Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
Rumah pelanggan itu berada di gang sempit di Medan Denai, dicat hijau muda dan dipenuhi suara orang bertengkar bahkan sebelum kami turun dari motor.
Seorang perempuan tua membuka pintu. Namanya Mak Nursiah. Ia melihat seragam kerja kami, lalu menunjuk perempuan lebih muda di dapur seperti sedang menyerahkan tersangka.
“Itu dia menantuku,” katanya. “Sejak dia beli rice cooker baru, listrik rumah jatuh terus.”
Menantunya, Maya, membalik badan sambil memegang sendok nasi. “Sejak saya masuk rumah ini, semua yang rusak dibilang karena saya. Keran bocor pun mungkin karena saya terlalu sering bernapas.”
Fadli memarkir motor di teras dan berbisik kepadaku, “Kita pasang tarif keluarga.”
“Tidak ada tarif keluarga.”
“Harus ada. Tegang kali udaranya.”
Liza masuk dengan buku catatan. “Kami perlu tahu kapan listrik padam, peralatan apa yang menyala, dan apakah ada bau atau percikan.”
Mak Nursiah menjawab duluan. “Setiap dia masak.”
Maya menyahut, “Karena semua orang makan saat saya masak.”
“Rice cooker itu terlalu besar.”
“Cuma satu koma delapan liter, Mak.”
“Dulu kami masak pakai periuk, listrik tidak pernah jatuh.”
“Karena periuk tidak pakai listrik.”
Aku mengangkat kedua tangan. “Sebelum kita memperbaiki silsilah keluarga, boleh lihat panelnya?”
Mak Nursiah menyipitkan mata. “Kau pihak siapa?”
“Pihak yang dibayar.”
Liza menoleh tajam.
Aku memperbaiki jawaban. “Pihak instalasi yang aman.”
Panel rumah berada di dekat kamar mandi, tertutup kalender lama dan gantungan sapu. MCB utama berkapasitas kecil untuk jumlah peralatan di rumah itu. Dari keterangan Maya, listrik biasanya padam sekitar pagi ketika rice cooker memasak, dispenser memanaskan air, kulkas bekerja, dan pompa air menyala karena ada yang mandi.
“Itu kebetulan saja,” kata Mak Nursiah. “Sebelum rice cooker masuk, aman.”
Aku memeriksa jalur dan menemukan sebagian besar stopkontak dapur, dispenser, kulkas, serta pompa tersambung pada sirkuit yang sama. Kabelnya bukan langsung rusak, tetapi pembagiannya buruk. Beban menumpuk di satu jalur seperti keluarga yang menyimpan semua marah dalam satu ruang makan.
Aku hendak menjelaskan ketika Maya menyalakan rice cooker untuk menunjukkan gejala. Liza langsung bertanya, “Peralatan lain yang menyala apa saja?”
Dispenser sedang memanaskan. Kulkas baru saja berdengung. Dari kamar mandi terdengar pompa air hidup.
MCB jatuh.
Rumah padam. Televisi di ruang tengah mati tepat ketika seorang laki-laki tua menonton berita. Ia berteriak dari sofa, “Siapa pulak yang masak?”
Maya menutup mata. Mak Nursiah menunjuk rice cooker dengan kemenangan seorang jaksa.
“Tengok!” katanya. “Dia pelakunya.”
Dalam gelap, Fadli berkata, “Rice cookernya mengaku belum?”
Aku menyalakan senter dan meminta semua peralatan dimatikan. Setelah MCB dinaikkan, kami menguji satu per satu. Rice cooker bekerja sendiri tanpa masalah. Dispenser juga. Pompa juga. Masalah muncul ketika semuanya bekerja bersamaan.
“Bukan satu alat,” jelasku. “Jalurnya terlalu banyak beban. Rice cooker cuma datang paling akhir, jadi kelihatan seperti penyebab.”
Mak Nursiah tidak puas. “Berarti sebelum dia beli, memang tidak padam.”
“Benar,” kataku. “Tapi bukan berarti menantunya rusak.”
Maya tertawa pendek. Untuk pertama kali sejak kami datang, bahunya turun.
Mak Nursiah memandangku seolah aku telah berpihak. “Kau belum tinggal sama dia.”
“Aku juga tidak dibayar untuk tinggal di sini.”
Liza menyikut lenganku. “Jelaskan pilihan perbaikannya.”
Kami menawarkan penataan ulang jalur dapur dan pompa agar beban tidak menumpuk. Ada pilihan sementara yang lebih murah: tidak menyalakan pemanas dispenser dan pompa bersamaan dengan rice cooker. Namun, solusi itu bergantung pada semua orang mengingat aturan setiap hari, sesuatu yang tampaknya lebih sulit daripada menarik kabel baru.
Maya ingin perbaikan permanen. Mak Nursiah menganggap biayanya terlalu besar dan menyuruh menantunya kembali memakai periuk. Laki-laki tua dari ruang tengah masuk sambil membawa remote televisi.
“Berapa lama kalau diperbaiki?” tanyanya.
“Beberapa jam untuk jalur yang diperlukan,” jawabku.
“Kerjakan. Aku tidak mau berita mati tiap orang mau makan.”
Mak Nursiah menatap suaminya. “Uangnya dari mana?”
“Dari uang rumah.”
“Uang rumah itu aku yang pegang.”
“Makanya aku tanya lewat teknisi.”
Fadli menunduk agar tidak terlihat tertawa. Liza menjelaskan harga dengan tenang dan meminta persetujuan kedua pihak yang akan membayar. Akhirnya Mak Nursiah dan Maya setuju berbagi biaya, meski keduanya menandatangani kuitansi dengan tekanan pulpen yang cukup untuk menembus meja.
Aku dan Fadli menarik jalur baru ke dapur. Kami memisahkan pompa dari sirkuit peralatan memasak, mengganti satu stopkontak yang sudah longgar, dan memberi label pada pengaman. Maya membantu memindahkan barang. Mak Nursiah mengawasi dari pintu sambil memberi komentar tentang debu, lubang, dan cara kami meletakkan sandal.
“Bang Jepot,” katanya, “kabelnya jangan tampak. Jelek.”
Aku hampir menjawab bahwa kabel aman memang tidak harus menjadi hiasan, tetapi pengalaman di kafe masih segar. “Kami pakai jalur yang rapi, Mak. Yang penting bisa diperiksa kalau ada masalah.”
Liza melirikku. Tidak tersenyum, tetapi aku tahu ia mendengar perubahan itu.
Saat pengujian, kami menyalakan rice cooker, dispenser, kulkas, dan pompa sesuai pembagian baru. MCB tidak jatuh. Televisi tetap menyala. Laki-laki tua di ruang tengah bertepuk tangan satu kali tanpa melepas pandangan dari layar.
Maya membuka tutup rice cooker. Uap keluar. “Jadi alatnya tidak salah.”
Mak Nursiah mencicipi nasi dengan ujung sendok. “Nasinya agak lembek.”
“Itu airnya kebanyakan, Mak.”
“Tetap sejak kau beli alat ini.”
Pertengkaran mereka kembali berjalan, tetapi volumenya tidak lagi seperti sebelum kami datang. Masalah listrik selesai; masalah keluarga hanya berpindah topik.
Liza menerima pembayaran dari dua amplop berbeda. Ia membuat satu kuitansi dengan dua nama agar tidak ada yang merasa menjadi pihak yang kalah atau menang. Maya bertanya apakah pembagian biaya seperti itu biasa.
“Tidak,” jawab Liza. “Tapi rumah ini juga tidak biasa.”
Di teras, Fadli memasukkan alat ke kotak motor. Aku sedang menggulung kabel sisa ketika Mak Nursiah memanggilku ke samping. Ia memastikan Maya tidak melihat, lalu menyelipkan dua lembar uang ke telapak tanganku.
“Ini untukmu,” bisiknya. “Nanti kalau ditanya tetangga, bilang saja rice cooker itu memang penyebab utama. Jangan sebut jalur rumah.”
Aku melihat uang di tanganku, lalu wajah Mak Nursiah yang menunggu jawaban.
Dari dalam rumah, Maya memanggil, “Bang, yang salah sebenarnya siapa?”