Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21
Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga.
Sejak dini hari, suasana rumah keluarga Lestari di Kota C sudah sangat ramai. Lampu-lampu di area halaman masih menyala terang ketika beberapa kerabat melangkah masuk untuk membantu persiapan acara. Di dapur, para ibu sibuk memasak dan menata piring-piring hidangan. Dari halaman depan, terdengar riuh suara orang-orang yang sedang merangkai bunga segar dan merapikan deretan kursi tamu.
Atmosfer hari itu dipenuhi tawa dan obrolan hangat. Ini adalah hari yang teramat istimewa bagi Lestari—hari bahagia yang sudah ia impikan sejak lama.
Di dalam kamar, Lestari duduk di depan cermin rias sambil sesekali tersenyum sendiri. Sejak bangun tidur, perasaannya tak bisa tenang akibat luapan kebahagiaan yang membuncah. Berulang kali matanya melirik ke arah gaun pengantin putih gading yang sudah digantung rapi di sudut kamar.
Gaun itu tampak begitu indah dan memukau. Renda-rendanya menjuntai anggun hingga menyapu lantai, sementara payet-payet kecil di permukaannya berkilauan indah saat diterpa cahaya lampu. Lestari sama sekali tak sanggup berpaling.
"Akhirnya hari yang ditunggu sampai juga..." bisiknya pelan seraya tersenyum manis.
Ibunya yang sedang merapikan perlengkapan ikut tersenyum hangat melihat sang putri. "Sebentar lagi anak Ibu resmi jadi pengantin."
Lestari mengangguk pelan seraya tertawa kecil. Wajah cantiknya memancarkan binar kebahagiaan murni.
Di tempat lain, Anindiya dan Rina sudah berangkat sejak pagi-pagi sekali dari Kota A.
Perjalanan menuju Kota C memakan waktu sekitar satu jam. Jalanan pagi itu sangat bersahabat dan lancar. Langit membiru cerah dengan hembusan udara sejuk yang menyegarkan.
Di dalam mobil, Anindiya beberapa kali mengecek kelengkapan barang bawaannya di jok belakang. Ia tak ingin ada satu pun peralatan yang tertinggal: kotak kosmetik utama, catokan rambut, mahkota, veil, semuanya sudah aman tersusun.
Rina duduk di kursi penumpang samping kemudi seraya menatap kosong ke luar jendela. Sejak mesin mobil dinyalakan, ia tak banyak bicara.
Anindiya yang menyadari perubahan itu meliriknya beberapa kali. "Rin, kamu masih capek?"
Rina hanya menggeleng pelan. "Nggak kok, Mbak."
"Wajahmu itu lho, masih pucat banget," celetuk Anindiya prihatin.
"Mungkin cuma kurang tidur saja, Mbak."
Anindiya mengangguk paham dan tak bertanya lebih jauh lagi.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka membelok masuk ke kawasan perkampungan Kota C. Dari kejauhan, tenda pernikahan berukuran besar sudah berdiri megah di depan rumah keluarga Lestari. Kain dekorasi berwarna putih dan emas menghiasi tiap sudutnya, dipadu dengan ronce bunga segar di pintu masuk. Beberapa mobil tamu sudah memadati area halaman dan bahu jalan.
Begitu mobil Anindiya berhenti, seorang panitia keluarga segera menyambut mereka. "Selamat datang, Mbak Anindiya. Mari, silakan masuk."
Anindiya melempar senyum ramah. "Terima kasih banyak, Pak."
Beberapa kerabat lain ikut menyapa mereka dengan sangat sopan. Suasana rumah terasa begitu hangat dan hidup. Semua orang tampak sibuk, namun raut wajah mereka dipenuhi sukacita. Ada yang mengangkut nampan makanan, menata kursi, hingga memasang papan dekorasi.
Anindiya dan Rina langsung dipandu menuju kamar tempat Lestari menunggu.
Begitu pintu kamar terdorong buka, Lestari langsung berdiri menyambut kedatangan mereka. Wajahnya sangat berseri-seri. "Mbak Anindiya! Selamat pagi!"
"Pagi, Lestari. Sudah siap jadi pengantin paling cantik hari ini?" sapa Anindiya ramah.
Lestari tertawa kecil seraya mengelus dadanya. "Aduh, deg-degan banget, Mbak!"
"Tenang saja, itu wajar kok," hibur Anindiya.
Anindiya mulai mengeluarkan seluruh peralatan rias dari dalam koper besarnya. Dengan gerakan jemari yang cekatan dan berpengalaman, ia menata kuas, foundation, bedak, dan perlengkapan lainnya di atas meja. Sementara itu, Rina bertugas membantu menyiapkan aksesori dan merapikan ruang gerak.
Proses merias pun dimulai. Anindiya bekerja dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Ia membersihkan kulit wajah Lestari terlebih dahulu sebelum memoleskan riasan dasar. Tiap sapuan kuas ia lakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.
Perlahan tapi pasti, paras Lestari bertransformasi menjadi kian memesona. Riasannya tampak begitu halus, natural, dan anggun—sangat menyatu dengan karakter wajahnya.
Beberapa saudara perempuan yang mengintip dari ambang pintu kamar tak henti-hentinya melontarkan pujian.
"Pangling banget! Lestari cantik sekali!"
"Iya, mirip putri kerajaan!"
Lestari hanya tersipu malu mendengar riuh pujian itu. Anindiya tersenyum puas menatap hasil karyanya. Bagi Anindiya, tiap calon pengantin pada dasarnya sudah memiliki pesona masing-masing, dan tugasnya hanyalah memancarkan pesona tersebut.
Setelah tata rias wajah dan rambut selesai, tibalah momen yang paling mendebarkan. Gaun pengantin putih gading itu dikeluarkan dari sarung pelindungnya.
Seketika itu juga, suasana kamar mendadak berubah agak tenang. Semua mata yang ada di dalam ruangan terhipnotis menatap gaun indah tersebut.
"Masya Allah..." cetus salah seorang bibi Lestari dengan rasa kagum yang meluap. "Baguss sekali gaunnya..."
Anindiya dan Rina memandu Lestari untuk mengenakan gaun itu perlahan-lahan. Ritsleting bagian belakang ditarik dengan hati-hati, lipatan rok dirapikan, veil transparan dipasang di rambut, lalu dimahkotai tiara kecil yang berkilau.
Ketika seluruh proses rias tuntas, Lestari berdiri tegak memandangi pantulan dirinya di depan cermin besar. Air matanya nyaris menetes—bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru dan bahagia yang tak terkira.
"Terima kasih banyak ya, Mbak Anin. Aku suka banget hasilnya," bisik Lestari tulus.
Anindiya meremas lembut bahu Lestari. "Sama-sama. Semoga hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan buat kamu ya."
Lestari mengangguk mantap dengan mata berbinar.
Namun di sudut ruangan yang berbeda, Rina menyaksikan seluruh pemandangan itu dengan kegelisahan yang membakar dada.
Entah mengapa, sejak pertama kali kakinya menginjakkan rumah ini, dadanya mendadak terasa amat sesak dan tidak tenang. Sensasi ganjil yang sama kembali merayapi nadinya—sensasi dingin dan mencekam yang persis ia rasakan beberapa jam sebelum kecelakaan maut merenggut nyawa Siska.
Rina berusaha menepis pikiran buruk itu. Ia berikhtiar meyakinkan diri bahwa ini hanyalah trauma masa lalu yang belum sepenuhnya pulih. Namun, makin ia mencoba bersikap biasa, rasa cemas itu justru menguat drastis.
Rina melirik ke arah jendela kamar. Angin pagi berembus pelan mengibarkan tirai tipis. Tak ada keanehan apa pun secara kasat mata. Namun, bulu-bulu di tengkuknya berdiri tegak serentak.
Ia menarik napas panjang, berjuang fokus membantu merapikan lipatan bagian belakang gaun Lestari. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Rin... fokus, batinnya menenangkan diri.
Berulang kali ia memaksa bibirnya mengukir senyum saat diajak berinteraksi oleh kerabat Lestari, meski senyuman itu terasa amat kaku dan berat.
Mata Rina secara refleks kembali melihat ke arah cermin besar di hadapan Lestari.
Pantulan di dalam cermin itu tampak wajar. Lestari tersenyum bahagia memamerkan gaunnya, Anindiya sedang merapikan posisi veil, dan Rina sendiri berdiri mematung di belakang mereka.
Tak ada bayangan aneh. Tak ada wujud mengerikan.
Atau setidaknya... itulah hal logis yang ingin terus ia yakini.
Meski begitu, firasat buruk yang mengendap di dasar hatinya tak jua memudar. Firasat itu justru makin nyata dan tajam—seolah-olah ada sesosok jiwa kelam tak kasat mata yang sedang bersembunyi di balik kegelapan, menanti momen yang paling tepat untuk menunjukkan wujud aslinya.
Di luar rumah, riuh suara para tamu undangan yang mulai berdatangan terdengar makin ramai. Prosesi akad nikah akan segera dimulaikan. Semua orang larut dalam kehangatan dan kebahagiaan.
Tak ada seorang pun di tempat itu yang menyadari...
Bahwa di balik senyuman tulus dan raut bahagia Lestari...
Bayang-bayang kematian telah datang , bersiap untuk menagih bayaran atas gaun pengantin yang terikat oleh kutukan.