Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vanessa Menghilang Sebelum Dapat Diberi Pelajaran
Bab 17
Suasana di ruang tamu yang megah itu masih hening membekap seketika setelah aku selesai menceritakan semuanya dan meletakkan tumpukan bukti terakhir di atas meja kaca yang berkilau terkena cahaya lampu gantung yang besar. Ayah dan Ibu serta ketiga kakakku masih terpaku memandang tumpukan kertas kertas yang tersusun rapi di hadapan mereka. Wajah mereka perlahan berubah dari kebingungan menjadi keterkejutan yang dalam lalu berubah menjadi pucat pasi seolah olah baru saja mereka sadar bahwa tanah di bawah kaki mereka selama ini hanyalah lapisan tipis yang menutupi jurang yang dalam dan gelap. Tidak ada satu orang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun seolah olah dengan mengucapkan kata kata itu kenyataan yang menyakitkan ini akan menjadi semakin nyata dan semakin tidak bisa diubah lagi.
Yang pertama bergerak adalah Kakak Dika yang mengambil selembar demi selembar dokumen itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membaca satu halaman lalu halaman yang lain lalu meneruskannya kepada Kakak Rizky yang duduk di sebelahnya. Mereka membaca dengan napas yang tertahan semakin lama wajah mereka semakin berkerut dan mata mereka semakin terbelalak seolah olah setiap baris kalimat yang mereka baca seperti pukulan berat yang menghantam dada mereka satu demi satu. Ayah juga mulai mengambil dokumen dokumen yang berhubungan dengan urusan keuangannya membaca nama nama yang tertulis di sana dan mengenali tanda tangan tanda tangan yang selama ini ia percayai namun ternyata adalah tanda tangan orang orang yang mengkhianatinya. Wajahnya berubah pucat lalu perlahan berubah menjadi merah padam karena rasa malu dan marah yang meluap luap namun ia tetap diam seolah olah kehilangan kata kata yang harus diucapkan.
Saat mereka semua masih sibuk membaca dan membandingkan bukti bukti itu satu sama lain tiba tiba Kakak Arka menyadari sesuatu yang penting dan segera menoleh ke arah kursi tempat Vanessa duduk sedari tadi. Kursi itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Selama kami semua sibuk terpaku pada kenyataan yang baru saja terungkap di hadapan mata kami Vanessa telah menghilang tanpa ada yang menyadari kapan tepatnya ia pergi. Keheningan yang tadi penuh dengan keterkejutan kini berubah menjadi kegelisahan yang mendesak. Ayah segera berdiri dengan kasar hingga kursi di belakangnya terjatuh ke lantai dengan bunyi yang keras dan berteriak ke segala arah panggil Vanessa sekarang juga! Cari dia di seluruh bagian rumah! Jangan biarkan dia pergi dari sini!
Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan segera berlari ke segala arah mencari keberadaan Vanessa di setiap ruangan di lantai atas lantai bawah halaman belakang dan gudang tua tempat ia sering bertemu dengan orang asing itu. Namun tidak ada satu orang pun yang menemukannya. Pintu gerbang utama rumah yang seharusnya selalu dijaga ternyata sudah dibuka dari dalam dengan kunci yang entah bagaimana caranya sempat ia pinjam atau dibuat duplikatnya tanpa diketahui oleh siapa pun. Penjaga gerbang yang seharusnya bertugas ternyata sudah diberi uang yang cukup banyak agar ia pergi dari tempatnya selama beberapa jam hari itu sehingga tidak ada yang melihat siapa yang keluar atau masuk ke dalam rumah pada jam yang penting itu.
Aku segera berlari ke ruang kerja Ayah dan menuju ke ruangan bawah tanah yang tersembunyi di balik lantai papan itu. Sesampainya di sana aku melihat tempat yang dulu penuh dengan tumpukan dokumen dokumen penting itu kini sudah kosong melompong. Semua berkas yang tersisa di sana sudah dibawa pergi habis habisan seolah olah ia tahu persis bagian mana yang masih tersisa dan harus diambil sebelum ia pergi meninggalkan rumah ini untuk selamanya. Di lantai yang berdebu di sudut ruangan yang gelap itu aku menemukan selembar kertas kecil yang tergeletak sendirian seolah olah sengaja ditinggalkan di sana untukku. Di atas kertas itu tertulis tulisan tangan yang tajam dan rapi yang aku kenal sebagai tulisan tangan Vanessa yang selama ini sering kulihat di atas pesan pesan yang dulu sering ia tulis untuk seluruh keluarga. Tertulis di sana kau memang lebih pintar dari yang kukira Maya. Kau berhasil menghancurkan rencana yang sudah kami susun selama bertahun tahun dengan susah payah. Namun kau tidak akan pernah bisa menangkapku. Apa yang kami inginkan sebagian sudah kami miliki dan sisanya akan kami selesaikan dari tempat yang jauh dari jangkauan kalian. Ini belum berakhir. Kita akan bertemu lagi di tempat di mana tidak ada satu orang pun yang bisa melindungimu lagi.
Aku membawa kertas itu kembali ke ruang tamu dan memperlihatkannya kepada mereka semua. Membaca tulisan itu membuat wajah mereka semakin terlihat putus asa dan marah sekaligus malu yang tidak terkira besarnya. Mereka menyadari bahwa gadis yang selama ini mereka sayangi dan percayai ternyata bukan hanya penipu yang cerdik tetapi juga orang yang berani dan kejam yang sudah merencanakan semuanya jauh sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah ini. Ia sudah lama bersiap untuk lari jika rencananya terancam dan ia sudah memastikan bahwa jalan keluarnya selalu terbuka setiap saat.
Ayah segera memerintahkan orang orang kepercayaannya untuk menyebarkan berita dan mencari tahu ke mana ia pergi dan siapa saja orang orang yang bekerja sama dengannya. Namun Alena yang datang tak lama kemudian berkata dengan wajah yang serius dan penuh kekhawatiran bahwa kelompok orang yang mengirimnya itu sudah berpengalaman dalam hal seperti ini. Begitu rencana mereka terancam mereka akan segera menarik orang yang terlibat dan menghilangkan semua jejak yang bisa mengarah kepada mereka. Sangat sulit untuk melacak ke mana ia pergi karena ia tidak menggunakan nama aslinya dan tidak ada satu pun dokumen yang menunjukkan identitas aslinya yang sah di mana pun. Ia seperti bayangan yang muncul dan menghilang tanpa meninggalkan jejak yang jelas di dunia ini.
Malam itu suasana di rumah berubah sepenuhnya. Tidak ada tawa tidak ada percakapan yang hangat dan tidak ada lagi kehangatan yang tersisa di ruangan yang dulu penuh dengan kebahagiaan itu. Ayah duduk sendirian di kursi besarnya dengan wajah yang tampak bertambah tua bertahun tahun dalam waktu yang sangat singkat. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya seolah olah beban penyesalan yang ia pikul terlalu berat untuk dibawa oleh satu orang saja. Ibu duduk di sebelahnya dengan mata yang bengkak dan merah karena menangis terus menerus menatap lurus ke depan seolah olah masih tidak percaya dengan segala hal yang baru saja terjadi. Ketiga kakakku berdiri tidak jauh dari sana saling memandang namun tidak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka. Mereka semua menyadari betapa besarnya kesalahan yang telah mereka perbuat betapa butanya mata mereka selama ini dan betapa banyaknya kesempatan yang telah mereka buang begitu saja untuk mendengarkan penjelasanku yang dulu selalu mereka tolak dengan kasar.
Aku berdiri di ambang pintu ruangan itu memandang mereka semua dari jarak yang agak jauh. Hatiku terasa bercampur aduk antara rasa lega bahwa kebenaran akhirnya terungkap dan rasa sedih yang mendalam karena kebenaran itu terungkap dengan cara yang menyakitkan dan dengan harga yang sangat mahal. Vanessa sudah pergi namun ia pergi membawa sebagian harta dan kepercayaan yang hilang dan meninggalkan luka yang dalam di hati setiap orang yang tinggal di rumah ini. Ia pergi sebelum sempat menerima balasan atas segala perbuatannya sebelum sempat melihat wajahnya yang penuh kemenangan berubah menjadi wajah yang penuh kekalahan dan penyesalan. Namun aku tahu bahwa meskipun ia pergi jauh kejahatannya belum tentu berakhir di sana. Ancaman yang tertulis di atas kertas kecil yang ditinggalkannya itu masih terngiang di telingaku seolah olah kata kata itu baru saja diucapkan kemarin sore.
Aku berjalan perlahan meninggalkan mereka yang masih terperangkap dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam menuju kembali ke kamarku yang kecil di bagian belakang rumah. Tempat yang selama ini menjadi tempat pengasinganku kini terasa seperti tempat yang paling aman dan paling tenang di seluruh rumah yang besar ini. Di dalam sana aku menyimpan buku catatanku yang tebal itu di tempatnya yang paling aman. Buku yang menjadi saksi bisu atas segala hal yang terjadi sejak hari pertama gadis asing itu datang ke rumah ini. Buku yang menjadi satu satunya alasan mengapa kebenaran bisa terungkap hari ini meskipun terlambat dan meskipun musuh sempat melarikan diri sebelum dihukum atas segala kejahatannya. Aku tahu bahwa ini belum berakhir seperti yang dikatakannya sendiri. Namun kali ini aku tidak lagi sendirian. Mereka semua kini tahu kebenaran dan mereka tahu bahwa bahaya masih mengancam dari luar. Pertarungan yang sesungguhnya mungkin baru saja dimulai namun kali ini kami berdiri di pihak yang benar dengan mata yang terbuka lebar dan hati yang tidak lagi terpecah belah oleh kebohongan.
Bersambung...