Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Nabila
Sinar matahari pagi menembus tirai kaca yang menjulang di sudut ruang makan utama, membiaskan pendar keemasan di atas meja marmer. Aroma kopi hitam segar dan roti panggang yang mentega-nya meleleh hangat memenuhi udara. Di balik dapur bersih yang didominasi warna putih murni, Nabila bergerak lincah.
Pagi ini, ia mengenakan gaun terusan simpel berwarna merah muda pucat—menampilkan kesan seorang istri muda yang sederhana, berbakti, dan penuh kepolosan.
Namun di balik gerakan jarinya yang lihai menuang susu, pikiran Nabila sedang melayang ke tempat lain.
Ponselnya yang tergeletak di saku apron bergetar pelan secara berkala. Notifikasi dari Reza masuk bertubi-tubi:
‘Bi, Arga benar-benar sudah tanda tangan dana 100 miliar itu?’
‘Kamu hebat, Sayang. Tanpa bantuanmu meyakinkan si kaku itu, proyek ini tak akan pernah tembus.’
‘Nanti siang ketemu di tempat biasa, ya? Aku rindu.’
Nabila menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, ada rasa bangga dan superioritas yang membuncah di dalam dadanya. Ia merasa begitu berkuasa. Di satu sisi, ia memiliki Arga—pria kaya raya yang gila kerja, suami polos yang sudi menguras seluruh harta demi senyumannya. Di sisi lain, ia memiliki Reza—pria hangat yang penuh gairah, yang tahu cara memanjakan ego dan jiwa mudanya yang haus perhatian.
Bagi Nabila, ia telah memenangkan permainan hidup. Ia mendapatkan segalanya tanpa harus kehilangan apa pun.
"Mas Arga, kopinya sudah siap," panggil Nabila dengan nada suara yang begitu manis, renyah, dan penuh kasih.
Arga melangkah turun dari tangga kayu jati. Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang tergulung rapi hingga siku, menampilkan kesan pria matang yang tenang dan dominan. Wajahnya segar, tatapannya jernih—sama sekali tidak menyisakan jejak dari satu tetes airmata yang sempat jatuh di bantalnya semalam.
"Terima kasih, Nabila," ujar Arga singkat namun halus. Ia duduk di kursi utamanya, menarik napas menikmati aroma kopi buatan istrinya.
Nabila berjalan mendekat, mengitari meja, lalu melingkarkan kedua tangannya di bahu tegap Arga dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di kepala Arga, mengusap dada suaminya pelan.
"Mas Arga kelihatan capek banget akhir-akhir ini," bisik Nabila manja, menyalurkan kemesraan yang selama lima tahun ini selalu berhasil meluluhkan hati Arga. "Jangan terlalu diforsir kerjanya, Mas. Nanti kalau Mas sakit, aku sama siapa? Aku kan cuma punya Mas di dunia ini."
Arga menghentikan jemarinya yang hendak meraih cangkir kopi.
Hanya punya aku di dunia ini ? batin Arga. Kalimat itu terlontar begitu lancar, tanpa ada sedikit pun beban atau jeda keraguan dari bibir Nabila. Arga menyerap setiap kata itu, membedah kepalsuan yang terbungkus rapi dalam nada bicara manis sang istri. Di dalam benaknya, ada letupan kejijikan yang teramat sangat, namun rasa dingin di dadanya langsung memadamkan letupan itu.
Arga merangkul tangan Nabila yang ada di dadanya. Ia menepuk-nepuk jemari istrinya dengan lembut—sebuah gestur penuh kasih sayang yang tampak begitu otentik.
"Mas kerja keras juga untuk menjamin masa depanmu, Nabila," sahut Arga, menoleh sedikit dan menatap mata Nabila dari sudut yang sangat dekat. "Apalagi kemarin kamu sudah setuju menjadi penjamin utama untuk dana 100 miliar yang kita kucurkan ke perusahaan Reza. Tanggung jawabmu sekarang sama besarnya dengan Mas."
Raut wajah Nabila sempat mengencang sekejap—sebuah reaksi mikro yang tak akan tertangkap oleh mata orang biasa, namun Arga membacanya dengan sangat jelas.
"Ah... iya, Mas," Nabila terkekeh pelan, melepaskan pelukannya di bahu Arga dan memilih duduk di kursi sebelah suaminya. Ia memegang cangkir tehnya dengan jemari yang sedikit gemetar. "Tapi... aku kan enggak paham soal dokumen-dokumen hukum gitu, Mas. Reza kemarin bilang, itu cuma formalitas di atas kertas aja, kan? Biar aliran dananya kelihatan sah secara prosedur kantor?"
Arga menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan rasa pahit yang pekat membakar lidahnya sebelum menjawab.
"Tentu saja," kata Arga dengan senyuman paling hangat dan menenangkan. "Hanya formalitas hukum. Tapi dalam dunia bisnis, formalitas itu adalah jaminan mati. Jika ada yang bermain curang atau melarikan uang itu... orang yang bertanda tangan di atas dokumen penjaminlah yang akan menanggung seluruh konsekuensinya. Termasuk disita seluruh aset pribadinya dan diancam hukuman penjara."
Nabila tertahan di napasnya. Wajah cantiknya sedikit kehilangan warna. "P-penjara, Mas?"
Arga tertawa renyah—sebuah tawa santai yang memecah ketegangan yang baru saja ia ciptakan. Ia mengusap pipi Nabila dengan ibu jarinya, membelainya halus.
"Kenapa kamu jadi takut begitu, Sayang?" goda Arga penuh kelembutan. "Kan Reza sahabat terbaik Mas. Mana mungkin Reza melarikan uang itu dan mengorbankan kamu, iya kan? Kamu percaya sama Reza, kan?"
Nabila menelan ludahnya yang terasa kering. Logika di kepalanya berputar cepat, mencoba menata kembali sandiwara yang hampir retak. Ia memaksa bibirnya mengukir senyuman lebar.
"Y-ya jelas percaya dong, Mas! Reza kan orangnya jujur dan bertanggung jawab. Lagian mana mungkin dia tega jahat sama kita," jawab Nabila cepat, berusaha mengembalikan peran istri polosnya. "Aku cuma kaget aja dengar kata 'penjara' tadi."
"Jangan khawatir," bisik Arga tepat di depan wajah Nabila, menatap lurus ke dalam pupil mata istrinya yang diliputi kecemasan terselubung. "Selama kamu jujur dan setia sama Mas... Mas akan selalu ada untuk melindungi kamu dari neraka apa pun."
Chemistry di antara mereka saat itu terasa begitu intens—sebuah perpaduan antara kasih sayang palsu yang diperlihatkan Nabila dan dominasi gelap yang dipancarkan Arga. Nabila merasa disayangi sekaligus terintimidasi oleh tatapan suaminya, sementara Arga menikmati setiap inci ketakutan terselubung yang mulai tumbuh di dalam jiwa wanita itu.
Nabila kembali tersenyum, menyandarkan kepalanya di lengan Arga. "Mas Arga memang suami terbaik. Aku sayang banget sama Mas."
"Mas tahu," jawab Arga pelan, meremas lembut pundak Nabila.
Arga berdiri dari kursinya, mengambil jas hitamnya yang tergantung di sandaran. Saat ia melangkah meninggalkan meja makan, senyuman hangat di wajahnya luntur seketika, digantikan oleh garis wajah yang tajam dan tanpa ampun.
Sandiwara Nabila pagi ini sangat indah, pikir Arga. Namun, ia tidak sabar ingin melihat bagaimana wajah cantik itu akan hancur saat panggung sandiwara yang ia pijak roboh dan membakar seluruh hidupnya.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt