NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Runtuhnya Paviliun dan Taring Sang Iblis

Pintu batu raksasa di ujung koridor meledak menjadi serpihan debu yang beterbangan. Ledakan qi berwarna emas murni menyapu seluruh ruang bawah tanah, menghancurkan meja giok dan merobek gulungan bambu menjadi serpihan kecil.

Dari balik asap tebal yang menyesakkan, sosok Jin Wuya melangkah masuk dengan aura yang mencekik. Jubah emasnya memancarkan cahaya yang menyilaukan, sangat kontras dengan kegelapan ruang altar yang berlumuran darah dan bau amis.

Wajah tuanya yang biasanya tenang dan penuh wibawa kini terdistorsi oleh amarah yang membabi buta. Aura ranah Pondasi Awal membanjiri ruangan, menekan udara hingga terasa seperti timah cair yang membakar paru-paru.

Lantai batu di bawah kaki Jin Wuya retak hanya karena bobot langkahnya yang berat. Ia datang dengan niat membunuh yang begitu pekat, cukup untuk membekukan darah dan menghentikan jantung kultivator biasa.

Namun, pandangan Jin Wuya langsung terkunci pada altar persembahan di tengah ruangan. Matanya membelalak lebar, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol seperti cacing yang menggeliat.

Telur Naga Iblis kebanggaannya, harapan satu-satunya untuk menembus ranah Inti Emas, kini tampak seperti batu arang yang keriput dan mati. Tidak ada lagi denyutan kehidupan, tidak ada lagi aura panas yang mendominasi ruangan.

"Apa... apa yang telah kau lakukan pada property-ku?!" raung Jin Wuya. Suaranya menggelegar, membawa gelombang kejut yang menghantam dinding gua dan meruntuhkan stalaktit raksasa.

Puluhan tahun perencanaan rahasia, ribuan nyawa tak berdosa yang ia korbankan, kini hancur lebur di depan matanya. Lin Tian masih berdiri di atas altar, pedang hijau bergeriginya meneteskan cairan korosif ke lantai batu.

Pemuda itu menatap Tetua Agung Sekte Pedang Perak tanpa rasa takut sedikit pun. Topeng besi Faksi Ular Berbisa sudah tergeletak di lantai, menampakkan wajah mudanya yang dingin, pucat, dan penuh luka.

"Aku hanya mengambil kembali apa yang kau curi, Jin Wuya," suara Lin Tian terdengar datar, namun menembus kebisingan aura emas di sekelilingnya. "Darah keluarga Lin bukan pupuk untuk monster peliharaanmu."

Jin Wuya terdiam sesaat, matanya meneliti wajah Lin Tian dengan saksama. Ingatan tentang pembantaian di Kota Qingshui kembali ke permukaannya, memancing tawa kecil yang terdengar gila dan mengerikan.

"Bocah keluarga Lin? Mustahil. Zhao Yan seharusnya sudah memusnahkan seluruh keturunan Penjaga Kunci hingga ke akar-akarnya!" ejek Jin Wuya, air liur menyembur dari bibirnya yang gemetar karena amarah.

"Zhao Yan gagal. Dan malam ini, kau juga akan gagal," balas Lin Tian. Ia melangkah turun dari altar, qi hitam berurat emas mulai menyelimuti tubuhnya seperti baju zirah tak kasat mata.

Hawa kematian yang ia pancarkan membuat suhu ruangan turun drastis, membekukan darah yang mengalir di parit-parit altar. "Sampah tetaplah sampah!" Jin Wuya meludah ke lantai, rasa kagetnya berubah menjadi hinaan.

"Meskipun kau menyerap sisa esensi telur itu, kau hanya bocah Pengumpulan Qi tingkat tiga. Aku akan merobekmu perlahan dan menyedot jiwamu untuk memberi makan anjing-anjingku!" ancam Jin Wuya.

Tetua Agung itu melesat maju, meninggalkan bayangan emas di belakangnya. Tinju kanannya mengembun menjadi kepala naga emas yang menganga, menargetkan langsung dada Lin Tian dengan kecepatan yang melanggar batas penglihatan.

Namun, Lin Tian tidak mencoba menghindari serangan mematikan itu. Ia tahu menghindari serangan Pondasi Awal hanya akan memberinya celah untuk diserang dari belakang oleh tekanan spiritual yang mengunci ruang.

Ia mengangkat pedang hijaunya, menebaskan bilah korosif itu tepat ke arah kepala naga emas yang menerjangnya. Benturan kedua energi itu menciptakan ledakan yang memekakkan telinga dan meruntuhkan langit-langit gua.

Pedang hijau Lin Tian terhenti, tidak mampu menembus qi padat milik Jin Wuya. Gelombang kejut melempar tubuh Lin Tian ke belakang, menabrak dinding altar hingga batu padat itu retak menjadi dua.

Jin Wuya tertawa meremehkan, namun tawanya terhenti saat ia melihat Lin Tian bangkit kembali. Jubah hitam Lin Tian hancur, tetapi kulit di dadanya hanya memar sedikit sebelum pulih dengan cepat.

Darah jantung naga purba telah memberinya ketahanan fisik yang melanggar hukum alam kultivasi. "Tubuh monster..." gumam Jin Wuya, matanya menyipit penuh kewaspadaan dan sedikit ketakutan yang tak ingin ia akui.

Ia menyadari bahwa bocah di depannya bukan kultivator normal. Energi hitam yang menyelimuti Lin Tian memiliki sifat menelan yang membuat qi emasnya terasa sedikit terkikis setiap kali mereka bersentuhan.

Tanpa membuang waktu, Jin Wuya melompat ke atas altar. Keserakahannya membutakannya sesaat; ia ingin memeriksa cangkang telur naga, berharap masih ada sisa cairan ketuban yang bisa ia serap.

Tepat saat telapak tangan Jin Wuya menyentuh cangkang telur yang keriput, racun korosif dari pedang Lin Tian yang tadi meresap ke dalam pori-pori cangkang langsung meledak keluar.

Asap hijau pekat menyembur deras, menyelimuti tangan kanan dan wajah Jin Wuya tanpa ampun. "Aaaargh!" Jin Wuya menjerit kesakitan, suaranya melengking seperti binatang yang sedang disembelih hidup-hidup.

Racun itu bukan racun biasa, melainkan racun yang telah bercampur dengan qi iblis pemakan energi. Kulit tangan kanannya langsung melepuh, dagingnya mendesis dan menampakkan tulang putih yang menghitam dengan cepat.

Lin Tian tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia melesat bagai panah hitam, muncul tepat di hadapan Jin Wuya yang sedang panik dan buta oleh rasa sakit yang menusuk saraf.

Tangan kirinya yang bercakar qi hitam langsung mencengkeram bahu kiri Jin Wuya, mencakar menembus jubah emas dan dagingnya hingga menyentuh tulang selangka. "Sekarang rasakan utang darah keluarga Lin!" geram Lin Tian.

Qi hitam berurat emas memaksa masuk ke dalam meridian Jin Wuya, mulai menggerogoti qi murni Tetua Agung itu dari dalam. Rasa sakit yang dialami Jin Wuya kini berlipat ganda, seolah darahnya sedang direbus.

Jin Wuya meraung, memukul dada Lin Tian dengan tangan kirinya yang masih utuh. Hentakan itu mematahkan tiga tulang rusuk Lin Tian, memaksanya melepaskan cengkeraman dan terpental jauh ke sudut ruangan.

Lin Tian memuntahkan darah kental, namun senyum dingin tetap terukir di bibirnya. "Kau... kau iblis sialan!" Jin Wuya terengah-engah, menatap tangan kanannya yang kini hanya tinggal kerangka hitam.

Rasa takut mulai merayap di hatinya. Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah pil merah darah yang memancarkan aura gila. Tanpa ragu, ia menelan pil terlarang itu untuk membakar umur dan jiwanya.

Matanya langsung berubah menjadi merah pekat, dan aura di sekitarnya meledak, menembus batas ranah Pondasi Awal. Tekanan spiritual yang baru ini begitu berat hingga lantai batu di sekitar Jin Wuya amblas ke bawah.

"Aku akan mengorbankan seluruh Sekte Pedang Perak malam ini jika harus, tapi kau harus mati!" teriak Jin Wuya. Pedang besar bermotif awan muncul di tangannya, memancarkan cahaya emas yang membakar udara.

Lin Tian perlahan bangkit, menyeka darah di bibirnya. Tulang rusuknya yang patah menusuk paru-paru, membuatnya bernapas dengan bunyi mengi yang basah. Namun, api di matanya justru menyala lebih terang.

"Kau ingin mengorbankan sekte ini?" Lin Tian mengangkat pedang hijaunya, membiarkan qi hitamnya menyatu dengan racun di bilah senjata tersebut. "Bagus. Karena aku memang berniat membakar seluruh gunung ini bersama bangkaimu."

Lin Tian menghentakkan kakinya ke lantai, mengaktifkan titik-titik lemah formasi pelindung ruangan yang telah ia hafal dari peta markas pengkhianat. Rune-rune biru di dinding gua tiba-tiba berkedip liar.

Cahaya rune itu berubah warna menjadi merah darah yang tidak stabil. Formasi pelindung Paviliun Pedang Suci mulai runtuh dari dalam, memicu reaksi berantai dengan aliran magma di dasar gunung yang tertekan.

Getaran hebat mengguncang seluruh puncak gunung, membuat ribuan murid di luar sana terbangun dan menatap ngeri. Jin Wuya melesat dengan kecepatan gila, membawa tebasan yang mampu membelah gunung.

Lin Tian menyambutnya dengan menerjang maju, mempertaruhkan seluruh sisa qi dan fisiknya dalam satu serangan terakhir. Malam ini, hanya satu dari mereka yang akan melihat matahari terbit.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!