NovelToon NovelToon
One Piece : Sistem In The Shinobi World

One Piece : Sistem In The Shinobi World

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Naruto
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Seorang penggemar anime tiba-tiba terbangun di sebuah pulau terpencil di dunia Naruto. Saat kebingungan mencari jalan keluar, sebuah sistem misterius muncul.

One Piece System.

Dengan sistem ini, ia dapat memperoleh karakter-karakter dari dunia One Piece sebagai bawahannya. Namun, untuk mendapatkan mereka, ia harus membangun reputasi dan pengaruh.

Bajak laut, Angkatan Laut, hingga tokoh-tokoh besar One Piece—semuanya bisa menjadi bagian dari kekuatannya.

Di dunia Naruto yang penuh konflik, ia harus menentukan jalannya sendiri.

Membangun kekuatan dari balik bayangan, atau menjadi legenda yang dikenal seluruh dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pengintaian Tebing Barat

Rian menghabiskan potongan terakhir daging rebus hangat dan meminum habis tehnya. Rasa hangat yang menjalar di dada memberikan rasa nyaman setelah beberapa hari bertahan hidup di alam liar.

Ia tidak langsung beranjak dari kursi sudut Kedai Kiras. Skor Intelligence bernilai 14 memaksanya untuk terus menimbang segala variabel sebelum melangkah.

"Dogo... mantan ninja pelarian tingkat C dari Kirigakure," gumam Rian sangat pelan, menyembunyikan bibirnya di balik cangkir kayu kosong.

Seorang ninja pelarian tingkat C umumnya memiliki kemampuan setara Genin senior atau Chunin bawah di desa besar. Meskipun berada di tingkatan terendah dalam hirarki shinobi, Dogo pasti menguasai setidaknya pengontrolan chakra dasar, teknik taijutsu di atas manusia biasa, atau ninjutsu elemen air (Suiton) sederhana.

Bagi Rian yang kekuatan fisiknya hanya bernilai 8 dan tanpa chakra, menerima satu serangan ninjutsu langsung berarti kematian.

"Kuncinya adalah informasi dan serangan pendahuluan," batinnya.

Rian meletakkan cangkir kayu, merapatkan mantel hitamnya, lalu berjalan keluar dari kedai.

Untuk mendapatkan peta lokasi yang presisi, Rian menyusuri kawasan dermaga selatan yang kumuh. Ia menemukan sebuah lapak perbaikan jala ikan yang dikelola oleh seorang nelayan paruh baya dengan kaki pincang. Dari percakapan di kedai tadi, para nelayan dermaga selatan adalah pihak yang paling sering diperas oleh kelompok Dogo.

Rian mendekati nelayan tersebut, bersandar pada tiang kayu dermaga seraya menatap ke arah laut yang tertutup kabut.

"Satu informasi akurat mengenai tata letak markas Dogo di tebing barat," kata Rian datar tanpa memandang orang itu. Tangannya menyelipkan sekeping koin logam ke dalam lipatan jala di meja kerja nelayan.

Nelayan tua itu kaget, dengan cepat menutupi koin perak senilai 500 Ryo tersebut dengan telapak tangannya yang kasar. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.

"Bocah, kau cari mati?" bisik nelayan itu serak. "Dogo dan anak buahnya tidak segan membuang orang ke laut jika tahu ada yang membocorkan markas mereka."

"Kau butuh uangnya, dan aku butuh informasinya," balas Rian tenang. "Cukup jelaskan struktur markas dan jumlah penjaga mereka malam ini."

Nelayan itu menelan ludah, menatap koin 500 Ryo yang setara dengan hasil melaut tiga hari.

"Tebing barat... markas mereka adalah sebuah gua laut alami yang dibangun menjadi benteng kayu di kaki tebing," bisik nelayan itu cepat. "Hanya ada satu jalur darat menyusuri celah karang sempit dari arah hutan. Jalur lautnya terlalu berbahaya karena karang tajam. Dogo punya sekitar dua belas anak buah. Malam hari, biasanya dua orang berjaga di mulut celah karang, sisanya minum-minum di dalam gua bersama Dogo."

"Bagaimana dengan kemampuan Dogo?"

"Dia memegang pedang besar dan bisa menyemburkan tembakan air (Suiton: Mizurappa) dari mulutnya. Dia kejam, tapi setiap malam dia selalu mabuk berat bersama anak buahnya."

"Cukup." Rian berbalik dan berlalu pergi, menyatu kembali dalam kerumunan pasar.

[Uang Tunai Berkurang: 11.200 Ryo → 10.700 Ryo]

Matahari perlahan tenggelam di balik garis pantai utara, mengganti langit siang dengan kegelapan yang diselimuti kabut tebal khas Negara Air.

Rian berjalan menuju pinggiran hutan Pulau Ren yang berbatasan langsung dengan tebing barat. Ia duduk bersila di balik rimbunnya semak-semak, terlindung dari pandangan luar.

Di depannya, layar semi-transparan sistem menyala redup. Rian menatap saldo System Point-nya.

[System Point: 150 SP]

Ia membuka menu Shop kategori Skill.

[SYSTEM SHOP - CATEGORY: SKILL]

Kenbunshoku Haki / Observation Haki (Basic) - Cost: 150 SP (Meningkatkan persepsi indra untuk merasakan keberadaan, aura kehidupan, dan ancaman di sekitar dalam radius terbatas.)

Untuk melakukan infiltrasi malam hari di wilayah musuh yang berjumlah belasan orang, mata telanjang tidak akan cukup. Di tengah kabut pekat, satu jebakan atau penyergapan tersembunyi bisa berakibat fatal.

"Beli Kenbunshoku Haki (Basic)," perintah Rian tegas di dalam pikitannya.

[Membeli Skill: Kenbunshoku Haki (Basic)... Berhasil.] [Sisa System Point: 0 SP]

Wush!

Sebuah sensasi aneh menjalar dari pusat kepalanya menuju ke seluruh saraf indra. Penglihatannya tidak berubah, namun persepsi mentalnya meluas secara drastis.

Rian memejamkan mata. Di dalam kegelapan pikirannya, ia bisa merasakan "percikan aura kehidupan" di sekitarnya. Ia bisa merasakan pergerakan jangkrik di tanah sejauh lima meter, aura burung hantu di dahan pohon di atasnya, hingga getaran langkah kaki beberapa penduduk pulau yang berjalan jauh di belakangnya.

Radius jangkauan Observation Haki tingkat dasarnya saat ini adalah sekitar lima belas hingga dua puluh meter.

"Luar biasa..." gumam Rian. Kombinasi Kami-e untuk kelenturan tubuh dan Kenbunshoku Haki untuk pemetaan posisi musuh memberikan keunggulan taktis yang sangat besar bagi strategi gerilya.

Rian berdiri, merapatkan mantel bertudung hitamnya, dan mulai melangkah menembus kabut malam menuju celah karang tebing barat.

Celah karang tebing barat Pulau Ren sangat sempit dan licin, diapit oleh dinding batu terjal dan deburan ombak laut yang menghantam karang di bawahnya.

Rian merayap pelan di antara ceruk batu. Observation Haki-nya aktif secara konstan, memetakan keberadaan dua percikan aura kehidupan di depan celah masuk gua.

Di balik keremangan kabut, tampak dua orang anak buah Dogo berdiri bersandar pada dinding karang. Masing-masing memegang obor minyak yang meredup dan sebilah parang.

"Ugh, dingin sekali malam ini..." keluh salah satu penjaga seraya meniup telapak tangannya. "Kenapa kita harus berjaga di luar sementara bos dan yang lainnya minum arak hangat di dalam?"

"Diamlah, Dogo-sama bisa memotong telingamu kalau mendengar keluhanmu," balas temannya malas.

Rian berada sepuluh meter dari posisi mereka, bersembunyi di balik lekukan batu besar. Melalui Kenbunshoku Haki, ia membaca tingkat kewaspadaan kedua penjaga itu yang sangat rendah akibat rasa dingin dan kantuk.

Rian merogoh saku mantelnya, mengeluarkan dua butir batu kerikil kecil yang ia ambil dari jalanan.

Ia melempar batu pertama ke arah laut di sebelah kanan mereka.

Pluk!

Suara batu jatuh ke air membuat kedua penjaga itu terkejut.

"Suara apa itu? Ikan?" tanya penjaga pertama.

"Periksa sana," dorong penjaga kedua.

Penjaga pertama melangkah mendekati tepi karang tempat suara berasal, memisahkan diri sejauh beberapa meter dari temannya.

Rian bergerak seperti bayangan. Memanfaatkan Kami-e untuk meminimalisir gesekan tubuh dengan udara, ia meluncur tanpa suara ke belakang penjaga kedua yang masih berdiri menyandar.

Sebelum penjaga itu menyadari keberadaan aura lain di belakangnya, tangan kiri Rian yang dilapisi kain mantel menutup rapat mulut dan hidung pria itu, sementara tangan kanannya merogoh Basic Hunting Knife dan menghantamkan bagian gagang besi pisau tersebut sekuat tenaga ke tulang belakang leher musuh.

Bugh!

Pria itu langsung terkulai pingsan tanpa sempat berteriak. Rian menahan tubuhnya agar tidak jatuh menghantam tanah, lalu merebahkannya perlahan di balik bayangan batu.

Penjaga pertama yang berada di tepi karang berbalik karena merasa aneh dengan kesunyian di belakangnya. "Oi, tidak ada apa-apa di—"

Kata-katanya terhenti saat melihat Rian sudah berdiri hanya satu meter di depannya.

Sebelum penjaga itu sempat mengangkat parangnya atau berteriak, Rian melangkah maju menembus pertahanannya. Meliukkan tubuh ke samping untuk menghindari tebasan liar penyamun itu menggunakan Kami-e, Rian mendaratkan pukulan telak pisau berburunya ke rahang bawah musuh.

Krak!

Penjaga pertama tumbang seketika ke atas tanah pasir, pingsan tak berdaya.

Rian menyarungkan pisaunya, mengambil napas dalam-dalam untuk mengatur staminanya. Melalui pindaian Kenbunshoku Haki, ia merasakan sepuluh hingga sebelas percikan aura kehidupan lain yang berada di dalam gua laut di depannya—termasuk satu percikan aura yang jauh lebih padat dan agresif dibandingkan yang lain.

Dogo.

Rian berdiri di mulut gua laut yang remang-remang, menatap pintu kayu tebal markas penyamun yang bercahaya obor dari dalam. Infiltrasi awalnya berhasil tanpa memicu alarm.

1
SR07
kebetulan sekali ygy🗿
SR07
anak buah dogo🗿,itu udh jadi bawahan lu, panggilan yang cocok harusnya anggota fraksi atau apapun itu asal cocok🗿
SR07
masih heran kenapa MC nya malah summon karakter di kapal dah, kan seharusnya itu rahasia yang tidak boleh diketahui 🗿
SR07
langsung Balik modal😅
SR07
iya lah jir, lu dipantai brok bukan kamar, pertanyaan macam apa itu, kalau lu bangun di kamar yang beda baru pertanyaan gitu🗿
Tahir Muhammad
upp terus
Rem Suzuki
upp terus thor
Sub Zero
lanjut bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!