NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — PELARIAN

​Roda kayu kereta berderit keras menghantam ceruk jalan berbatu, melemparkan tubuh Alena ke dinding kabin yang kusam. Setiap guncangan membuat perut bagian bawahnya mulas hebat, memicu gelombang mual yang dipaksa ditekan di balik tenggorokannya. Dalam kegelapan kabin yang berbau jerami basah dan minyak tanah, Alena meringkuk, menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya sendiri seolah bertindak sebagai perisai alami bagi kehidupan mungil di dalamnya.

​Kereta itu tidak membawanya langsung keluar dari wilayah Aveloria. Rowan dan Gareth cukup licik untuk tahu bahwa kepergian seorang juru tulis menggunakan kereta kerajaan akan memicu kecurigaan jika ada patroli malam. Kereta kusam itu hanya mengantarkannya hingga ke pinggiran Distrik Bawah—sebuah kawasan kumuh di luar dinding batu kota yang dipenuhi kedai-kedai murah, jelata yang kelaparan, dan aroma air got yang membusuk.

​Di sanalah, di balik bayangan lorong sempit tempat sampah dapur dibuang, seorang wanita berkerudung tebal telah menunggunya.

​"Alena!"

​Suara bisikan itu setengah tercekik oleh kepanikan. Ketika pintu kereta dibuka dari luar oleh kusir yang membisu, jemari dingin Alena disambut oleh genggaman erat Mira Lorien. Sahabat terbaiknya itu menarik Alena keluar dari kabin sebelum kereta kayu tersebut berbalik arah dan menghilang di telan kegelapan malam tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

​Mira menyeret Alena ke balik celah bangunan kayu tua. Cahaya bulan yang tertutup awan mendung memantul tipis pada wajah Mira yang pucat. Matanya liar, menyapu lorong sempit di sekitar mereka untuk memastikan tidak ada pengintai yang membuntuti.

​"Kau gila... mereka benar-benar membiarkanmu pergi?" bisik Mira, suaranya gemetar. Ia memegang kedua bahu Alena, menatap sahabatnya yang tampak lusuh dan tak berdaya. "Ketika kau mengirim pesan rahasia padaku tadi siang melalui pelayan dapur, aku berpikir Rowan akan membunuhmu di tempat. Bagaimana keadaanmu? Anak itu..."

​"Anak ini aman, Mira," selak Alena parau. Suaranya terdengar sangat kering, bagai gesekan daun maple mati di atas batu. "Tapi kita tidak punya waktu. Gareth memberi tahu bahwa surat itu... surat kejam yang kupaksa tulis... akan diserahkan kepada Adrian saat fajar. Begitu Adrian membaca surat itu, ia mungkin akan marah. Tetapi jika ia curiga dan mulai meneliti kebenarannya, seluruh pengawal kerajaan akan menyisir jalanan ini."

​Mira mengangguk cepat. Selama bertahun-tahun menjadi anak seorang pedagang kain yang biasa melintasi batas wilayah, Mira memiliki kecerdikan jalanan yang tidak dimiliki Alena. Tanpa banyak bicara, Mira melepas mantel tebal berwarna abu-abu kusam yang ia kenakan dan menyelimutkannya ke bahu Alena, menutupi gaun biru tua yang masih tersisa dari kehidupan istana.

​"Pakai ini. Gaunmu terlalu bersih untuk kawasan ini," ujar Mira tegas. Dari balik lipatan gaunnya sendiri, Mira mengeluarkan dua buah tas kain lusuh berisi perbekalan dasar: roti keras, botol air kulit, serta beberapa potong pakaian rakyat biasa yang sudah dipanggulnya sejak sore. "Kereta dagang pamanku akan berangkat menuju perbatasan selatan dalam waktu satu jam. Kita akan bersembunyi di bawah tumpukan karung gandum."

​Alena menatap Mira dengan mata berembun oleh air mata yang tak sanggup dibendungnya lagi. "Mira... kau tidak perlu melakukan ini. Jika kerajaan tahu kau membantuku melarikan diri, keluargamu—"

​"Keluargaku sudah menjual toko mereka bulan lalu untuk pindah ke daerah pedesaan, Alena!" potong Mira, memegang jemari Alena yang dingin dengan cengkeraman penuh kehangatan. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi di kota busuk ini. Dan aku tidak akan membiarkan sahabatku yang sedang mengandung dieksekusi atau mati membeku di pinggir jalan hanya demi ego para bangsawan Aveloria. Sekarang, tutup mulutmu dan jalan. Jangan menunduk terlalu rendah, itu membuatmu terlihat mencurigakan."

​Mereka berdua bergerak menyusuri jalanan becek Distrik Bawah. Suara nyanyian pemabuk dari dalam kedai dan gonggongan anjing liar menjadi musik latar pelarian mereka. Setiap kali ada derap langkah kuda dari patroli kota di kejauhan, Mira akan menarik Alena bersembunyi di balik tumpukan kayu atau ceruk pintu rumah warga, menunggu hingga kegelapan kembali menutupi keberadaan mereka.

​Saat mereka tiba di area pasar komoditas yang sepi, kereta dagang milik paman Mira—sebuah gerobak kayu besar bertutup kain terpal kusam yang ditarik dua ekor kuda beban—sudah bersiap. Sang paman, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang tidak banyak bertanya, hanya memberi isyarat kepala agar mereka berdua segera memanjat ke bagian belakang.

​Alena menyusup ke bawah terpal. Bau gandum, jerami basah, dan bau keringat kuda memenuhi hidungnya, membuat perutnya kembali bergejolak. Namun ia tidak memedulikannya. Ia berbaring miring di atas karung-karung kain yang keras, meringkuk rapat di samping Mira saat gerobak mulai bergerak perlahan, meninggalkan batas pinggiran kota Aveloria.

​Perjalanan malam itu terasa sangat panjang. Setiap kali gerobak berguncang melewati batas pos pemeriksaan wilayah outer, jantung Alena serasa berhenti berdetak. Ia menahan napas di balik tumpukan karung ketika mendengar suara penjaga gerbang bertukar sapa kaku dengan paman Mira, berdoa dalam hati agar tidak ada obor yang disorotkan ke balik terpal.

​Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memancarkan garis-garis cahaya jingga pucat menembus celah terpal, gerobak mereka telah memasuki kawasan Hutan Elaris—hutan tua yang membentang luas di sepanjang batas selatan Aveloria.

​Alena perlahan merangkak mendekati bagian belakang gerobak. Dari celah kain terpal yang terbuka sedikit, ia menatap ke arah belakang.

​Di kejauhan, di atas bukit batu yang menjulang tinggi di atas kabut pagi, siluet Istana Valerian masih terlihat megah dan angkuh. Menara-menara batu peraknya berkilau diterpa cahaya matahari pertama.

​Di sanalah Adrian berada saat ini.

​Di saat ini pula, di salah satu ruangan istana yang hangat dan harum oleh aroma mawar, Pangeran Adrian Valerian mungkin baru saja membuka gulungan perkamen yang ditinggalkannya. Pria itu akan membaca kata-kata kejam yang ditulis Alena dengan air mata: pengakuan palsu bahwa cintanya hanyalah kebohongan, bahwa ia telah pergi bersama pria lain, bahwa Adrian tidak lagi berarti apa-apa baginya.

​Alena memunculkan tangannya dari balik mantel abu-abu. Di telapak tangannya, liontin batu mawar perak pemberian Adrian memantulkan cahaya fajar. Warna biru legam dari batu Saphira itu tampak begitu redup, seolah-olah kehilangan auranya begitu dijauhkan dari pemilik aslinya.

​"Maafkan aku, Adrian..." bisik Alena pada angin fajar yang berhembus menembus gerobak. Air matanya menetes satu perasatu, jatuh tepat di atas ukiran kelopak mawar perak itu. "Maafkan aku karena harus membuatmu membenciku..."

​Ia membayangkan wajah Adrian saat membaca surat itu. Wajah yang biasanya dingin dan tenang itu pasti akan hancur oleh kebingungan, diikuti oleh rasa sakit yang memotong ke dalam jiwanya, hingga akhirnya membeku menjadi kemarahan dan kebencian yang mendalam. Adrian akan membencinya. Pria itu mungkin akan mengutuk namanya setiap kali mengingat malam-malam yang mereka lewati bersama di Taman Mawar.

​Dan itulah yang memang harus terjadi. Sebab hanya dengan kebencian itulah Adrian akan berhenti mencari. Hanya dengan kebencian itulah anak ini bisa bernapas dan tumbuh tanpa bayang-bayang pedang eksekusi kerajaan.

​"Alena," panggil Mira pelan dari belakangnya. Sahabatnya itu merangkak mendekat, meletakkan sepotong roti kering dan sebumbung air di pangkuan Alena. "Mulai hari ini, nama itu tidak boleh disebut lagi di depan orang lain. Kau harus memikirkan nama baru saat kita sampai di desa tujuan."

​Alena mengusap air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menatap hamparan Hutan Elaris yang hijau pekat dan liar, sebuah dunia baru yang asing dan menakutkan, jauh dari kenyamanan perpustakaan tua dan kemewahan istana yang pernah dikenalnya.

​"Tidak perlu mengganti nama," kata Alena pelan, suaranya kini terdengar berbeda. Keputusasaan yang menyelimutinya semalaman perlahan mengkristal menjadi sebuah tekad yang dingin dan keras. "Nama keluarga saya memang sudah mati di istana itu. Mulai hari ini, aku hanyalah Alena. Seorang ibu yang tidak punya masa lalu."

​Ia meremas liontin perak di tangannya erat-erat—bukan lagi sebagai lambang ikrar cinta yang romantis, melainkan sebagai pengingat akan pengorbanan teramat besar yang telah ia bayar demi menyelamatkan nyawa anaknya. Lalu, dengan gerakan perlahan namun pasti, Alena memasukkan liontin itu ke dalam kantong kain terkecil di balik gaunnya, menyembunyikannya rapat-rapat di dekat detak jantungnya.

​Gerobak kuda terus melaju menembus lebatnya pepohonan Hutan Elaris, membawa mereka semakin jauh dari Aveloria, membawa pergi seorang wanita muda yang telah kehilangan cintanya, namun membawa serta sebuah rahasia besar yang kelak akan mengguncang takhta kerajaan tujuh tahun dari sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!