NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 8- Wasiat Terakhir

Lanjut...

Lampu merah di atas pintu ganda ruang operasi masih menyala terang, memancarkan pendar dingin yang seolah menandai pertarungan sengit antara hidup dan mati di dalam sana.

Kirana terduduk di atas kursi besi yang dingin di lorong rumah sakit. Kedua tangannya saling bertaut kaku di atas pangkuan, sementara pandangannya menatap kosong pada lantai porselen putih yang memantulkan bayangan lampu neon yang samar.

Pikirannya melayang tanpa arah. Suara dengkur halus dari Aura, anak kecil yang kini tertidur pulas di atas brankar UGD tak jauh dari sana sesekali terdengar.

Setiap kali mata Kirana menatap wajah polos anak itu, rasa pedih yang amat sangat kembali menghantam dadanya. Anak itu adalah bukti nyata pengkhianatan Rendra, bukti dari kepedihan yang terus menggerogoti jiwanya sejak beberapa jam lalu.

Namun, belum sempat Kirana merapikan benang-benang emosi yang saling berbelit di kepalanya, pintu ganda ruang operasi mendadak terbuka dengan sentakan yang keras.

SREEEKKK!

Seorang perawat dengan pakaian steril berwarna hijau lengkap dengan masker yang tergantung di lehernya keluar dengan setengah berlari.

Matanya menyapu lorong dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan dan kepanikan yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Ibu Kirana! Ibu Kirana, keluarga Bapak Rendra?!" panggil perawat itu dengan suara parau yang menyiarkan pertanda buruk.

Kirana tersentak. Seluruh persendian di tubuhnya serasa mengeras. Ia berdiri dengan tergesa-gesa hingga kursi besi yang didudukinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara gesekan yang nyaring di koridor.

"S-saya, Suster! Saya istrinya!" sahut Kirana. Langkah kakinya menyeret cepat mendekati perawat tersebut. "Bagaimana suami saya, Suster? Operasinya sudah selesai, 'kan? Mas Rendra selamat, 'kan?!"

Perawat itu menatap Kirana dengan pandangan iba. Ia memegang kedua lengan Kirana yang gemetar dan berusaha memberikan ketenangan meski berita yang dibawanya terasa amat berat.

"Ibu Kirana... maafkan kami," bisik perawat itu. "Sepertinya... Pak Rendra tidak bisa bertahan saat operasi berjalan. Pendarahan dalam di organ vitalnya terlalu parah dan tekanan darahnya merosot drastis. Kondisinya saat ini sangat kritis dan tidak merespons obat-obatan lagi."

DUARRRRR!!

Dunia Kirana serasa runtuh seketika. Lidahnya mendadak kelu, dadanya tertekan beban berkuintal-kuintal hingga ia hampir kehabisan napas. "G-gak mungkin... Tapi tadi suster bilang detak jantungnya sudah kembali!"

"Tim dokter sudah berusaha sekuat tenaga, Bu. Namun tubuhnya sudah sangat lemah," lanjut perawat itu. "Saat ini Pak Rendra sudah dalam keadaan sangat pasrah... tapi di sela-sela kesadarannya yang terus menipis, beliau terus memanggil-manggil nama Ibu. Beliau memaksa dan memohon ingin bertemu dengan Ibu untuk yang terakhir kalinya. Tolong ikut saya sekarang, Bu. Waktunya sangat singkat!"

Tanpa berpikir panjang, Kirana mengangguk cepat di tengah derasnya air mata yang meleleh membasahi pipinya.

Rasa benci, cemburu, dan luka batin yang membakar dadanya seolah menguap dalam sekejap, tergantikan oleh rasa takut akan kehilangan yang amat teramat sangat.

Langkah kaki Kirana berderap cepat menyusuri koridor steril menuju ruang operasi. Bau amis darah yang bercampur dengan antiseptik tajam langsung menyengat indra penciumannya saat ia melangkahi ambang pintu.

Di tengah ruangan bernuansa hijau pudar itu, lampu operasi yang besar dipadamkan sebagian.

Dokter bedah dan beberapa perawat berdiri mematung di sekitar meja operasi dengan raut wajah yang amat letih sekaligus prihatin. Alat-alat medis dari besi berkilat bergelimpangan di atas meja, menjadi saksi bisu pertarungan medis yang baru saja menemui kekalahan.

TIT... TIT... TIT...

Suara monitor detak jantung terdengar begitu lemah, lambat, dan berjarak. Garis-garis grafik di layarnya mendatar secara perlahan, menandakan bahwa sang pendorong kehidupan di dalam dada Rendra sedang bersiap untuk berhenti memompa selamanya.

Di atas meja operasi, Rendra terbaring tak berdaya. Masker oksigen yang menutupi bagian bawah wajahnya telah dilepas sebagian, hingga memperlihatkan bibirnya yang pucat pasi dan berdarah.

Matanya yang sayu dan membengkak setengah terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit ruangan sampai akhirnya pandangannya menangkap sosok Kirana yang melangkah masuk.

"M-Mas... Rendra...!" jerit Kirana.

Kirana berlari kecil mendekati meja operasi. Ia berlutut di samping tubuh suaminya yang terkulai lemah. Tanpa peduli pada bau darah dan suasana dingin di sekitar mereka, Kirana langsung meraih telapak tangan kanan Rendra yang terasa begitu dingin dan kaku.

"Mas! Ini aku, Mas! Aku di sini!" tangis Kirana menyeruak hebat.

Ia membawa telapak tangan Rendra ke pipinya, menciumi punggung tangan pria itu berkali-kali dengan linangan air mata yang tak terbendung. "Kenapa kamu seperti ini, Mas?! Jangan menyerah! Kamu janji akan selalu ada untukku dan Keisya! Kamu janji, Mas!"

Kirana memeluk tubuh Rendra yang tiada berdaya. Ia menyandarkan kepalanya di atas dada Rendra, dan mencoba merasai detak jantung suaminya yang kian melemah di balik otot-dada yang tak lagi hangat.

Rasa sakit dikhianati yang tadi merintih di dalam hatinya kini menjelma menjadi kerinduan dan keputusasaan yang meluap-luap.

"Maafkan aku... maafkan aku jika aku tadi marah padamu, Mas..." bisik Kirana lirih di sela isakannya yang hebat. "Bangun, Mas... kita pulang ke rumah. Keisya menunggu kita di rumah..."

Dokter bedah yang berdiri di sisi lain meja operasi hanya menundukkan kepala secara perlahan, mengisyaratkan kepada para perawat untuk mundur beberapa langkah dan memberikan ruang serta privasi terakhir bagi pasangan suami istri tersebut.

Di dalam kelemahan tubuhnya yang hampir mati, Rendra merasakan kehangatan air mata Kirana yang menetes membasahi dadanya.

Kelopak matanya bergetar pelan, dan dengan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa di dalam dirinya, jemari Rendra yang kaku mencoba bergerak membalas genggaman tangan Kirana.

"K-Kirana..." suara Rendra terdengar sangat serak, parau, dan terputus-putus. Setiap hela napas yang ditariknya terdengar bagai gesekan amplas yang menyiksa dada.

Kirana mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah suaminya yang pucat, lalu menyapu lembut bercak darah di pelipis Rendra dengan jemarinya yang gemetar. "Iya, Mas... aku di sini. Aku mendengarmu, Mas..."

Rendra menatap mata Kirana dengan pandangan yang amat redup namun dipenuhi oleh penyesalan yang membakar jiwa. Air mata bening mengalir dari sudut matanya, hingga membasahi perban yang membelit kepalanya.

"M-maaf... kan... a-aku..." bisik Rendra lirih, suaranya hampir tenggelam oleh desis mesin pemonitor jantung. "A-aku... sangat... mencintaimu... Kirana..."

"Iya, Mas... aku sudah memaafkanmu. Aku sudah memaafkan semuanya! Tolong bertahanlah demi aku dan Keisya..." pangkas Kirana cepat sambil menggelengkan kepalanya, seakan tak sanggup mendengar nada perpisahan dalam suara suaminya.

Namun, Rendra menggelengkan kepalanya sangat pelan. Ia tau waktunya sudah habis. Dunia di sekitarnya perlahan memudar dan menjadi gelap.

Namun, ada satu hal, satu dosa dan beban besar yang masih mengganjal di dalam hati Rendra sebelum ia menghembuskan napas terakhir.

Dengan sisa kekuatannya yang terakhir, Rendra mencengkram jemari Kirana dengan sedikit lebih erat. Matanya menatap Kirana dengan tatapan memohon yang begitu memilukan.

"A-Aura..." desis Rendra terbata-bata, napasnya makin memburu dan pendek-pendek. "T-tolong... rawat... Aura..."

Seketika Kirana membeku. Tangisnya langsung terhenti di pangkal tenggorokan.

"R-rawat Aura... s-seperti... kamu... m-merawat... Keisya..." sambung Rendra dengan suara yang kian menipis, seolah menumpahkan seluruh harapan dan penyesalannya pada kata-kata tersebut.

Teg!!!

Dada Kirana serasa dihantam oleh ribuan sembilu yang tajam. Tatapan matanya yang tadinya dipenuhi rasa iba dan cinta mendadak berubah menjadi tatapan tak percaya.

Di saat-saat terakhir hidupnya, di ambang kematian yang sudah berada di depan mata, hal utama yang dikhawatirkan dan dimohonkan oleh Rendra bukanlah pengampunan atas rasa sakit yang dirasakan Kirana, bukan pula jaminan kebahagiaan untuk Keisya, melainkan masa depan dari anak hasil pernikahan rahasianya dengan Ayu!

_____

Hingga...

Rasa sakit hati yang amat dahsyat kembali menyeruak dari balik luka Kirana yang belum sempat mengering. Rasa tidak adil kembali menghantam jiwanya tanpa ampun.

"Mas..." bisik Kirana, suaranya bergoyang oleh ketidakpercayaan yang mendalam. "Di saat seperti ini... di ujung napasmu... yang kamu pikirkan adalah anak dari wanita itu? Bagaimanakah denganku, Mas? Bagaimana dengan Keisya?!"

Perlahan dan dengan tubuh yang gemetar karena rasa kecewa yang mendalam, Kirana mencoba menarik dan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Rendra.

Ia merasa kepalanya berputar dan tak sanggup menerima beban wewenang dan kepedihan yang ditimpakan Rendra secara mendadak ke atas pundaknya.

Namun, menyadari Kirana yang mencoba menarik diri, Rendra merasa panik. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir dari tubuhnya yang sekarat, Rendra menahan tangan Kirana dengan cengkraman kaku yang amat kuat.

Matanya membelalak dipenuhi ketakutan dan keputusasaan.

"A-aku... mohon... Kirana...!" jerit Rendra parau. "J-jangan... tinggalkan... A-Aura... arghhh...!"

TIT... TIT... TIT........... BEEEEEEEEEEEEEEEEEEP!

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!