Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beda Dong!
Jalanan setapak yang membelah desa perbatasan itu semakin menyempit dan menyisakan jalur tanah liat yang licin akibat sisa hujan semalam, Hazel berjalan di barisan paling belakang dan sesekali merapatkan jaketnya karena udara dingin disertai angin yang tiba-tiba datang, bahkan sepatunya yang masih tampak baru kini telah tertutup lumpur merah yang tebal.
Meskipun Hazel merasa kelelahan karena berjalan cukup jauh, namun sepasang matanya tidak bisa berhenti mengagumi rumah-rumah panggung kayu milik warga desa yang berjejer rapi.
"Selamat pagi, Bapak, Ibu," sapa Sersan Baim dengan ramah saat rombongan mereka memasuki pekarangan salah satu rumah warga.
Di teras rumah tersebut, seorang nenek tua sedang duduk sembari memilah dedaunan kering yang tampaknya akan digunakan sebagai bahan ramuan tradisional.
"Eh, Pak Tentara... bawa rombongan mantri baru ya?" tanya Nenek tersebut.
"Iya, Mbah," jawab Sersan Baim sopan seraya membungkukkan badannya sedikit.
"Cantik dan ganteng ya," celetuk Nenek tersebut.
Sersan Baim pun hanya tersenyum, "Besok, Dokter akan kesini lagi buat pemeriksaan, Mbah jangan lupa datang ke balai desa ya besok," ucap Sersan.
"Iya, Sersan," jawab Nenek tersebut.
Setelah mengobrol dan menyapa warga lainnya, perjalanan pun berlanjut dan kali ini mereka akan pergi ke balai desa, di sana sudah ada beberapa orang yang mulai menyiapkan tempat untuk pemeriksaan besok. Mereka hanya sebentar, karena rencananya mereka hanya melihat-lihat aja agar para tenaga medis mengetahui jalur yang harus mereka lalui.
Beberapa saat kemudian, mereka pun berjalan kaki menyusuri jalanan setapak untuk kembali ke pos komando. Langkah Hazel terasa kian berat, kedua betisnya mulai menegang karena tidak terbiasa berjalan jauh di jalanan yang menanjak dan licin. Sesekali, ia harus berhenti sejenak, membetulkan sepatunya yang kotor sembari menyeka peluh yang menetes dari pelipis menggunakan punggung tangan.
"Dokter Hazel, Dokter nggak apa-apa? Wajah Dokter pucat gitu," tanya Suster Kinan yang menyadari langkah Hazel semakin tertinggal di belakang.
Hazel menoleh lalu memaksakan sebuah senyuman tipis agar tidak menjadi pusat perhatian "Tidak apa-apa, Suster. Terima kasih banyak, saya masih kuat dan hanya perlu menyesuaikan napas saja," jawab Hazel halus.
Di depannya, Dokter Tyas tampak masih segar bugar dan berjalan beriringan dengan Sersan Baim di barisan depan. "Sersan, Kapten Gavin itu sudah berapa lama di sini?" tanya Dokter Tyas.
"Sudah hampir dua tahun, Dok. Beliau dipindahkan ke sini setelah menyelesaikan tugas operasi di wilayah timur," jawab Sersan Baim dan diangguki Dokter Tyas.
"Kapten Gavin itu tipe orang yang tidak suka berdiam diri, kalau ada patroli patok perbatasan atau pengamanan rute hulu sungai, beliau pasti turun langsung memimpin anggota," tambah Sersan Baim.
"Wah, tipe-tipe pemimpin sejati ya. Sudah tegas, berwibawa dan tampan lagi. Jadi makin penasaran sama Kapten Gavin," sahut Suster Nayla dengan nada setengah bergumam, membuat Suster Rara dan Suster Kinan terkekeh pelan di belakangnya.
Hazel hanya mendengarkan percakapan itu sebagai angin lalu. Baginya, siapa pun nama orang yang mereka bicarakan, tidak akan mengubah kenyataan bahwa dirinya sedang terjebak di tempat yang paling tidak ia inginkan di dunia ini, pikirannya justru lebih fokus pada bagaimana caranya ia bisa bertahan melewati malam-malam dingin di barak tanpa harus mengeluh dan mempermalukan dirinya sendiri dan juga keluarganya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di pos komando saat matahari tepat berada di atas kepala. Sinar terik yang menyengat sisa-sisa embun pagi membuat hawa di sekitar barak terasa pengap dan gerah, Hazel melangkah ke barak dengan sisa tenaga yang sudah terkuras habis.
Begitu melepas sepatunya yang kini berlumur lumpur merah kering, Hazel mendapati kedua tumitnya memerah dan melepuh akibat gesekan sepanjang jalan setapak desa. Ia menghela napas, merogoh tas medisnya untuk mengambil plester. Kulitnya yang biasa dirawat, kini harus merasakan perihnya luka gesek dan debu serta lumpur.
"Kenapa aku bawa sepatu kets yang tipis sih," gumam Hazel dan menatap plester yang kini menempel di tumitnya dengan pandangan nanar.
Baru saja Hazel ingin merebahkan tubuhnya yang terasa remuk ke atas ranjang lipat, pintu barak yang terbuat dari tripleks tebal diketuk dari luar dan wajah Dokter Tyas menyembul dari balik pintu.
"Dokter Hazel, ayo makan! Yang lainnya sudah berkumpul di sana," ajak Dokter Tyas.
"Iya, Dok. Sebentar, saya pakai sepatu dulu," jawab Hazel seraya memaksakan senyum ramah.
"Oke, kita tunggu di meja tengah ya!" kata Dokter Tyas sebelum berlalu.
Hazel meringis pelan saat kaki kanannya kembali dipaksa masuk ke dalam sepatu kets yang telah merusak kulit tumitnya, lalu ia pun berjalan pelan membelah area pos komando menuju bangunan kantin semi permanen yang terletak di dekat barak utama tentara.
Begitu Hazel sampai di sana, suasana kantin sudah sangat ramai. Aroma jelantah goreng, tumis pakis yang pekat dan kepulan uap nasi panas membubung ke langit-langit seng, menciptakan hawa yang cukup gerah di dalam ruangan berukuran sepuluh kali lima belas meter itu.
Para Dokter, perawat dan puluhan anggota tentara berbaur di atas bangku-bangku kayu panjang. "Dokter Hazel, sebelah sini!" ucap Suster Kinan dengan melambaikan tangan dan menunjuk sebuah kursi kosong di sampingnya.
Hazel mengambil makan siangnya di meja prasmanan, lalu duduk bergabung bersama rekan-rekannya yang lain.
"Gimana, Dok? Kakinya sudah sakit?" tanya Dokter Edo.
"Lumayan, Dokter Edo. Mungkin karena jarang olahraga dan juga jalan-jalan," balas Hazel jujur dan berusaha mencairkan suasana kaku yang sempat menyelimutinya.
"Halah, itu belum seberapa, Dok. Sersan Baim tadi cerita sama saya, kalau rute patroli patok perbatasan yang sebenarnya itu bisa lewat lereng tebing yang kemiringannya sampai enam puluh derajat dan itu makanan sehari-hari anak-anak kompi di bawah komando Kapten Gavin," sahut Dokter Tyas dengan mata yang kembali berbinar setiap kali nama sang kapten disebut.
"Kamu ini dari tadi Kapten Gavin terus yang dibahas, Tyas. Memangnya seistimewa apa sih tentara satu itu? Di rumah sakit kita juga banyak kan mayor atau letkol yang sering visit?" goda Dokter Edo sambil mengunyah tempenya.
"Beda dong! Kapten Gavin ini katanya beda kelas. Kapten Gavin itu lulusan terbaik di akademi militer, punya wing tebang dan waktu satgas di wilayah timur kemarin berhasil membebaskan sandera tanpa ada satu pun korban. Dan yang paling penting... wajahnya itu loh, ganteng banget!" ucap Dokter Tyas berapi-api.
Suster Rara ikut menimpali sambil tersenyum geli, "Iya, Dok. Tadi waktu di dapur umum, ibu-ibu juru masak juga bilang hal yang sama, katanya kalau Kapten Gavin sudah pakai seragam lapangan lengkap, semua mata perempuan langsung nggak bisa berkedip. Sayang katanya orangnya cuek banget, jarang senyum juga,"
Hazel hanya mendengarkan percakapan itu sambil mengunyah makanannya perlahan, sayur pakisnya agak pahit dan sambal yang terlalu menyengat di lidahnya terasa mengganggu di tenggorokan, namun ia memaksa dirinya untuk menelan setiap suapan demi bertahan hidup.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak