mei, dan kemungkinan kedai kecil yang benar-benar menjadi milik mereka sendiri.

Telapak kakinya tidak menemukan anak tangga terakhir.

Tubuh Karina terlempar ke depan.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!