NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Kembali Ke Benteng

Kubah kaca Akuarium Fujimi yang megah kini berada di bawah bayang-bayang kehancuran. Air laut yang tergenang di lantai perlahan menyurut, menyisakan jejak-jejak lendir, bangkai monster mutan, dan pecahan kaca yang berserakan.

Di tengah-tengah reruntuhan itu, Thomas berdiri tegak setelah menyingkirkan beberapa reruntuhan.

Ia memejamkan mata sejenak, merasakan aliran energi yang kini bersirkulasi sempurna di dalam jaringan tubuhnya. Dua kekuatan eksklusif biota laut langka yang telah menyatu dalam genetiknya: Regenerasi Abadi dari Bintang Laut Merah dan Eksoskeleton Chitin Berdaya Hancur Eksplosif dari Udang Mantis Pasifik.

Dengan pikiran ringan, Thomas memfokuskan nalurinya ke kedua tangannya.

SZZZT... KRAAK!

Seketika itu juga, jaringan kulit dari siku hingga ujung jarinya menghitam, memunculkan lapisan exoskeleton chitin tebal berujung emas berkilau yang menyelimuti lengannya bagaikan sarung tangan tempur legendaris. Ia mengibaskan tangannya, dan lapisan pelindung organik sekeras baja tempaan itu menyusup kembali ke bawah kulitnya dengan mulus.

Tanpa perlu membawa machete baja perisai atau pistol speargun yang berat, Thomas melangkah keluar dari area akuarium. Thomas merasa tubuhnya adalah senjata paling mematikan yang ada di muka bumi saat ini.

VROOOOM...

Kendaraan taktis berarmor tebal milik Thomas meraung membelah jalan raya pesisir, meninggalkan kabut biru dan aroma amis pantai. Perjalanan kembali menuju pegunungan terasa jauh lebih cepat. Di sepanjang jalan, zombie-zombie manusia yang mencoba mendekati kendaraannya tak lagi ia hiraukan; mereka hanyalah semut yang terlindas roda militernya.

Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat, kendaraan taktis itu tiba di gerbang utama Fortress Mansion.

BZZZT... KLIK!

Sistem pertahanan otomatis mengenali sinyal biometrik Thomas. Gerbang baja raksasa terbuka lebar, lalu dengan cepat terkunci rapat kembali saat ia parkir di garasi bawah tanah.

Thomas melangkah masuk ke ruang kontrol utama bentengnya. Ia menyeduh secangkir kopi susu hangat (entah kenapa tapi mungkin karena saya masih muda, perasaan saat menyeruput kopi susu itu begitu nikmat dan bikin ketagihan, tidak lupa 'ahhh~' setelah menelan wkwkwkwk)

Lalu Thomas mendudukkan tubuhnya di kursi kulit yang nyaman di depan deretan layar monitor.

Ia menekan tombol pemutar rekaman CCTV perimeter luar selama ia pergi.

Di layar monitor, terlihat pemandangan lereng pegunungan di bawah bentengnya. Rombongan SMA Fujimi ternyata tidak semuanya tewas dalam tragedi pondok kayu semalam.

Melalui rekaman kamera inframerah, terlihat Takashi Komuro dengan baju robek dan bahu terbalut kain kotor, berjalan menyeret kakinya sembari memapah Rei Miyamoto yang hampir pingsan karena dehidrasi dan kelaparan. Di belakang mereka, Saya Takagi merangkak lemah, sementara Kohta Hirano berbaring terlentang di semak-semak, terlalu lemas bahkan hanya untuk mengusir lalat yang mengelilinginya.

Shido Koichi sang guru manipulatif terlihat bersembunyi di balik pohon tua tak jauh dari mereka, matanya liar memandangi gerbang benteng Thomas dengan kesedihan dan amarah yang mendalam.

Mereka telah kehabisan segalanya: makanan, air, amunisi, dan martabat. Mereka kini tak ubahnya bangkai bernapas yang tinggal menunggu waktu untuk dijemput maut.

Thomas menyesap kopinya pelan, menikmati rasa pahit dan hangat yang mengalir di tenggorokannya. Wajahnya yang dingin terpantul di layar monitor yang gelap.

"Dunia lama telah hancur bersama aturan moral bodoh kalian," bisik Thomas dingin sembari mematikan layar pengawas, membiarkan kegelapan malam membungkus para penyintas di luar sana. "Dan di dunia baru ini... aku adalah hukumnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!