Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dosa Masa Lalu dan Pelarian
Meninggalkan kemegahan *penthouse* berdarah itu, Aluna memapah tubuh Arjuna yang babak belur menuju lift pribadi, turun ke lantai tempat apartemen pribadi pria itu berada. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka sepanjang lorong yang sepi itu.
Apartemen Arjuna sama rahasianya dengan sang pemilik. Ruangannya luas, minimalis, dan didominasi warna monokrom yang suram. Aluna menuntun Arjuna—yang napasnya masih tersengal menahan nyeri pada tulang rusuknya—untuk duduk di atas sofa kulit berwarna hitam di tengah ruangan. Tanpa membuang waktu atau bertanya, gadis itu segera melangkah ke kamar mandi, seolah instingnya tahu persis di mana harus mencari kotak P3K.
Ketika Aluna kembali, ia membawa sebaskom kecil air hangat, handuk bersih, kapas, dan obat-obatan. Gadis itu menarik meja kecil, lalu berlutut di atas lantai pualam tepat di hadapan Arjuna.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan terukur, Aluna memeras handuk basah itu dan mulai membersihkan sisa darah yang mengering di sudut bibir dan rahang Arjuna. Setelah itu, ia menyingkirkan sisa kain dari kaus taktis pria itu untuk mengobati luka tembak yang menyerempet lengan atasnya.
Arjuna menahan napas. Bukan karena perihnya cairan antiseptik yang menyentuh luka terbukanya, melainkan karena ia tengah menatap lekat-lekat wanita yang berlutut di hadapannya.
Aluna sama sekali tidak mengatakan apa pun. Tangannya yang mungil—tangan yang sama yang memegang palu keadilan di ruang sidang, dan yang beberapa waktu lalu tanpa ragu menodongkan pistol ke kepalanya sendiri—kini bergerak dengan sangat presisi dan stabil. Tidak ada getaran ketakutan di jemarinya. Wajah cantiknya yang kini dibingkai riasan tajam itu tampak begitu datar.
Tidak ada kegelisahan. Tidak ada kegusaran. Ia bekerja dalam keheningan yang absolut, seolah merawat luka parah seorang buronan nomor satu di negara ini adalah rutinitas yang wajar.
Arjuna menatap mata hitam Aluna yang fokus pada lukanya. Di masa lalu, jika Arjuna datang menemuinya dengan memar sekecil apa pun setelah berkelahi, gadis itu pasti akan panik, menangis, dan menceramahinya tanpa henti dengan raut wajah cemas. Namun kini, wanita yang ada di sisinya ini terasa sangat jauh dan asing.
Arjuna tiba-tiba menyadari satu realitas yang menghantam kesadarannya lebih keras daripada pukulan para pengawal ayahnya tadi. Wanita di sisinya ini bukanlah Aluna lama yang lugu. Ini bukan lagi Aluna remaja yang selalu kebingungan mencari arah, yang selalu bergantung padanya, dan belum memiliki pijakan atas dirinya sendiri.
Gadis rapuh yang ia tinggalkan menunggu seperti orang bodoh di stasiun kereta sepuluh tahun yang lalu telah benar-benar mati.
Kehilangan yang menyiksa selama satu dekade telah menempa Aluna. Rasa sakit itu telah membekukan air matanya, mengubahnya menjadi sang "Palu Es" yang ditakuti di dunia hukum, dan puncaknya malam ini... mengubahnya menjadi seorang wanita mematikan yang rela menginjak-injak sumpahnya sendiri demi melangkah ke dalam lubang neraka. Dan Arjuna tahu, dialah dalang yang menciptakan monster indah dan sedingin es di hadapannya ini.
Perlahan, tangan besar Arjuna terangkat. Ia menahan pergelangan tangan Aluna yang sedang menempelkan perban di bahunya. Gerakan Aluna terhenti. Gadis itu perlahan mendongak, mempertemukan tatapan mereka dalam jarak yang begitu dekat.
Di bawah cahaya lampu apartemen yang temaram, suara Arjuna terdengar sangat parau, sarat akan luka, rasa bersalah, dan kerinduan yang bertabrakan.
"Siapa kamu, Aluna?" bisik Arjuna, matanya menelusuri setiap inci wajah datar dan tanpa emosi di hadapannya. "Apa yang sudah aku lakukan sampai membuatmu seperti ini? Dingin... aku merasakan kebekuan dari sikapmu."
Aluna membalas tatapan kelam itu tanpa berkedip. Tidak ada air mata yang menggenang. Tidak ada bibir yang bergetar. Ia menatap pria itu dengan keteguhan yang mustahil untuk dipatahkan oleh siapa pun, bahkan oleh kematian.
Mendengar pertanyaan Arjuna yang parau dan sarat akan rasa bersalah, Aluna membalas tatapan kelam pria itu tanpa berkedip. Tidak ada air mata, tidak ada amarah. Di bawah cahaya lampu apartemen yang temaram, wajah cantiknya yang kini dibingkai riasan tajam itu tetap tenang.
Gadis itu perlahan mengangkat tangannya, melepaskan cengkeraman Arjuna di pergelangan tangannya, lalu beralih mengusap lembut rahang pria yang babak belur itu.
"Kita pergi dari negeri ini," jawab Aluna. Suaranya diucapkan dengan sangat pelan, namun mengudarakan sebuah kepastian yang tak tergoyahkan oleh hukum apa pun di dunia ini.
Mendengar jawaban itu, Arjuna terdiam. Pertahanannya runtuh sepenuhnya. Pria yang tak pernah gentar menghadapi maut itu kini luluh lantak di hadapan satu-satunya wanita yang ia cintai. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Arjuna perlahan memangkas jarak di antara mereka, menunduk, dan mengecup lembut bibir Aluna. Kecupan itu hangat, rapuh, dan sarat akan pemujaan yang mendalam, menghapus segala noda darah dan keputusasaan malam itu.
Waktu seolah memudar. Di tengah sisa badai yang masih mengguyur kota, malam itu mereka meleburkan sepuluh tahun penantian yang menyiksa. Di atas ranjang apartemen yang dingin, mereka menghabiskan waktu berdua, saling merengkuh seolah dunia akan kiamat esok hari. Tanpa kata. Tanpa bicara. Hanya sentuhan dan rintihan cinta yang menyiratkan kerinduan sedalam samudra. Tubuh mereka saling menyembuhkan luka, membiarkan kebekuan itu mencair dalam rengkuhan gairah yang lama terpendam.
Sinar matahari pagi yang pucat akhirnya menembus celah tirai yang tak tertutup rapat.
Arjuna terbangun dengan tubuh yang masih terasa nyeri akibat pukulan di markas ayahnya. Di sisinya, Aluna tertidur pulas, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arjuna, memeluk pria itu dengan posesif bahkan dalam tidurnya.
Namun, alih-alih merasakan kedamaian, dada Arjuna justru dihantam oleh kegelisahan yang menyesakkan. Menatap wajah damai sang mantan Hakim Ketua itu, ingatan Arjuna secara kejam ditarik mundur, memutar balik waktu ke sebuah masa di masa remaja mereka.
Ingatan itu menyerangnya seperti racun. Di sebuah kamar remang sepuluh tahun yang lalu, bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan isak tangis yang menyayat hati. Arjuna ingat betul bagaimana Aluna remaja menangis tersedu-sedu, meringkuk memeluk lututnya dengan pakaian yang terkoyak, meratapi kehormatan dan kesuciannya yang baru saja direnggut dengan paksa.
Arjuna remaja saat itu berbaring gelisah di atas ranjang yang sama, menatap langit-langit dengan napas memburu. Awalnya, ia merencanakan hal itu sebagai sebuah kenakalan—sebuah pembalasan dendam yang paling kejam. Aluna adalah kelemahan terbesar Inspektur Arya Larasati. Karena sang polisi yang lurus itu selalu mengganggu dan menghancurkan bisnis gelap ayah Arjuna, menodai putri sucinya adalah cara Arjuna meludahi kesombongan dan keadilan sang inspektur.
Ia pikir, merusak Aluna akan memberikannya kemenangan mutlak atas kepolisian. Ia pikir ia akan merasa puas melihat putri kebanggaan aparat itu hancur.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Malam itu, mendengar tangisan pilu gadis yang dulu selalu mengajarinya fisika dengan tulus, Arjuna tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Rasa jijik dan penyesalan langsung mencekiknya hidup-hidup. Kesombongannya hancur, digantikan oleh kesadaran bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya hal murni dalam hidupnya yang gelap.
Kini, sepuluh tahun kemudian, tangan besar Arjuna gemetar saat mengusap helaian rambut Aluna yang tertidur di dadanya. Wanita ini telah membuang segalanya—karirnya, ayahnya, hingga nyawanya sendiri di hadapan Raja Mafia—hanya demi mencintai pria yang pernah menghancurkannya dengan begitu keji.
Arjuna memejamkan mata, menahan sesak yang luar biasa di tenggorokannya. Ia tahu, gelar buronan nomor satu atau teroris paling dicari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dosa aslinya pada wanita ini. Ia bukanlah penguasa. Ia hanyalah seorang bajingan yang sangat keterlaluan, yang kini berutang nyawa dan seluruh sisa hidupnya pada kebekuan Aluna Larasati.