Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Kukuruyuk.
Suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan memecah keheningan pagi di desa.
Sinar matahari yang hangat menyusup masuk melalui celah dinding kayu kamar Arga.
Arga menggeliat malas di atas kasur kapuknya sambil mengumpulkan nyawanya yang masih melayang.
Ting.
Suara sistem yang sangat dirindukannya berbunyi nyaring di dalam kepalanya.
[Waktu Check-in Harian di pagi hari telah tiba.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in Hari Keempat? Ya / Tidak]
"Tentu saja iya sistem sayang, mana mungkin aku melewatkan rezeki nomplok pagi-pagi begini." Arga berkata pelan sambil menekan layar biru transparan di depannya.
[Check-in Hari Keempat Berhasil!]
[Selamat! Anda mendapatkan Hadiah Harian: Saldo Tunai Rp 10.000.000.]
Ponsel butut Arga langsung bergetar di atas bantal merespons transferan gaib tersebut.
"Sepuluh juta lagi, sungguh hidup yang sangat indah dan mudah." Arga tersenyum lebar menatap layar ponselnya.
Belum sempat dia beranjak dari kasur layar biru itu kembali berkedip memunculkan deretan kalimat baru dengan warna merah terang.
[Misi Sampingan Dadakan Terbuka: Mobilitas Sang Bos Pertanian.]
[Tugas Anda: Pergi ke kota hari ini juga dan beli kendaraan bermotor roda dua yang layak secara tunai.]
[Syarat Mutlak: Kendaraan harus dibeli tanpa cicilan untuk menunjang distribusi hasil panen Host yang semakin meningkat.]
[Hadiah Misi Jika Berhasil: 500 Koin Sistem dan 1 Kotak Perkakas Petani Tingkat A.]
"Beli motor tunai hari ini juga?" Arga membelalakkan matanya membaca misi dadakan tersebut.
"Kebetulan sekali sistem, aku memang sudah muak mengayuh sepeda ontel karatan kakek setiap kali harus keluar rumah."
Arga segera melompat dari kasurnya dan bergegas menuju kamar mandi.
Byur byur byur.
Dia mandi dengan sangat cepat menggunakan air sumur yang sedingin es batu.
Hari ini dia memilih memakai celana jeans hitam yang warnanya belum terlalu pudar dan kaos polos berwarna putih bersih.
Dia menyisir rambutnya dengan rapi dan menyemprotkan sedikit parfum murahan sisa zaman dia masih bekerja di Jakarta dulu.
Arga menghitung sisa uang tunai hasil jualan tomatnya kemarin yang tersimpan di bawah bantal.
"Uang ini ditambah saldo di rekening sudah lebih dari cukup untuk membeli motor sport bekas yang kondisinya masih gres."
Dia memasukkan uang lima puluh juta rupiah ke dalam tas ransel bututnya untuk berjaga-jaga jika toko motornya tidak menerima transfer.
Arga berjalan keluar rumah dan mengunci pintu depan rapat-rapat.
Dia berjalan kaki menyusuri jalanan desa menuju jalan raya utama tempat biasa angkutan umum kota lewat.
Udara pagi ini terasa sangat segar dan langkah kaki Arga terasa sangat ringan tanpa beban.
Sesampainya di pinggir jalan raya utama dia langsung memberhentikan sebuah angkot berwarna biru yang melaju kencang.
Citt.
Angkot itu berhenti mendadak dan Arga segera naik ke bangku penumpang bagian belakang.
"Ke terminal kota ya Bang, yang ngebut sekalian." Arga memberikan aba-aba kepada sopir angkot yang sedang asyik menghisap rokoknya.
Perjalanan menuju kota memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dengan jalanan yang sedikit bergelombang.
Arga menikmati pemandangan sawah yang berganti menjadi deretan ruko dan bangunan beton khas pinggiran kota.
Setibanya di terminal kota Arga langsung turun dan membayar ongkosnya.
Dia berjalan kaki sekitar lima ratus meter menuju sebuah showroom motor bekas terbesar di kota itu yang bernama Maju Motor.
Showroom itu memajang puluhan motor dari berbagai merek dan tipe dengan kondisi yang sudah dipoles mengkilap.
Cring.
Suara bel pintu berbunyi saat Arga mendorong pintu kaca showroom yang ber-AC dingin tersebut.
Seorang pria paruh baya berseragam polo shirt merah menghampirinya dengan senyum yang terlihat sedikit dipaksakan.
"Selamat pagi Mas, ada yang bisa dibantu atau cuma mau lihat-lihat dulu." Sapa pria itu yang namanya tertulis Pak Anton di tag dadanya.