NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

BAB 4

Kemarahan Keluarga Patrick

Konvoi kendaraan hitam itu perlahan meninggalkan kawasan hotel.

Rolls-Royce yang membawa Alyssa bergerak tenang di tengah iring-iringan mobil pengawal. Dari balik kaca gelap, tak seorang pun dapat melihat siapa yang berada di dalamnya.

Di sisi lain kota...

Beberapa pria yang gagal menangkap Alyssa masih berdiri di area parkir hotel dengan wajah tegang.

Tidak ada lagi keberanian seperti beberapa menit yang lalu.

Yang tersisa hanyalah kecemasan.

Salah seorang dari mereka, Bram, menelan ludah berkali-kali sambil memandangi iring-iringan mobil yang semakin menjauh.

"Bos tidak akan memaafkan kita."

Pria berkumis tipis di sampingnya mengepalkan tangan.

"Kita bahkan tidak bisa mendekati mereka."

"Pengawal-pengawal itu bukan satpam biasa."

"Mereka bergerak seperti pasukan khusus."

Bram mengusap wajahnya.

"Aku sudah bilang tadi. Begitu tahu wanita itu masuk ke kamar lantai VIP, kita seharusnya mundur."

"Mana mungkin?"

"Kita sudah menerima uang muka."

"Kalau gagal..."

Kalimat itu terputus.

Tak seorang pun berani menyelesaikannya.

Mereka semua tahu siapa orang yang menunggu laporan mereka.

Seorang pria mengeluarkan ponselnya dengan tangan sedikit gemetar.

"Lapor sekarang?"

Bram mengangguk pelan.

"Tidak ada pilihan."

Nomor yang sangat jarang dihubungi itu akhirnya ditekan.

Baru berdering sekali...

Sambungan langsung diterima.

"Lapor."

Suara berat dari seberang terdengar dingin.

Bram menarik napas.

"Bos..."

"Gadis itu..."

"...kabur."

Keheningan.

Justru keheningan itulah yang membuat seluruh tubuh Bram berkeringat dingin.

"Ulangi."

"Gadis itu berhasil kabur."

"Kami sudah mengejarnya sampai hotel."

"Tapi..."

"Tapi apa?"

Bram menelan ludah.

"Dia masuk ke kamar seseorang."

"Seseorang?"

"Ya."

"Siapa?"

"Itulah masalahnya, Bos."

"Kami baru sadar kamar itu ternyata milik orang yang sangat berpengaruh."

Suara di seberang berubah lebih pelan.

"Teruskan."

"Seluruh hotel langsung ditutup."

"Puluhan pengawal muncul."

"Mereka mengawal wanita itu keluar."

"Kami tidak punya kesempatan mendekat."

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Kemudian...

"Datang."

Klik.

Telepon langsung diputus.

Bram memejamkan mata.

"Habis kita."

Satu jam kemudian.

Sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan tampak lengang dari luar.

Namun di balik pintu besinya...

Suasananya jauh berbeda.

Belasan pria berbadan besar berjaga di berbagai sudut.

Masing-masing memakai alat komunikasi.

Tak seorang pun berbicara lebih dari yang diperlukan.

Bram dan ketiga rekannya memasuki ruangan utama.

Jantung mereka berdetak semakin cepat.

Di ujung ruangan terdapat meja kayu besar.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun duduk dengan tenang di kursinya.

Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi.

Setelan jas abu-abu yang dikenakannya tampak sederhana.

Namun sorot matanya cukup membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.

Dialah...

Patrick Donovan.

Kepala keluarga Patrick.

Keluarga yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai jaringan kejahatan terorganisasi yang beroperasi di balik berbagai bisnis legal. Secara resmi mereka memiliki perusahaan logistik, pergudangan, dan ekspor-impor.

Namun di balik usaha-usaha itu, aparat penegak hukum telah lama mencurigai mereka sebagai dalang penyelundupan berbagai barang terlarang, meski belum pernah berhasil membuktikannya di pengadilan.

Patrick tidak pernah mengotori tangannya sendiri.

Ia selalu menggunakan orang lain.

Selalu menjaga jarak.

Selalu menghapus jejak.

Di sampingnya berdiri seorang pria muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun.

Wajahnya dingin.

Tatapannya tajam.

Dialah putra sulung Patrick.

Demian Donovan.

"Masuk."

Suara Patrick pelan.

Namun seluruh ruangan langsung hening.

Bram menundukkan kepala.

"Maaf, Tuan."

Patrick tidak segera menjawab.

Ia hanya memandangi mereka satu per satu.

"Kalian gagal."

Bukan pertanyaan.

Melainkan pernyataan.

"Ya."

Patrick mengetukkan jarinya perlahan di atas meja.

"Aku ingin mendengar alasannya."

Bram mulai menjelaskan semua yang terjadi.

Mulai dari pelarian Alyssa.

Pengejaran di lorong hotel.

Sampai kemunculan puluhan pengawal.

Demian menyela.

"Berapa jumlah mereka?"

"Sekitar empat puluh orang."

"Bersenjata?"

"Kami tidak melihat."

"Tapi disiplin mereka tinggi."

Patrick masih diam.

"Lalu?"

"Perempuan itu dibawa menggunakan Rolls-Royce hitam."

Demian saling berpandangan dengan ayahnya.

"Rolls-Royce?"

"Ya."

"Konvoi sekitar sepuluh kendaraan."

Patrick perlahan menyandarkan tubuhnya.

"Apakah kalian mengetahui identitas pria yang melindunginya?"

Bram menggeleng.

"Tidak, Tuan."

"Hanya saja..."

"Hanya apa?"

"Staf hotel memanggilnya 'Tuan'."

Demian mengernyit.

"Itu saja?"

"Hotel itu langsung dikosongkan sesuai perintahnya."

Patrick tidak lagi berbicara.

Ia mengambil sebuah map tipis dari meja.

Kemudian menyerahkannya kepada Demian.

"Buka."

Demian membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat daftar kepemilikan sejumlah perusahaan besar.

Salah satunya adalah jaringan hotel tempat Alyssa melarikan diri.

Demian membaca beberapa lembar.

Ekspresinya perlahan berubah.

"Ayah..."

Patrick mengangguk pelan.

"Kalau laporan mereka benar..."

"...berarti perempuan itu sekarang berada dalam perlindungan pemilik hotel tersebut."

Ruangan mendadak sunyi.

Bram tidak memahami maksud pembicaraan mereka.

Namun dari perubahan wajah Lucas, ia tahu situasinya jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan.

Di tempat lain...

Mariska mondar-mandir di ruang tamunya.

Telepon di tangannya terus bergetar.

Ia segera mengangkat.

"Halo?"

Suara Patrick terdengar dari seberang.

"Mariska."

Perempuan itu langsung menegakkan badan.

"Tuan Patrick."

"Gadis itu kabur."

Wajah Mariska langsung memucat.

"Apa?"

"Orang-orangmu gagal menjaganya."

Mariska mulai panik.

"Maaf..."

"Saya akan menemukannya lagi."

Patrick tidak menjawab permintaan maaf itu.

Ia justru bertanya,

"Di mana semua dokumen Alyssa?"

Mariska terdiam beberapa saat.

"Masih di rumah."

"Termasuk ijazah?"

"Ya."

"Akta kelahiran?"

"Ya."

Patrick menutup matanya sejenak.

"Jangan sentuh apa pun."

"Mulai hari ini..."

"...kau tidak melakukan tindakan sendiri."

Mariska mengangguk berkali-kali meski lawan bicaranya tidak dapat melihat.

"Baik."

"Lalu hutang saya..."

Patrick memotong.

"Hutangmu belum lunas."

Perempuan itu langsung membeku.

"Tapi saya sudah menyerahkan Alyssa..."

"Kau menjanjikan."

"Bukan menyerahkan."

Kalimat itu menusuk tepat ke jantung Mariska.

Patrick melanjutkan,

"Perjanjian kita sederhana."

"Utangmu dianggap selesai bila gadis itu benar-benar berada di tangan kami."

"Sekarang?"

"Ia justru hilang."

Mariska mulai gemetar.

"Tolong beri saya waktu."

Patrick tidak menunjukkan belas kasihan.

"Kau punya tujuh hari."

"Tuan..."

"Tujuh hari."

"Kalau gagal?"

Suara Patrick berubah semakin dingin.

"Maka utang itu kembali menjadi milikmu."

Klik.

Sambungan terputus.

Ponsel Mariska jatuh ke lantai.

Tubuhnya ikut terduduk lemas.

"Tidak..."

"Tidak mungkin..."

Air matanya mulai mengalir.

Bukan karena menyesali perbuatannya terhadap Alyssa.

Melainkan karena ketakutan.

Ia tahu betul seperti apa keluarga Patrick.

Orang-orang yang berutang kepada mereka jarang mendapat kesempatan kedua.

Malam mulai turun.

Di gudang yang sama, Patrick berdiri menghadap jendela.

Demian mendekat.

"Ayah."

Patrick tetap memandang ke luar.

"Apa pendapatmu?"

Demian menjawab hati-hati.

"Kalau pemilik hotel itu memutuskan melindungi Alyssa..."

"...kita tidak bisa bertindak gegabah."

Patrick mengangguk.

"Aku juga berpikir begitu."

"Jangan sentuh wilayahnya."

"Jangan buat keributan."

Demian menatap ayahnya.

"Lalu bagaimana?"

Patrick tersenyum tipis.

"Seseorang yang sedang melindungi orang lain..."

"...pasti akan membuat kesalahan."

"Kita tunggu."

"Amati."

"Dan cari tahu siapa sebenarnya gadis bernama Alyssa itu."

Demian mengangguk.

"Baik."

Patrick kembali menatap langit malam.

Entah mengapa...

Instingnya mengatakan bahwa gadis yang semula hanya dianggap bagian dari transaksi utang itu kini telah berubah menjadi pusat dari permainan yang jauh lebih besar.

Dan ia tidak menyukai kenyataan bahwa seorang perempuan muda berhasil mengacaukan rencana yang telah disusun selama berbulan-bulan.

Sementara itu, jauh dari gudang tersebut, konvoi Rolls-Royce terus melaju menuju sebuah mansion megah di pinggir kota.

Alyssa sama sekali belum mengetahui bahwa pelariannya bukan hanya membuat ibu tirinya panik.

Kini, ia juga telah menarik perhatian salah satu keluarga kriminal paling berbahaya di kota itu.

Dan sejak malam itu, namanya resmi masuk ke dalam daftar orang yang terus mereka cari.

"Kalau suka jangan diem-diem bae ya mpok ncing! Kasih ulasan dan komentar terbaik kalian! Mwahhh terimakasih" MHKaylid_

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!