NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: NAMA KIRANA MASUK DAFTAR HITAM

"Eh, Kir, katanya kamu jadi favoritnya Pak Alden ya sekarang?" celetuk Bagas begitu mereka duduk melingkar di taman belakang kampus, menunggu jam kuliah berikutnya dimulai.

"Favorit apaan," Kirana mendengus, menyandarkan punggung ke batang pohon.

"Itu kan cuma soal tugas kelompok doang."

"Tapi kemarin dia muji kamu di depan kita semua," Ferra ikut menimpali, menyeruput es tehnya. "Nggak biasanya lho dia muji mahasiswa."

"Ferra bener," Nadia menambahkan,

"biasanya Pak Alden itu tipe yang nyari kesalahan, bukan nyari yang bagus buat dipuji."

Kirana menggeleng cepat. "Udah ah, jangan digosipin kayak gitu. Ntar kalau kedengeran orang lain, aku yang repot."

"Emang kenapa kalo kedengeran orang lain?" Bagas menyeringai jahil.

"Ya... nanti dikira aku cari muka atau apa," jawab Kirana, sedikit gelagapan.

Belum sempat dia melanjutkan kalimat, ponselnya bergetar. Notifikasi dari grup kelas muncul di layar. Kirana membukanya, dan alisnya langsung mengernyit membaca isi pesan yang baru masuk.

"Woy, ada yang share daftar nama mahasiswa yang sering ditegor Pak Alden," kata salah satu teman sekelas di grup, disusul emoji tertawa.

Kirana men-scroll pesan itu, jantungnya berdegup tidak enak ketika melihat namanya tercantum di urutan kedua, tepat di bawah nama seorang cowok yang terkenal sering bikin onar di kelas.

DAFTAR HITAM KELAS PAK ALDEN

Reza (telat 3x, HP bunyi 2x)

Kirana Ayu (telat hari pertama, disemprot depan kelas soal tugas kelompok)

dst

"Hah? Ini apaan sih?" Kirana menunjukkan layar ponselnya ke Tesa yang baru datang bergabung.

Tesa membaca sekilas, lalu tertawa kecil. "Ih, iseng banget sih yang bikin. Tapi ya emang bener sih kejadiannya."

"Tesa, ini nggak lucu," Kirana mendesah, wajahnya mulai memerah menahan kesal.

"Gila ya, baru juga dua kali kena semprot udah masuk daftar segala."

"Udah, jangan dipikirin," Bagas menepuk bahu Kirana, mencoba menenangkan. "Paling juga becandaan doang, nanti juga ilang sendiri."

Tapi kenyataannya, pesan itu terus menyebar. Sampai siang hari, hampir seluruh angkatan tahu soal daftar itu, dan nama Kirana jadi bahan obrolan di mana mana, mulai dari kantin sampai lorong kelas.

Menjelang sore, Kirana berjalan menuju perpustakaan untuk mencari referensi tambahan buat tugas kelompoknya. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan dua mahasiswi yang tidak dia kenal, keduanya berbisik bisik sambil melirik ke arahnya.

"Itu yang tadi masuk daftar hitam ya?" bisik salah satu, tidak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh Kirana.

"Iya, katanya sih deket sama Pak Alden," bisik yang lain, disusul cekikikan kecil.

Kirana mempercepat langkah, pura pura tidak mendengar meski telinganya panas. Dia menghela napas panjang begitu sampai di depan perpustakaan, menyandarkan punggung ke dinding sebentar sebelum masuk.

"Kenapa jadi seheboh ini sih," gumamnya pelan, meremas tali tas ranselnya.

Di dalam perpustakaan, dia mencari buku referensi di rak manajemen strategis, tapi pikirannya terus melayang memikirkan gosip yang beredar. Dia bahkan tidak sadar sudah berdiri diam di depan rak yang sama selama beberapa menit tanpa mengambil buku apa pun.

"Nyari apa?"

Suara itu membuat Kirana tersentak, hampir menjatuhkan tas yang dia pegang. Dia menoleh dan mendapati Alden berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa setumpuk buku tebal di tangan.

"Pak Alden," Kirana terkejut, buru buru berdiri lebih tegak. "Saya... lagi nyari referensi buat tugas kelompok."

"Buku apa?"

"Tentang analisis SWOT, Pak. Sama laporan keuangan perusahaan multinasional."

Alden meletakkan tumpukan bukunya di meja terdekat, lalu menyusuri rak yang sama, mengambil satu buku dan menyerahkannya ke Kirana. "Coba baca bab lima di buku ini. Ada studi kasus yang relevan sama tugas kalian."

"Terima kasih, Pak," Kirana menerima buku itu, sedikit canggung karena jarak mereka yang lebih dekat dari biasanya.

Alden menatapnya sejenak, lalu bertanya, "Kamu kenapa? Dari tadi keliatan nggak fokus."

Kirana terkejut ditanya seperti itu. Dia tidak menyangka dosen yang biasanya terlihat cuek akan memperhatikan hal sekecil itu.

"Nggak apa apa kok, Pak. Cuma... lagi banyak pikiran aja."

"Soal daftar hitam itu?"

Mata Kirana membelalak. "Pak Alden tahu?"

"Kampus ini kecil. Gosip cepat nyebar, termasuk ke dosen," jawab Alden datar, meski ada sedikit nada geli di suaranya.

"Kamu nggak perlu terlalu dipikirin. Itu cuma becandaan anak anak yang nggak ada kerjaan."

"Tapi malu, Pak," Kirana menunduk, meremas ujung buku yang dia pegang. "Baru juga masuk kuliah seminggu, udah kena reputasi kayak gitu."

Alden diam sejenak, menatap Kirana yang masih menunduk. "Reputasi itu dibangun dari kerja kamu sendiri, bukan dari daftar konyol yang dibuat orang iseng. Kalau kamu tetap kerja keras, orang akan lihat itu, bukan gosip murahan kayak gitu."

Kirana mendongak, menatap Alden yang balas menatapnya dengan ekspresi yang jauh lebih lembut dari yang biasa dia tunjukkan di kelas. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Hanya suara kipas angin perpustakaan yang berputar pelan, dan detak jantung Kirana yang entah kenapa terasa lebih kencang dari biasanya.

"Makasih, Pak," ucap Kirana akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang dia inginkan.

"Itu... bikin aku ngerasa mendingan."

"Hm," Alden hanya bergumam pendek, lalu mengambil kembali tumpukan bukunya dari meja. "Jangan lupa balikin buku itu sebelum jatuh tempo."

"Siap, Pak," Kirana mengangguk cepat, menahan senyum yang tiba tiba muncul di bibirnya.

Alden berjalan menjauh, meninggalkan Kirana yang masih berdiri di tempat yang sama, memandangi punggung dosen itu sampai menghilang di balik rak buku lain.

"Kenapa sih tadi dia jadi baik banget," gumam Kirana pelan pada dirinya sendiri, dadanya masih terasa hangat. "Padahal di kelas galaknya minta ampun."

Malam harinya, Kirana bercerita ke Tesa lewat telepon, menceritakan kejadian di perpustakaan sore tadi.

"Serius dia bilang gitu ke kamu?" Tesa terdengar antusias di seberang telepon.

"Iya, serius," jawab Kirana, sambil rebahan di kasur kosnya. "Aneh sih, tadi di kelas galak banget, tapi pas di perpustakaan malah kayak... beda orang."

"Kir, jangan jangan dia emang perhatian sama kamu," goda Tesa.

"Tesa, please," Kirana menghela napas, meski pipinya mulai terasa hangat lagi. "Dia dosen. Aku mahasiswa. Nggak ada hubungannya sama perhatian perhatian gitu."

"Ya kali nggak ada. Kamu aja yang keliatan seneng banget cerita soal dia," Tesa tertawa kecil.

"Aku cerita karena tadi beneran nolong aku dari rasa malu, bukan karena hal lain," Kirana membela diri, meski dalam hati dia sendiri tidak yakin seratus persen dengan kalimatnya sendiri.

"Terserah deh," Tesa masih terkekeh. "Tapi hati hati aja, Kir. Kalau gosip soal daftar hitam aja bisa nyebar secepat itu, apalagi kalau ada yang liat kamu deket deket sama dosen killer."

Ucapan Tesa membuat Kirana terdiam sejenak. Dia baru sadar, di tengah rasa hangat yang muncul karena perhatian kecil Alden tadi sore, ada risiko yang sebenarnya jauh lebih besar dari sekadar gosip daftar hitam biasa.

"Iya juga sih," gumam Kirana pelan. "Tapi kan kita cuma ngobrol biasa doang. Nggak ada apa apa."

"Semoga aja tetep gitu," jawab Tesa, nadanya sedikit lebih serius. "Soalnya kampus kita ini gosipnya cepet banget nyebar, Kir. Kamu udah ngerasain sendiri kan hari ini."

Kirana menutup telepon setelah beberapa menit mengobrol lagi, lalu menatap langit langit kamar kos dalam diam. Pikirannya kembali memutar kejadian di perpustakaan, cara Alden menatapnya, cara suaranya melunak ketika bicara soal reputasi.

Dia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran yang mulai terasa berbahaya untuk terus dipikirkan. Tapi semakin dia mencoba melupakannya, semakin jelas bayangan itu terpatri di kepalanya, seperti janji diam diam bahwa cerita ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!