NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Luka di Wajah

“Saya tidak pernah meminta Anda datang ke Pondok Indah.”

Suara Damar terdengar jelas dari pengeras ponsel. Anindya berdiri di ruang keamanan Klub Enggar bersama Sisi, satu jam sebelum waktu yang tertulis pada pesan anonim.

“Ibu Anda memesan ruang privat di restoran itu,” kata Anindya.

Damar terdiam sesaat. “Jangan masuk.”

“Saya belum memutuskan.”

“Saya sudah meninggalkan rumah. Kalau Ibu memakai nama saya untuk memancing Anda, tidak ada pembicaraan baik di baliknya.”

“Apakah beliau pernah melakukan kekerasan?”

“Tidak yang saya ketahui. Tapi kontrolnya baru saja gagal. Saya tidak bisa menjamin bagaimana reaksinya.”

Anindya mengakhiri telepon setelah meminta Damar tidak mendatangi restoran. Kehadirannya bisa mengubah tekanan menjadi pertengkaran keluarga yang lebih sulit dikendalikan.

Sisi menampilkan hasil pemeriksaan. Reservasi dibuat oleh asisten Bu Herlina untuk pukul tiga. Amara masuk daftar tamu tambahan pagi itu. Kamera koridor kontrakan menangkap pengantar surat memakai topi dan masker, tetapi kendaraan yang dipakainya terlacak sebagai mobil sewaan yang dibayar tunai.

“Kita sudah tahu ini jebakan,” kata Sisi. “Tidak ada alasan masuk.”

“Kalau saya tidak datang, mereka akan memilih tempat dan waktu lain. Hari ini kita tahu ruangnya, orangnya, pintu keluar, dan kamera restoran.”

“Itu tidak membuatnya aman.”

“Tidak. Hanya membuat risikonya bisa dibatasi.”

Mereka menyusun aturan. Dua petugas keamanan berlisensi menunggu di area umum restoran, bukan menyamar sebagai tamu di ruang privat. Lokasi Anindya dibagikan secara langsung. Tombol darurat pada ponselnya akan mengirim suara dan posisi kepada Sisi. Jika ia tidak menjawab pemeriksaan setiap lima menit atau mengucapkan kata yang disepakati, petugas masuk dan staf restoran menghubungi polisi.

Anindya juga meminta meja dekat pintu, bukan kursi di sudut. Restoran menyetujui setelah Sisi menjelaskan ada kekhawatiran keselamatan tanpa meminta data tamu lain.

“Dua puluh menit,” kata Sisi. “Tidak lebih.”

“Sepuluh kalau mereka menolak pintu tetap tidak terkunci.”

Pukul tiga kurang dua menit, Anindya memasuki restoran di Pondok Indah.

Bu Herlina sudah duduk di dalam ruang privat. Amara berada di sisi lain meja, mengenakan blus putih dan ekspresi seolah pertemuan itu terjadi secara kebetulan.

Pintu tetap terbuka beberapa sentimeter sesuai permintaan Anindya.

“Jadi kamu datang,” kata Herlina.

“Anda memakai nama Damar. Saya sudah mengonfirmasi bahwa dia tidak tahu.”

Wajah Herlina berubah. “Kamu meneleponnya?”

“Tentu.”

“Lihat, Bu,” sela Amara. “Dia selalu memastikan semua laki-laki membelanya.”

Anindya duduk di kursi paling dekat pintu. Ponselnya diletakkan di atas meja dengan layar menghadap bawah, lokasi dan saluran darurat tetap aktif.

“Apa yang ingin Anda bicarakan?”

Herlina mendorong satu map ke arahnya. Isinya salinan foto Damar di atelier, daftar acara KIMI, dan artikel tentang Arka.

“Jauhkan dirimu dari anak saya.”

“Saya sudah mengatakan kepada Damar bahwa undangan makan malamnya belum saya jawab.”

“Belum dijawab berarti kamu sengaja membuatnya menunggu.”

“Itu berarti belum dijawab.”

“Dia meninggalkan rumah karena kamu.”

“Dia meninggalkan rumah karena Anda mencoba menentukan hidupnya dengan fasilitas keluarga.”

Telapak Herlina menghantam meja. Gelas bergetar.

“Jangan mengajari saya tentang anak saya.”

“Kalau begitu, jangan meminta saya bertanggung jawab atas pilihannya.”

Amara menyandarkan tubuh ke depan. “Kak Anindya, kamu sudah membuat Arka mempermalukan keluarganya. Sekarang Damar memutus hubungan dengan ibunya. Berapa banyak rumah yang ingin kamu rusak?”

“Arka mengakui keputusan yang ia buat sendiri. Damar menetapkan batasnya sendiri. Kalian marah karena laki-laki dewasa tidak lagi mengikuti naskah kalian.”

Ponsel Anindya bergetar sekali. Pemeriksaan lima menit.

Ia menyentuh layar untuk menandakan aman.

Herlina melihat gerakan itu. “Kamu merekam kami?”

“Lokasi saya dipantau demi keselamatan. Saya tidak datang tanpa perlindungan.”

Amara segera berdiri dan menutup pintu.

Anindya ikut bangkit. “Buka kembali.”

“Kita belum selesai,” kata Amara.

“Kalau pintu ditutup, pertemuan selesai.”

Ia meraih gagang. Amara bergerak menghadang.

“Takut sekarang?”

“Saya sedang memberi kalian kesempatan terakhir untuk tidak membuat masalah ini menjadi laporan polisi.”

Wajah Amara mengeras. “Kamu pikir Klub Enggar bisa melindungimu dari semuanya?”

“Minggir.”

Anindya mengucapkan kata darurat yang telah disepakati.

Di luar, Sisi menerima peringatan. Dua petugas keamanan segera bergerak dari lobi menuju koridor ruang privat. Jaraknya kurang dari satu menit.

Di dalam, Amara meraih lengan Anindya. Anindya melepaskannya dan mundur satu langkah. Pinggulnya menyentuh sisi meja, membuat satu gelas jatuh ke lantai.

Pecahan kaca menyebar.

“Jangan sentuh saya,” kata Anindya.

Herlina berdiri di sisi meja, napasnya cepat. “Kamu datang ke sini, menghina saya, lalu mengancam polisi?”

“Saya datang karena Anda memakai nama anak Anda. Saya akan pergi sekarang.”

Anindya menggeser kursi untuk membuka jalan. Amara mendorong bahunya dari samping.

Gerakan itu tidak cukup keras untuk menjatuhkannya, tetapi bahu bekas cedera menghantam dinding. Nyeri menyambar. Anindya kehilangan keseimbangan dan tangannya menyapu baki logam di meja.

Herlina melihatnya bergerak ke arah pintu.

Sesuatu dalam wajahnya putus.

Ia membungkuk, mengambil bagian batang gelas yang pecah, lalu mengayunkannya tanpa rencana yang lebih panjang daripada amarah satu detik.

Anindya sempat memalingkan wajah.

Ujung kaca menyayat pipi kirinya.

Rasa panas datang lebih dulu. Kemudian darah mengalir menuju rahang.

Semua orang membeku.

Herlina menatap kaca di tangannya seolah benda itu milik orang lain.

Amara menjadi pucat. “Bu... apa yang Anda lakukan?”

Anindya menekan pipinya dengan serbet bersih. Tangannya gemetar, tetapi suaranya masih keluar.

“Jangan sentuh apa pun.”

Pintu terbuka keras. Dua petugas keamanan masuk bersama manajer restoran. Salah satu petugas memisahkan Herlina dari pecahan kaca tanpa menggunakan kekuatan berlebihan. Yang lain berdiri di depan Amara agar ia tidak mencapai pintu.

“Panggil ambulans dan polisi,” kata Anindya.

Manajer sudah menghubungi keduanya.

Amara menunjuk pintu. “Saya tidak melakukan itu.”

“Anda menutup pintu dan mendorong korban,” jawab petugas. “Tetap di tempat sampai polisi datang.”

Herlina menjatuhkan pecahan kaca ke atas meja. “Itu kecelakaan.”

“Jangan pindahkan barang bukti,” kata manajer.

Sisi masuk beberapa detik kemudian. Wajahnya berubah ketika melihat darah, tetapi ia tidak menyentuh Anindya sebelum bertanya.

“Boleh saya bantu menekan luka?”

Anindya mengangguk. Lututnya mulai lemas, lebih karena nyeri dan reaksi tubuh daripada kehilangan darah yang berat.

“Rekaman?” bisiknya.

“Saluran darurat menyimpan suara sejak kata pemicu. Kamera koridor merekam siapa masuk dan pintu ditutup. Restoran mengamankan rekaman asli.”

“Jangan unggah apa pun.”

“Tidak.”

Ambulans membawa Anindya ke RS Wira Medika. Sisi ikut setelah petugas lain mengambil alih koordinasi polisi di tempat kejadian. Herlina dan Amara tetap dimintai keterangan terpisah. Pecahan gelas, serbet berdarah, daftar reservasi, dan rekaman akses diamankan sesuai berita acara restoran.

Di instalasi gawat darurat, Dewa menerima panggilan tim sebelum ambulans tiba. Ia tidak menangani semuanya sendiri. Dokter jaga memeriksa jalan napas, tekanan darah, mata, saraf wajah, dan kemungkinan cedera bahu. Dewa menghubungi ahli bedah plastik yang sedang bertugas.

Seorang penyidik datang setelah kondisi Anindya dinyatakan stabil. Ia tidak memaksa mengambil keterangan panjang. Dengan persetujuan Anindya, petugas mencatat identitas, waktu kejadian, dan nama saksi, lalu menerbitkan permintaan resmi untuk visum et repertum.

Perawat forensik memotret luka sebelum dibersihkan dari beberapa sudut menggunakan skala ukuran. Pakaian yang terkena darah dimasukkan ke kantong terpisah, diberi label, dan tetap dicatat sebagai milik Anindya sampai polisi membuat berita penerimaan. Sisi menyerahkan salinan suara tombol darurat, tetapi menyimpan file asli dalam media yang tidak diedit untuk pemeriksaan digital.

“Saya ingin membuat laporan penuh setelah obat nyeri tidak lagi memengaruhi saya,” kata Anindya.

Penyidik mengangguk. “Kami ambil keterangan awal saja. Anda berhak didampingi kuasa hukum saat pemeriksaan lanjutan.”

“Pastikan restoran tidak menghapus rekaman otomatis.”

“Surat pengamanan data sudah dikirim.”

Baru setelah urusan itu selesai, tim membersihkan darah yang mengering di leher Anindya. Ketika perawat mengangkat cermin kecil untuk menunjukkan lokasi sayatan sebelum persetujuan tindakan, Anindya memalingkan wajah.

Ia telah melihat darah di kokpit, di Merapi, dan di ruang gawat darurat. Namun mengetahui luka itu membelah wajahnya menghadirkan ketakutan yang berbeda. Bukan hanya tentang penampilan. Wajah adalah bagian tubuh yang tidak bisa ia sembunyikan dari penumpang, kru, kamera, atau dirinya sendiri setiap pagi.

Dewa menurunkan cermin. “Anda tidak harus melihat sekarang.”

Anindya memejamkan mata sampai napasnya kembali teratur. “Jelaskan panjang dan kedalamannya. Jangan lembutkan fakta.”

Dokter bedah plastik menjelaskan ukuran, jaringan yang terkena, kemungkinan perubahan warna, dan tahapan perawatan. Tidak ada janji palsu, tetapi ada rencana yang bisa diikuti.

Sayatan berada di pipi kiri, tidak mengenai mata dan tidak memutus saraf utama. Setelah pembersihan menyeluruh dan persetujuan tindakan, dokter bedah melakukan penutupan berlapis dengan jahitan halus.

“Bekasnya tetap mungkin ada,” kata Dewa kepada Anindya sebelum tindakan. “Kita bisa mengurangi kedalaman dan warnanya dengan perawatan setelah luka stabil, tapi saya tidak akan menjanjikan kulit kembali tanpa jejak.”

Anindya menatap lampu di atasnya. “Lakukan yang aman.”

“Itu prioritasnya.”

Beberapa jam kemudian, ia dipindahkan ke ruang observasi. Pipi kirinya tertutup balutan tipis. Bahu yang terbentur tidak mengalami patah ulang, tetapi memerlukan evaluasi nyeri dan mungkin penyesuaian jadwal terbang.

Di luar ruang tindakan, Enggar tiba dengan wajah yang belum pernah dilihat Sisi sebelumnya. Ia mendengarkan laporan tanpa memotong: luka telah ditutup, fungsi mata dan saraf utama baik, bekas tipis mungkin menetap, respons trauma psikologis perlu dipantau.

Dewa baru hendak menjelaskan jadwal pemeriksaan berikutnya ketika ponsel Enggar berdering.

Nama Arkana muncul di layar.

Enggar menjawab.

Suara Arka terdengar bahkan sebelum ponsel ditempelkan penuh ke telinga.

“Dia di mana? Apa yang terjadi?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!