Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUSAHAAN YANG HARUS KAMI BELI
Pukul 07.00 pagi.
Alya sudah berada di kantor.
Di layar laptopnya terpampang laporan keuangan perusahaan yang dalam dua minggu terakhir mengambil alih kontrak terbesar miliknya.
Nama perusahaan itu:
PT Arunika Logistik Nusantara.
Perusahaan yang secara tiba-tiba menawarkan harga jauh di bawah harga pasar.
Perusahaan yang berhasil merebut tiga calon klien Alya.
Dan perusahaan yang ternyata memiliki hubungan tidak langsung dengan jaringan bisnis Leonard.
Alya menatap laporan tersebut.
“Tidak mungkin mereka bisa bertahan dengan harga seperti ini.”
Raka berdiri di belakangnya.
“Karena mungkin mereka memang tidak berniat mencari keuntungan.”
Alya menoleh.
“Maksudmu?”
“Kalau tujuan mereka hanya membuat bisnis kamu gagal, mereka tidak peduli rugi sementara.”
Alya mengangguk.
“Jadi mereka membeli waktu.”
“Untuk apa?”
Alya membuka data kepemilikan.
Kemudian menemukan sesuatu.
“Ini.”
Raka mendekat.
Ada satu perusahaan induk yang memiliki saham kecil di Arunika.
LNW Global Holdings.
Raka langsung mengenali nama tersebut.
“Leonard.”
Alya mengangguk.
“Tapi kepemilikannya hanya enam persen.”
“Enam persen yang terlihat.”
Alya menatapnya.
“Dan sisanya?”
“Kita cari.”
PUKUL 09.30
Alya memanggil tim ke ruang rapat.
Tidak banyak orang.
Hanya empat orang yang benar-benar terlibat dalam proyek.
Dia menampilkan struktur perusahaan Arunika.
“Kita tidak akan melawan mereka dengan perang harga.”
Salah satu anggota tim bertanya,
“Lalu?”
“Kita cari alasan kenapa mereka berani menjual di bawah biaya.”
Alya menunjuk laporan.
“Perusahaan sehat tidak melakukan ini.”
“Berarti ada sumber dana lain.”
“Benar.”
Dia menampilkan daftar transaksi.
“Cari investor yang memberikan suntikan dana kepada Arunika selama enam bulan terakhir.”
Tim mulai bekerja.
Raka tidak ikut rapat.
Dia sengaja membiarkan Alya menangani semuanya sendiri.
Namun dia tetap membantu dari sisi yang berbeda.
Dia meminta tim legal Mahendra Group melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan induk Arunika.
Dua jam kemudian, informasi pertama masuk.
Alya menerima email.
Ada pinjaman sebesar Rp18 miliar kepada Arunika.
Pemberi pinjaman:
LNW Global Holdings.
Alya tersenyum.
“Ketemu.”
Tapi belum selesai.
Pinjaman itu memiliki satu syarat.
Arunika harus memenangkan minimal 40 persen kontrak logistik di Bali dalam waktu enam bulan.
Alya menatap angka tersebut.
“Jadi mereka memang sedang melakukan ekspansi agresif.”
Raka yang baru masuk bertanya,
“Dan kalau gagal?”
“Arunika tidak bisa membayar pinjaman.”
“Lalu?”
“LNW akan mengambil alih aset mereka.”
Raka mengangguk.
“Sekarang masuk akal.”
Alya berdiri.
“Leonard tidak sedang mencoba menghancurkan bisnis saya.”
Raka menatapnya.
“Lalu?”
“Dia sedang menggunakan bisnis saya sebagai salah satu batu loncatan untuk mengambil alih Arunika.”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
“Kalau Arunika menguasai cukup banyak kontrak, nilainya naik.”
“Leonard mengambil alih.”
“Dan dia mendapatkan jaringan distribusi Bali tanpa membangunnya dari nol.”
Raka tersenyum.
“Jadi perang ini jauh lebih besar.”
Alya mengangguk.
“Dan kita tahu titik lemahnya.”
SEBUAH TAWARAN
Sore itu Alya mengirim surat kepada Arunika.
Bukan ancaman.
Bukan gugatan.
Sebuah tawaran.
Akuisisi saham minoritas.
Jika Arunika membutuhkan modal untuk ekspansi, Alya menawarkan investasi dari Pratama Holdings.
Namun ada syarat:
Arunika harus membuka seluruh struktur keuangannya.
Surat tersebut dikirim pukul 16.00.
Pukul 16.23—
balasan datang.
Ditolak.
Alya tidak terkejut.
Dia hanya tersenyum.
“Seperti dugaan.”
Raka duduk di seberangnya.
“Sekarang?”
Alya membuka dokumen lain.
“Sekarang kita tidak perlu membeli Arunika.”
“Lalu?”
“Kita beli sesuatu yang lebih penting.”
Raka mengangkat alis.
“Apa?”
Alya menunjuk daftar kontrak.
“Kliennya.”
STRATEGI BARU
Alya tidak lagi mengejar perusahaan.
Dia mengejar pelanggan.
Satu per satu, timnya menghubungi perusahaan yang sebelumnya membatalkan kontrak.
Namun kali ini mereka tidak menawarkan harga lebih murah.
Mereka menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki Arunika:
sistem distribusi yang lebih fleksibel dan transparan.
Alya memberikan kontrak dengan klausul yang memungkinkan klien mengurangi volume tanpa penalti besar.
Arunika tidak bisa melakukan itu.
Karena mereka membutuhkan volume tinggi untuk memenuhi syarat pinjaman LNW.
Satu klien kembali.
Kemudian dua.
Kemudian tiga.
Dalam dua minggu—
Arunika kehilangan sebagian besar kontrak yang sebelumnya mereka rebut.
Harga sahamnya turun.
Bank mulai mempertanyakan pinjaman.
Dan LNW mulai menekan manajemen Arunika.
Raka membaca laporan itu.
“Ini berhasil.”
Alya mengangguk.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena Leonard pasti punya rencana cadangan.”
MALAM
Pukul 22.30.
Alya masih di kantor.
Raka datang membawa kopi.
“Pulang.”
“Belum.”
“Sudah malam.”
“Satu laporan lagi.”
Raka melihat layar.
“Kamu sedang mencari apa?”
“Perusahaan baru.”
“Untuk?”
“Kalau Leonard kehilangan Arunika, dia pasti mencari kendaraan lain.”
Raka diam.
Alya terus membuka database.
Satu demi satu perusahaan diperiksa.
Kemudian—
dia berhenti.
“Raka.”
“Hm?”
“Ini aneh.”
“Apa?”
“Ada perusahaan baru terdaftar tiga bulan lalu.”
“Namanya?”
Alya menampilkan layar.
PT Mahardika Distribution Indonesia.
Raka mengerutkan kening.
“Tidak pernah dengar.”
“Justru itu.”
Alya membuka data pemegang saham.
Satu nama muncul.
Irma Mahendra.
Raka membeku.
“Ibu?”
Alya menatapnya.
“Kenapa nama ibu kamu ada di sini?”
Raka mengambil laptop.
Dia membaca dokumen tersebut dengan cepat.
“Ibu tidak pernah mendirikan perusahaan.”
“Kalau begitu siapa yang menggunakan namanya?”
Raka langsung menelepon ibunya.
Tidak diangkat.
Dia menelepon lagi.
Masih tidak diangkat.
Alya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Jangan langsung panik.”
“Saya tidak panik.”
“Kamu sudah menelepon dua kali.”
Raka menatapnya.
“Karena ini menyangkut ibu saya.”
RUMAH IRMA
Mereka tiba pukul 23.15.
Pintu rumah terkunci.
Raka mengetuk.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Dia mencoba menelepon lagi.
Ponsel Irma terdengar dari dalam rumah.
Raka langsung membeku.
“Ibu!”
Dia membuka pintu menggunakan kunci cadangan.
Rumah gelap.
Tidak ada orang.
Ponsel Irma tergeletak di meja.
Alya melihat sekeliling.
“Tidak ada tanda keributan.”
Raka mencari ke kamar.
Kosong.
Kemudian dia menemukan sebuah amplop di meja makan.
Namanya tertulis:
Untuk Raka.
Tangannya gemetar ketika membuka.
Hanya ada satu kalimat.
“Jangan percaya bahwa saya pergi karena kemauan sendiri.”
Raka membeku.
Alya menatapnya.
“Kita harus lapor polisi.”
Raka mengangguk.
Namun sebelum dia sempat mengambil ponsel—
telepon Alya berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
“Halo?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara seorang perempuan terdengar.
“Alya.”
Alya langsung mengenali suara itu.
“Ibu?”
Raka menatapnya.
Suara Irma terdengar pelan.
“Jangan cari saya.”
Alya berdiri.
“Bu, Ibu di mana?”
“Jangan libatkan Raka.”
“Ibu di mana?”
Hening.
Kemudian Irma berkata,
“Orang yang mengambil saya bukan Leonard.”
Alya membeku.
“Siapa?”
Suara Irma bergetar.
“Seseorang yang kalian kira sudah tidak punya kekuasaan.”
Telepon terputus.
Raka mengambil ponsel Alya.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Dia menatap Alya.
“Kita harus menemukannya.”
PAGI BERIKUTNYA
Pencarian dimulai.
Namun kali ini Alya tidak hanya membantu.
Dia menemukan transaksi terbaru dari perusahaan yang memakai nama Irma.
Ada pembayaran kepada sebuah hotel di Bali.
Tanggalnya kemarin.
Raka langsung mengambil jaket.
“Kita ke sana.”
Hotel tersebut berada di kawasan yang cukup sepi.
Mereka menunjukkan bukti transaksi kepada manajemen.
Awalnya pihak hotel menolak memberikan informasi.
Namun setelah pengacara datang, mereka akhirnya memberikan data.
Irma memang pernah berada di sana.
Tetapi dia tidak datang sendiri.
Ada dua orang bersamanya.
Salah satunya—
Dimas Wibowo.
Raka terdiam.
“Dimas masih hidup?”
Alya mengangguk.
“Berarti dia yang membawa ibu kamu.”
Mereka meminta rekaman CCTV.
Dan rekaman itu memperlihatkan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Irma masuk ke hotel dengan Dimas.
Namun beberapa menit kemudian—
seorang pria lain datang.
Pria itu tidak terlihat jelas.
Tetapi wajahnya sempat tertangkap kamera.
Alya memperbesar gambar.
Raka menatap layar.
Wajahnya pucat.
“Tidak…”
Alya melihatnya.
“Siapa?”
Raka menjawab pelan,
“Orang yang seharusnya sudah meninggal.”
SIAPA YANG KEMBALI?
Raka menatap layar berkali-kali.
Tidak mungkin.
Dia mengenal wajah itu dari foto-foto lama.
Dari dokumen keluarga.
Dari cerita ayahnya.
Pria itu seharusnya sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun lalu.
Namun rekaman CCTV menunjukkan dia masuk ke hotel kemarin.
Alya bertanya,
“Siapa dia?”
Raka tidak menjawab.
Dia langsung menghubungi Reza.
“Reza, datang ke hotel sekarang.”
“Ada apa?”
“Saya menemukan orang yang mungkin selama ini kita cari.”
“Siapa?”
Raka menatap layar.
“Pamanmu.”
Hening.
Reza langsung menjawab,
“Itu tidak mungkin.”
“Datang.”
DUA JAM KEMUDIAN
Reza datang.
Begitu melihat rekaman, wajahnya berubah.
“Itu dia.”
Raka menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Seratus persen.”
“Namanya?”
Reza menarik napas.
“Bram Santoso.”
Alya membeku.
“Bram?”
“Ayahmu?”
Reza mengangguk.
Raka menatap layar.
“Bukankah dia meninggal?”
Reza menjawab,
“Yang kami tahu, iya.”
“Lalu siapa yang dimakamkan?”
Reza tidak mampu menjawab.
Tiba-tiba semuanya berubah.
Selama ini mereka mencari orang yang mengatur semuanya.
Mereka mengira Leonard.
Mereka mengira Dimas.
Mereka bahkan sempat mencurigai Irma.
Namun sekarang muncul seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam permainan.
Bram Santoso.
Dan jika Bram benar-benar masih hidup—
maka sejarah keluarga Mahendra dan Santoso yang selama ini mereka percayai mungkin seluruhnya adalah kebohongan.
Raka menatap Alya.
“Kita tidak sedang mengejar orang.”
Alya mengangguk.
“Kita sedang mengejar identitas.”
Reza menatap mereka.
“Dan kalau ayah saya masih hidup…”
Dia mengepalkan tangan.
“Berarti selama ini dia yang mengatur semuanya dari balik layar.”
Raka menggeleng.
“Belum tentu.”
Alya menatap keduanya.
“Jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Mereka terdiam.
Alya menunjuk rekaman.
“Kita punya satu fakta.”
“Bram terlihat hidup.”
“Sekarang kita cari tahu kenapa.”
MALAM
Mereka kembali ke kantor.
Alya membuka semua dokumen lama keluarga Santoso.
Satu demi satu.
Sampai menemukan sesuatu.
Sebuah dokumen kematian.
Nama:
Bram Santoso.
Tanggal kematian:
12 Januari 2014.
Penyebab:
Serangan jantung.
Namun ada satu detail yang membuat Alya merinding.
Nomor identitas pada sertifikat kematian itu—
berbeda dengan nomor identitas Bram pada dokumen perusahaan lama.
Alya berdiri.
“Raka.”
Raka mendekat.
Dia membaca.
Wajahnya berubah.
“Ini bukan sertifikat kematian yang sah.”
“Berarti?”
“Orang yang meninggal tahun 2014 bukan Bram.”
Reza menatap mereka.
“Lalu siapa?”
Alya menutup dokumen.
“Besok kita cari tahu siapa yang dimakamkan atas nama Bram.”
Raka mengangguk.
Namun sebelum mereka berpisah, sebuah pesan masuk ke ponsel Raka.
Nomor tidak dikenal.
Hanya satu kalimat:
“Kalau kalian ingin Irma tetap hidup, berhenti mencari Bram.”
Raka menunjukkan pesan itu kepada Alya dan Reza.
Tidak ada lagi ruang untuk keraguan.
Irma memang diculik.
Dan orang yang menculiknya tahu bahwa mereka sedang mencari Bram.
Raka menggenggam ponselnya.
“Sekarang kita tahu prioritasnya.”
Alya mengangguk.
“Selamatkan Ibu.”
Reza menatap mereka.
“Dan setelah itu?”
Raka menatap layar.
“Setelah itu kita bongkar semuanya.”
Kali ini mereka tidak akan mengejar bayangan.
Mereka memiliki dua tujuan yang jelas:
menemukan Irma hidup-hidup dan menemukan siapa sebenarnya Bram Santoso.
Dan untuk pertama kalinya, mereka berada di jalur yang sama dengan orang yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai musuh keluarga.
Reza.
Orang yang paling mungkin tahu ke mana ayahnya pergi.
Dan mungkin satu-satunya orang yang bisa membawa mereka kepada Irma.