Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
Rasa sakit di pergelangan kaki akibat jatuh di pelataran kantor Edgard sembuh dalam beberapa hari, namun luka di hati Anya justru semakin menganga. Bukannya jera, penolakan demi penolakan itu malah memicu keras kepalanya yang legendaris. Anya meyakinkan dirinya sendiri bahwa Edgard hanya belum terbiasa melihatnya sebagai wanita dewasa. Dia percaya, konsistensi adalah kunci untuk mencairkan gunung es seperti Edgard Baskoro.
Maka, dimulailah rangkaian rencana-rencana baru yang jauh lebih gencar.
Anya mulai mengirimi Edgard pesan singkat setiap pagi. Mulai dari ucapan sederhana seperti, "Selamat pagi, Kak Edgard! Jangan lupa sarapan, ya, hari ini Jakarta diprediksi hujan," hingga foto-foto pemandangan jalanan yang dia ambil saat berangkat kuliah. Namun, layar ponsel Anya lebih sering menampilkan status Read tanpa ada balasan sama sekali. Jika beruntung, Edgard hanya akan membalas dengan satu kata: "Ya." atau "Terima kasih." Pendek, padat, dan sangat menyakitkan.
Tidak berhenti di situ, Anya juga kerap memanfaatkan hubungan bisnis ayah mereka. Setiap kali Papa mengatakan bahwa Edgard akan datang ke rumah untuk mengantarkan dokumen atau sekadar mampir, Anya akan langsung heboh. Dia akan menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin, berganti-ganti pakaian hingga kamarnya berantakan seperti kapal pecah.
Sore itu, kesempatan itu datang lagi. Mobil Edgard memasuki pekarangan rumah keluarga Bramantyo. Anya, yang sudah menunggu di balik tirai jendela kamarnya sejak satu jam lalu, langsung berlari turun dengan setengah melompat. Dia sengaja membawa sebuah buku tebal tentang analisis saham—buku yang sebenarnya tidak dia pahami sama sekali, melainkan milik Joana yang dia pinjam diam-diam.
"Kak Edgard!" seru Anya riang, menghadang Edgard tepat di depan pintu masuk sebelum pria itu sempat mengetuk.
Edgard menghentikan langkahnya. Dia mengenakan setelan kerja abu-abu gelap tanpa dasi, terlihat sedikit lelah namun tetap memesona. Matanya melirik Anya yang berdiri dengan senyum lebar, lalu turun ke buku tebal yang didekap gadis itu di dadanya.
"Halo, Anya. Papamu ada di dalam?" tanya Edgard, suaranya sedatar biasanya, tanpa ada riak terkejut atau senang melihat kehadiran Anya.
"Papa lagi di ruang kerja, tapi katanya Kak Edgard disuruh tunggu di ruang tamu dulu," bohong Anya cepat. Padahal Papa sudah berpesan agar Edgard langsung masuk ke ruang kerjanya. Anya hanya ingin mencuri waktu beberapa menit bersama pria impiannya ini.
Edgard menghela napas, namun tetap melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Anya dengan sigap ikut duduk di sofa yang sama, berjarak hanya beberapa puluh sentimeter dari Edgard. Aroma parfum stroberi Anya kembali memenuhi ruangan, namun Edgard tampak tidak terganggu maupun tertarik. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu dengan serius.
"Kak Edgard, aku lagi baca buku ini, lho," pancing Anya, menyodorkan buku analisis saham ke hadapan Edgard. "Aku rasa bab tentang pergerakan grafik pasar modal ini agak membingungkan. Menurut Kak Edgard, bagaimana cara membaca tren sentimen pasar yang benar?"
Anya sengaja menghafal kalimat itu dari internet semalam, berharap Edgard akan terkesan dan mengajaknya berdiskusi panjang lebar seperti yang biasa pria itu lakukan dengan Joana.
Edgard menghentikan ketukannya di ponsel. Dia menatap buku itu, lalu beralih menatap mata Anya yang memancarkan binar penuh kepura-puraan. Edgard adalah pria yang sangat peka. Dia tahu persis Anya sedang berakting.
"Anya," panggil Edgard pelan, namun nadanya begitu berat. "Kamu kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, bukan Ekonomi atau Akuntansi."
Anya tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya langsung memerah karena tertangkap basah. "Ya... memang. Tapi kan enggak ada salahnya kalau aku mau belajar bisnis? Biar nanti kalau ngobrol sama Kak Edgard bisa nyambung."
Edgard meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Dia memutar tubuhnya menghadap Anya, memberikan perhatian penuh yang ironisnya justru membuat Anya merasa terintimidasi.
"Dengarkan saya," kata Edgard dengan suara yang teramat tenang namun menusuk. "Kamu tidak perlu memaksakan diri membaca buku yang tidak kamu sukai hanya untuk menarik perhatian saya. Hubungan kita tidak akan berubah hanya karena kamu tahu cara membaca grafik saham."
"Kenapa?" potong Anya, suaranya mulai meninggi, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Kenapa kalau Kak Joana yang bicara soal ini Kak Edgard mendengarkan dengan antusias? Kenapa kalau aku yang mencoba, Kak Edgard selalu menganggapnya sebagai lelucon? Apa aku sebegitu tidak berartinya di mata Kakak?"
Edgard menatap Anya tanpa ekspresi bersalah atau kasihan. "Karena Joana membicarakan hal itu karena dia memang mengerti dan itu adalah dunianya. Sedangkan kamu melakukannya sebagai kedok. Anya, sikap kamu yang selalu memaksakan diri seperti ini lama-lama membuat saya tidak nyaman."
Kata tidak nyaman itu menghantam jantung Anya seperti gada besi. Air mata yang sejak tadi dia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku cuma suka sama Kak Edgard! Apa salah kalau aku melakukan banyak cara supaya Kakak melihat aku?" tanya Anya dengan suara bergetar, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Aku sudah menahan malu, aku mengirimi Kakak pesan setiap hari, aku membuatkan makanan, aku mencoba masuk ke dunia Kakak... tapi sikap Kak Edgard selalu seperti ini! Dingin! Biasa saja! Seperti aku ini enggak ada harganya!"
Di tengah luapan emosi Anya, pintu ruang tamu terbuka. Joana berjalan masuk dengan langkahnya yang anggun, mengenakan pakaian rumah yang kasual namun tetap terlihat berkelas. Dia terkejut melihat Anya yang menangis sesenggukan di depan Edgard.
"Eh? Ada apa ini? Anya, kamu kenapa menangis?" tanya Joana bingung, langsung mendekati adiknya.
Edgard berdiri dari sofa, merapikan jasnya yang sedikit kusut tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedingin es. "Tidak ada apa-apa, Joana. Anya hanya sedikit sensitif. Di mana Papamu? Saya ada dokumen yang harus segera ditandatangani."
"Oh, Papa ada di ruang kerjanya sejak tadi, Edgard. Dia menunggumu," jawab Joana.
"Baik, saya ke ruang kerja Papamu dulu," ucap Edgard. Sebelum melangkah pergi, dia melirik Anya sekilas—tatapan yang kosong, seolah tangisan dan air mata Anya barusan tidak memberikan dampak apa pun pada perasaannya. Pria itu kemudian berjalan melewati Anya begitu saja, meninggalkan sisa keheningan yang menyakitkan.
Anya menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah sejadi-jadinya di pelukan Joana. Dia merasa sangat kecil, sangat bodoh, dan sangat tidak berdaya. Di depan Edgard, segala pesona dan usahanya runtuh tak bersisa. Sikap Edgard yang selalu tampak biasa saja di tengah badai perasaan Anya adalah jenis penolakan yang paling kejam yang pernah dia rasakan.
Anya tidak tahu bahwa beberapa minggu setelah hari itu, sebuah badai yang jauh lebih besar akan datang menghancurkan seluruh sisa harapannya, mengubah rasa kagumnya menjadi sebuah trauma yang mendalam.
semangat nulisnya 💪