Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM ELISABETH
"Aura... ini semua gara-gara wanita sialan itu!" bisik Elisabeth penuh dendam mematikan.
Wajah cantiknya kini tampak sangat mengerikan, dipenuhi kebencian dan dendam.
"Lihat saja, Aura... aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang dan bahagia di atas penderitaanku!" batin Elisabeth mengepal jemarinya erat-erat.
Elisabeth melangkah lebar-lebar menuju pintu kamar, berniat keluar dari rumah untuk mencari cara membalas dendam. Namun, baru saja tangannya memegang gagang pintu, Baron Kenny langsung menghadangnya dan mendorong tubuh Elisabeth hingga terpental ke belakang.
"Mau ke mana kamu, Elisabeth?!" bentak Baron Kenny dengan wajah memerah padam.
Elisabeth meringis kesakitan, memegangi bahunya sembari menatap ayahnya dengan tatapan berani.
"Aku mau keluar! Aku harus cari cara untuk menjatuhkan wanita jalang itu!" teriak Elisabeth panik dan emosi.
"Otakmu benar-benar sudah hilang, ya?!" maki Baron Kenny tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Pria paruh baya itu maju beberapa langkah, menunjuk-nunjuk wajah putrinya dengan jari yang gemetar.
"Di luar sana seluruh rakyat dan para bangsawan sedang membicarakan keluarga kita! Namamu sudah membusuk di seluruh ibu kota!" lanjut Baron Kenny dengan suara melengking.
Baroness Olivia ikut berjalan mendekat, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap Elisabeth penuh rasa benci.
"Kalau kamu keluar sekarang dengan muka seperti itu, kamu cuma bakal dilempari batu dan sayur busuk oleh orang-orang!" timpal Baroness Olivia pedas.
"Aku tidak peduli!" jerit Elisabeth tidak mau kalah.
Elisabeth bangkit berdiri sembari menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai.
"Aku tidak sudi hidup miskin! Aku tidak sudi melihat Aura tertawa puas di atas penderitaan kita!" lanjut Elisabeth dengan napas terengah-engah, matanya melotot tajam.
Baron Kenny tertawa kencang, tawa yang penuh dengan nada keputusasaan dan rasa frustrasi.
"Kamu pikir kita masih punya pilihan?!" ucap Baron Kenny membentak.
Pria itu merogoh saku jasnya yang kotor dan melempar beberapa lembar kertas ke wajah Elisabeth hingga berserakan di lantai.
"Lihat itu! Itu surat tagihan utang dari para pedagang dan bankir yang selama ini mendanai gaya hidup mewah!" teriak Baron Kenny telak.
"Dulu mereka mau memberi kita pinjaman karena berpikir kamu bakal jadi istri Pangeran Mahkota! Tapi sekarang? Mereka minta semua utang itu dilunasi sore ini juga!" lanjut sang Ayah memegang dadanya yang terasa sesak.
Elisabeth menunduk, melirik lembaran kertas tagihan dengan angka-angka fantastis yang tertera di sana, wajahnya yang tadi memerah karena marah, perlahan-lahan kembali pucat pasi.
"I-ini... bagaimana bisa utang kita sebanyak ini, Ayah?" bisik Elisabeth terbata-bata, suaranya mendadak bergetar ketakutan.
Baroness Olivia melangkah mendekat lalu mencengkeram kedua bahu Elisabeth dengan sangat kuat, menatap putrinya dari jarak dekat.
"Makanya sadar, Elisabeth! Kita sudah tidak punya apa-apa lagi!" bisik Baroness Olivia penuh penekanan, suaranya terdengar sangat mengerikan.
"Sore ini kita harus mengemas barang-barang berharga yang tersisa dan kabur dari ibu kota sebelum para penagih utang datang dan memenjarakan kita!" lanjut sang Ibu memberikan keputusan.
Elisabeth menggelengkan kepalanya keras-keras, air matanya kembali menetes deras membasahi pipinya.
"Kabur? Kita mau kabur ke mana, Ibu?! Kita ini keluarga bangsawan!" tolak Elisabeth histeris, tidak rela kehilangan status sosialnya.
Baron Kenny membuang muka, mendengus kasar tanpa sudi melihat wajah putrinya lagi.
"Bangsawan dari mana? Status kita sudah dicabut Kaisar! Kita sekarang cuma rakyat jelata miskin yang dikejar-kejar utang!" tegas Baron Kenny tanpa ampun.
"Segera kumpulkan semua perhiasan yang masih bisa dijual! Jangan banyak protes lagi kalau kamu tidak mau membusuk di penjara bersama Luis!" perintah Baron Kenny galak.
Baron Kenny dan istrinya langsung berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu dengan sangat keras.
Brakkk!
Elisabeth jatuh terduduk di atas lantai yang dingin, dikelilingi oleh lembaran surat tagihan dan pecahan kaca riasnya sendiri, dia memegangi dadanya yang naik turun, rasa malu, marah, dan takut bercampur menjadi satu menghantam pikirannya.
"Ini tidak adil... ini benar-benar tidak adil!" raung Elisabeth pelan sembari mengepalkan tangannya di atas lantai.
Elisabeth mendongak menatap pantulan dirinya di sisa pecahan cermin yang berserakan, wajahnya yang hancur membuat rasa dendamnya pada Aura semakin membakar jiwanya.
"Aura Luminar..." bisik Elisabeth dengan suara dingin yang dipenuhi kebencian mematikan.
"Kamu boleh menang saat ini dan menghancurkan hidupku..." lanjut Elisabeth tersenyum miring secara mengerikan di balik tangisnya.
"Tapi aku bersumpah, demi apa pun, aku akan kembali dan membuatmu merasakan penderitaan yang ribuan kali lebih menyakitkan dari ini!" batin Elisabeth mengepal jemarinya kuat-kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan.
Sementara itu, sebuah kereta kuda mewah berukir lambang keluarga Luminar tampak membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai.
Di dalam kereta, Aura duduk santai sembari menatap pemandangan kota dari balik jendela.
Sora yang duduk di hadapannya tampak bolak-balik meremas jemarinya sendiri, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Nona... Anda benar-benar tidak tegang sedikit pun?" tanya Sora akhirnya memecah keheningan, suaranya agak bergetar.
Aura menoleh pelan, menyunggingkan senyum tipis melihat raut wajah pelayannya.
"Kenapa harus tegang, Sora? Pria yang mau kutemui itu Kaisar, bukan penjahat," jawab Aura santai.
Sora mendengus pelan, memajukan tubuhnya sedikit agar bisa berbisik.
"Tapi Nona, ini Kaisar Zane! Beliau itu terkenal sangat dingin, tegas, dan sama sekali tidak suka diatur," bisik Sora, ketakutan.
"Bahkan jendral kekaisaran paling pemberani saja sering gemetar kalau berhadapan langsung dengan beliau. Apalagi ini pesta minum teh di kediaman pribadi beliau!" lanjut Sora dengan mata melotot membayangkan ketakutannya.
Aura terkekeh kecil, menyandarkan punggungnya semakin nyaman di kursi busa kereta.
"Sora, ketakutanmu itu terlalu berlebihan," sahut Aura terkekeh.
"Kaisar Zane memang dingin, tapi dia buka pria gila yang akan memenggal kepala orang tanpa alasan, dia tidak akan memenggal kepalaku tanpa alasan yang jelas," lanjut Aura dengan penuh keyakinan.
"Tapi tetap saja, Nona..." bisik Sora cemas.
"Nona tidak takut kalau Kaisar malah mempermasalahkan tindakan Nona yang menusuk mantan Pangeran Luis semalam?" tanya Sora hati-hati.
Aura menaikkan sebelah alisnya, merapikan sarung tangan kain yang melekat manis di jemarinya.
"Mempermasalahkan?" ulang Aura menyunggingkan senyum miring.
"Kamu kan lihat sendiri semalam, Sora, kaisar bahkan tidak bereaksi apapun saat melihat anaknya tersungkur berdarah-darah," cibir Aura pelan.
"Bagi pria seperti Kaisar Zane, Luis itu cuma sampah yang kebetulan punya status Pangeranan kekaisaran, jadi untuk apa dia membela orang bodoh seperti itu?" lanjut Aura santai tanpa beban.
Glek
Sora menelan ludahnya susah payah, mengangguk-angguk kecil membenarkan ucapan majikannya.
"Iya sih, Nona... selama ini Kaisar memang kelihatan acuh sekali, pada Pangeran Luis, ah maksud ku, Tuan Luis, tapi tetap saja saya rasanya mau pingsan membayangkan Nona berduaan dengan beliau di kediaman pribadinya," cicit Sora pasrah.
Aura menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah pelayannya itu.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛