Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Etalase Berjalan yang Jenius
"Nona, hamba sudah menyiapkan sebotol minyak tanah dan obor. Kita harus membakar bengkel perak itu sekarang juga sampai rata dengan tanah."
Suara bantingan pintu kayu terdengar sangat keras saat Odette melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Pelayan kecil itu membuang keranjang belanjaannya ke lantai. Wajahnya memerah padam karena amarah yang meledak ledak. Napasnya memburu cepat, membuat celemek putihnya naik turun seirama dengan kekesalannya.
Geneviève yang sedang menyesap teh kamomil di balik meja kerjanya tidak terkejut sama sekali. Ia meletakkan cangkir porselen itu dengan gerakan anggun yang sangat terlatih. Matanya menatap Odette dengan ketenangan mutlak.
"Turunkan nada suaramu, Odette. Dan tolong jauhkan ide tentang pembakaran massal dari kepalamu. Asapnya akan mengotori gaun baruku," ucap Geneviève santai. Ia mengambil pena bulu dan mencelupkannya ke dalam botol tinta. "Katakan padaku, berita buruk apa yang kau bawa dari pasar pagi ini?"
Odette berjalan cepat menghampiri meja kerja majikannya. Tangannya bertumpu pada permukaan meja dengan kuat.
"Hamba baru saja mampir ke kedai kopi di distrik perajin untuk menemui informan hamba. Dan coba tebak apa yang hamba dengar, Nona? Perajin emas langganan Istana Soleil sedang sibuk membuat kalung baru pesanan khusus Putri Mahkota. Dan desain kalung itu adalah sulur daun yang saling mengunci. Bentuknya sama persis dengan cetak biru yang Anda berikan kepada Tuan Fabron tiga hari yang lalu."
Geneviève menghentikan gerakan penanya di atas kertas. Tetesan tinta hitam jatuh menodai perkamen kosong tersebut.
"Mereka mencuri desain kita, Nona." Odette melanjutkan laporannya dengan gigi gemertak menahan murka. "Anak magang kurus di bengkel Fabron itu pasti mata mata istana. Ia menjual kerja keras Anda kepada faksi kerajaan. Yang Mulia Putri Mahkota berniat meluncurkan perhiasan itu di pesta dansa musim gugur minggu depan, tepat sebelum toko kita resmi beroperasi. Mereka ingin membuat Anda terlihat seperti peniru murahan."
Keheningan yang sangat dingin langsung menyelimuti ruangan itu.
Rasa frustrasi yang luar biasa pekat menyergap dada Odette. Bagi pelayan dari kalangan rakyat jelata sepertinya, pencurian ide adalah kejahatan yang setara dengan mencuri roti dari mulut orang kelaparan. Ini adalah sabotase terang terangan. Istana menggunakan kekuasaan dan jaringan mata mata mereka untuk menghancurkan bisnis Le C'eow bahkan sebelum bisnis itu lahir.
Namun, di luar dugaan Odette, Geneviève justru tersenyum.
Senyum wanita itu tidak mengandung amarah meledak ledak. Senyum itu sangat tipis, sangat dingin, dan dipenuhi oleh perhitungan matematis yang mengerikan. Geneviève kembali mencoretkan pena bulunya ke atas kertas, seolah berita pencurian itu hanyalah angin lalu.
"Nona? Apakah Anda mendengarkan hamba? Desain eksklusif kita sudah bocor ke istana," tegur Odette kebingungan.
"Aku sangat mendengarmu, Odette. Dan sejujurnya, aku sudah memprediksi hal ini akan terjadi sejak awal," jawab Geneviève tenang. "Keluarga kerajaan memiliki mata mata di setiap sudut jalan ibu kota. Mustahil seorang putri Duke bisa memesan perhiasan dengan desain aneh tanpa mengundang kecurigaan anjing pelacak mereka."
"Lalu mengapa Anda diam saja? Kita harus menuntut mereka."
"Menuntut keluarga kerajaan atas dasar pencurian desain? Hakim mana yang akan memihak kita?" Geneviève tertawa pelan, suara tawa yang sangat sinis. "Biarkan saja Camille mencuri desain sulur ranting itu. Toh dia hanya akan memproduksinya menggunakan emas kuning dan rubi merah sesuai standar istananya yang membosankan."
Odette mengerutkan kening, mencoba mencerna jalan pikiran majikannya. "Tetapi Nona, jika bentuknya sama, orang orang akan mengira kita yang meniru istana."
"Di situlah letak kejeniusan jebakan ini, Odette." Geneviève menatap lurus ke mata pelayannya. "Desain maksimalis dengan ukiran sebanyak itu akan terlihat sangat berat, norak, dan berlebihan jika dibuat dari emas kuning dan batu merah besar. Kalung itu akan terlihat seperti leher monster bertahtakan darah. Camille berpikir dia mencuri senjata kita, padahal dia baru saja mencuri bom waktu yang akan mempermalukan seleranya sendiri di depan publik."
Odette membelalakkan matanya saat menyadari kebenaran ucapan Geneviève.
"Emas kuning dan rubi merah akan merusak harmoni estetika dongeng itu," gumam Odette takjub.
"Tepat sekali. Saat perhiasan Camille ditertawakan karena terlihat kampungan, kita akan meluncurkan versi aslinya. Perak murni yang dipoles mengilap, berpadu dengan safir biru dan kecubung ungu yang misterius. Publik akan melihat perbedaan antara produk tiruan yang gagal dan mahakarya orisinal yang elegan. Camille telah menggali kuburannya sendiri di dunia mode."
Odette mengusap dadanya lega. Amarahnya perlahan mereda digantikan oleh rasa kagum yang luar biasa besar terhadap logika bisnis majikannya. Transmigrator yang rasional ini benar benar tidak bisa dijatuhkan dengan trik kotor murahan.
"Hamba menarik kembali ide tentang sebotol minyak tanah itu, Nona. Anda jauh lebih kejam daripada api," puji Odette sambil terkekeh pelan. "Lalu, bagaimana dengan lokasi toko kita? Hamba sudah berkeliling di kawasan komersial utama Lumière. Semua pemilik bangunan adalah bangsawan tingkat menengah yang loyal pada faksi kerajaan. Mereka menolak menyewakan tokonya kepada keluarga Montmirail."
Geneviève meletakkan pena bulunya. Ia memutar kertas perkamen di mejanya dan mendorongnya ke arah Odette.
"Aku juga sudah memikirkan masalah itu," ucap Geneviève. "Menyewa toko permanen di kawasan komersial hanya akan membuat kita rentan. Camille bisa dengan mudah mengirim preman bayaran untuk menghancurkan etalase kaca kita setiap malam, atau memerintahkan penjaga kota untuk menyegel toko kita dengan berbagai alasan hukum palsu."
Odette menunduk menatap gambar di atas perkamen tersebut. Alisnya bertaut bingung. Itu sama sekali bukan gambar denah toko atau bangunan batu. Itu adalah gambar sebuah gerobak kayu raksasa beroda empat.
"Nona, apakah ini kereta kuda untuk mengangkut sayuran?" tanya Odette ragu ragu.
"Ini adalah inovasi yang akan mendobrak pasar ibu kota. Aku menyebutnya etalase berjalan," jelas Geneviève penuh semangat. Matanya berbinar memancarkan visi bisnis yang brilian.
Geneviève berdiri dan menunjuk detail gambar tersebut. "Kita tidak akan membiarkan pelanggan mendatangi kita. Kita yang akan mendatangi mereka. Gerobak ini akan dibangun dari kayu mahoni padat yang dilapisi lempengan baja tipis di bagian dalamnya. Roda besinya dirancang untuk menahan beban berat."
Odette mengamati sketsa itu lebih saksama. Di bagian tengah gerobak, terdapat kotak pameran berukuran besar dengan rak rak miring.
"Bagian depan kotak ini akan dipasangi kaca kristal tebal yang diimpor dari utara. Kaca itu tahan terhadap pukulan palu," lanjut Geneviève menerangkan. "Di dalamnya, kita akan menggunakan bantalan beludru putih murni untuk memajang perhiasan kita. Jika ada bangsawan yang menggelar pesta minum teh di taman mereka, kita tinggal memarkir gerobak ini di dekat gerbang. Kemewahan akan hadir tepat di depan mata mereka tanpa mereka harus pergi ke pusat kota."
Odette ternganga. "Ini sangat brilian. Kita tidak perlu membayar uang sewa sepeser pun kepada tuan tanah yang sombong itu."
"Dan yang paling penting adalah keamanannya," tambah Geneviève sambil tersenyum penuh kemenangan. "Saat hari mulai gelap atau saat kita sedang tidak berjualan, dua panel kayu jati solid akan diturunkan menutupi bagian kaca. Panel ini dilengkapi dengan lima kunci gembok baja silang dari dalam. Begitu panel ditutup dan dikunci, etalase ini akan berubah menjadi brankas berjalan yang tidak bisa ditembus oleh pencuri jalanan mana pun. Kita tidak perlu repot memindahkan perhiasan ke tempat lain setiap malam."
Odette bertepuk tangan pelan. Logika efisiensi dan keamanan dari desain ini benar benar memanjakan naluri bertahan hidupnya.
"Hamba akan meminta tukang kayu keluarga Montmirail untuk membangunnya mulai siang ini, Nona. Hamba juga akan memastikan ada kompartemen rahasia di bawah kursi kemudi untuk menyimpan senjata. Kita butuh bubuk merica ekstra jika berurusan dengan pelanggan yang memaksa menawar harga."
Geneviève mengangguk setuju. "Lakukan, Odette. Tuan Fabron mengatakan rangka peraknya sudah selesai diukir. Kita hanya perlu memasang batu permatanya akhir pekan ini. Waktu kita tinggal seminggu sebelum malam puncak pesta dansa musim gugur di Istana Soleil."
"Hamba akan segera pergi ke pasar permata besar di dekat pelabuhan sekarang juga. Hamba membawa kantong emas ini untuk memborong semua batu safir biru lembut dan kecubung ungu muda yang ada di sana," pamit Odette dengan semangat membara. Pelayan itu mengambil kantong beludru tebal berisi koin emas dan menyelipkannya ke balik celemek.
Geneviève kembali duduk di kursinya, merasa satu langkah lebih dekat dengan kemenangannya. Ia akan menghancurkan monopoli Camille, membangkitkan ingatan Lucien melalui estetika masa lalu mereka, dan menguasai perputaran uang di ibu kota. Rencananya tersusun tanpa celah.
Namun, kedamaian di ruang kerja itu tidak berlangsung lama.
Hanya berselang tiga jam kemudian, pintu ruang kerja Geneviève kembali terbanting terbuka.
Kali ini, Odette tidak berjalan masuk. Pelayan itu melangkah dengan gontai. Bahunya merosot turun. Wajahnya yang biasanya selalu ceria dan penuh semangat kini terlihat pucat pasi. Tidak ada keranjang belanjaan. Tidak ada kotak kayu berisi batu mulia. Tangannya hanya menggenggam erat kantong beludru berisi koin emas yang sama sekali belum berkurang beratnya.
Geneviève segera berdiri dari kursinya. Firasat buruk langsung menghantam dadanya dengan sangat keras.
"Odette? Apa yang terjadi? Di mana batu permatanya?" tanya Geneviève dengan nada menuntut.
Odette menelan ludah dengan susah payah. Matanya berkaca kaca menahan amarah dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu. Pelayan itu meletakkan kantong emas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan yang terasa sangat menyedihkan.
"Mereka menolak koin emas kita, Nona," jawab Odette dengan suara bergetar.
Geneviève mengernyitkan dahi. "Menolak? Pedagang permata menolak emas tunai? Itu tidak masuk akal. Apakah harganya naik secara mendadak? Aku sudah memberimu anggaran lebih dari cukup."
"Ini bukan soal harga, Nona." Odette menggelengkan kepalanya. Ia menarik napas panjang untuk menahan air matanya. "Hamba telah mendatangi lima pedagang permata terbesar di ibu kota. Hamba bahkan menemui para penyelundup di pasar gelap pelabuhan. Semuanya memberikan jawaban yang sama. Pintu toko mereka dibanting tepat di depan wajah hamba."
"Jelaskan padaku apa alasannya," perintah Geneviève dingin. Darahnya mulai mendidih. Ia tahu siapa yang berada di balik keanehan ini.
"Satu jam sebelum hamba tiba di pasar, utusan dari Istana Soleil datang membawa dekrit resmi dari kementerian perdagangan yang ditandatangani oleh Marquis de Chanteclair," jelas Odette dengan gigi gemertak. "Keluarga kerajaan memborong seluruh pasokan batu safir biru dan kecubung ungu di seluruh ibu kota. Setiap butir terakhir telah dibeli oleh istana."
Geneviève mencengkeram tepi meja kerjanya. Kukunya menekan permukaan kayu mahoni itu hingga jarinya memutih.
"Dan dekrit itu menyatakan dengan tegas," lanjut Odette dengan suara yang semakin parau, "bahwa setiap pedagang, penambang, atau penyelundup yang berani menjual satu butir pun batu permata berwarna biru atau ungu kepada keluarga Montmirail, akan kehilangan izin dagang mereka selamanya dan dijebloskan ke penjara bawah tanah istana atas tuduhan pengkhianatan."
Ruangan itu seketika jatuh ke dalam keheningan yang sangat mematikan. Hanya terdengar suara napas Geneviève yang mulai tidak beraturan.
Rasa frustrasi yang selama ini Geneviève tekan dengan logika akhirnya meledak menghancurkan pertahanannya. Ini bukan lagi sekadar pencurian desain. Ini adalah pencekikan ekonomi secara langsung dan terbuka.
Putri Mahkota Camille tidak hanya mencuri desain kalungnya. Wanita bergaun putih itu menyadari bahwa warna biru dan ungu adalah ancaman nyata bagi dominasi emas kuning istana. Untuk memastikan Geneviève tidak bisa memproduksi perhiasan apa pun, Camille menggunakan kekuasaan pamannya untuk memonopoli seluruh bahan baku di pasar kekaisaran.
Sebuah taktik kotor yang sangat pengecut namun terbukti luar biasa efektif.
"Mereka memboikot kita secara total, Nona," bisik Odette, air mata amarah akhirnya menetes di pipinya. "Rangka perak kita sudah siap, tetapi kita tidak memiliki satu butir permata pun untuk dipasang. Waktu kita hanya tersisa tujuh hari. Kapal dagang dari benua seberang yang membawa pasokan batu baru baru akan tiba bulan depan. Produksi Le C'eow lumpuh total."
Geneviève berdiri mematung. Matanya menatap lurus ke arah dinding ruang kerjanya yang kosong.
Tujuh hari. Tujuh hari menuju malam pesta dansa musim gugur di Istana Soleil. Malam di mana Camille berencana mempermalukannya di depan seluruh bangsawan ibu kota dengan memamerkan desain curian tersebut.
Jika Geneviève datang ke pesta itu dengan tangan kosong, jika Le C'eow gagal diluncurkan, maka faksi kerajaan akan tertawa di atas kekalahan keluarga Montmirail. Camille akan menang. Ingatan Lucien akan tetap terkurung dalam kebencian palsu selamanya.
Geneviève menggebrak meja kerjanya dengan sangat kuat. Suara hantaman itu menggema ke seluruh penjuru ruangan, membuat Odette tersentak kaget.
Napas Geneviève memburu cepat. Mata cokelat terangnya berkilat dipenuhi oleh niat membunuh yang jauh lebih gelap dari langit tanpa bintang. Logikanya yang selama ini tenang kini terbakar oleh dendam yang menuntut pembalasan tanpa ampun.
Camille menginginkan permainan kotor. Maka Geneviève akan memberikannya badai kehancuran yang tidak akan pernah dilupakan oleh Dinasti Aurelius.
"Hapus air matamu, Odette," desis Geneviève dengan suara yang terdengar sangat kejam, seolah keluar dari dasar jurang neraka. "Jika istana memblokir semua batu permata dari pasar orang hidup, maka kita akan mencari batu permata dari tempat yang bahkan tidak berani disentuh oleh raja sekalipun."