Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 3 - Seekor Kucing
Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil seketika membeku.
Semua orang terdiam.
Bahkan para pengawal yang duduk di kursi depan sampai membelalakkan mata. Mereka saling melirik memastikan bahwa telinga mereka tidak salah mendengar.
Memeluk?
Tidak ada seorang pun yang berani meminta hal seperti itu kepada Jenderal Ethan Harold.
Bahkan para pejabat tinggi pun selalu menjaga jarak saat berbicara dengannya.
Namun gadis polos di sampingnya justru memintanya dipeluk dengan wajah yang begitu serius. Seolah pertemuan yang aneh ini memang adalah pertemuan yang seharusnya antara suami dan istri.
Sementara itu, Ethan hanya menatap Ashlyn tanpa berkedip. Seumur hidupnya, belum pernah ada seseorang yang mampu membuatnya kehilangan kata-kata seperti sekarang.
Di hadapan gadis ini, pangkat, kekuasaan, kewibawaan, bahkan tatapan dinginnya seolah tidak memiliki arti sedikit pun. Ashlyn sama sekali tidak takut kepadanya.
Baginya Ethan hanyalah seorang suami.
Belum sempat Ethan membuka mulut untuk menjawab, keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara yang sangat pelan.
Kruuukk...
Wajah Ashlyn sontak berubah memerah. Ashlyn menundukkan kepala sambil memegang perutnya yang kembali berbunyi.
Kruuukk...
Dengan wajah malu-malu, Ashlyn mengangkat kepalanya dan menatap sang suami.
"Suamiku," ucap Ashlyn lirih. Ethan juga mendengar dengan jelas suara perut itu, tapi kini ia masih kehabisan kata-kata.
Ethan hanya mengernyit kecil. "Ada apa?" tanyanya seolah tak tahu apa-apa.
"Ashlyn lapar sekali," ucap Ashlyn dengan mengusap perutnya pelan. "Sejak ditinggal mama dan papa pagi tadi, Ashlyn belum makan," ucapnya lagi, sedangkan saat ini waktu sudah menjelang sore.
Kemudian Ashlyn menatap Ethan dengan penuh harap. "Suamiku, apa Suami punya makanan?"
Tatapan polos itu membuat Ethan mengembuskan napas pelan. Ia menekan tombol interkom yang terhubung ke mobil pengawal di depan.
"Berhenti."
"Iya, Jenderal."
Iring-iringan kendaraan segera menepi di depan sebuah warung makan sederhana yang berada di pinggir jalan.
Ethan menoleh kepada salah seorang bawahannya. "Belikan makanan."
"Siap, Jenderal."
Pengawal itu segera berlari memasuki warung. Tak sampai lima menit kemudian ia kembali dengan beberapa kotak makanan hangat, roti, buah-buahan, serta sebotol air mineral.
"Jenderal." Pria itu menyerahkan semuanya kepada Ethan.
Ethan mengambil kotak makanan itu, lalu meletakkannya di pangkuan Ashlyn. "Makan."
Mata Ashlyn langsung berbinar. "Untuk Ashlyn?"
"Iya."
"Benarkah?"
Ethan mengangguk singkat dan Ashlyn memeluk kotak makanan itu dengan wajah yang begitu bahagia. "Terima kasih, Suamiku."
Aroma makanan hangat langsung memenuhi kabin mobil. Perut Ashlyn kembali berbunyi pelan.
Namun beberapa detik berlalu. Ashlyn hanya memandangi makanan itu tanpa membukanya.
Ethan memperhatikannya. "Bukankah tadi kamu bilang lapar?"
"Iya."
"Kalau begitu kenapa tidak dimakan?"
Ashlyn menggigit bibirnya pelan. Ia menatap Ethan, lalu kembali menatap kotak makanan di tangannya.
Setelah ragu beberapa saat, Ashlyn akhirnya berkata dengan suara lirih. "Di rumah... Mama, Papa dan Sandrina selalu makan lebih dulu. Kalau masih ada sisanya, baru Ashlyn boleh makan," jawab Ashlyn.
Seluruh isi mobil kembali hening. Para pengawal yang mendengar ucapan itu kembali saling berpandangan. Dari penampilan gadis itu nampak jelas jika selama ini hidupnya tak baik, tapi siapa sangka bahwa ternyata hidupnya memang seburuk itu.
Ashlyn kembali menatap Ethan dengan senyum polosnya. "Jadi sekarang juga begitu. Jenderal harus makan dulu. Nanti sisanya baru buat Ashlyn," ucapnya dengan begitu tulus. Tidak ada sedikit pun rasa dipaksa. Karena bagi Ashlyn memang begitulah aturan yang selama ini ia yakini.
Tatapan Ethan perlahan berubah. Dari yang semula dingin dan selalu waspada kini jadi lebih lembut. Gadis ini, bahkan ketika kelaparan ia masih berpikir bahwa dirinya adalah orang yang harus makan paling akhir.
Ethan memandangi wajah polos Ashlyn beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
"Di tempatku tidak ada aturan seperti itu," ucap Ethan.
Ashlyn berkedip bingung. "Tidak ada?" tanyanya cengo.
Ethan menggeleng pelan. "Siapa pun yang lapar, dia boleh makan. Tidak perlu menunggu orang lain. Tidak perlu menunggu sisa."
Ashlyn masih memeluk kotak makanan itu erat-erat. "Tapi..." ucap Ashlyn ragu. "Mama selalu bilang Ashlyn harus makan paling akhir."
"Itu aturan di rumahmu."
Ashlyn mengangguk pelan. "Iya."
"Dan sekarang kamu tidak berada di rumah itu lagi."
Kalimat Ethan membuat Ashlyn terdiam. Sedangkan Ethan menatap lurus ke arah gadis itu. "Sekarang kamu ikut denganku," tegas Ethan, ia sendiri tak menyangka kalimat ini bisa lolos begitu saja dari mulutnya.
Sebuah keputusan yang Ethan ambil tanpa melewati pemikiran yang panjang.
Dua pengawal di depan bahkan sampai tersentak saat mendengar kalimat tersebut, karena artinya sang Jenderal benar-benar berniat membawa gadis asing itu bersamanya. 'Astaga,' batin keduanya tak mampu berkata-kata.
Sementara Ethan hanya mampu melanjutkan ucapannya. "Yang harus kamu ikuti sekarang adalah aturanku."
Ashlyn tampak berpikir keras. Otaknya yang sederhana berusaha memahami setiap kata yang diucapkan Ethan.
"Jadi, bukan aturan Mama lagi?" tanya Ashlyn.
"Bukan."
"Bukan aturan Papa juga?"
"Bukan."
"Lalu..." Ashlyn menunjuk Ethan dengan jari telunjuknya. "Harus ikut aturan Suami?"
Ethan mengangguk singkat. Kata Suami yang selalu diucapkan Ashlyn entah kenapa tak terasa menganggu ditelinganya. Dia biarkan semua keanehan ini begitu saja.
"Benar," balas Ethan.
Wajah Ashlyn langsung dipenuhi keraguan. "Tapi kalau Ashlyn makan duluan, nanti Suami marah bagaimana?"
"Aku tidak akan marah."
"Benarkah?"
"Ya."
Ashlyn masih tampak belum yakin. Mana ada kebaikan yang datang dengan cuma-cuma. Hingga akhirnya Ethan mengambil kotak makanan itu dari pangkuan Ashlyn, membukanya dan menyodorkan kembali ke hadapan gadis tersebut.
"Makan."
Ashlyn menggigit bibirnya pelan. "Tapi..."
Ethan memotong ucapannya. "Ini perintah."
Seketika Ashlyn langsung mengangguk cepat. "Iya."
Dengan hati-hati Ashlyn mengambil sendok plastik, lalu menyendok nasi dalam jumlah yang sangat sedikit.
Ashlyn meniupnya pelan sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
Begitu rasa makanan itu menyentuh lidahnya, kedua matanya langsung membulat.
"Mm..." Ashlyn buru-buru mengunyah, lalu menatap Ethan dengan wajah berbinar. "Enak sekali."
Ashlyn kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, kali ini lebih banyak daripada sebelumnya. "Enak, enak sekali."
Tanpa sadar senyum lebar menghiasi wajah Ashlyn. Di dalam hati, Ashlyn terus berseru penuh kegembiraan. 'Makanan ini enak sekali. Suamiku baik sekali. Ternyata ikut Suami membuat perut Ashlyn kenyang,' batin Ashlyn.
Dan melihat Ashlyn yang makan dengan lahap, Ethan hanya terdiam. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat. Seolah ia batu saja memungut seekor kucing yang kelaparan di tengah jalan.
Ethan bahkan merasa keputusan membawa gadis asing ini, mungkin bukanlah sebuah kesalahan.
Iring-iringan kendaraan terus melaju meninggalkan wilayah perbatasan.
Mobil hitam yang ditumpangi Ethan kini berada paling depan, diikuti belasan kendaraan militer yang mengawal dari belakang. Jalanan tanah perlahan berganti menjadi jalan beraspal yang lebar saat mereka memasuki kawasan Kota Servo.
Di sepanjang perjalanan, Ashlyn menikmati setiap pemandangan dari balik jendela.
"Suamiku, pohonnya besar sekali."
"Suamiku, lihat! Banyak burung!"
Setiap beberapa detik, suara riangnya kembali terdengar memenuhi kabin mobil.
Ethan yang sejak awal hanya menjawab dengan anggukan atau sepatah dua patah kata, mulai terbiasa dengan ocehan gadis itu.
Lama-kelamaan suara Ashlyn semakin pelan. Kelopak matanya berkedip semakin lambat. Hari ini terlalu melelahkan baginya.
Sejak pagi dibuang keluarga, berjalan tanpa arah di bawah terik matahari, menangis, ketakutan, lalu bertemu Ethan. Semua kejadian itu menguras habis tenaganya.
Tanpa sadar, kepala Ashlyn mulai terangguk-angguk. Beberapa detik kemudian jatuh pelan ke bahu Ethan.
Napasnya berubah teratur dan Ashlyn tertidur pulas.
Ethan menoleh sekilas ke arah gadis yang kini bersandar di bahunya, wajah polos ini.
Pada akhirnya Ethan membiarkan gadis itu tetap bersandar di bahunya. Tak ada satu pun pengawal yang berani bersuara. Mereka hanya saling bertukar pandang tercengang. Jika berita ini sampai menyebar, mungkin tidak akan ada yang percaya.
Jenderal Ethan Harold membiarkan seorang gadis asing tidur di bahunya.
Saat pagi buta rombongan akhirnya memasuki kawasan elite di Kota Servo.
Gerbang besi raksasa perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah kediaman megah berdiri di atas lahan yang sangat luas.
Air mancur bertingkat menghiasi halaman depan. Taman bunga tertata rapi di kanan dan kiri jalan masuk.
Puluhan penjaga berdiri tegak memberi hormat ketika iring-iringan mobil memasuki halaman utama.
Mobil Ethan berhenti tepat di depan pintu masuk mansion.
Sander sang asisten segera berlari cepat untuk membukakan pintu sang jenderal.
Ethan turun dari mobil dan akhirnya Sander melihat gadis asing itu sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar di kursi belakang.
Sander menatap atasannya dengan sikap tegas seperti biasa. "Jenderal."
"Ada apa?" balas Ethan seraya menghentikan langkah.
Sander kembali melirik ke arah Ashlyn yang masih tertidur tanpa mengetahui bahwa ia telah tiba di tempat asing.
"Apa Anda benar-benar akan membawa gadis itu tinggal bersama Anda?" tanya Sander.
Pertanyaan itu menggantung di udara. Sementara para pengawal lain diam-diam ikut menunggu jawaban Ethan, sebab mereka semua memiliki pertanyaan yang sama.
Apakah keputusan yang dibuat sang jenderal di perbatasan tadi hanyalah rasa kasihan sesaat atau memang Ethan Harold telah memutuskan bahwa gadis bernama Ashlyn itu akan menjadi bagian dari kehidupannya mulai hari ini?
Karena Ethan hanya diam saja, Sander akhirnya kembali buka suara. "Anda tidak harus membawanya untuk tinggal bersama, saya akan menyiapkan tempat tinggal yang layak untuknya," putus Sander.
🤣🤣🤣
yg ada ethan pening atas bawah itu🤣🤣🤣
pasti pusing banget itu ethan ...😁