"Saya akan berikan kamu satu milyar, jika kamu bisa melahirkan anak laki-laki untuk saya!"
Demi kesembuhan sang ibu, malam itu Aluna mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupnya
Arjuna Bimantara, pengusaha ternama yang ingin mencari seorang wanita untuk melahirkan penerus bagi Bimantara sebab istrinya yang super model menolak memberikan anak
Akankah kesepakatan Arjuna dan gadis muda itu menghadirkan cinta? Atau selamanya Aluna hanya akan menjadi istri rahasia pria bernama Arjuna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT
Ukurannya bahkan berkali-kali lipat lebih besar dari kamarnya dirumah, semuanya lengkap terisi termasuk lemari besar yang berisi beberapa potong pakaian yang semuanya dari merek ternama
"Semua ini untuk saya?" Tanya Aluna tak percaya
"Tentu saja, ini semua milik nona, jika ada yang kurang segara kabari saya!" Gadis berkulit sawo matang itu menunduk
"Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih mbak"
"Panggil Bona saja, Nona!"
"Baiklah!" Aluna menyodorkan tangannya "Kamu mau jadi teman saya?"
"Maaf nona! Tapi tuan Arjuna tidak akan senang jika nyonya rumah ini berteman dengan seorang pelayan!" Aluna bahkan menarik kembali tangannya
"Memangnya dirumah ini ada larangan untuk berteman?"
"Tuan Arjuna punya peraturannya sendiri, dan kita tidak diperkenankan untuk membantah, jika itu terjadi maka nyawa kita yang akan menjadi bayarannya"
Aluna terkejut mendengarnya, tiba-tiba saja rasa takut itu menyergap nya. Sekarang lari pun tidak akan mungkin
"Sampai seperti itu?"
"Begitulah! Besok saya akan ceritakan lagi tentang kebiasaan tuan Arjuna!"
"Apa dia mafia seperti yang ada di film-film?" Tanyanya dengan rasa penasaran yang sudah menggunung
Bona tertawa mendengarnya, pelayan itu sepertinya tahu jika gadis yang dibawa kekediaman ini adalah gadis yang polos
"Tidak nona! Hanya saja tuan adalah orang yang perfeksionis, dia tidak menyukai kesalahan dalam bentuk apapun, nona pun harus mengikuti aturan itu!"
Aluna meneguk ludahnya, ternyata demi mendapatkan uang yang besar maka iapun harus melakukan hal yang besar
"Apa ada yang nona perlukan lagi?" Tanya pelayan pribadi itu
"Tidak ada! Kamu bisa pergi! Terimakasih" Ucap Aluna sopan
"Jika nona butuh sesuatu, bisa menelepon dengan telepon disana! Nona hanya perlu menekan angka satu"
"Baiklah!"
Wanita itu keluar, sebelum itu ia menutup pintu kamar sang nyonya rumah. Sebagai pelayan dirinya harus membuat Aluna nyaman
Aluna merebahkan diri di atas ranjang yang super empuk. Rasanya begitu nyaman dan ia tidak pernah bermimpi jika dirinya merasakan semua ini
"Mungkin kalau tidur disini gak pernah mimpi buruk kali yaa" Aluna terkikik sambil berguling-guling di atas ranjangnya, hingga tanpa sadar ia terlelap
Suara ketukan pintu, membangunkan Aluna dari tidurnya. Rasanya ia tidak ingin beranjak dari tempat yang nyaman ini
Aluna beringsut bangun, mendekati pintu lalu membukanya. Disana ada Bona yang siap melayani Nona nya
"Nona baru bangun?" Tanya Bona
"Iya" Aluna mengusap kedua matanya dengan tangan "Ada apa Bona?"
"Sudah waktunya makan malam, Nona ditunggu dimeja makan" Ujar Bona dengan sopan
"Baiklah, sebentar lagi saya turun"
"Saya harus menyiapkan keperluan nona
"Saya bisa sendiri" Aluna merasa tidak perlu sampai seperti ini
"Tidak bisa Nona, ini sudah tugas saya. Saya tidak ingin kehilangan pekerjaan"
"Baiklah! Ayo masuk!"
Aluna bergeser agar pelayannya itu dapat masuk, Bona menggeleng saat melihat tempat tidur sang Nona yang begitu berantakan, entah bagaimana rupa gadis ini saat tengah tidur
"Nona ingin mandi air hangat?" Tanya Gadis berkulit sawo matang itu
"Tidak perlu Bona! Kamu siapkan saja pakaian saya! Saya akan mandi sendiri"
Gadis pelayan itu tampak ragu, ia sudah diberi perintah untuk melayani keperluan sang nona tapi gadis ini ingin melakukannya sendiri
"Saya tidak akan bicara apapun pada tuan, kamu tenang saja" Aluna tersenyum setelahnya barulah berlalu masuk kedalam kamar mandi
"Baiklah"
Sementara Aluna membersihkan diri, pelayan itu membersihkan tempat tidur lalu menyiapkan pakaian yang akan nona nya kenakan
Lima belas menit pintu kamar mandi terbuka, Aluna keluar dengan hanya menggunakan bathrobe
"Pakaian Nona sudah saya siapkan!"
"Kamu bisa keluar Bona!"
"Saya akan membantu nona Aluna untuk bersiap" Aluna ingin menolak, namun ia tahu jika Bona akan bersikeras
Aluna merasa dirinya adalah putri raja, dress selutut berwarna putih. Aluna yang terbiasa menggunakan kaus dan celana panjang jelas saja tidak terbiasa
Bona juga menata rambut panjang majikannya itu, lalu membubuhkan riasan tipis diwajah cantiknya
"Nona sangat cantik" Puji Bona
"Terima kasih Bona, tapi saya kurang nyaman seperti ini"
"Nona harus terbiasa, tuan tidak menyukai wanitanya berpenampilan biasa"
Setelah dirasa cukup, keduanya keluar menuju meja makan. Aluna tersenyum saat melihat pria yang membuat jantungnya berdetak ada disana
"Selamat malam tuan Joseph" Sapa Aluna dengan senyum merekah
"Silahkan duduk nona!"
Gadis cantik itu berdecih, Joseph bahkan tidak membalas sapaannya
"Besok pagi saya akan membawa nona ke suatu tempat" Ucap pria tampan bermanik biru itu
"Kemana?"
"Tuan Arjuna ingin menemui anda ditempat itu"
Aluna tidak lagi menjawab, entah kenapa mendengar nama itu membuat bulu kuduk nya berdiri
"Emmm" Aluna tampak ragu, dan Joseph bisa melihatnya
"Nona membutuhkan sesuatu?"
"Boleh gak saya punya HP? Saya bosan cuma tiduran aja" Aluna memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya
"Maaf nona, tuan Arjuna tidak mengizinkan anda untuk memegang ponsel" Aluna hanya tertunduk
"Jika masalahnya hanya bosan, disamping kamar yang nona tempati adalah ruang baca! Ada berbagai macam buku disana"
"Saya malas baca buku" Ketusnya
"Kalau begitu saya akan minta pelayan untuk memasang televisi dikamar anda" Joseph ini sepertinya selalu punya solusi untuk setiap masalahnya
"Izinkan saya berteman dengan pelayan" pintanya
"Itu juga tidak bisa"
"Kenapa? Saya kan.."
"Saya hanya melaksanakan tugas, jika nona memiliki keinginan maka sampaikan langsung pada tuan"
Tidak ada pilihan, Joseph ini sepertinya tangan kanan dari bos besar yang telah 'membelinya'
Dan sebagai orang kepercayaan, jelas dia akan selalu menurut pada atasannya
"Kalau begitu dimana tuan itu? Saya ingin pekerjaan ini segera berakhir"
Pria setengah bule itu berdiri, hal yang jelas membuat Aluna terkejut
"Ikuti saja alurnya, Nona! Anda tidak diperkenankan untuk bertanya atau melakukan hal diluar kesepakatan!"
Setelah mengatakan itu Joseph meninggalkan meja makan, Aluna merasa dirinya sudah keterlaluan
Harusnya ia tidak banyak permintaan dan malah minta macam-macam pada Joseph
Aluna ikut bangkit dari duduknya, padahal makanan diatas meja masih sangat banyak. Entah kenapa saat pria yang menarik perhatiannya itu pergi ia jadi tidak bernafsu untuk makan
"Apa nona tidak suka makanannya? Atau nona ingin saya membuatkan menu lainnya?" Tanya wanita yang merupakan kepala pelayan, namun Aluna lupa namanya
"Tidak perlu bi" Tolak Aluna dengan ramah "Kalian makan saja! Saya juga sudah kenyang"
Setelah mengatakan itu, gadis cantik berwajah imut itu berlalu, menaiki tangga demi sampai ke kamarnya
Sesampainya dikamar, Aluna mulai merasakan rasa rindu yang teramat pada keluarganya
Ia tidak pernah terpisah jauh dari keluarganya, mereka selalu bersama walaupun ditengah kesulitan hidup
Tanpa sadar, cairan bening meluruh dari pelupuk matanya. Sekarang menyesal pun tidak berguna
Ia sudah terlanjur jatuh kedalam lubang penderitaan yang ia sepakati